
~β’Happy Readingβ’~
Carren mulai sibuk mempersiapkan acara resepsi pernikahan Recky dan Liana. Karena waktu yang diberikan sangat singkat, Carren bersama rekan-rekannya bekerja ekstra keras dan cepat. Mereka harus kerja lembur sepanjang minggu, mengingat tempat yang digunakan adalah ballroom hotel mewah dan terkenal. Para undangan yang hadir juga dari kalangan jet set. Carren sedang mempertaruhkan nama Florens WO dan juga sekaligus ajang promosi untuk usahanya.
Tiga hari menjelang hari H, undangan telah disebarkan ke berbagai rekan bisnis orang tua Liana dan juga teman-temannya. Liana mengirim undangan ke alamat rumah teman-temannya. Berbagai reaksi teman-teman Liana saat menerima undangan pernikahannya.
**Ayunna**
Disaat pulang kantor, Ayumna diberitahukan oleh pelayan ada undangan pernikahan untuknya. Ketika melihat nama yang tercantum dalam undangan pernikahan, Ayunna terkejut. Dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Liana.
π±"Liana, apa maksudmu dengan undangan yang kau kirim ini?" Tanya Ayunna saat Liana merespon panggilannya. Ayunna tidak memberikan salam lagi, karena sangat terkejut.
π±"Ooh, iya Ayunna. Aku mau menikah dengan Recky, karena ada sedikit accident. Maaf ya, aku ngga sempat ceritakan padamu sebelumnya." Liana berbicara cepat, karena dia takut Ayunna akan marah padanya.
π±"Jadi benar, kau mau menikah dengan Reckyku? Kau sudah lakukan apa, sampai Recky mau menikah denganmu?" Tanya Ayunna curiga.
π±"Aku belum bisa cerita padamu sekarang. Tetapi aku berharap kau mau memaafkanku dan datang ke resepsi pernikahan kami." Ucap Liana pelan, karena dia tahu, Ayunna sedang terkejut dan mungkin marah padanya.
π±"Aku ngga nyangka, kau itu memang ular. Aku akan datang dan melihat apakah ular sepertimu bisa bahagia setelah menggigit." Ayunna langsung mengakhiri pembicaraan mereka dengan geram tanpa memberikan salam.
Ayunna duduk terhenyak sambil terus berpikir, apa yang sedang terjadi sehingga Recky mau menikah dengan Liana. 'Apakah ini campur tangan orang tua Liana dan orang Recky?' Ayunna berpikir dan bertanya dalam hati.
**Sainy**
Sainy yang telah menerima undangan resepsi pernikahan dari Liana, terkejut. Karena setahunya, Recky adalah gebetan Ayunna. 'Kenapa tiba-tiba yang menikah justru Liana?' Itu adalah pertanyaan yang mengganggunya.
Sainy mengambil ponselnya untuk menelpon Ayunna. Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Dia ingin mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.
__ADS_1
π±"Allooo, Ayunna. Kau sudah terima undangan dari Liana?" Tanya Sainy, saat Ayunna merespon panggilannya.
π±"Allooo, Sainy. Iyaa. Aku sudah terima undangannya. Dengan kau bertanya itu, pasti kau sudah menerima undangannya juga." Ucap Ayunna yang masih terkejut dan tidak bisa mengerti yang terjadi.
π±"Bukannya saat itu Liana yang bilang Recky adalah gebetanmu. Kenapa sekarang malah dia menikah dengannya?" Sainy menyampaikan rasa penasarannya.
π±"Sainy, maaf. Aku sendiri sedang tidak mengerti, apa yang sedang terjadi. Kalau mau ingin tahu yang sebenarnya, datang saja pada acara resepsinya. Mungkin di sana bisa tahu, apa yang sedang terjadi. Sekarang aku ingin istirahat, karena baru pulang kerja, capek" Ucap Ayunna, lansung mengakhiti pembicaraannya tanpa menunggu salam dari Sainy. Hal itu membuat Sainy tertegun dan menyadari, Ayunna sedang marah.
**Riri**
Begitupun dengan Riri yang baru pulang kerja dan diberitahukan oleh pelayan ada undangan untuknya. Dia melihat dua undangan yang sama di meja ruang keluarga. Dia mengambil untuk dirinya dan membukanya. Riri tertekujut saat melihat nama calon pengantin dalam undamgan tersebut. Dia teringat pertemuannya dengan Sainy, Ayunna dan Liana di Nine Five Restaurant.
'Bukankah saat itu Liana katakan bahwa Recky adalah gebetan Ayunna?' Itu yang ada dalam pikitan Riri. Tetapi dia menepisnya. 'Mungkin aku salah dengar, karena tidak fokus pada pembicaraan mereka. Pikiranku saat itu, hanya terfokus pada Parry dan Carren.' Riri membatin, lalu meletakan undangannya di atas meja rias di kamarnya.
'Aku terpaksa akan pergi dengan Ayah dan Ibu, karena Mas Leon sedang ke Amerika.' Riri berpikir, sambil membuka lemari untuk melihat bajunya. Dia sedikit lega, melihat ada baju yang bisa dikenakan ke acara resepsi tersebut. Dia sedang sibuk di kantor, jadi tidak memiliki banyak waktu longgar untuk pergi ke butik.
