
...~•Happy Reading•~...
Saat kembali dari kamar Recky, Aaric bertemu dengan Bu Nancy di lorong hotel. Bu Nancy baru keluar dari kamar dan hendak menyusulnya ke kamar Recky. "Nak Aaric, ini kartunya. Mama tadi tinggalkan Carren, karena dia sudah tertidur. Dia kelelahan, jadi Mama hanya bisa lepasin dan rapikan rambutnya. Sedangkan gaunnya belum bisa, karena Mama rapiin rambutnya sambil berbaring, jadi sudah tertidur sebelum melepaskan gaunnya." Bu Nancy menjelaskan, agar Aaric bisa mengerti.
"Tidak mengapa, Ma. Terima kasih. Mama silahkan istirahat dan nanti besok pagi Jekob akan hubungi Mama. Apa yang dikatakan Jekob, Mama tolong dengarkan, ya. Dia orang kepercayaanku." Ucap Aaric sambil mengelus lengan Bu Nancy pelan. Bu Nancy mengangguk mengerti, karena menyadari mantunya bukan orang kebanyakan.
Bu Nancy tahu dari Carren, Aaric meliliki pekejaan yang baik dan memiliki jabatan di perusahaan. Tetapi saat acara resepsi dan melihat para tamu undangan yang hadir orang berkedudukan dan bukan orang kebanyakan, Bu Nancy jadi mengerti dan menghormati mantunya yang rendah hati. Mau menerima dan menghormatinya dari kalangan biasa.
Sedangkan keluarganya yang tidak bisa hadir, Bu Nancy mengerti karena pernah bertemu dengan Papanya. Kalau adiknya, Bu Nancy menyadari ada sesuatu di antara Recky dan Carren. Karena pernah melihat Recky mengantar Carren pulang ke rumah. Mobil yang ada di rumah adalah miliknya. Melihat Carren capek dan mengantuk, Bu Nancy menahan diri untuk tidak bertanya. 'Nanti setelah tenang, Carren pasti akan menjelaskan tentang semua yang terjadi di ruang resepsi.' Itu yang ada dalam pikiran Bu Nancy.
Setelah ditinggal Bu Nancy, Aaric langsung menghubungi Jekob sebelum masuk ke kamar. Dia tidak mau pembicaraannya dengan Jekob membangunkan Carren. Karena ada hadiah pernikahan dari Recky, membuat Aaric harus berbicara dengan Jekob untuk merubah semua rencana yang telah diatur bersama Jekob dan Sapta.
Sampai di dalam kamar, dia tersenyum melihat Carren telah tidur nyenyak masih dalam balutan gaun pengantin. Rasa iseng Recky menularinya. Dia mengambil ponselnya lalu mengabadikan momen yang mungkin tidak akan terulang lagi. Dia foto Carren dari semua sisi dan membuat video sambil berbicara pelan untuk memberikan keterangan lucu.
Sambil tersenyum, dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penat dan menggantikan bajunya. Kemudian dia naik perlahan ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Carren. Dia senang, tempat tidur telah dibersihkan dari kelopak bunga jadi bisa langsung istirahat.
"Sweet dreams." Bisik Aaric pelan lalu mencium sekilas pipi Carren agar tidak membangunkannya. Dia bersyukur untuk semua yang telah dilewati. Kemudian mengatur alaram, karena harus bangun pagi.
Keesokan harinya, Aaric telah bangun sebelum alaram berbunyi. Ketika melihat Carren masih tidur nyenyak, dia langsung masuk kamar mandi, sekalian berganti pakaian. Kemudian kembali ke tempat tidur untuk melihat Carren. Melihat Carren masih pules, dia memikirkan cara untuk membangunkan Carren. Kembali rasa isengnya muncul untuk mengganggu Carren. Dia mento'el ujung hidungnya ke pipi Carren berkali-kali.
__ADS_1
Carren membuka matanya perlahan dan terkejut ada orang yang tidur bersamanya. Dia mengangkat kedua tangannya menutupi dadanya sambil terus melihat orang yang di depannya. Aaric tersenyum melihat Carren yang masih loading dengan cara yang lucu.
"Ooh, kakak. Maaf... Aku tertidur, ya." Ucap Carren setelah selesai loading dan merasa bersalah tidur meninggalkan suaminya. Aaric mengangguk sambil tersenyum dengan matanya. Dia merapikan rambut Carren yang menutupi dahinya.
"Sekarang bangun dan segera mandi. Sebentar lagi mereka akan mengantar sarapan untuk kita." Ucap Aaric, lalu memeluknya.
