Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Dari Hati ke Hati.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Beberapa waktu kemudian setelah meeting dan melihat laporan perusahaannya di Indonesia berjalan dengan memuaskan, Aaric terbang ke Sydney dengan jet pribadinya tanpa Jekob bersamanya. Jekob sedang melakukan rencana kerja Aaric dan penyelesaian persoalan keluarganya.


Aaric ingin bertemu degan Recky untuk membicarakan apa yang terjadi dengan keluarga mereka dan apa yang akan dilakukannya. Sebelumnya, dia tidak mempertimbangkan Recky dalam mengambil keputusan. Semuanya dia putuskan sendiri. Tetapi saat ini mereka telah bersama, sehingga Aaric perlu berbicara tentang apa yang akan menimpah keluarga mereka.


Saat tiba di rumah, Recky sudah tidur. Aaric hanya minum secangkir hot chocolate setelah mandi, lalu tidur. Dia tidak mau membangunkan Recky, karena dia sendiri sedang lelah.


Keesokan harinya, Aaric bangun dan melihat Recky sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Ketika melihat pelayan mengangguk hormat kearah belakangnya, Recky jadi ikut melihat ke belakangnya. "Kakaaaa..." Teriak Recky, lalu berdiri dan berlari memeluk kakaknya. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa senang melihat kakaknya sudah ada di rumah.


"Kau begini ini, sudah menikah?" Ucap Aaric, sambil memukul pelan punggung Recky yang sedang memeluknya karena sudah sangat merindukan kakaknya. "Ayoo, teruskan sarapanmu. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Ucap Aaric, agar mereka bisa pergi ke rumah sakit lebih pagi.


Banyak hal yang akan dibicarakan dengan Recky, sebelum berangkat ke Swiss. Melihat kakaknya sedang serius, Recky sarapan tanpa suara. Dia menghabiskan sarapan yang disediakan, kemudian berganti pakaian.


"Kak, aku minta William datang menjemput dan mengantar kita ke rumah sakit?" Tanya Recky, melihat kakaknya sedang serius dengan ipadnya.


"Tidak usah. Kita berdua saja, nanti aku yang bawa mobil." Ucap Aaric, lalu merapikan perangkat kerjanya dan dimasukan ke dalam tas. Kemudian dia ke garasi untuk mengeluarkan mobilnya.


"Kau pakai mobil ini?" Tanya Aaric, melihat mobilnya siap dipakai.

__ADS_1


"Tidak Kak. Hanya panasin saja. Belum berani keluar. Tunggu kakak dulu." Recky menjelaskan, kenapa mobil kakaknya sudah dalam keadaan siap pakai.


"Iya, nanti kalau sudah selesai dan bisa keluar, kau pakai saja jika aku tidak ada di sini." Ucap Aaric , memgijinkan Recky membawa mobil mewahnya.


"Tidak usah, Kak. Aku lebih suka mobilku yang di apartemen. William belum bisa membawanya, karena orang-orang itu masih ada. Mereka seperti orang kurang kerjaan, menunggu siang malam di apartemen itu." Ucap Recky kesal, karena melihat di cctv.


"Bukan kurang kerjaan, tapi memang itu pekerjaan mereka. Abaikan saja, sebentar lagi juga dipanggil pulang." Ucap Aaric yakin, karena mereka tidak mungkin selamanya di Sydney. Apalagi sebentar lagi perusahaan Biantra berpindah tangan.


Recky melihat kakaknya dengan serius, karena tidak mengerti yang dibicarakan Aaric. 'Apakah kakak sudah menyelesaikan permasalahanku dengan Liana?' Recky membatin, sambil masuk dan duduk di samping kakaknya.


Menjelang makan siang, Recky telah selesai pemeriksaan. Aaric merasa senang dan tenang setelah mengetahui hasil pemeriksaan tangan Recky yang telah pulih. Begitu juga dengan Recky, dia mulai menggerakan tangannya dengan bebas sambil tersenyum.


Selama ini, dia selalu terapi di rumah dan merasa tidak masalah lagi dengan tangannya. Tetapi karena kakaknya mau diperiksa menyeluruh untuk mengetahui kondisi pastinya, dia tetap menurut supaya kakaknya senang dan tenang.


