
...~•Happy Reading•~...
Carren berbalik dan memeluk Aaric dengan erat. Hatinya sangat membuncah menerima semuanya. Untuk berada di tempat yang terkenal dan bisa naik balon udara, jangankan bermimpi, membayangkannya saja tidak. Dia tidak menyangka, Recky mengingat apa yang dikatakannya pada pertemuan terakhir mereka di tepi danau. Bahkan dia memberi lebih dari yang dibayangkannya.
"Kak, aku sangat diberkati bertemu dan miliki kalian berdua dalam hidupku." Ucap Carren menumpahkan semua rasa yang disimpannya semenjak dari ruang resepsi. Aaric hanya bisa memeluknya dengan erat sambil mencium puncak kepalanya lama dan dalam.
"Bukan hanya kau, kami pun diberkati bisa bertemu denganmu. Bisa menerima kondisi kami dan keluarga kami. Ke depan, mungkin kau akan mengerti yang kukatakan saat ini. Semoga itu tidak menjadi sandungan bagi kita." Ucap Aaric pelan dan berharap.
"Jika ada sesuatu yang buruk terjadi di waktu yang akan datang, ingatlah semua yang kita nikmati sampai saat ini. Tidak mudah untuk kita bisa bersama. Banyak hal yang baik dan buruk yang telah kita lewati. Jadi tetaplah seperti ini, mendampingiku dalam berbagai situasi dan kondisi yang akan terjadi." Ucap Aaric pelan dan serius sambil terus memeluk Carren. Dia belum sempat menceritakan apa yang dilakukan Mamanya.
"Kau mau makan malam di sini atau di luar? Biar sekarang aku reservasi tempat, jika mau makan malam di luar." Tanya Aaric, karena Recky menyerahkan rencana mereka di Cappadocia sesuai keinginan mereka.
"Kita makan di sini saja, Kak. Makan malam sambil melihat langit yang bertaburan bintang. Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan." Ucap Carren pelan, karena dia ingin berbagi waktu bersama Aaric, mumpung mereka sedang berlibur. Jika sudah kembali ke mode kerja, mereka akan sangat sibuk.
Maka jadilah mereka makan malam di tempat mereka menginap. Tempat yang sangat cocok untuk pengantin baru makan malam dan bermadu kasih. Aaric menyetujui yang dikatakan Carren, karena tempat dan suasananya sangat tenang dan romantis dengan langit yang bertaburan bintang.
Saat makan malam mereka telah disajikan, Aaric mengambil ponselnya lalu memutar lagu 'Stand By Me' by Seal mengiringi makan malam mereka. Walaupun telah selesai makan malam, mereka tetap duduk menikmati malam sambil berpelukan dan memadu kasih.
Kemudian Aaric menepati janjinya untuk menggendong Carren dan membwanya ke tempat tidur. Mereka meneruskan malam pertama mereka ditemani suara merdu Seal dari ponsel Aaric. Makin malam, makin panas, hanya di tubuh mereka. Ruangan yang dingin tidak mampu mendinginkan hasrat yang timbul dari rasa cinta dan kasih sayang dari dua insan yang saling mencintai.
__ADS_1
Setelah semuanya berlalu, Carren tetap ada dalam pelukan Aaric sambil memejamkan matanya yang sudah berembun. Ya, Tuhan, terima kasih untuk semuanya. Lindungilah kami dengan kasih sayang-Mu, agar kami selalu berjalan di jalan-Mu.' Carren membatin dalam diam. Dia sangat terharu untuk kebahagiaan yang diterimanya.
Mereka teridur sambil berpelukan. Aaric terjaga setelah pagi. Dia melihat Carren masih tertidur pulas. Dia memainkan rambut di kening dan pelipis Carren dengan sayang. Hatinya sangat bersyukur melihat Carren telah menjadi miliknya seutuhnya. Terutama setelah malam panjang dan panas yang mereka lewati.
'Ya, Tuhan, kebaikan apa yang kulakulan di waktu yang lalu, sehingga Kau memberikan kesempatan bagiku menyentuhnya pertama kali? Aku hanya mampu berterima kasih pada-Mu.' Aaric membatin dengan hati membuncah, karena merasa sangat diberkati beristrikan Carren.
Carren terjaga, ketika Aaric hendak mencium keningnya. "Morning... Aku membangunkanmu?" Tanya Aaric yang melihat Carren sudah selesai loading.
