
~•Happy Reading•~
Keesokan harinya, Carren berangkat ke kantor bersama Ichad. Dia harus masuk kantor, karena banyak pekerjaan yang menantinya untuk diselesaikan. "Kalau masih cape' istirahat saja dulu. Nanti besok baru masuk, biar lebih segar." Ucap Ichad, saat melihat Carren tidak bersemangat naik ke mobil seperti biasanya.
Dia berpikir, Carren masih kelelahan akibat lembur dua hari lalu. "Ngga papa Kak, kita lagi sibuk-sibuknya. Di rumah juga percuma, makin cape mikirin kerjaan yang menumpuk." Carren berkata pelan, karena dia menyadari mungkin Ichad salah menafsirkan sikapnya.
Kemarin walaupun libur bekerja, tidak bisa memulihkan kondisi fisiknya. Dia tidak tenang sepanjang hari memikirkan keadaan Aaric yang tidak mengabari kondisinya. Hal itu membuatnya khawatir, hingga tidak bersemangat pagi ini.
Setelah tiba di kantor, dia segera turun dan langsung masuk ke kantor. Dia mencoba konsentrasi dengan pekerjaan yang harus diselesaikan. Karena beberapa hari lagi acara pernikahan clientnya akan berlangsung di Bandung. Hal itu membuatnya kembali sibuk, memeriksa apa yang sudah dikerjakan karyawannya kemaren.
Ketika melihat semua yang dikerjakan dan disiapkan karyawannya, Carren merasa sedikit lega. Karyawannya benar-benar bisa bekerja dengan baik dan dapat diandalkan. Dia kembali teringat ucapan Aaric untuk tidak usah lembur.
Kehadiran Aaric atau apa yang dikatakannya, mampu mengubah cara berpikir Carren. Dia mulai menyikapi segala sesuatunya dari sudut pandang yang berbeda. Walaupun baru bertemu, entah kenapa sikap mandiri Carren pun ikut berubah.
Apa yang yang hendak dikerjakan, dia mulai pertimbangkan dari sudut pandang Aaric. Apakah dia menerimanya, apakah berkenan di hatinya, apakah bisa membuatnya marah dan banyak lagi yang dipikirkannya. Semua hal yang tidak pernah dilakukannya selama ini.
Semenjak kemarin, ponsel tidak pernah jauh dari jangkauannya. Jika harus keluar kamar, ponsel dimasukan ke dalam kantong celananya. Jadi jika Aaric menghubunginya sewaktu-waktu, dia bisa dengan cepat meresponnya.
Dia sendiri heran dengan apa yang dilakukannya. Biasanya dia meletakan ponselnya di mana saja, dia akan merespon setelah tidak sibuk. Kadang dia hanya bisa menarik nafas panjang, saat melihat ponsenya dan tidak ada pesan atau misscall dari Aaric.
__ADS_1
Mengingat semua itu, Carren berdiri dari kursi kerjanya lalu memandang ke luar jendala kecil di ruang kerjanya. 'Semoga kakak Aaric baik-baik saja.' Carren membatin dengan hati yang berat.
Tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk. Carren menghembuskan nafasnya dengan kuat lalu segera duduk di kursinya. "Masuk.... Ada apa, Ros?" Tanya Carren setelah Rosna masuk ke ruang kerjanya.
"Kak, ada Client yang mau bertemu dengan kakak." Ucap Rosna yang telah duduk di depan Carren.
"Kau tidak bisa menanganinya? Kau kan sudah tau schedule kita untuk tiga bulan ke depan. Kalau clientnya minta ditanggal yang sama, tidak usah diterima." Jawab Carren, karena dia lagi enggan bertemu dengan orang lain.
"Orangnya hanya mau bertemu dengan kakak. Beliau tidak mau pergi sebelum bertemu dengan kakak." Rosna berkata serius, membuat Carren melihatnya dengan alis bertaut, karena tidak mengerti. Tetapi melihat anggukan kuat Rosna, Carren berdiri lalu berjalan keluar ruang kerjanya.
Setelah di tangga, dia melihat seorang Ibu berpenampilan mentereng sedang duduk menunggu sambil memperhatikan ruangan bawah dengan serius. Sehingga beliau tidak menyadari kehadiran Carren dan Rosna yang telah turun tangga.
"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Carren ramah dan sopan. Rosna tetap berdiri di samping Carren untuk berjaga-jaga, mungkin Carren butuh sesuatu untuk dikerjakannya.
