Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Keputusan.


__ADS_3

~β€’Happy Readingβ€’~


Bu Nancy yang sudah berdiri, jadi duduk kembali mendengar yang dikatakan Carren. "Apakah Papa Aaric sedang sakit, hingga tidak bisa berada di tempat ramai?" Tanya Bu Nancy, pelan sambil berpikir.


"Sepertinya Papa Kak Aaric sedang kurang sehat, Ma. Beliau agak kurus dan terlihat tidak segar saat bertemu dengannya. Makanya tadi aku diminta Kak Aaric untuk masakin soup ayam kampung untuk Papanya." Bu Nancy melihat Carren dengan serius. Beliau mulai berpikir dan mencerna dengan baik, yang disampaikan Carren.


"Bisa jadi Papanya sedang sakit. Jika tidak demikian, tidak mungkin Aaric mau lakukan itu. Kalau begitu, lebih baik kau bicarakan dengan Aaric bagaimana baiknya. Mama ikuti kemauannya, karena mungkin kondisi Papanya menjadi pertimbangan, untuk lakukan acara ini secepatnya." Bu Nancy mulai mengerti situasi, ketika terlintas di pikirannya mungkin Papa Aaric sedang kurang sehat.


"Iya, Ma. Itu yang dikatakan Kak Aaric, akan membawa Papanya keluar Jakarta, mungkin ke luar negeri setelah acara ini." Carren jadi menceritakan yang dikatakan Aaric, berharap Mamanya bisa mendukung mereka.


"Kalau begitu, Mama akan mengikuti keputusannya. Agar dia bisa fokus mengurus Papanya. Kau jangan menambah permasalahan dengan meminta sesuatu yang berlebihan. Ini ujian buatmu, apa bisa mengerti dan mau menerima yang menjadi keputusannya." Bu Nancy berkata serius dan juga menasehati putrinya.


"Iya Ma. Aku juga minta pengertian Mama dan semoga Mama tidak marah atau tersinggung. Kak Aaric katakan, jika kita tidak bisa lakukan acaranya di rumah ini, mungkin bisa lakukan itu di apartemennya. Tapi itu pilihan terakhir yang disarankan, jika kita tidak ada pilihan lain lagi." Ucap Carren pelan, karena dia khawatir menyinggung Mamanya. Dia tahu, Mamanya sangat menjaga norma kepatutan dan kepantasan.


"Mengapa tidak kau katakan itu dari tadi? Dari pada tutup restoran untuk buang-buang uang, lebih baik lakukan saja di apartemennya. Toh' Aaric sudah memintamu dari Mama. Ini hanya untuk menyatakan kalian sudah resmi bertunangan. Soal tempatnya, Mama tidak bisa ngotot harus di sini, dalam situasi seperti ini. Sekarang ada orang yang lakukan itu di restoran atau hotel, tidak masalah." Bu Nancy bernafas lega dan tidak bertahan untuk adakan di rumahnya selayaknya adat sopan santun keluarganya.


Carren melihat Mamanya dengan hati yang sangat lega dan bersyukur, karena dia tidak perlu menjelaskan atau mendesak Mamanya untuk menerima saran Aaric. "Terima kasih, Ma." Ucap Carren yang sudah berdiri dan memeluk Mamanya dari belakang.

__ADS_1


"Lain kali, belajar sampaikan sesuatu jika dipadang baik. Tidak usah berpikir, Mama akan marah atau tersinggung. Mama utamakan kebahagianmu dari pada semua norma itu. Kadang Mama bersikap tegas, hanya untuk menjaga harga diri dan kehormatanmu, agar orang tidak semena-mena padamu. Kau bukan lagi Carren yang dulu, yang hanya bisa diam jika diperlakukan tidak baik. Kau telah tumbuh dan menjadi seorang gadis yang dewasa dalam bersikap dan berpikir. Mama percaya, kau mau menjaga perasaan Mama. Tetapi juga harus kau ingat, Mama berbahagia jika kau bahagia."


"Mama tidak mau pikirkan dan kau juga tidak usah pikirkan, orang atau keluarga akan bergosip tentang ini. Lagian siapa yang tau Aaric tidak datang ketok pintu rumah untuk melamarmu? Jika kita tidak ceritakan, tidak ada yang tahu, sehingga bisa menghina kita."


"Apabila kau merasa saran Aaric adalah bagian dari merendahkanmu, tidak usah terima. Tetapi jika kau merasa itu bagian dari solusi yang baik, ikuti kata hatimu." Bu Nancy berkata panjang dan lebar untuk menenangkan putrinya.


