Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Tentang Bu Sunny 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Aaric berjalan mendekati Bu Sunny dalam kemarahannya, karena mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Sunny tentang Papanya, dia dan adiknya. "Apa kami yang menyeretmu untuk menikah dengan Danang Biantra? Apakah kami minta dikandung dan dilahirkan olehmu? Bersyukurlah kau dilahirkan sebagai perempuan. Jika kau laki-laki, aku sudah membuat gigimu jalan-jalan." Ucap Aaric, dengan amarah yang sudah di puncak kepala.


"Kau katakan kami tidak tau diuntung? Kau yang tidak tau diuntung. Mendengar lelaki tikus mondok itu ditahan, kau lari seperti orang gila ke sini. Tetapi apa yang kau lakukan kepada lelaki yang hidup bersamamu puluhan tahun itu saat terpuruk? Apakah kau berlari mengejarnya saat dia sedang susah dan sedih? Melangkah selangkah pun tidak kau lakukan." Aaric berkata dengan rahang mengeras sambil mendekatkan wajahnya ke arah Bu Sunny. Sehingga Bu Sunny harus melangkah mundur untuk menghindarinya.


"Kau khawatir kepada pencuri itu, tetapi kau tidak memikirkan lelaki yang menghidupimu puluhan tahun. Apakah lelaki itu sakit atau sehat, hidup atau mati. Jika tidak ingat apa yang dikatakan kakekku untuk tidak berbuat dosa dengan menyentuh orang berdosa, aku sudah membuat kalian berdua bermain di lumpur." Ucap Aaric mengingat pesan Kakeknya lewat Papanya yang baru dikatakan Papanya sebelum mereka berangkat ke Swiss.


"Benar-benar tidak tau malu, saat  membutuhkan hartanya kau mencarinya, bahkan membayar anj**g-anj**ng itu untuk mengejarnya. Seakan-akan dia mencuri darimu. Dengan gatalnya kalian selama ini, jika aku adalah Danang Biantra, aku sudah menanam tikus mondok itu di bawah pohon cabe sebagai pupuk." Ucap Aaric dengan geram. Bu Sunny jadi mundur sampai menyentuh tembok, karena Aaric terus berjalan maju mendekati wajahnya dengan mata membara.


Ketika Aaric hendak meluapkan amarahnya lagi, pintu ruang kerja Jekob diketuk dari luar. Jekob segera berdiri untuk membuka pintu. Aaric menarik dirinya lalu berjalan ke sofa dan duduk di sana untuk menenangkan diri. Dia berpikir cepat, jangan sampai Pak Hutama yang datang, karena mereka telah membuat janji untuk bertemu di ruang kerja Jekob.


Benar saja, Jekob masuk bersama Pak Hutama. Aaric bersama pengacara segera berdiri untuk menyambutnya dan terkejut melihat Pak Hutama tidak datang sendiri.


"Maaf, Aaric. Istri saya ikut juga, karena ingin bertemu de ngan mu... " Pak Hutama tidak menerusksn ucapannya karena melihat Bu Sunny ada berdiri di dalam ruang kerja Jekob sambil bersandar di tembok. Bu Hutama mengikuti arah tatapan mata Pak Hutama, lalu terkejut melihat ada Bu Sunny di sana.

__ADS_1


Wajahnya berubah seperti udang rebus, tanpa suara Bu Hutama berjalan cepat ke arah Bu Sunny dan menamparnya dengan kekuatan penuh. "Wanita iblis tidak tau malu. Apa yang putri kami lakukan kepadamu, sampai kau tega lakukan itu padanya?" Bu Hutama sangat emosi dan marah melihat Bu Sunny. Pak Hutama telah menceritakan kejadian yang menimpah Naina kepada Bu Hutama. Sehingga Bu Hutama ikut datang bersamanya untuk mendengar langsung dari Aaric cerita yang sebenarnya.


"Jika tidak melihat putramu, aku sudah menjambak rambutmu dan menyeretmu keluar dari tempat ini sampai ke kantor polisi. Wanita tidak bermoral, kau marah dan dendam kepada suamiku dan keluarganya, tetapi kau balaskan itu kepada putri kami yang tidak tau apa-apa"


"Naina belum ada di dunia ini, saat kau hendak menjual dirimu kepada Hutama. Walaupun sudah dijual murah, Hutama tidak berminat. Sudah tau Hutama punya kekasih, tapi masih mendesak bapakmu untuk melakukan penjodohan dengan segala cara dan ancaman. Kau kira keluarga Hutama matrealistis seperti keluargamu? Mereka juga memiliki yang kalian miliki. Dengan kejadian ini, aku jadi curiga, jangan, jangan orang tua suamiku mengalami kecelakaan karena perbuatan kalian juga." Ucap Bu Hutama dan membuat Bu Sunny, memucat. Cap tangan Bu Hutama makin jelas terlihat di pipinya.