"Iya, Bu. Saya Carren. Ada yang bisa saya bantu?" Carren kembali menanyakan pertanyaan yang belum dijawab oleh Ibu yang sedang scan dirinya.
Bu Biantra yang sudah menunggunya, terkejut melihat penampilan Carren. Penampilannya sangat berbeda saat makan malam dengan Aaric. Walaupun cantik, tapi terlihat sangat bersahaja. Hanya mengenakan celana celana panjang dengan blouse berkerak, tanpa asesioris dan bersepatu lepes.
"Saya mau berdua denganmu, karena ada yang mau dibicarakan. Ini bukan tentang pekerjaan kalian, tetapi masalah pribadi." Ucap Bu Biantra sambil melihat Rosna sebagai isyarat untuk memintanya pergi. Carren mengangguk ke arah Rosna sambil mengelus lengannya sebagai isyarat dia menyetujuinya.
__ADS_1
Carren segera duduk di depan Bu Biantra setelah Rosna berjalan menjauh. "Bagaimana Bu, apa yang mau Ibu bicarakan dengan saya?" Tanya Carren pelan, sopan dan hati-hati. Melihat sikap dan nada bicara Ibu di depannya, Carren menjadi waspada.
"Saya Mamanya Aaric. Saya datang untuk memperingatimu, jangan coba-coba mendekati anak saya. Kau bukan dari kalangan kami, jadi jangan bermimpi." Ucap Bu Biantra langsung pada maksudnya. Carren yang mendengar itu, sempat terkejut sesaat. Tetapi dia dengan cepat menguasai diri dan pikirannya.
"Terima kasih Ibu sudah memperkenalkan diri kepada saya. Tetapi yang saya heran, kenapa Ibu memperkenalkan diri Ibu kepada saya? Apa hubungan saya dengan Pak Aaric, sampai Ibu bersusah payah datang ke tempat kami yang sederhana untuk mengatakan hal itu?" Carren tetap berkata tenang, tetapi hatinya sudah memanas mendengar ucapan Bu Biantra.
"Kau kira saya tidak tahu apa yang kalian lakukan? Jangan berpura-pura di depanku." Bentak Bu Biantra, tetapi itu tidak membuat Carren bergeming.
"Saya ini tidak sedang berpura-pura, Bu. Coba Ibu pastikan lagi yang Ibu ketahui tentang hubungan kami. Hubungan saya dengan beliau, jangankan pacar, teman saja bukan. Jadi Ibu keliru jika datang untuk memperingati saya." Carren tetap berkata tenang, karena yang dikatakan benar adanya. Tetapi kedua tangannya sedang memegang pahanya untuk mengendalikan emosinya.
"Kau kira bisa membohongi saya? Kau kira anak saya mau mengajak wanita sembarangan untuk makan malam?" Tanya Bu Biantra emosi mendengar yang dikatakan Carren. Karena beliau tahu, Aaric tidak sembarang mengajak seorang wanita makan malam.
"Terima kasih untuk pujian Ibu. Saya makin yakin setelah mendengar yang Ibu katakan. Saya bukan wanita sembarangan, karena saya putri Papa dan Mama saya."
"Ibu juga harus ingat, putra Ibu bukan pria sembarangan. Sehingga Ibu harus berlaku seperti ini." Carren tidak meneruskan ucapannya, karena masih menghargai Ibunya Aaric. Karena apa yang dilakukannya merendahkan martabatnya sebagai orang terpandang. Carren jadi menyadari, dari kalangan mana Aaric berasal.
Dengan emosi, Bu Biantra berdiri sambil menghentak kursinya ke belakang. Beliau menyadari, wanita yang ada di depannya tidak mempan diancam, apalagi hanya untuk menggertak. Bu Biantra jadi berpikir, jangan-jangan mereka hanya rekan bisnis. Tetapi hati kecilnya tidak bisa terima, mengingat karakter Aaric.
Sebelum sampai di pintu, tiba-tiba Bu Biantra berhenti saat mendengar suara Carren yang telah berdiri tidak jauh di belakangnya. "Bu... Ibu masih menginjak tanah, jadi hati-hati berjalannya. Batu kecil di tanah bisa membuat Ibu jatuh." Ucap Carren tegas, karena melihat keangkuhan sikap Bu Biantra meninggalkannya.
__ADS_1
Bu Biantra makin emosi mendengar ucapan Carren, maka segera berbalik untuk meninggalkan kantor Carren dengan panas hati. Sehingga tanpa disadari menabrak pintu kaca yang dikira telah dibuka olehnya.
~●○♡○●~