
~•Happy Reading•~
Flash off.
Sambil menemani Carren sarapan, Bu Nancy memikirkan pembicaraan yang terjadi di lapak. Beliau jadi memikirkan pembicaraan beberapa waktu lalu dengan teman Gerejanya.
Bu Nancy memperhatikan wajah putrinya dengan serius. "Arra, mau berangkat kerja setelah ini?" Tanya Bu Nancy, setelah melihat putrinya telah menghabiskan sarapannya.
"Ngga, Ma. Masih tunggu Kak Ichad datang ke sini, karena kami mau pergi lihat gedung di Jakarta Utara yang akan dipakai sebagai tempat resepsi. Tadi Arra minta sarapan buru-buru, bukan karena mau berangkat kerja pagi, tapi karena lapar." Carren menjawab, lalu tersenyum mengingat tadi sudah tidak sabar menunggu Mamanya pulang untuk sarapan.
"Ooh, kalau begitu masih ada waktu bicara dengan Mama sebelum Ichad datang?" Tanya Bu Nancy, karena ada yang ingin dibicarakan dengan Carren. Belakangan ini dia sangat sibuk, membuat Bu Nancy tidak bisa berbicara santai dengannya.
Kadang Carren pulang sudah malam atau pulang sore dalam keadaan lelah, sehingga Bu Nancy membiarkannya tidur. Melihat Carren sekarang agak santai, Bu Nancy ingin berbicara serius dengannya.
"Bisa, Ma. Ini sudah kenyang, tinggal tunggu Kak Ichad datang, lalu kami pergi. Nanti siang baru mulai sibuk lagi, mungkin pulang agak malam. Arra ada janji mau bertemu dengan beberapa orang, jadi Mama tidak usah menunggu Arra untuk makan malam." Ucap Carren mengingat rencana kerjanya sepanjang hari.
"Baik. Kalau begitu, Mama akan siapkan makanan secukupnya untuk Mama saja." Bu Nancy berkata, karena mengerti pekerjaan putrinya.
"Yang mau Mama bicarakan itu begini. Apakah Arra masih ingat dengan teman Mama di Gereja yang bernama Bu Hartoyo?" Tanya Bu Nancy, sambil menatap wajah putrinya berharap dia ingat agar memudahkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Iya, Ma. Arra masih ingat. Ada apa dengan Bu Har, Ma?" Tanya Carren setelah mengingat teman Mamanya, karena beberapa kali mereka bertemu saat selesai Ibadah. Bu Hartoyo selalu mendekati dan menyalami meraka.
"Baik. Beberapa waktu lalu ada acara di Gereja, Mama bertemu dengan Bu Har. Beliau menanyakan kabar dan pekerjaanmu. Beliau juga titip tanya, apakah Arra masih ingat dengan putranya yang bernama Prasetyo." Bu Nancy mulai membicarakan pembicaraannya dengan Bu Hartoyo.
"Iya, Ma. Arra masih ingat, Prasetyo. Dia teman SD Arra. Ada apa dengannya, Ma?" Tanya Carren yang belum mengerti maksud dari pembicaraan Mamanya.
"Dia sekarang sudah selesai kuliah di Jogya dan telah bekerja di salah satu Bank BUMN di Jakarta. Jadi Bu Har bertanya tentangmu dari Mama. Apakah Arra bersedia jika mereka datang melamarmu untuk Prasetyo." Bu Nancy bertanya pelan, sambil tetap melihat wajah putrinya dengan serius.
"Astaga, Mamaaa... Jangan sembarang bicarakan hal itu. Arra bertemu dengan Prasetyo waktu masih kecil, masih SD. Terakhir mungkin saat remaja di Gereja. Jadi sekarang Arra tidak tau dia seperti apa dan bagaimana. Masa tiba-tiba bicara soal lamar, melamar, Ma?" Carren melihat Mamanya dengan wajah terkejut dan heran. Karena dia sendiri tidak terpikirkan tentang itu.
"Kalau begitu, apakah bisa kau bertemu dengannya lagi untuk bisa saling mengenal sebelum keluarganya datang melamarmu?" Bu Nancy menyampaikan ide yang dikatakan oleh Bu Hartoyo, karena mereka ingin bermenantukan Carren.
"Astaga. Berarti Mama dan Bu Har sudah serius membicarakan hal ini? Kalau begitu, Arra mau serius bicarakan ini dengan Mama. Agar nanti Mama bisa hati-hati, saat berbicara dengan Bu Har." Carren menatap Mamanya dengan serius.
"Kedua; Karena kesibukan saat ini, Arra belum mau pacaran. Ada banyak hal yang harus Arra pikirkan dan kerjakan untuk bisa membuat pekerjaan ini menjadi tempat pijakan yang kokoh."
"Ketiga; Arra belum siap menjalin hubungan serius dengan seseorang. Karena jika demikian, Arra tidak bisa seperti sekarang. Bebas menentukan segala sesuatu tanpa meminta pertimbangan atau persetujuan darinya." Carren dengan cepat berpikir, untuk meredam rencana Mamanya dengan Bu Hartoyo.