"Memang ini sudah pagi, ya, Kak. Berarti aku tidur lama sekali, ya. Oooh... Kakak sudah mandi." Ucap Carren lalu melepaskan pelukannya, karena telah mencium wangi tubuh Aaric yang sudah mandi.
"Ini sudah hampir jam enam. Mari, tolong ajari, agar aku bisa bantu lepaskan gaunmu." Ucap Aaric setelah Carren bangun dan duduk di pinggir tempat tidur
"Belum jam enam pagi? Kenapa harus bangun sepagi ini, Kak? Kita kan, masih capek tadi malam. Kalau begitu, aku tidur sedikit lagi ya, Kak." Ucap Carren dan hendak membaringkan kembali tubuhnya. Aaric menahan punggungnya agar bisa tetap duduk.
Melihat keseriusan Aaric, Carren segera berdiri dan meminta tolong Aaric membuka semua pengait di belakang gaunnya. Melihat bentuk tubuh Carren, Aaric segera mengambil bathrobe untuk dikenakan Carren. Dia tidak mau mengambil resiko, karena jika diteruskan mereka akan terlambat sarapan dan terlambat tiba di bandara.
Carren berjalan masuk ke kamar mandi sambil berpikir. 'Bukannya mau ke Swiss setelah menikah? Mana berani aku menjewer Papa mertua.' Carren membatin, mengingat apa yang dikatakan Aaric sebelum menikah. Mereka akan pergi ke Swiss untuk bertemu Papanya setelah menikah.
Setelah Carren masuk kamar mandi, Aaric melihat jam di ponselnya. Aaric berharap Carren tidak lama berdandan. Sekarang mereka akan naik pesawat komersial, jadi harus mengikuti semua aturan yang ada. Jika memakai jet pribadinya, dia bisa mengaturnya.
📱"Jekob, tolong cek in, ya. Jangan sampai kami terlambat tiba di bandara. Biar Sapta yang mengantar kami saja." Ucap Aaric saat Jekob merespon panggilannya.
__ADS_1
📱"Sudah semua, Pak. Tuan muda Recky sudah cek in. Sapta sudah di parkiran hotel, tunggu dihubungi bapak." Jawab Jekob. "OK..." Aaric segera mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberi salam.
Aaric merasa lega melihat Carren sudah siap untuk sarapan dan semua keperluannya dirapikan dengan cepat. Carren menyadari, jika tidak buru-buru tidak mungkin Aaric akan membangunkannya. Sehingga dengan cepat dia merapikan semua yang telah disiapkan untuk dibawa.
"Kakak tidak bawa koper?" Tanya Carren saat merapikan kopernya.
"Nanti dibawah Sapta, saat mau berangkat." Ucap Aaric. Tadinya dia tidak menyiapkan koper, karena akan pulang ke rumah di Swiss. Tetapi tujuannya berubah, jadi dia harus meminta bantuan Jekob untuk menyiapkan keperluannya.
Setelah semuanya siap, mereka langsung ke bandara tanpa berpamitan dengan yang lain, karena khawatir terlambat. Aaric bersyukur, tol ke arah bandara tidak terlalu padat, sehingga meraka tiba tepat waktu. Tidak lama kemudian, mereka sudah berada dalam pesawat. Aaric kembali bersyukur, Recky menempatkan mereka di business class, sehingga dia bisa melanjutkan tidurnya yang terganggu. "Arra, aku istirahat sebentar, ya. Tadi malam istirahatku kurang, nanti saat tiba, aku tidak kuat menggendongmu." Ucap Aaric, lalu membaringkan tubuh dan memejamkan mata dengan tersenyum.
Setelah melalui penerbangan dan perjalanan yang panjang, mereka tiba di tempat tujuan. Ketika Carren melihat banyak balon udara dari kamar tempatnya menginap, dia tahu sedang berada di mana dan dia juga tahu siapa yang membuat mereka ada di sini. Hanya Recky yang tahu keinginannya, ingin naik balon udara.
Dia hanya berharap bisa naik balon udara, agar bisa melihat keindahan dari atas. Tetapi dia tidak pernah berpikir akan naik balon udara di Cappadocia, Turkey. Dia melihat semua balon yang melewati tempat tinggal mereka dengan mata berembun dan sangat terharu.
"Ini hadiah pernikahan Recky untukmu. Nanti bertemu denganya, kau bisa menjewer dia sepuasmu. Besok kita akan berada di situ." Ucap Aaric yang memeluk Carren dari belakang sambil menunjuk balon udara di depan mereka. Aaric tidak menyangka, Carren begitu terpesona dan bahagia melihat balon udara yang lewat di depan mereka.
...~●○♡○●~...
__ADS_1