Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Percaya 2.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Dia tahu dari pelukan dan tangisan Carren saat bertemu dengannya tadi siang, Carren mencintainya. Tetapi dalam suatu hubungan yang serius, bukan hanya saling mencintai, tetapi juga harus saling percaya. Oleh sebab itu, dia ingin meyakinkan dirinya dan juga Carren dalam hal itu.


"Iya, Kak. Arra percaya, Kak Aaric." Jawab Carren yakin. Rasa itu ada dalam hatinya saat mereka makan malam bersama. Sikap dan perlakuan Aaric kepadanya membuat dia jatuh cinta dan percaya, Aaric pria baik yang layak dicintai dan dihormati.


"Baik. Sebagaimana kau percaya padaku, aku percaya padamu sehingga mau melamarmu. Kalau urusan mencintai, kau bisa mengetehuinya seiring waktu berlalu saat kita bersama." Ucap Aaric masih serius sambil menatap Carren.


Mata Carren mulai berembun saat mendengar yang dikatakan Aaric kepadanya. "Aku akan berangkat besok pagi, tepatnya Subuh, karena shedulenya sudah tidak bisa dirubah. Aku tidak tau akan bertemu denganmu di sini. Semuanya sudah diatur seperti itu dan aku tidak bisa merubahnya lagi." Ucap Aaric masih serius, tapi hatinya merasa sedih harus meninggalkan Carren sendiri.


Carren langsung melihat Aaric dengan mata membulat, karena terkejut. Dia tidak menyangka besok pagi Aaric akan pergi meninggalkannya. "Benarkah, besok kakak akan pergi?" Tanya Carren yang tidak bisa menahan untuk tidak bertanya, karena rasa hatinya.


"Iyaaa... Makanya, tadi aku bertanya padamu. Jika kau percaya padaku, jangan pikirkan sesuatu yang membuatmu tidak tenang. Aku tidak tau akan bertemu denganmu di sini. Aku hanya datang untuk pertemuan tadi malam dan tadi pagi di Nusa Dua. Tadi saat bertemu denganmu, aku hanya mau istirahat sebentar di sini, sebelum berangkat Subuh nanti." Aaric menjelaskan panjang, karena melihat perubahan wajah Carren.


Carren tidak bisa berkata-kata mendengar apa yang dikatakan Aaric. Dia benar-benar terkejut, dan sudah merasa sedih karena harus berpisah lagi dengan Aaric yang sangat dirindukan belakangan ini.

__ADS_1


Melihat mata berembun dan ujung hidung Carren mulai memerah, Aaric mendekat dan mengusap punggungnya untuk menenangkan Carren. Dia tau, Carren merasa berat, mereka akan berpisah sebagaimana dirinya. Tetapi ada hal yang tidak bisa dihindari dan itu harus terjadi.


"Begini, Arra. Kau bekerja sebagaimana denganku. Jadi aku tau, kau pasti akan mengerti. Kita tidak bisa mengabaikan tanggung jawab yang dipercakan kepada kita. Jika aku tau akan bertemu denganmu, mungkin aku akan mengaturnya tidak seperti begini." Aaric mencoba membuat Carren mengerti posisinya.


Dia sebenarnya, sudah harus terbang ke Swiss saat dari Sydney. Tetapi karena ada pertemuan mendadak pengusaha muda di Nusa Dua Bali, Jekob memintanya untuk hadir. Dia diminta sebagai pembicara, tetapi dia menolak karena belum mau tampil memperkenalkan dirinya. Dia datang sebagai tamu undangan biasa. Itu perjanjiannya dengan Jekob, sehingga dia mau hadir dalam acara tersebut dan baru terbang keesokan harinya ke Swiss.


Carren mengangguk pelan, mencoba mengerti yang dikatakan Aaric sambil meredam rasa sedihnya. Dia juga seorang pekerja, yang kadang mendahulukan kepentingan karyawannya. "Kau tidak usah pindah dari sini. Aku sudah memperpanjang kamar ini untuk dua hari ke depan. Jika pekerjaanmu belum selesai dan akan menambah waktu tinggal, segera hubungi aku sebelum waktunya berakhir. Kau tidak usah membayar semua yang kau pergunakan di sini. Semuanya masuk dalam bill ku. Jadi jika kau mau makan, baik di kamar atau restoran, kau sebutkan saja nama kamar ini." Ucap Aaric sambil terus mengusap punggung Carren.


