Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Berbagi Rasa 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Mereka kembali duduk di sofa, dengan perasaan lebih baik. Recky lebih tenang setelah mendengar yang dikatakan kakaknya. Jalan hidup seseorang tiada yang tahu, termasuk jalan hidupnya, kakaknya dan orang tuanya.


Ketika Aaric melihat Recky lebih tenang, dia kembali membicarakan apa yang akan dilakukannya. "Sebagaimana rencana awal kita, kau kembalilah ke Aussie. Biar aku bisa konsetrasi menyelesaikan semua ini. Jika aku anggap semuanya sudah lebih baik, aku akan memberitahukanmu. Sekarang kau sudah bisa bebas bekerja kemana saja. Tetapi jika ada yang bertanya tentang wanita itu kepadamu, tidak usah kau tanggapi atau berkata sesuatu." Aaric mengingatkan tentang kasus yang akan dihadapai Bu Sunny.


"Apakah wanita itu sekarang sudah ditahan, Kak? Apakah benar dia di tahanan atau pengacaranya mengusahakan dia ditahan di rumah?" Tanya Recky mulai melunak, saat mendengar apa yang dikatakan kakaknya. Dia tidak lagi memanggil Bu Sunny dengan iblis, tetapi wanita itu.


"Menurut Jekob, dia masih ditahan. Walaupun pengacaranya mengusahakan berbagai cara agar dia bisa tahanan rumah, tetapi pengacara Pak Hutama tidak mau kompromi. Ada apa?" Tanya Aaric karena tidak mengerti yang ditanyakan Recky.


"Kalau begitu, besok pagi kita pergi ke rumah, untuk mengambil sertifikat rumah itu, Kak. Jangan sampai rumah itu nanti ditinggali oleh mereka setelah menikah. Jika kakak mau menjualnya, juallah... Agar jangan ditinggal atau diambil oleh penghianat itu. Rumah itu milik Papa dan Papa katakan itu untuk kita berdua." Ucap Recky pelan dan yakin.


Aaric melihatnya seakan tidak percara. Padahal beberapa hari lalu dia sudah bicarakan dengan Jekob dan Sapta untuk menanyakan kepada Papanya. Tetapi dia belum sempat berbicara dengan Papanya, karena masih memikirkan bagaimana cara menanyakan hal itu kepada Papanya.


"Kau tahu dimana sertifikat rumah itu?" Tanya Aaric serius, karena Recky katakan mau pergi ambil sertifikat rumah, berarti dia tahu ada dimana sertifikatnya.

__ADS_1


"Iya, kak. Papa memberitahukan tempat menyimpannya saat aku pulang untuk membantunya. Papa katakan jika terjadi sesuatu dengan Papa, rumah itu milik kita berdua dan sertifikatnya Papa simpan di kamarku." Jawab Recky yakin.


"Waktu Papa pergi, tidak mungkin membawanya. Pasti yang dibawa hanya barang pribadinya di lantai bawah. Tidak mungkin naik ke atas untuk mengambil sesuatu. Atau kakak bisa tanyakan pada Papa, sebelum kita kesana." Recky jadi berpikir, mungkin Papanya membawa surat-surat penting di rumah.


"Kita pergi saja untuk mengeceknya. Sementara ini jangan kita katakan apa pun kepada Papa. Nanti kita akan berbicara secara langsung, saat semua ini selesai. Jadi besok kita ke sana sebelum kau kembali ke Aussie sekalian mengambil surat ceraimu yang asli." Aaric berpikir cepat untuk menghindari kejadian yang tidak terduga.


"Tidak usah khawatir jika wanita itu ada di rumah. Jika dia ada pun, kau bisa meminta surat ceraimu dan kita bisa periksa tempat penyimpanan Papa di kamarmu. Setelah itu kau kembali ke Aussie, sedangkan sertifikat rumah itu di sini. Jika sudah tenang, baru aku bicarakan dengan pengacara bagaimana baiknya." Aaric berpikir cepat, agar Recky tidak bertemu dulu dengan Papanya sebelum dia benar-benar tenang dan Pak Biantra pulih.


"Jika ada bertemu dangan wanita itu atau keluarganya, jangan sampai ada keributan dengannya. Jangan bicarakan apapun mengenai rumah itu dengannya. Jangan sampai ada yang bilang, ibunya belum juga divonis bersalah, anak-anaknya sudah ribut persoalkan rumah itu." Aaric tidak mau ribut soal perebutan harta dibicarakan di publik.


