Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Terkoyak 2.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Recky mengambil cangkir dari tangan Carren dengan tangan kanannya yang memerah dan kembali terluka pada luka yang sebelumnya. Ruas jarinya agak membengkak, membuat dia agak meringis saat menganggkat cangkir untuk minum.


Setelah sedikit minum, dia kembalikan cangkir kepada Carren. Lalu melihat Carren dengan rasa bersalah, karena telah salah paham terhadapnya. "Mariii, duduklah di depanku." Recky berkata sambil menunjuk kursi di dekatnya. Carren mengangkat kursi tersebut dan meletakannya di depan Recky. Dia sangat was-was melihat keadaan Recky. Tanpa suara, dia duduk dengan perlahan.


"Beberapa waktu lalu, aku melihatmu bersama Parry di Goropaku Restaurant. Hal itu membuatku salah paham." Recky berkata pelan, saat melihat Carren telah duduk di depannya. Emosi Recky mulai surut, melihat wajah Carren yang panik.


"Goropaku Restaurant? Oooh, restoran itu. Aku dan Parry lagi makan malam untuk rayakan ulang tahun Parry. Kau ada di situ juga?" Tanya Carren, terkejut. Pasti Recky salah paham melihat kondisi saat itu. Mengingat itu, membuat Carren menunduk dan melihat tangan Recky yang terluka.


"Aku baru tiba dari Jerman dan diajak makan malam bersama Sofyan. Saat kami tiba, dan melihatmu ...." Recky menceritakan kisah malam itu yang membuatnya salah paham kepada Carren dan Parry.


"Astaga Recky. Kau dan Sofyan pergi minum karena itu? Lalu apa hubungannya dengan Liana?" Tanya Carren, mengingat Recky belum menjawab pertanyaannya tentang Liana.


"Jangan menyebut namanya di depanku. Itu membuat darahku mendidi. Seteleh kami minum, hantu itu....." Recky menceritakan peristiwa yang terjadi di kamar hotel Tarikalla dengan amarah yang turun naik. Dia menceritakan Liana menuntut dinikahkan setelah peristiwa itu.


Mendengar cerita Recky, Carren menjadi emosi dan ikut marah. "Astagaaa, Recky. Dia bukan hantu. Hantu itu, orang yang sudah meninggal dan tidak tenang di alam sana. Makanya datang gentayangan mencari ketenangan di dunia orang hidup dengan mengganggu ketenangan."


"Bagiku, dia bukan hantu, tetapi iblis berwujud manusia. Dia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Sangat tidak tau malu dan tidak memiliki perasaan." Carren berkata dengan rasa kesal, karena terkejut mendengar cerita Recky.


"Iyaaa, dia memang iblis. Bagaimana aku akan hidup dengannya? Kau bisa bayangkan hatiku, saat dia membawaku kesini? Dia sedang mengoyakku, karena dia tahu hatiku padamu." Ucap Recky geram, sambil menunjuk dadanya dengan tangan kiri.


"Astaga, Recky." Carren hanya bisa berucap dua kata itu, sambil terus melihat Recky.


"Karena hatikulah yang membuat aku berada dalam kondisi ini. Apakah kau tidak tahu, kalau aku mencintaimu?" Recky bertanya sambil melihat mata Carren.

__ADS_1


"Astaga, Recky. Jangan mengatakan kata-kata yang makin menyakiti kita." Carren berkata lalu menutup mulutnya dengan jari sambil matanya membulat. Dia teringat rasa sedih yang dirasakan saat pulang dari makan malam bersama Parry.


"Aku tidak pernah membayangkan, akan menyatakan perasaanku padamu dalam kondisi seperti ini. Aku bertahan bertahun-tahun tidak mengatakan padamu, karena ingin mengatakan di tempat yang tepat dan layak bagi kita." Recky masih melihat mata Carren yang mulai berembun.


"Tetapi lihatlah apa yang terjadi saat ini? Aku mengatakannya padamu, saat akan kehilanganmu. Hidup seperti apa ini, Carren." Recky berkata, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku pernah menceritakan mimpiku padamu, kau akan meninggalkanku. Ternyata justru aku yang akan meninggalkanmu." Recky berkata lagi dengan sedih dan menunduk.


"Astaga, Recky. Sudah, jangan berkata-kata lagi yang makin membuat kita sakit." Carren mengingat mimpi Recky yang pernah diceritakannya.


"Biarkan aku mengatakannya Carren. Karena dua hari ini, hatiku rasanya mau meledak. Kalau tidak mengingat tanggung jawabku di Aussie, mungkin hari ini kau akan datang dan melihatku dalam peti." Recky mengingat peristiwa di bathtub setelah pulang dari rumah Liana.


"Astaga, Recky. Sudah, jangan diteruskan lagi. Aku tau dan bisa merasakan semua ini berat. Tapi jangan terlintas dipikiranmu untuk melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu. Aku mohon, tetaplah hidup." Carren berkata dengan air mata berurai dan kedua tangan mengatup di dadanya.


Dia mengambil tangan Recky yang terluka untuk mengusapnya. Tetapi dia sangat terkejut merasakan tangan Recky dingin sepereti es. Dia mengambil tangan Recky yang satu lagi dan merasakan dingin yang sama.