"Sekarang kau bicarakan dengan Aaric, agar dia tau apa yang harus dilakukan. Dia pria dewasa yang mengetahui tata krama dan adat kita. Makanya dia tidak paksakan kehendaknya padamu. Kalian berdua bicarakan, Mama mau masak untuk makan malam kita. Nanti bicara lagi setelah kau berbicara dengan Aaric." Ucap Bu Nancy lalu berdiri dan berjalan menuju dapur.


Carren berjalan ke kamar untuk mengambil ponselnya, lalu menghubungi Aaric.


πŸ“±"Alloo, Arra. Bagaimana, apa sudah bicara dengan Mamamu?" Tanya Aaric langsung pada intinya, karena dia sudah menunggu dari tadi. Yang mengantar Carren sudah kembali dan melapor, tetapi lama belum ada kabar dari Carren.


πŸ“±"No problem. Gimana, sudah diputuskan?" Aaric mau mendengar keputusannya, agar bisa berpikir jalan keluar lain, atau apa yang harus dia lakukan.


πŸ“±"Iya, Kak. Karena tukang tidak bisa perbaiki rumah kami dalam sehari, jadi aku sampaikan saran Kakak untuk adakan acaranya di apartemen. Mama menerima, setelah aku sampaikan kondisi Om yang tidak bisa makan di tempat ramai." Carren menjelaskan, agar Aaric tidak berpikir mereka mau begitu saja.


πŸ“±"Ooh, ok. Kalau begitu, serahkan padaku. Sekarang kita rubah sebutan acaranya. Bukan lamaran, tapi pertunangan, jadi bisa lakukan dimana saja. Kalau lamaran, aku harus datang ke rumahmu." Ucap Aaric serius, karena dia sudah pikirkan itu, saat menawarkan solusinya.

__ADS_1


πŸ“±"Tadinya aku sudah berpikir mau adakan itu di hotel, tapi sama saja. Lebih baik di apartemenku daripada di kamar hotel. Sekarang kau pikirkan, apa yang dibutuhkan untuk acara ini. Kau berikan norekmu, aku akan transfer uang untuk membeli yang diperlukan. Walaupun diadakan di apartemenku, kita adakan selayaknya orang bertunangan. Aku mau menebus salahku, karena melamarmu yang suka asal dan tiba-tiba. Kita akan berpakaian resmi, semoga kau bisa mengerti maksudku."


πŸ“±"Besok kau tidak usah ke kantor. Kau dan Mamamu pergi cari yang diperlukan sekalian ke salon. Walaupun ini mendadak dilakukan, tapi jangan kurangi maknanya. Ini acara resmi dan spesial untuk kita selain acara pernikahan nanti." Carren mendengar, jadi terharu karena dia tidak berpikir sejauh itu. Dia memegang dadanya karena tidak tahan dengan yang dirasakannya.


πŸ“±"Besok sebelum jam enam sore, kalian akan dijemput jadi tidak usah bawa mobil. Tolong bicarakan dengan Mamamu, semua yang aku katakan tadi dan katakan juga, aku minta terima kasih." Aaric terus berbicara, tanpa menyadari yang sedang dirasakan Carren.


πŸ“±"Arra. Kau masih di sana?" Tanya Aaric, ketika menyadari tidak ada jawaban dari Carren.


πŸ“±"Iya, Kak. Nanti Arra sampaikan." Ucap Carren pelan dengan suara bergetar menahan haru.


πŸ“±"Heiiii... Tenanglah... Bukan aku ambil bagianmu untuk mengaturnya, tapi ini bagian dari menebus salahku. Aku tau, kau akan mengaturnya lebih baik dariku, jika posisinya terbalik." Aaric mengira Carren diam karena tidak terima dengan yang akan dilakukannya.


πŸ“±"Arra, untuk acara tunangan kita, kau terima jadi saja. Nanti saat acara pernikahan, kau atur seperti yang kau inginkan. Sekarang ini, tidak boleh protes dengan apa yang aku lakukan. Jadi tolong bilang Mamamu dan juga kau untuk berdoa, agar semua yang direncakan bisa berlangsung dengan baik." Ucap Aaric pelan, tapi serius. Carren mengaminkan, lalu Aaric mengakhiri pembicaraan mereka.


Sebelum keluar kamar, Carren berlutut di atas tempat tidur. Sambil memegang dadanya yang sedang bergemuruh dan membuncah dengan rasa bahagia, dia menengadakan kepalanya.


'Ya, Tuhan. Biarkanlah kebahagian ini menjadi milik kami. Tolong pagari rencana kami ini dengan kasih-Mu, agar semuanya dapat berlangsung seperti rencana-Mu bagi kami berdua.'

__ADS_1


~●○♑○●~


__ADS_2