
...~•Happy Reading•~...
Setelah kembali ke Australia, Recky mulai menyibukan diri dengan pekerjaannya. Dia sudah beraktivitas lagi seperti biasanya untuk mengalihkan semua rasa hati karena kehilangan Carren dengan mendesain berbagai gedung dan rumah.
Tetapi jika disaat sendiri dan beristirahat, Recky kembali mengingat apa yang baru dilewatinya. Sebuah harapan ketika menerima salinan surat cerai yang dikirim kakaknya untuk bisa mendapatkan Carren kembali, telah pupus. Dia mencoba berbesar hati dengan merelakan Carren bersama kakaknya. Karena dia tahu, sesuatu yang dipaksakan tidak ada gunanya. Akan makin menyakitkan, jika terus bertahan dan dipertahankan.
^^^*~*Dia hanya bisa berencana, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana. Itulah yang memberikan kesadaran untuk melihat dan menerima segala sesuatu dengan lapang dada.*~*^^^
Untuk menghibur diri, dia biasanya mengenderai mobil mewah kakaknya seperti yang dikatakan kepada Aaric. Lalu menghabiskan waktu dengan duduk di tepi pantai menunggu sunset tiba. Dengan melihat cahaya indah di langit saat sunset, dia menyadari ada Tangan Yang Maha Kuasa membuat langit begitu indah di saat mentari hendak meninggalkan cakrawala.
Seperti saat ini, dari dalam mobil mewah kakaknya, dia duduk berlama-lama menanti sunset sambil menikmati sekaleng atau dua kaleng soft drink. Hal itu sering dia lakukan untuk menghabiskan waktu saat masa-masa persembunyiannya. Sekarang dia lakukan lagi sambil merenung yang telah dilakukan dan dialami.
'Ya, Tuhan, dalam kemarahanku, aku telah memutuskan sesuatu yang penting bagi hidupku. Ampuni kesalahanku yang telah mengambil keputusan tanpa bertanya pada-Mu. Tolong pulihkan hatiku, agar bisa melihat dan berpikir dengan baik.' Recky membatin sambil merenung.
Dia mengingat sebuah kutipan yang dibacanya saat berada dalam pesawat ketika kembali ke Australia.
^^^*~*'Rencana Tuhan lebih baik dari rencanamu. Tetaplah berjuang dan berdoa, hingga kau menemukan bahwa ternyata Tuhan memberikan yang terbaik bagimu.'*~*^^^
Ketika membaca kutipan itu, Recky merasa dia sedang diingatkan untuk tidak berputus asa. Rencana yang sudah disusun dan dibayangkannya mungkin gagal, tetapi rencana Tuhan bagi hidupnya tidak gagal. Pemikiran itu memberikannya semangat untuk menjalani hari-hari dengan hati yang lebih lapang.
__ADS_1
Saat melihat cahaya mentari mulai redup dan merubah warna langit, Recky membantin dan berbicara dengan Sang Pelukis Yang Agung. 'Aku percaya pada-Mu, Tuhan. Kau telah menyediakan pasangan hidup yang baik bagiku. Aku tidak akan lagi memaksakan keinginan hatiku, karena Kau akan berikan dengan cara yang ajaib seperti untuk kakakku.' Recky membatin sambil menatap mentari dan langit di sekitarnya yang berwarna orange kemerahan.
'Kini aku meminta tanda dari-Mu, agar aku bisa tahu, itulah gadis yang Kau berikan untukku. Sehingga aku tidak memaksakan diri untuk melihat dan memikirkan gadis yang bukan pasangan hidupku.' Recky terus membantin, karena mengharapkan bisa menemukan jodohnya dengan cara Tuhan.
'Ini tanda yang kuminta dari-Mu. Di hari-hari yang akan datang, jika aku bisa menolong seorang gadis, aku tahu, gadis itulah yang Kau berikan sebagai jodohku.' Recky berbicara dalam hati sambil melihat pesisir pantai di ujung cakrawala yang memerah.
Saat hendak menghabiskan soft drink terakhirnya, dia melihat dari jauh seseorang sedang berjalan ke arah laut dengan santai. Dia berpikir, apa orangnya agak miring, hingga mau mandi di sore hari dalam cuaca yang dingin seperti ini. "Orang itu sedang menjadikan tubuhnya batu es." Recky berkata sendiri sambil terus melihat ke arah laut.
