Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Memalukan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Di tempat yang lain ; Aaric dan Jekob sedang berada di ruang kerja Aaric untuk mempersiapkan meeting bersama pimpinan dari Elimus Corp. yang ada di Indonesia. Dia juga akan meeting bersama para petinggi Hermin dan Ukaku Mineralindo. Pimpinan dari kedua perusahaan tambang yang dimilikinya di Indonesia yaitu baru bara dan nikel telah hadir di Jakarta untuk meeting bersamanya.


Ketika Jekob sedang menyiapkan semua dokumen untuk meeting, tiba-tiba ponsel pribadinya bergetar. Ketika menilhat siapa yang menghubunginya, Jekob meresponnya. Setelah selesai berbicara, dia mendekati bossnya.


"Pak. Sapta sekarang ada di bawah, minta bertemu dengan bapak. Katanya, penting." Jekob berkata seperti yang disampaikan Sapta kepadanya. Aaric langsung melihatnya dengan serius. Jika Sapta mengatakan penting, berarti menyangkut keamanan perusahaan dan dirinya di Indonesia.


"Apakah terjadi sesuatu di Sero? Biarkan dia ke sini sekarang." Ucap Aaric setelah melihat jam tangannya. Masih ada waktu yang cukup untuk berbicara dengan Sapta sebelum meeting. Jekob segera menghubungi Sapta untuk naik ke ruang kerja bossnya.


"Apakah terjadi sesuatu di Sero?" Tanya Aaric saat Sapta telah masuk ke ruangannya. Karena penasaran, dia hanya mengangguk saat Sapta memberikan salam kepadanya dan langsung menanyakan pertanyaan yang diajukannya kepada Jekob.


"Tidak, Pak. Di Sero semuanya aman dan terkendali. Saya minta bertemu, karena ini menyangkut Nona Carren." Ucap Sapta pelan, sambil melihat reaksi bossnya. Jekob jadi mendekati Aaric dan melihat Sapta dengan serius.


"Ada apa dengan Nona Carren? Apakah mereka sudah kembali ke Jakarta?" Tanya Aaric serius, karena kesibukannya dengan Jekob membuat dia lupa melihat GPRS di mobil Carren.


"Sudah, Pak. Tadi Nona Carren sudah masuk ke kantor. Yang mau saya sampaikan, Nyonya di rumah tadi menemui Nona Carren di kantornya." Aaric seketika berdiri mendengar apa yang dikatakan Sapta. Jekob ikut terkejut mendengar apa yang disampaikan Sapta dan juga terkejut dengan reaksi bossnya.


"Kau tau tujuannya menemui Nona Carren?" Tanya Aaric yang kembali duduk setelah melihat reaksi Jekob. Tapi di pikirannya berkecamuk, untuk apa Mamanya menemui Carren lagi, padahal sudah diperingati.

__ADS_1


"Lebih baik, bapak dengar sendiri pembicaraannya. Ini saya membawa rekaman percakapan mereka." Ucap Sapta, lalu mengeluarkan dari dalam tas, alat perekam yang dibawanya. Dia tidak mau salah mengartikan atau menafsirkan pembicaraan Bu Biantra dan Carren.


Saat mendengarnya, emosi Aaric berubah-rubah. Jekob dengan sigap mendekati bossnya untuk menenangkannya. "Memalukan..." Ucap Aaric marah dengan rahang yang mengeras, saat selesai mendengar rekaman tersebut.


Dia langsung berdiri dan berjalan dalam ruang kerjanya tidak menentu arah sambil berpikir. Kemarahannya makin bertambah, karena Ibunya sendiri telah membuka aib keluarga kepada gadis yang telah menarik perhatiannya. Dia sendiri belum kenal Carren dengan baik, tapi Ibunya telah membuatnya malu.


"Dasar bodoh..." Ucap Aaric lagi dalam kemarahannya, karena Ibunya bisa saja membuat Carren berpikir 1000 kali saat dia mendekatinya. Siapa yang mau berhubungan dengan keluarga aneh dan memalukan seperti keluarganya. 'Harta keluarganya sudah membuat dia tidak tau malu.' Aaric membantin dalam geramnya.


"Dia pikir semua orang hidup sepertinya. Hidup di dunia anta branta, dunia tipu muslihat. Sehingga dengan mudah bisa saling mengelabui dengan bersikap munafik seperti itu. Aku yang mendengarnya saja, bisa tahu. Apalagi Carren yang mendengar dan melihat sikapnya." Aaric terus berkata sambil berjalan dalam ruang kerjanya. Hal itu mengkhawatirkan Jekob.