"Sekarang Arra bisa letakan Hp dimana saja. Kalau ada yang telpon dan tidak bisa menerima, Arra akan menelponnya nanti, jika sudah tidak sibuk. Arra pernah melihat ini saat Kak Ichad pacaran. Mereka seringkali ribut hanya karena masalah ini. Ketika pacarnya telpon dan Kak Ichad dalam kondisi tidak bisa menerima panggilan telponnya. Pacarnya ngamuk sehingga, kadang-kadang Kak Ichad yang masih berdiri di tangga untuk dekor harus menerima panggilan telpon atau VC untuk membuktikan bahwa benar Kak Ichad ada di mana dan sedang bekerja." Carren mengingat saat Ichad berpacaran dengan mantan pacarnya.
__ADS_1
"Saat itu, Arra sangat marah saat melihat Kak Ichad VC di atas tangga. Dia mempertaruhkan nyawanya hanya agar tidak ribut dan senangkan hati pacarnya. Kalau saat VC dan Kak Ichad tidak hati-hati lalu jatuh. Apa yang akan terjadi? Mungkin pacarnya akan datang ke Rumah Sakit sambil berurai air mata dan minta maaf. Tapi apakah itu bisa menyembuhkan patah tulangnya Kak Ichad?" Carren mengingat Ichad VC dengan pacarnya atau tiba-tiba terima telpon di ujung tangga.
"Sekarang karena Arra hanya berteman, bisa bilang tidak mau menerima VC. Sebagai teman, mereka tidak bisa menuntut atau marah karena itu. Tapi kalau sebagai pacar, Arra harus menerima itu. Melakukan telpon atau bertemu atau VC kapan saja yang dia inginkan."
"Keempat; Arra belum pintar bersikap adil jika memiliki dua orang Mama. Saat ini, Arra hanya memikirkan melakukan sesuatu untuk Mama. Tetapi kalau sudah punya mertua, harus pikirkan beliau juga agar tidak tersinggung atau menimbulkan pertengkaran karena Arra lebih mengutamakan Mama."
"Arra bisa bersikap bijak dan adil bagi semua karyawan, tetapi belum bisa kepada dua orang Mama. Mungkin kalau semua rencana Arra dengan Mama terujud, baru Arra pikirkan untuk serius menjalin hubungan dengan seseorang. Jadi Mama tolong sabar, jika ada yang pertanyakan atau membicarakan hal seperti ini lagi dengan Mama."
"Kembali mengenai Bu Har dan Prasetyo, Mama jangan memberikan lampu kuning apalagi lampu hijau. Tetap lampu merah. Jika Prasetyo jodohnya Arra, mungkin kita akan bertemu tanpa dibantu oleh Mama dan Bu Har." Carren berkata serius dan tegas untuk meyakinkan Mamanya.
"Sekarang Arra bicara begini, tidak merasa terbebani menolak usulan Bu Har dan Mama. Karena Arra belum bertemu dengan Prasetyo. Jangan sampai ada yang bilang Arra menolak karena fisik atau pekerjaan Prasetyo."
"Apakah sekarang Mama sedang khawatir, karena Arra belum pacaran atau memiliki calon suami?" Tanya Carren, lalu berdiri dan memeluk Mamanya dari belakang. Dia berbicara sambil meletakan dagu di bahu Mamanya.
"Seperti yang suka dikatakan orang, Belanda masih jauh dan memang Belanda jauh dari tempat kita. Tetapi jika Tuhan berkenan memberikan Arra seorang suami, jodoh itu tidak jauh. Dia akan muncul tiba-bagi dan berkata: Hi... I'm coming..." Carren berkata dengan wajah tersenyum untuk menenangkan Mamanya. Dia terus memeluk dan mengelus lengan Mamanya dengan sayang.
"Mama tidak khawatir, lalu mau mendesakmu. Mama hanya menyampaikan ini, agar bisa dengar pendapatmu. Jika nanti bertemu dengan Bu Har lagi, Mama tau apa yang harus Mama katakan kepada beliau. Mama menyerahkan semua keputusannya padamu." Bu Nancy berkata sambil mengelus pipi Carren yang ada di bahunya.
Setelah Ichad datang dan mereka berangkat bekerja bersama, Bu Nancy kembali duduk di meja makan sambil berpikir tentang yang dikatakan Carren. 'Jadi dia hanya berteman dengan Parry?' Bu Nancy bertanya dalam hati sambil merenung.
__ADS_1
Bu Nancy mau membicarakan itu dengan Carren, agar bisa tahu apakah Carren telah memiliki seseorang di luar sana yang telah menjadi pacarnya. Terutama dengan Parry, karena mereka sering berhubungan. Dengan menyampaikan permintaan Bu Hartoyo hendak melamar Carren, ibarat Bu Nancy sedang mengecek ombak.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