Recky melihat orang tersebut, terus berjalan ke arah laut yang dalam tanpa menghiraukan ombak yang mulai menerjangnya. Walaupun ombak hanya bergulung, tetapi tetap berbahaya jika tidak bisa berenang dengan baik. Recky tidak bisa melihat orang tersebut, pria atau wanita.
Recky terkejut, ketika melihat orang tersebut tidak lagi muncul dipermukaan laut setelah ombak melandai. Dia melepaskan sepatu, jacket dan celana panjangnya, lalu berlari ke tepi pantai dengan mengenakan singlet dan celana boxer. Recky terus melihat di mana orang tersebut menghilang. Dengan sekuat tenaga, dia berenang untuk mencari orang tersebut. Ketika menemukannya, dia menariknya ke tepi pantai lalu baringkan di atas pasir. Ternyata dia seorang wanita muda.
Secara refleks, dia memberikan bantuan dengan nafas buatan. Dia merapatkan mulutnya lalu meniup dengan tenaga ke dalam mulut wanita tersebut sambil melihat pengembangan dadanya. Satu kali, dadanya belum turun naik, dua kali belum, tiga kali belum juga, Recky makin panik.
"Ayoooolaaah...!" Dia mencobanya lagi dan lagi, ketika melihat dada wanita tersebut telah turun naik dan kemudian air keluar dari mulutnya, Recky langsung berdiri dan mengusap wajahnya dengan lega.
Recky kembali duduk di dekat wanita itu dan hendak memarahinya, karena telah lakukan tindakan yang bodoh. Tetapi dia sangat terkejut saat wanita itu membuka matanya perlahan. Mata biru mudanya sangat unik. Menyadari matanya yang mulai redup, Recky tidak jadi memarahinya.
Tidak berapa lama, dari arah belakang mereka, banyak orang berlarian mendekati mereka. Tangan wanita itu pelan berusaha menggapainya dan hendak berbicara dengannya. Recky mendekatkan telinganya ke bibir wanita itu untuk mendengar. "Help me..." Hanya itu yang diucapkan sebelum orang-orang yang berlari mendekati mereka dengan panik sambil memanggil namanya.
__ADS_1
"Apa yang anda lakukan kepada Nona kami?" Seorang bapak yang duluan tiba di dekat mereka bertanya dengan panik.
"Apa yang saya lakukan? Saya baru saja menariknya dari tengah laut. Kalau dia Nona anda, kenapa membiarkan dia melakukan tindakan bodoh seperti itu?" Recky jadi menyalurkan kemarahannya kepada bapak tersebut.
Orang yang berlari dari belakang sambil membawa selimut dalam pelukannya. Kemudian menutupi tubuh wanita itu, juga memberikan selimut kepada Recky yang sudah kedinginan.
"Tidak usah tunggu. Segeralah bawa Nona anda ke rumah sakit. Apa kalian inginkan dia mati di sini?" Tanya Recky marah, karena mereka bekerja sangat lambat. Apalagi mereka ragu-ragu menyentuh tubuh wanita itu.
"Ambulance sudah dalam perjalanan. Sebentar lagi sudah tiba." Bapak yang pertama menjawab Recky, karena melihat kemarahannya.
"Pindah... Menunggu Ambulance dan membiarkan dia di udara dingin begini? Mana mobil kalian? Bantu saya mengangkatnya ke dalam mobil kalian." Recky berkata sambil melepaskan selimut di tubuhnya.
Tetapi salah seorang mengambil selimutnya dan membalutkan ke tubuh Recky kembali. "Biarkan kami yang mengangkat Nona, tetapi tuan ikuti kami ke rumah sakit." Ucap orang tersebut dan terdengar bunyi ambulance mendekat.
"Berikan nama rumah sakitnya, nanti saya menyusul. Saya bawa mobil sendiri dan harus ganti baju yang basa ini." Ucap Recky serius, karena dia tidak mengerti kenapa mereka memintanya ikut ke rumah sakit.
'Apa mereka berpikir terjadi sesuatu denganku juga, sehingga harus diperiksa?' Tanya Recky dalam hati. Tetapi dia mau ikut, karena mungkin ada yang membutuhkan penjelasannya tentang kejadian tersebut. Dia juga mengingat ucapan wanita tersebut meminta tolong padanya, sambil berjalan cepat dengan selimut di tubuhnya ke tempat parkir mobil. Recky berpikir, apa maksud ucapan wanita tersebut.
...~●○♡○●~...
__ADS_1