Carren menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah, mengingat malam yang telah mereka lewati bersama. Aaric langsung memeluknya, karena dia tahu apa yang ada dalam pikiran Carren ketika melihat wajahnya.
"Kita tidak bisa naik balon udara pagi ini, karena matahari sudah bersinar. Nanti besok pagi kita harus bangun sebelum jam lima, supaya bisa melihat sunrise dari balon udara." Ucap Aaric, karena melihat mentari pagi telah bersinar terang. Carren mengangguk mengiyakan, karena mengerti yang dimaksudkan Aaric.
"Aaauuuu..." Ucap Carren saat hendak bangun. Bagian bawah tubuhnya terasa perih dan sakit. Hal itu membuat Aaric terkejut dan panik.
"Maaf. Tadi malam aku terlalu bersemangat. Aku harus gimana?" Tanya Aaric, karena pikirannya bleng, tidak tahu mau lakukan apa.
"Aku mau ke kamar mandi, Kak." Ucap Carren dengan wajah makin memerah.
"Kalau begitu, mari kugendong." Ucap Aaric dan segera turun dari tempat tidur, lalu menggendong Carren dengan hati-hati dan khawatir ke kamar mandi. Dia merasa bersalah, karena tidak bisa mengendalikan dirinya.
__ADS_1
"Kalau perlu sesuatu, panggil saja. Aku menunggumu di luar." Ucap Aaric setelah mendudukan Carren di closet. Carren mengangguk mengerti sambil mengelus lengan Aaric untuk menenangkannya.
Aaric keluar dari kamar mandi lalu menutup pintu di belakangnya. Dia berjalan mondar mandir di depan kamar mandi sambil berpikir. Dia tidak bisa menanyakan Jekob, Sapta, apalagi Recky untuk menanyakan obat apa untuk Carren. Mereka pasti tidak akan menolong, tapi malah tertawa atau menggangunya.
Sedangkan mau hubungi dokter pribadinya, dia merasa malu untuk membicarakannya. Semuanya akan berunjung dengan ledekan atau canda tawa. "Kakak, tolong ambil tas tanganku, ya." Tiba-tiba Carren memanggil dari kamar mandi. Aaric segera mengambil tas yang dimaksudkan Carren.
"Aku masuk sekarang, ya." Ucap Aaric, karena dia tahu, mereka baru saja lewatin satu malam. Carren belum terbiasa, jadi dia mesti mengerti. "Iya, Kak." Jawab Carren dari dalam kamar mandi. Carren teringat dengan botol minyak kecil yang selalu dibawanya kemana-mana. Mamanya selalu menyuruhnya bawa untuk mengoles tangannya jika terluka saat mendekor. Dia berpikir, mungkin saja bisa mengurangi rasa peri di bagian bawah tubuhnya.
"Ada sesuatu yang kau bawah untuk mengurangi sakit?" Tanya Aaric sambil memberikan tasnya.
"Aku coba saja, Kak. Ada minyak yang Mama kasih untuk mengobati luka di tanganku saat dekor. Mungkin itu bisa membantu. Kakak tunggu di luar, ya. Nanti sudah selesai, baru aku panggil kakak." Aaric mengangguk, lalu keluar kamar mandi.
Carren meneteskan sedikit minyak di tissu lalu memakainya. Setelah merasa sedikit lebih baik, Carren memanggil Aaric untuk menggendongnya keluar dari kamar mandi. "Gimana, bisa? Atau aku hubungi dokter?" Tanya Aaric khawatir.
"Ngga usah, Kak. Sementata biarkan aku duduk di tempat tidur saja. Nanti kalau sudah nyaman, baru kita keluar, ya." Ucap Carren merasa tidak enak melihat Aaric cemas.
"Iyaa... Aku sudah minta sarapan di bawa ke sini. Kau jangan bergerak dan tidak usah mandi dulu." Ucap Aaric masih khawatir.
"Iya, Kak. Sebenarnya, tadi aku sudah cuci muka dan sikat gigi. Tapi sebelum aku mandi, jangan dekat-dekat, ya. Nanti kakak pingsan." Ucap Carren bercanda, karena melihat Aaric yang belum tenang.
__ADS_1
Mendengar itu, Aaric langsung naik ke tempat tidur dan memeluknya. "Sorry... Nanti berikutnya, aku akan lebih hati-hati. Hahahaha..." ucap Aaric tertawa. Carren jadi ikut tertawa sambil memukul pelan tangan Aaric yang sedang memeluknya.
...~●○♡○●~...