
...~•Happy Reading•~...
Sapta dan Jekob menatap bossnya dengan takjub, karena bisa memikirkan hal itu dalam kondisinya sendiri dan keluarganya sedang tidak baik-baik saja. "Baik, Pak. Saya akan berbicara dengan Gungun. Apakah masih lama menunggu kasusnya diproses?" Sapta bertanya demikian, agar bisa berbicara dan menyiapkan Gungun menghadapi kasus yang akan bergulir.
"Tidak. Besok saya akan bicara dengan Pak Hutama dan langsung kasusnya diproses. Pak Jekob tolong hubungi Pak Hutama, saya mau bertemu dengannya besok. Tidak usah menundah sesuatu yang sudah jelas." Ucap Aaric berusaha tenang.
"Baik, Pak. Saya akan berbicara dengan pengacara dan Pak Hutama." Jekob mengerti kondisi bossnya yang tidak mau menunda sesuatu yang sudah pasti penyelesaiannya dan tidak ada solusi yang lebih baik.
"Pak Jekob, ada laporan apa lagi diluar semua laporan tadi yang belum kau laporkan? Biar kita selesaikan semuanya, tidak perlu ditunda-tunda lagi. Makin lama diselesaikan, makin membuat kepala pening dan mau pecah." Ucap Aaric setelah mereka selesai membahas kasus Gungun dan masih duduk di ruangan pribadi Aaric.
"Iya, Pak. Ada yang mau saya laporkan mengenai permasalahan tuan muda Recky. Pengandilan Negeri sudah memutuskan mereka bercerai. Surat cerainya sudah di kirim ke rumah Nyonya. Dan ini salinan surat cerai yang diperoleh pengacara kita." Ucap Jekob, sambil mengeluarkan lembaran kertas dari dalam tas dan memberikannya kepada Aaric.
"Oooh, ok. Ternyata hari ini masih ada berita baik untuk kita. Recky pasti akan senang menerima ini, setelah sekian lama hanya berada di rumah dan mobil. Sekarang dia sudah bisa kemana-mana. Tolong disimpan, nanti berikan saat saya pulang ke apartemen." Aaric bernafas lega, mengetahui persoalan Recky telah beres.
Saat mengembalikan surat itu untuk disimpan oleh Jekob, Aaric merasa heran melihat wajah Jekob yang mendung. "Ada apa dengan wajahmu? Selain mendung, wajahmu seperti benang kusut yang salah digulung. Ada apa?" Tanya Aaric lagi, karena Jekob melihatnya dan agak ragu untuk menjawab. Aaric jadi melihatnya dengan alis bertaut.
"Ini mengenai Nyonya di rumah, Pak." Ucap Jekob pelan. Sapta hanya diam mendengar, karena dia tahu apa yang akan dilaporkan oleh Jekob.
__ADS_1
"Ada apa dengan iblis itu. Apa sudah kelihatan tanduknya?" Tanya Aaric asal, karena jika menyebut nama Mamanya dia teringat kepada apa yang dikatakan Pak Haiman di ruang rapat. Sangat tidak tahu malu dan menjijikan baginya. Jika tidak mengingat jabatannya sebagai pemegang saham mayoritas, dia sudah meleparnya dengan kursi untuk menutupi wajahnya yang memuakan.
"Pengadilan Negeri sudah mengeluarkan surat cerai juga untuk Pak Biantra dan Nyonya." Ucap Jekob pelan dan hati-hati. Aaric melihat Jekob seakan tidak percaya apa yang didengarnya.
"Kau yakin dengan informasi itu?" Tanya Aaric untuk meyakinkan informasi yang tidak diduganya.
"Yakin, Pak. Pengacara juga sudah mendapatkan salinan surat cerainya. Karena pernah dengar Nyonya mau gugat cerai Pak Biantra, pengacara sudah berbicara dengan pihak pengadilan, agar diinformasikan perkembangan gugatan itu. Ternyata surat putusan itu keluar hampir bersamaan." Jekob menjawab dan menjelaskan.
"Kalau tuan muda diminta oleh pihak keluarga Tarikalla agar bisa dipercepat proses gugatannya, karena istri tuan muda mau dinikahkan lagi dan tidak ada kabar mengenai tuan muda. Sedangkan gugatan Bu Biantra minta dipercepat oleh Pak Haiman yang terlebih dulu sudah bercerai dengan istrinya. Mereka berencana akan menikah dalam waktu dekat." Ucap Jekob tetap pelan dan hati-hati, agar tidak salah berucap.
"Jadi benar yang dikatakan ular sawah itu. Iblis itu sudah tidak sabar melempar tubuhnya ke kubangan untuk bermain lumpur. Saraf malunya sudah putus." Ucap Aaric emosi dan geram mengingat Mamanya.