Bu Sunny tidak menyangka akan bertemu dengan Pak Hutama dan istrinya. Beliau masih shock mendapatkan tamparan yang begitu keras dari Bu Hutama. Sehingga terus memegang pipinya yang memerah dan panas dengan cap tangan Bu Hutama yang membekas.


Melihat Bu Sunny hanya diam, membuat Bu Hutama makin emosi. "Apa kau tau yang kami alami belasan tahun ini karena perbuatanmu? Suamiku harus mengamankan kami dengan penjagaan berlapis, karena mengira ada yang mau mencelakai kami. Kami tidak bisa mengumumkan putra kami kepada publik, untuk mencegah hal yang sama terjadi seperti kakaknya."


"Kami tidak bermaksud untuk mencelakainya. Kami hanya mau menakutinya, karena dia tidak mau  mendengar dan menolak permintaan kami." Ucap Bu Sunny pelan, berusaha untuk membela diri dengan alasan yang membuat orang geram.


"Kau benar-benar gob**k. Kau kira kami dan hakim akan percaya omongan sede**gmu itu? Kau katakan hanya untuk menakutinyanya dengan tiba-tiba menyalip mobilnya yang sedang dalam kecepatan tinggi di tol, hingga terguling? Kau kira kami dan hakim bodoh, hingga bisa kau kelabui?" Bu Hutama menepis tangan Pak Hutama yang memeluknya, lalu menatap Bu Sunny kembali dengan emosi.


"Bu Biantra, jangan berkata apapun yang akan memberatkanmu di pengadilan. Lebih baik berbicara dengan pengacara anda sebelum berkata sesuatu yang nantinya, akan merugikan anda." Ucap pengacara Aaric yang dari tadi diam menyimak peristiwa yang tidak diduganya. Dia mencegah Bu Sunny yang akan menjawab Bu Hutama.

__ADS_1


Begitu juga dengan Aaric dan Jekob yang masih berdiri bersama Pak Hutama. Mereka tidak menyangka reaksi Bu Hutama bisa seperti itu. "Berhenti memanggil dia dengan embel-embel Biantra. Dia bukan lagi istri seorang Biantra. Saya bersyukur, dia akan diseret ke pengadilan dengan nama bapaknya." Ucap Aaric, sambil memandang ke arah pengacara.


"Apa maksudnya, Aaric? Apakah Papamu telah menceraikannya?" Tanya Pak Hutama terkejut mendengar apa yang dikatakan Aaric. Beliau bertanya demikian, karena tahu Pak Biantra tidak menjabat lagi di Biantra Group, mungkin akibat telah bercerai.


"Dia yang menggugat cerai Papa dan baru saja bercerai, Pak Hutama. Jadi Silahkan saja bapak menuntutnya, tanpa ragu." Ucap Aaric dingin dan tidak perduli.


"Waaah... Inilah yang disebut bersyukur dalam segala keadaan. Bukannya saya bersyukur orang tuamu bercerai, tetapi dengan dia menuntut cerai Papamu, di sidang nanti tidak akan tersangkut nama Biantra." Ucap Pak Hutama sambil melihat Aaric dengan serius.


Aaric terkejut mendengar ungkapan Pak Hutama, lalu bernafas lega. "Terima kasih, Pak. Saya tidak memikirkan itu. Saya akan mendukung semua yang bapak dan Ibu lakukan dan siap membantu. Bapak katakan saja. Papa saya sekarang bisa tidur dengan tenang, karena namanya tidak akan terseret bersama orang yang tidak tau diri dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya." Ucap Aaric sambil melihat Bu Sunny dengan emosi.


"Ternyata sesuatu yang buruk dibiarkan tanpa koreksi, akan makin tidak terkendali. Seperti yang dilakukan wanita itu. Kesukaannya menikung dari dulu sampai sekarang makin berkembang dangan bebas." Ucap Aaric sinis. Karena dia sudah tau, Pak Haiman sudah memiliki istri dan anak yang sudah dewasa.


Pak Hutama dan istri ikut menatap Bu Sunny, karena mengerti arti ucapan Aaric. "Sudah tua bukannya sadar diri dan menata diri dengan baik, tapi makin menjadi-jadi. Ini namanya tua-tua keladi, makin tua makin jadi." Ucap Bu Hutama sambil menatap Bu Sunny yang hanya terdiam.


...~●○♡○●~...

__ADS_1


__ADS_2