Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Tempur 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Sapta terus memantau kerja para anggota keamanannya untuk mengamankan boss besar agar bisa tiba dengan selamat di ruang rapat. Apalagi Sapta sudah melihat cengiran sinis dan raut wajah puas Pak Sunijaya saat mengetahui pemegang saham mayoritas belum tiba di ruang rapat.


Beliau berpikir, orang suruhannya telah berhasil mencegah pemegang saham mayoritas hadir. Sehingga mulai menyembur-nyembur ucapan menghasut untuk menambah keburukan pemegang saham mayoritas. Beliau berharap masih bisa mempengaruhi dan menarik simpati Pak Hutama dan juga pemegang saham Pak Yogi.


Sedangkan kelanjutan keberadaan pemegang saham mayoritas sudah diserahkan kepada orang-orang yang akan membawanya. Pak Sunijaya telah memerintahkan untuk diselesaikan sampai pada titik, tidak dibiarkan hanya pada koma. Jadi jika terjadi sesuatu dengannya, Pak Sunijaya sudah membuat alibi yang bagus, sedang berada di ruang rapat.


Pak Sunijaya sudah memerintahkan orang untuk mencegah siapapun yang berwajah bule untuk mendekati gedung Biantra group. Oleh sebab itu, keamanan diperketat dengan pakain preman, di seluruh tempat parkir dan lobby gedung. Tanpa Pak Sunijaya ketahui, team keamanan Sapta juga sudah siap mengamankan boss besar mereka. Team keamanan Sapta bekerja dalam senyap, membersihkan satu persatu anggota keamanan Pak Sunijaya sebelum Aaric tiba di Gedung Biantra.


Sebenarnya Aaric bisa tiba tepat waktu, tetapi anggota keamanan yang ditugaskan menjemput dan mengawalnya mengambil jalan agak memutar. Tidak melewati jalan umum yang biasa dilewati orang. Karena mereka tidak masuk ke Gedung Biantra lewat lobby, tetapi lewat pintu darurat yang telah disteril oleh Sapta dan anggotanya.


Setelah Sapta diberitahukan, bahwa boss besarnya sudah tiba di gedung Biantra. Sekarang sudah menuju ruang rapat, Sapta memberikan kode kepada Jekob. Dia meletakan tangannya di telinga sebagai isyarat untuk Jekob bersiap-siap.

__ADS_1


Tidak lama kemudian pintu ruang rapat dibuka oleh petugas dan Aaric melangkah masuk ke ruang rapat tanpa ekspresi. Wajah tampan berkharisma yang dingin dengan tapapan tajam menyapu seluruh ruangan. Dia melangka dengan percaya diri tanpa memperdulikan tatapan banyak mata yang penasaran dan ingin tahu tentangmya. Terutama Pak Sunijaya dan Om nya yang telah bekerja sama untuk mencegah dan menyingkirkannya.


Aaric berjalan masuk seperti bintang JB 007. Dia mengenakan jas hitam dipadu dengan kemeja abu tua dan dasi hitam bermotif abstrak dengan garis halus abu tua, muda dan merah yang dipesan khusus di Paris untuk rapat perdananya dan sekaligus memperlihatkan dirinya kepada publik. Sangat pas membalut tubuhnya yang atletik, sehingga membuatnya semakin rupawan.


Bu Biantra yang mengenalnya, terkejut dan hendak berdiri untuk menegurnya. Beliau merasa heran, Aaric bisa datang ke rapat pemegang saham. Tetapi Bu Biantra sontak mengatupkan mulut dan matanya membulat saat melihat Aaric berjalan ke arah kursi pemegang saham mayoritas dan duduk di sana.


Seketika, ucapan Aaric malam itu berputar di kepalanya. 'Ketika kau melihat kehancuranmu dan keluargamu, saat itu kau bisa mengukur seberapa besar cintaku pada gadis itu.' Wajah Bu Biantra berubah warna bagaikan pelangi dan akhirnya memutih, mengingat semua yang dikatakan Aaric malam itu.


Aaric menatap satu persatu dengan tatapan dingin dan menyelidik. Saat matanya bertemu dengan tatapan Pak Sunijaya yang menatapnya, seakan tidak percaya dia bisa hadir di ruang rapat dalam keadaan yang sangat rapi dan keren. 'Apa yang sedang tetjadi? Kemana para anggota keamaman yang dibayar mahal untuk menyingkirkan orang itu?' Pak Sunijaya bertanya dalam hati tanpa mengenal siapa yang duduk di kursi pemegang saham mayoritas.