Hal yang sama terjadi di rumah Parry. Saat tiba di rumah, dia diberitahukan oleh pelayan bahwa ada undanhan untuknya di meja ruang keluarga. Dia ke ruang keluarga untuk mengambil undangan sebelum menuju kamarnya.
Saat membuka undangannya, Parry terkejut melihat nama Liana yang akan menikah dengan Recky. 'Apa yang sedang terjadi?' Parry bertanya dalam hati. Karena selama ini dia tahu, Ayunna yang tergila-gila kepada Recky dari masa sekolah. Sampai-sampai mereka sering membully Carren, karena Recky lebih tertarik kepada Carren.
Mengingat Carren, Parry mengambil ponselnya lalu menghubungi Carren.
π±"Allooo, Carren. Kau sudah di rumah?" Tanya Parry saat Carren merespon panggilannya.
π±"Allooo, Parry. Belum, aku masih di kantor. Bagaimana?" Tanya Carren yang sedang duduk di ruang kerja sambil meluruskan kakinya yang pegal. Dia dan semua karyawannya sedang bekerja lembur.
π±"Oooh, aku kira kau sudah di rumah. Apakah kau dapat undangan pernikahan Liana?" Tanya Parry ragu-ragu, tanpa menyebutkan nama Recky.
__ADS_1
π±"Iya, Parry. Aku sudah menerimanya. Bagaimana denganmu?" Tanya Carren pelan dan mencoba ceria.
π±"Aku juga sudah menerima, makanya menghubungimu. Apakah kau mau pergi ke acara itu denganku?" Tanya Parry, kembali ragu-ragu. Apakah Carren akan pergi ke acara resepsi Recky.
π±"Maaf, Parry. Aku ngga bisa pergi denganmu, karena Liana menggunakan jasa kantor kami untuk acara pernikahannya. Jadi aku pasti akan sangat sibuk hari itu." Parry terkejut mendengar yang dikatakan Carren. Liana menggunakan jasa Carren untuk acara tersenut.
π±"Oooh, kalau begitu, kau hati-hati. Jangan lupa jaga kesehatan." Ucap Parry, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah Carren mengucapkan terima kasih.
Parry jadi duduk dan berpikir, berarti Carren sudah lama tahu tentang rencana pernikahan Liana dan Recky. Dia mengabaikannya, lalu berpikir akan pergi dengan orang tuanya ke acara tersebut. Karena dia melihat undangan yang sama dikirimkan kepada orang tuanya.
.***.
Keesokan harinya, Parry telah nerada di ruang kerjanya dan melihat Riri sedang sibuk di mejanya. Dia teringat undangan pernikahan Liana, lalu terlintas dipikirannya. Dia memanggil Riri untuk masuk ke riangannya.
"Alle, besok malam kau ada acara atau tidak?" Tanya Parry, setelah Riri berada dalam ruangannya. Dia ragu-tagu dengan apa yang ada dipikirkannya.
"Besok malam, sepertinya ada Pak. Bagaimana, Pak? Ada yang mau dikerjakan besok malam?" Tanya Riri, tenang. Dia berpikir, kalau ada kerjaan, dia akan memilih bekerja, daripada harus pergi ke undangan Liana dan bertemu dengan yang lain. Apalagi Leon tidak bisa menemaninya.
"Tidak berhubungan dengan pekerjaan, tetapi urusan pribadi. Mungkin kau bisa menemaniku ke acara resepsi pernikahan teman. Saya tidak bisa kumpul dengan orang yang tidak kenal baik. Karena Carren tidak bisa, kau yang aku kenal dan dekat denganku, mungkin bisa menemaniku." Parry menjelaskan tentang rencananya.
Riri tersenyum girang dalam hatimya saat mendengar apa yang dikatakan Parry. "Bisa, Pak. Kalau bapak mau saya temani, akan saya lakukan." Ucap Riri tanpa bisa menutupi rasa senangnya.
"Baiklah, terima kasih. Kalau begitu, nanti jam istirahat kau pergi ke butik untuk memilih baju yang cocok denganmu. Dan tolong berikan alamatmu kepada sopir, agar bisa pergi menjemputmu." Ucap Parry, dengan hati lega karena ada orang yang bisa menemaninya berbicara ditengah acara pesta.
"Tidak usah, Pak. Saya ada punya baju untuk ke pesta. Dan juga, sopir bapak tidak usah menjemput. Saya akan datang ke sana sendiri, nanti bapak tunggu saya sebelum masuk ke tempat acara. Besok saya akan hubungi bapak, saat sudah berangkat." Parry melihat Riri dengan wajah bertanya-tanya, karena belum memahami ucapan Riri yang tidak biasanya.
"Dan ini juga, Pak. Dari sekarang, saya mohon maaf kepada bapak. Kalau saya buat salah, saya terima jika dipecat." Ucap Riri, yakin. Karena dia berpikir, besok adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan siapa dirinya kepada Parry dan bersedia jika dipecat karenanya.
__ADS_1
β‘β’~Jangan lupa like, komen, vote danΒ favorit, yaa... ππ» Makasih~β’β‘