Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Panik 3.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Di tempat yang lain ; Bu Biantra mulai merasa pening, sehingga tidak ke kantor. Kepergian suaminya membuatnya terkejut dan sakit kepala. Suasana di rumah mulai terasa berbeda setelah ditinggal oleh Pak Biantra. Apalagi di kantor, urusan perusahaan sudah mulai diluar kendalinya. Bu Biantra bangun dengan pandangan yang nanar.


Belakangan ini walau perusahaan mulai goyang, Bu Biantra masih tenang, karena Pak Biantra masih bisa menanganinya. Sekarang Bu Biantra jadi kelimpungan memikirkannya, karena banyak hal yang harus ditangani sendiri. Selaian masalah perusahaan, masalah yang dikatakan Aaric, masalah dengan Papahnya makin mengganggu dan membuatnya pening.


Tadi malam Bu Biantra tidak terlalu cemas melihat kepergian suaminya karena berpikir, hanya pergi sementara untuk menenangkan pikiran atau mencari anak-anaknya. Tapi ketika masuk ke kamar dan melihat semua yang ditinggalkan suaminya, Bu Biantra terkejut lalu berlari keluar rumah untuk menyusul suaminya.


Tetapi ketika melihat mobil suaminya di halaman, hatinya sedikit lega lalu mencari dan memanggil suaminya. Ketika tidak ada tanda-tanda suaminya ada di halaman, Bu Biantra mendekati pos security untuk menanyakan keberadaan Pak Biantra. Ketika mendengar cerita security, Bu Biantra terkejut dan panik. Beliau langsung berpegangan pada tembok pos security karena kakinya bergetar. Melihat itu, pimpinan security memegang lengan Bu Biantra lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


Peristiwa beruntun yang terjadi itu, membuatnya tidak bisa tidur. Bu Biantra memikirkan ucapan dan tindakan Aaric, ditambah dengan kepergian suaminya yang tidak pernah dipikirkannya, bagaikan palu yang menghantam kepalanya. Beliau bangun dengan kepala pening, karena tidak bisa memejamkan matanya.


Semakin siang kepalanya makin pening saat menerima kedatangan asistennya yang memberitahukan bahwa pihak Elimus tidak bersedia bertemu dengannya. Bu Biantra menatap asistennya seakan tidak percaya.


Beliau telah menjual sebagian properti yang dimilikinya untuk membeli saham tersebut. "Apakah kau sudah katakan kita akan membeli dengan harga tinggi?" Tanya Bu Biantra dengan suara bergetar.


"Sudah, Bu. Mereka tetap tidak mau bertemu, karena tidak berniat menjual sahamnya kepada kita." Jawab asistennya pelan, karena menyadari kondisi bossnya. Mendengar itu Bu Biantra melongo dan terdiam sambil menatap asistennya.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Bu Biantra, tidak bisa berpikir. Biasanya suaminya yang akan memberikan solusi dalam siatuasi seperti ini.


"Kita hanya bisa menunggu dan berharap, Bu. Semoga mereka tetap mau mempertahankan perusahaan dan mengembangkannya. Kalau tidak, bagaimana dengan karyawan kita yang banyak ini. Kita juga harus siap-siap untuk menyingkir atau disingkirkan." Asisten Bu Biantra berkata pelan, karena situasi yang sedang terjadi sudah buruk. Bagaikan perahu yang bocor di tengah laut dan tidak ada apapun yang bisa dipakai untuk menambal bocorannya. Jika dibiarkan, perlahan-lahan akan tenggelam dengan sendirinya.

__ADS_1


Bu Biantra mengambil ponselnya lalu menghubungi suaminya untuk meminta saran dan dukungan. Betapa terkejutnya Bu Biatra, karena ponsel suaminya tidak bisa dihubungi. Dihubunginya berulang kali dan juga mengirim pesan, tidak ada respon atau balasan dari suaminya.


Bu Biantra terduduk di ruang tamu seperti orang linglung. Sehingga tidak menyadari asistennya telah pamit untuk balik ke kantor. Masalah di kantor sedang genting, karena ketidak hadiran Pak Biantra. Asisten Pak Biantra sudah menghubungi asisten Bu Biantra berulang kali.


Asisten Pak Biantra tidak bisa lakukan sesuatu tanpa persetujuan bossnya. Sedangkan Pak Biantra tidak bisa dihubungi dan tidak memberikan perintah apapun. Sehingga asistennya menghubungi asisten Bu Biantra untuk berkoordinasi tentang kondosi yang terjadi.