"Aku hanya ingat yang dikatakan Papa tentang rumah itu, Kak. Kalau yang lain aku tidak tahu. Kalau saham, mungkin Papa bawah karena itu Papa tidak bilang apapun." Aaric terdiam mendengar ucapan Recky tentang saham. Dia tidak mau membicarakan sekarang, tunggu bersama Papanya baru mereka bicarakan.


"Yang lain akan kita bicarakan setelah tenang. Kita pergi mengambil setifikat rumah dan surat ceraimu, hanya untuk mengamankan saja." Ucap Aaric, karena dia tidak mau membahas kondisi Pak Biantra dengan Recky dalam suasana yang sudah mulai kondusif. Bisa-bisa dia akan terbang ke Swiss dan Aaric tidak bisa menceganya.


"Apakah kita tidak bisa ke Malang untuk melihat kondisi Papa sebentar, Kak? Bukan aku tidak percaya kakak tidak mengurusnya, tetapi Papa mungkin sudah tau kalau wanita itu telah menceraikannya. Sedikit banyak, kehadiran kita bisa menghiburnya." Recky berkata pelan dan hati-hati, karena dia belum tahu hubungan kakaknya dengan Papanya seperti apa.

__ADS_1


Dia mau memintanya, mumpung dia sudah ada di Indonesia. Mungkin kakaknya bisa mengusahakan agar mereka bisa ke Malang sebentar, sebelum dia kembali ke Aussie.


"Soal Papa, tidak perlu kau khawatir. Aku sudah membawanya ke tempat yang aman, jauh dari jangkauan keluarga itu. Jadi Papa tidak mungkin mengetahui perihal perceraian mereka, karena belum diekspos. Aku mengetahuinya, karena pengacaraku memantau proses perceraianmu. Jadi pihak pengadilan negeri memberikan juga salinan surat perceraian mereka sama dengan punyamu." Ucap Aaric untuk menenangkan Recky.


"Kau kembali dulu ke Aussie, konsentrasi untuk membangun usahamu. Aku berjanji setelah semua persoalan ini sudah pada tempatnya, aku akan membawamu untuk bertemu Papa. Kita akan berbicara secara langsung padanya dan kita juga bisa dengar sendiri, apa yang Papa ingin lakukan untuk hidupnya ke depan." Aaric mencoba memberikan pengertian pada Recky, agar dia tidak curiga rentang kondisi Pak Biantra.


Recky melihat kakaknya dengan serius sambil mencernah apa yang dikatakan Aaric. "Baik, kalau itu yang kakak rencanakan. Aku percaya, kakak telah mengamankan Papa sebagaimana yang kakak lakukan untukku. Terima kasih, kakak tidak marah lagi sama Papa." Ucap Recky pelan sambil menunduk, mengingat kesedihan Papanya tidak bisa bertemu kakaknya.


"Sekarang kalau mau mandi, mandilah... Aku akan menghubungi Jekob dan Sapta untuk rencana besok. Aku juga ingin mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikiranku." Ucap Aaric lalu berdiri dengan hati lega. Recky bisa mengerti dan tidak mengamuk lagi. Hatinya benar-benar bersyukur, adiknya sudah sangat dewasa dalam bersikap dan tetap percaya padanya.


"Iya, Kak. Aku mau mandi. Besok aku kembali pakai pesawat komersial saja. Jadi tidak usah diantar sama Pak Sapta. Aku ingin menikmati suasana keramaian yang sudah lama kutinggalkan. Aku akan tetap berhati-hati agar tidak terekspos." Ucap Recky sambil mengangkat kedua jarinya, sebagai tanda berjanji agar kakaknya menginjinkan dia naik pesawat komersial.


"Baik. Setelah mandi, datang ke kamarku. Kita akan tidur bersama, ada yang mau aku bicarakan denganmu setelah berbicara dengan Jekob dan Sapta." Ucap Aaric sambil tersenyum, melihat Recky yang berjalan meninggalkan ruang tamu sambil mengangkat tangannya dan membentuk jarinya, yang mengisyaratkan 'OK'.


...~●○♡○●~...

__ADS_1


__ADS_2