"Pak Jekob, besok sebelum bertemu dengan Pak Hutama, saya mau bertemu dengan pengacara terlebih dahulu. Tadinya saya berpikir mau membawa iblis itu di atas nampan berduri. Tetapi sekarang sudah tidak ada hubungan dengan Papa lagi, saya akan memberikan hadiah pernikahan untuk mereka. Sepasang gelang besi yang akan mereka kenang di sepanjang usia mereka." Ucap Aaric geram dan marah.
"Lalu bagaimana dengan rumahnya, Pak. Apakah bapak akan membiarkan begitu saja, jika Nyonya dipenjara?" Tanya Jekob, mengingat banyaknya harta yang dimiliki Bu Biantra selama menikah dengan Pak Biantra. Sedangkan bossnya adalah anak sah dari Bu Biantra.
"Syukur kau ingatkan itu. Nanti saya tanya Papa, Rumah itu atas nama siapa. Kalau atas nama Papa, nanti saya bicarakan dengan Recky. Karena setahu saya, rumah itu dibeli oleh Papa karena tidak mau menerima rumah pemberian Opa." Ucap Aaric sambil berpikir.
__ADS_1
"Makanya kau lihat, rumah itu terhitung kecil dari keluarga yang lain. Tidak usah dibandingkan dengan mansion Opa. Dengan Om Lepart dan anak-anaknya masih lebih besar dan luas dari rumah itu. Jika memang atas nama Papa, saya akan bicara dengan pengacara untuk mengambinya. Biar Sero kita pindah ke sana dan di sini khusus tempat tinggal karyawan yang bekerja di kebun." Ucap Aaric sambil berpikir. Dia tidak mau berpikir tentang harta yang lain, terutama Opanya, karena itu hak Mamanya.
"Karena mereka sudah bercerai, saya tidak akan membiarkan ular sawah itu tinggal di rumah dari hasil keringat Papa. Kalau harta yang lain mau dihabisin, saya tidak perduli." Ucap Aaric lagi, dengan perasaan jijik.
Jekob dan Sapta hanya bisa terdiam, karena kalau menurut aturan umum, semua warisan Pak Sunijaya harusnya diwariskan kepada bossnya dan Recky. Karena mereka berdua adalah cucu sah dari keturunan Sunijaya. Tetapi dalam kondisi seperti ini, ceritanya bisa jadi lain. Bossnya juga tidak memperdulikan semua yang dimiliki Opanya.
"Bersyukur, Pak Lepart masuk penjara, kalau tidak, bisa rame." Ucap Sapta tiba-tiba, mengingat Om bossnya yang serakah. Mereka akan menempel Pak Sunijaya seperti linta.
"Mungkin mereka akan keluar penjara lebih awal, karena kejahatan mereka tidak seberat iblis itu. Jadi kita tunggu dan lihat saja, apa yang akan mereka lakukan." Ucap Aaric tidak perduli.
"Pak, ini hanya sebatas pemikiran yang terlintas dibenak saja, setelah menyimak pembicaraan kita dari tadi. Mungkinkah Pak Haiman ada maksud tertentu ngebet menikah dengan Nyonya di rumah? Jika dipikir-pikir, semua warisan Pak Sunijaya akan jatuh kepada Nyonya sebagai anak tunggal. Apalagi bapak dan tuan muda Recky hidup sendiri, tidak pernah mengotak atik atau recokin kekayaan yang dimiliki Nyonya." Ucap Jekob setelah berpikir sejenak.
"Yaaa, sebenarnya kalau mau berpikir begitu, bisa saja. Kenapa dia mau meninggalkan keluarganya untuk menikah dengan rubah tua itu? Sesuatu yang patut dicurigai, apalagi sekarang ketahuan dia salah seekor tikus di Biantra. Kita akan lihat, mungkin dia akan mencabut buluh rubah tua itu dan membiarkan dia hidup di panti jompo." Ucap Aaric dingin dan tidak perduli.
"Saya pernah membaca satu kutipan yang menarik tentang warisan. Membuat saya selalu berhati-hati mendekatinya apalagi terjun memperebutkannya. 'Dimana ada warisan, ada banyak orang menjadi serigala bagi saudaranya atau keluarganya.' Kutipan itu selalu teringat, ketika mulai bicara tentang keluarga iblis itu."
"Sehingga saya selalu berbicara dengan Recky, jangan mengharapkan warisan dari siapapun. Kalau itu memang milik kita, tetap akan menjadi bagian kita. Jangan biarkan warisan merusak hidup kita." Aaric berbicara sambil merenung, mengingat adiknya yang mengikutinya. Tidak pernah berharap warisan yang memang mungkin seharusnya jadi milik mereka.
__ADS_1
...~●○♡○●~...