"Apakah Carren tidak muntah?" Tanya Aaric tiba-tiba kepada Sapta, membuatnya tidak bisa menjawab. Jekob juga terkejut dengan pertanyaan bossnya.


Jekob bisa menilai, Carren wanita baik yang cocok dengan bossnya. Karena dia melihat, Carren tidak seperti wanita yang aji mumpung. Kalau wanita lain, mungkin sudah menghubungi bossnya berulang kali dan minta bertemu, karena tahu bossnya menaruh perhatian padanya.


"Iya, Pak. Anggota yang mengamankan Nona Carren mengatakan, Nona membukakan pintu kantor kepada Nyonya saat mau keluar." Mendengar ucapan Jekob, Sapta jadi berani menyampaikan apa yang dikatakan anggota keamanan kepadanya.


Apa yang dikatakan Jekob dan Sapta sedikit menenangkan Aaric. Dia melihat Jekob dan Sapta bergantian untuk menurunkan emosinya. "Kau tolong simpan rekamannya, nanti berikan kepada saya." Ucap Aaric yang telah kembali duduk di kursi kerjanya.


Jekob memberikan isyarat kepada Sapta untuk meninggalkan mereka, karena sebentar lagi mau meeting. Sapta mengerti maksud Jekob, lalu pamit untuk meninggalkan ruangan bossnya setelah memasukan rekaman ke dalam tasnya.

__ADS_1


"Jekob, rubah rencana sebelumnya. Kau bertemu dengan pihak Hutama untuk bernegosiasi. Tambah satu poin, minta mereka menjual sahamnya kepada kita untuk mendapatkan Gungun. Bukan barter dengan Gungun, tapi kita akan membeli saham mereka dengan harga yang pantas." Kemarahan Aaric membuatnya tidak bersabar untuk melakukan tahap demi tahap.


"Setelah ini, saya akan ke Sydney untuk bertemu Recky, agar dia bisa bersiap-siap. Soal perkara Naina, tetap biarkan keluarga Hutama yang menentukan. Katakan kepada pengacara, jangan libatkan hubunganku dengan Naina dalam perkara kematian Naina. Fokus pada dendam kedua keluarga saja." Ucap Aaric tegas dan serius.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan Biantra, Pak. Sepertinya sepupuh dan Om bapak yang sedang dipersiapkan untuk menggantikan Pak Biantra. Apalagi Nyonya mulai jarang ke kantor." Ucap Jekob menjelaskan temuannya di perusahaan Biantra.


"Biarkan saja mereka. Nanti setelah rapat pemegang saham dan masalah Recky selesai, biar Recky atau saya yang akan menghajar mereka. Aku akan bicara dengannya setelah tiba di Sydney." Ucap Aaric lagi dengan yakin. Dia sudah memikirkan dan memutuskan banyak hal dalam waktu singkat.


"Ooh, iya. Bapak sudah harus kembali ke Swiss." Jekob mengingatkan schedule bossnya, karena sudah lama tinggalkan perusahaannya di luar. Masalah Recky, tambang dan juga keluarga Mamanya membuat dia harus tinggal lama di Jakarta.


"Iya, nanti dari Sydney. Perubahan bisa terjadi sewaktu-waktu di sini. Kau sudah hubungi Papaku?" Tanya Aaric yang tiba-tiba teringat Pak Biantra.


"Sudah, Pak. Beliau katakan ada pegang dana yang cukup untuk kebutuhannya di Malang. Jadi kita tidak usah transfer. Yang penting, bapak dan tuan muda sudah tau Pak Biantra ada di Malang. Beliau meminta juga, saya tidak memberitahukan keberadaan dan nomor ponselnya kepada siapapun, selain bapak dan tuan muda Recky." Jekob menjelaskan pembicaraannya dengam Pak Biantra.


Aaric melihat Jekob dengan serius, setelah mendengar penjelasannya. "Jadi tidak ada yang tau keberadaan Papa saat ini? Nomor yang dikasih malam itu, nomor yang tidak diketahui oleh orang lain?" Aaric bertanya sambil berpikir.


"Nanti tiba di Sydney, saya akan minta nomor telpon Papa dari Recky untuk mencocokannya." Ucap Aaric yang makin memahami situasi dan kondisi yang sedang terjadi dengan keluarganya.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2