Sedangkan Pak Sunijaya memfokuskan mata tuanya untuk melihat dengan jelas, siapa orang yang bisa lolos dari anggota keamanannya. Sehingga bisa masuk dan duduk di kursi pemegang saham mayoritas tanpa lecet. Beliau tidak bisa membuat gerakan untuk mengecek keadaan di luar, karena beliau tahu sedang diperhatikan. Begitu juga dengan ponakan yang duduk di sampingnya, diam membeku.


Walaupun Aaric hanya menyapu ruang rapat dengan tatapan sepintas, tetapi Sapta dan Jekob tetap mengawasi setiap gerakan Pak Sunijaya dan ponakannya. Sapta sudah tahu dalang yang ingin menyingkirkan boss besar mereka dan telah memberitahukan itu kepada Jekob.

__ADS_1


Pak Sunijaya berbisik kepada Bu Biantra di sampingnya. "Kau mengetahui atau mengenal orang itu?" Tanya Pak Sunijaya, melihat sikap Bu Biantra yang tidak seperti biasanya. Beliau penasaran melihat seorang anak muda yang bisa duduk di kursi pemegang saham mayoritas di perusahaan yang bukan didirikannya dan juga bisa lolos dari jebakannnya.


"Iya, Pah. Dia Aaric." Bu Biantra menjawab sambil berbisik kepada Pak Sunijaya.


"Aaric, anakmu?" Tanya Pak Sunijaya, karena sudah tidak mengenal cucunya yang sudah belasaan tahun tidak pernah dilihatnya. Sekarang sudah sangat berubah, terlihat dewasa, dingin dan kaku tetapi berkharisma. Dan juga tinggi, makin seperti orang bule.


Ketika mengetahui yang duduk di kursi pemegang saham mayoritas adalah anaknya Sunny, cucunya. Pak Sunijaya tersenyum sinis dengan mata memicing, memandang rendah Aaric yang sudah duduk di kursi kebesaran yang biasa didudukinya. Beliau lupa, cucunya baru saja lolos dari semua taktik, trik dan jebakan yang telah disiapkannya.


"Sedang apa dia di sini?" Tanya Pak Sunijaya yang belum paham situasi. Ternyata terlalu banyak pikir di usia senja bisa membuat Pak Sunijaya seperti ponsel yang berada di daerah susah sinyal, hanya loading. Mungkin juga karena shock, membuat saraf-saraf di kepalanya lambat konek.


Sebelum Bu Biantra menjawab pertanyaan Pak Sunijaya, Aaric sudah membuka rapat. "Bapak-bapak dan Ibu-ibu maaf, kalian harus menunggu sa..." Aaric berbicara, karena melihat Pak Sunijaya dan Bu Biantra sedang berbisik. Dia tahu, mungkin Opa nya sudah tidak mengenalnya. Tetapi ucapannya tidak dilanjutkan karena Pak Sunijaya menghentikannya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Kau mau mewakili bapakmu yang pengecut itu?" Tiba-tiba Pak Sunijaya menginterupsi pembicaraan Aaric. Beliau lupa pada data pemegang saham. Emosi dan amarah memotong kejelian berpikirnya bahwa jika Aaric mewakili Papanya tidak mungkin duduk di kursi itu. Emosinya meluap setelah mengetahui dari Bu Biantra, itu adalah Aaric, cucunya yang telah mengerjainya. Kemarahan makin menguasai dan mengendalikan akal sehatnya.

__ADS_1


Aaric yang sudah bertampang dingin saat masuk ke ruangan, wajahnya semakin dingin dan matanya memerah mendengar Pak Sunijaya menghina Papanya. Dia menatap Pak Sunijaya dengan tatapan setajam belati. Kaki Bu Biantra gemetar, mengingat tatapan yang sama saat Aaric hampir menembaknya malam itu. Beliau masih bisa bernafas saat ini, karena teriakan Pak Biantra memanggil nama Aaric. Tangan Bu Biantra di pahanya sudah sedingin es. Suasana ruang rapat berubah seperti di kaki gunung Alpen.


...~●○♡○●~...


__ADS_2