Mendengar itu, tangisan yang ditahan Carren sejak tadi pecah. Dia berbalik, langsung merangkul leher Aaric sambil menangis. Perhatian dan kasih sayang Aaric, menjebol rasa harunya. "Astaga, Arraaa... Aku mengatur dan berbicara begini, karena aku akan sibuk beberapa waktu ke depan. Bukan untuk membuatmu menangis. Sudah cukup tadi siang, kau membuatku takut." Ucap Aaric mencoba tenang, agar Carren juga bisa tenang. Dia membalas pelukan Carren dan terus mengusap punggungnya.


"Aku pergi tidak lama dan akan kembali ke Jakarta. Sekarang pergunakan ini dengan baik. Jangan hanya diam menunggu." Ucap Aaric sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menunjukan kepada Carren. Aaric berharap Carren akan sering menghubunginya. Carren mengangguk mengerti maksud Aaric.


"Walaupun bisa perpanjang kamar ini, aku berharap kau bisa selesaikan pekerjaanmu sesuai schedule dan segera kembali ke Jakarta. Apa masih banyak yang harus dikerjakan di sini?" Tanya Aaric merasa cemas untuk meninggalkan Carren sendiri. Anggota keamanannya hanya satu dan harus pergi bersamanya.


"Tidak, Kak. Mungkin besok sudah selesai. Aku akan berusaha bertemu dengan manager resort ini untuk membicarakan budget. Menunggu sore dan sunset besok untuk melihat view." Ucap Carren pelan dan berusaha serius menjelaskan pekerjaannya. Jika besok bisa selesai, lusa dia sudah bisa pulang ke Jakarta.

__ADS_1


"Kalau begitu, tunggu." Aaric mencari kontak di ponselnya lalu berdiri dan berbicara dengan manager resortnya. "Arra, besok jam sepuluh kau bisa bertemu dengan managernya. Katakan saja namamu untuk sekretarisnya, saat mau bertemu dengan manager." Aaric berkata setelah berbicara dengan manager resort, lalu duduk disamping Carren.


"Ada lagi yang kau butuhkan? Karena besok kau tidak bisa menghubungiku." Ucap Aaric, mengingat dia akan melakukan penerbangan yang panjang dan lama.


"Tidak ada lagi, Kak. Kalau kakak sudah tiba di tempat tujuan, tolong kabari. Jangan seperti waktu itu, kakak bilang sedang sakit kepala, tapi tidak pernah kabari lagi keadaan kakak untukku." Ucap Carren pelan, berharap Aaric mengerti yang dimintanya.


"Ooh, iya. Waktu itu, aku katakan sedang sakit kepala padamu?" Tanya Aaric mengingat percakapan terakhir mereka. Carren mengangguk kuat untuk menyakinkan Aaric. "Banyak hal yang terjadi setelah itu dan perlu dibereskan, jadi tidak bisa konsetrasi." Aaric menjelaskan, tetepi hatinya membatin. 'Pantas tadi siang reaksinya seperti itu, saat melihatku. Selama ini aku sudah membuatnya khawatir.' Aaric membantin dan merasa bersalah atas apa yang dilakukannya.


Aaric jadi memperhatikan wajah Carren dan baru menyadari, wajahnya lebih tirus dari pertemuan terakhir mereka, saat makan malam. "Ternyata aku sudah membuatmu sangat khawatir." Ucap Aaric lalu memeluk Carren dengan sayang.


"Nanti setelah persoalanku selesai, kita menikah saja. Agar kau bisa ikut bersamaku saat pergi-pergi seperti ini." Ucap Aaric membuat Carren menegang dalam pelukannya. Aaric memperat pelukannya untuk menenangkan Carren. Dia menyadari Carren sedang terkejut.


Aaric hampir menggigit lidahnya, karena mengatakan hal yang sangat penting dalam hidup mereka dengan cara yang tidak terpikirkan. "Astagaaa... Aku memintamu untuk menikah dengan cara yang sangat tidak sewajarnya. Kau jangan jawab itu sekarang. Nanti aku pikirkan lagi cara yang sedikit lebih baik dari ini. Kalau aku sudah tidak temukan caranya, aku akan meminta kau menjawab saja." Ucap Aaric dengan wajah tersenyum memikirkan apa yang baru diucapkannya.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2