Saat tiba di kantor, asisten Pak Biantra sudah menunggunya. Disaat mereka sedang berdiskusi, tiba-tiba ponsel asisten Bu Biantra bergetar. Ketika melihat siapa yang telpon, dia langsung berdiri dan merespon panggilannya sambil memberikan isyarat kepada asisten Pak Biantra.


"Selamat siang, tuan." Ucap asisten Bu Biantra saat merespon panggilan Pak Sunijaya.


"Dimana bossmu. Saya mau bicara dengannya." Ucap Pak Sunijaya, tegas dan serius.


Tidak lama kemudian, telepon asisten Pak Biantra bergetar. Ketika melihat siapa yang telpon, dia langsung meletakan jari dibibirnya untuk memberi isyarat kepada asisten Bu Biantra supaya tidak bersuara.


"Selamat siang, tuan." Salam hormat, saat asisten Pak Biantra merespon panggilan Pak Sunijaya.


"Dimana bossmu? Kenapa tidak bisa dihubungi?" Tanya Pak Sunijaya yang telah memghubungi Pak Biantra berulang kali sebelum menghubungi istrinya.


"Saya juga tidak bisa menghubungi bapak, tuan." Jawanb asisten Pak Biantra pelan dan ragu-ragu.


"Apaa...?" Tanya Pak Sunijaya terkejut dan langsung mengakhiri pembicaraannya.

__ADS_1


Menjelang sore, Pak Sunijaya tiba di kediaman keluarga Biantra. Bu Biantra yang sedang pening dengan kejadian yang menimpah perusahaan dan rumah tangganya, tidak mengetahui kehadiran Papanya. Bu Biantra terkejut ketika mendengar suara Papahnya yang menggelegar memanggil namanya Bu Biantra segera berjalan cepat keluar dari ruang keluarga untuk menemui Papahnya.


"Apa yang kau lakukan di rumah, sedangkan perusahaan sebentar lagi mau lepas dari tanganmu? Mana suamimu? Apa ikut juga bermalas-malasan di rumah?" Tanya Pak Sunijaya saat melihat Bu Biantra keluar dari ruang keluarga untuk menemuinya.


"Papah, aku sedang pening dan pusing. Mari duduk dulu, baru tanya satu-satu." Ucap Bu Biantra lalu mengajak Papanya masuk ke ruang keluarga. Pak Sunijaya spontan melihat kepada Bu Biantra.


"Apa yang sedang terjadi dan kemana suamimu? Saya dan asisten sudah berulang kali telpon, ponselnya tidak bisa dihubugi." Pak Sunijaya tetap bertanya beruntun.


"Biantra sedang keluar untuk mencari anak-anak, Pah. Nanti kalau sudah kembali, kami akan ke tempat Papah." Ucap Bu Biantra untuk menutupi keadaan yang terjadi. Beliau tahu, Papahnya akan sangat marah jika tahu yang sebenarnya.


"Dia pergi mencari anak-anaknya atau sedang bersekongkol dengan anak-anaknya untuk menyerangku dengan mengambil semua milikmu?" Tanya Pak Sunijaya, curiga.


"Papah, tidak mungkin. Biantra sedang mencari anak-anak. Papah tau sendiri, sampai sekarang kami belum tau keberadaan anak-anak." Ucap Bu Biantra menyakinkan Papanya, karena beliau tahu yang terjadi. Mereka baru ribut dengan Aaric dan Pak Biantra pergi menyusulnya.


"Lalu mengapa kau belum kirim Gungun menemuiku? Apa dia juga pergi mencari anak-anakmu?" Tanya Pak Sunijaya yang masih tidak percaya dengan alasan Bu Biantra. 'Kenapa baru sekarang pergi mencari anak-anaknya.' Itu yang ada dalam pikirannya.


"Gungun belum ditemukan, Pah. Aku minta tolong dia waktu itu, sampai sekarang belum kembali. Aku sudah minta beberapa orang mencarinya, tapi belum ada kabarnya. Maafkan aku, Pah." Ucap Bu Biantra pasrah, karena apa yang terjadi dengan Gungun sudah tidak bisa disembunyikan lagi.


Mendengar itu, Pak Sunijaya memegang dadanya karena terkejut. Pak Sunijaya jadi panik dan khawatir, jika Gungun tidak ditemukan dan berada di tangan orang lain. Apalagi jika berada di tangan orang yang selama ini dihindarinya.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2