Recky mengangkat wajahnya untuk melihat Carren yang sedang melihatnya dengan deraian air mata. "Carren, aku berjuang keras di luar sana untuk menyiapkan semuanya untukmu. Karena aku tidak mau keluargaku mengaturku atau mengganggumu. Tetapi lihatlah, aku tidak sempat memperlihatkan semua yang kusiapkan untukmu." Recky berkata dengan rasa penyesalan yang dalam.


"Mungkin aku menyebalkan untukmu, tetapi aku sangat mencintaimu. Kadang mungkin aku terlihat tidak serius, tetapi cintaku padamu serius. Sangat serius, sehingga kadang-kadang aku sangat berhati-hati berbicara atau melakukan sesuatu padamu." Recky tidak mampu menahan gejolak hatinya, saat menyampaikan apa yang dirasakannya.


"Aku tahu, Recky. Cukup. Apakah dalam hal ini, orang tuamu tidak bisa menolongmu?" Carren dalam kesedihannya mencoba berpikir dan memberikan saran untuk Recky. Dia mengingat Mamanya akan menolong, jika dia menghadapi masalah atau mengalami musibah.


"Orang tuaku? Iblis be**na itu juga ikut menjebaku bersama dengan iblis be**na di bawah itu. Dia menjualku, entah dengan berapa banyak duit atau saham perusahaan." Recky kembali emosi, ketika membicarakan Mamanya


Carren tetap memegang tangan Recky ketika dia hendak bergerak karena emosi. Dia bersyukur, tangan Recky tidak sedingin sebelumnya. Aura panas dari pipinya mulai mempengaruhi suhu tangan Recky. Oleh sebab itu dia tetap mempertahankan tangan Recky di pipinya.

__ADS_1


"Jadi orang tuamu ikut dalam persoalan ini?" Carren merasa heran, saat melihat Recky mengangguk. Dia berpikir cepat dalam kondisi yang tidak baik.


"Recky, tolong lihat aku." Ucap Carren pelan dan dia mulai khawatir. Dia makin khawatir banyak hal, sehingga meminta Recky melihatnya. Karena Recky terus menunduk menahan gejolak hati yang terluka dan sakit.


"Aku minta maaf, karena harus meminta tolong lagi padamu. Jika aku hancur, aku masih bisa berdiri dan berusaha lagi. Tetapi, tolong kau kasihani semua karyawanku ini. Mereka sudah ada yang berkeluarga dan ada yang menghidupi orang tuanya." Kekhawatiran Carren bertambah memikirkan karyawannya.


"Jika mereka bisa menjebak seorang Recky Biantra, apalagi diriku. Mereka akan membuat usaha yang aku bangun bertahun-tahun karenamu, akan hancur dalam sekejap." Carren berkata dengan hati yang sangat cemas.


"Kau kira aku tidak memikirkannya? Kalau bukan karena kau, aku akan pergi dan tidak pernah kembali lagi ke sini. Tetapi yang menjadi beban pikiranku, wanita iblis di bawah akan menghasut orang tuanya dan orang tuaku untuk menghancurkanmu. Dia akan katakan, kau penyebab kepergianku." Recky melihat mata Carren dengan serius.


"Kau tidak lihat, dia membawaku kesini, pertanda mereka tau siapa dirimu bagiku. Itulah yang aku pikirkan tadi malam, sehingga memutuskan untuk mengikuti kemauan mereka."


"Setelah menikah, aku akan pergi. Kau tidak usah pikirkan aku ada dimana atau bagaimana aku hidup. Cukup, tolong doakan aku, semoga tetap baik menjalani keputusanku ini. Hhhmmm...?" Recky berkata sambil memandang Carren dengan mata yang sudah tergenang. Carren hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata-kata.


Recky mendorong tangan kirinya ke belakang kepala Carren dan mengusapnya perlahan. Lalu mencium kening Carren lama dan dalam. Tanpa disadari air matanya jatuh membasahi wajah Carren. "Aku sangat mencintaimu, Carren." Dia terus mengusap tengkuk Carren dengan sayang, lalu berdiri.


Recky membuka pintu ruang kerja Carren dan berjalan cepat meninggalkan ruangan dimana Carren sedang terdiam. Ketika mendengar suara pintu dibuka, Carren tersentak lalu berdiri. Dia berlari mengikuti Recky yang telah turun dengan melompati dua anak tangga dan berjalan keluar meninggalkan kantornya.


"Kenapa kau ada di sini? Ikuti Reckiii..!" Carren membentak Liana yang sedang berdiri termangu.


"Aku datang untuk membicarakan acara resepsi denganmu." Ucap Liana yang belum menyadari keadaan.


"Kau masih mau bicara resepsi, tanpa calon pengantin pria? Ikuti Recky dan bawa dia kesini, baru aku mau berbicara denganmu." Carren berkata, tanpa melihat karyawannya yang sedang melihatnya.


"Tunggu apa lagiii...? Kejar dia...! Jika terjadi sesuatu dengannya, apa masih ada pernikahan?" Carren berkata dengan emosi, lalu lari naik ke ruang kerjanya.

__ADS_1


Dia terduduk di lantai sambil memegang dadanya yang bergemuru dan sakit. Dengan air mata berlinang, dia menengadakan wajahnya. "Ya, Tuhan. Aku tau Kau selalu menolongku. Saat ini aku mohon pada-Mu, tolonglah Recky. Jangan biarkan dia sendiri jalani ini. Hanya kepada-Mu aku memohon."


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2