Recky sangat menikmati makan siang bersama kakaknya. Bukan karena menunya, tetapi karena kehadiran kakaknya. Mereka sudah sangat lama tidak melakukannya, sehingga tanpa sadar Recky tersenyum. "Recky, makan. Kebiasaan dari dulu, tidak pernah hilang. Ada menu kesukaanmu, sampai tersenyum begitu?" Tanya Aaric, mengingat dulu Recky makan dengan tersenyum, jika ada makanan kesukaannya, disajikan.


"Bukan karena menunya, tapi senang bisa makan dengan kakak lagi." Ucap Recky tetap sambil tersenyum. Aaric menggelengkan kepalanya, lalu menunjuk makanan di piring Recky sebagai isyarat memintanya makan. Aaric tersenyum di hati melihat yang dilakukan Recky. Dari dulu, rasa senangnya bisa timbul karena hal-hal yang sederhana. Sehingga Aaric sangat menyayanginya.


Setelah makan siang, mereka duduk di teras belakang sambil menikmati udara sejuk dengan hamparan rumput yang luas dan pohon yang rimbun. Halamannya selalu rapi terjaga, karena Aaric selalu menyewa tukang kebun untuk rutin datang membersihkan dan merawat rumput dan pohon-pohonnya.

__ADS_1


"Recky, aku di dini tidak bisa lama karena mau ke Eropa. Aku ke sini, karena ada yang mau aku bicarakan denganmu tentang apa yang akan terjadi dengan keluarga kita." Aaric mulai berbicara sambil melihat reaksi Recky yang duduk di depannya.


Melihat keseriusan Aaric, Recky memperhatikan kakaknya dengan baik. "Sebagaimana kau tau, sekarang Papa sudah tinggal di Malang. Keberadaannya di sana tidak ada yang tau, jadi kau jangan katakan pada siapapun. Coba berikan nomor telpon Papa yang ada padamu." Aaric mulai menjelaskan kepada Recky. Recky mengeluarkan ponselnya dan memberikan kepada kakaknya.


Aaric mencatat di ponsel pribadi yang ada nomor Papanya. Ternyata benar, nomor yang disimpan Recky bukan nomor yang ada pada Aaric. Dia tetap menyimpan nomor lama Papanya, tapi tidak memberikan nomor baru kepada Recky. Dia khawatir Recky akan menghubungi Papa mereka sebelum masalah selesai.


"Ada banyak kejadian yang akan menimpah keluarga kita setelah ini, jadi kau harus kuat dan siap menerimanya. Kau ingat yang aku katakan di telpon saat itu? Tinggalkan pikiran yang membuatmu lemah dan peganglah pikiran yg memberi kekuatan bagimu." Aaric berkata dengan tenang dan serius


"Saat ini, terutama dengan iblis di rumah dan juga Opa. Untuk kau tau, peristiwa yang terjadi dengan Kak Naina bukan kecelakaan biasa. Tetapi karena perbuatan Iblis dan keluarganya." Aaric menceritakan kepada Recky, semua yang dikatakan Gungun kepadanya.


Recky terdiam sambil melihat Aaric seakan tidak percaya. Kepergian dan hubungan Kakaknya dengan Naina bisa berdampak sejauh itu. "Astagaaa, padahal dia datang melayat saat Kak Naina akan dikremasi." Recky berkata lalu melihat Aaric sedang serius menatapnya.


"Kau tau dari mana dia hadir saat itu?" Aaric bertanya serius dan juga heran.


"Aku tau, karena aku juga hadir. Hari itu aku baru tiba dari Sydney, untuk bantu Papa di kantor. Jadi mereka mengajakku ikut, dan aku ikut. Adik Kak Naina kan, teman sekolahku." Recky menjelasakan kejadian yang terjadi saat itu.


"Benar-benar iblis. Benar-bemar munafik." Aaric berkata dengan geram, membayangkan Mamanya bisa hadir melayat.


"Kakak, apakah kita bukan anaknya?" Tanya Recky serius dan tiba-tiba, membuat Aaric berdiri dan hampir memukulnya. Tapi melihat keseriusan Recky bertanya, Aaric kembali duduk.

__ADS_1


"Kau tidak pernah lihat kaca di mandi? Atau kau tidak pernah melihatku? Apa mata dan hidung kita tidak sama dengan iblis itu?" Tanya Aaric yang sudah turun emosinya mendengar pertanyaan Recky yang menurutnya kocak, tetapi ditanya dengan wajah serius.


~●○♡○●~


__ADS_2