Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Sama Sisi 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Sekian lama mereka berdiam diri dengan perasaan masing-masing. Berbagai rasa hati berkecamuk, silih berganti dengan pikiran untuk mengendalikan diri dan perasaan mereka. Recky perlahan mengangkat wajahnya, tapi dagunya masih di atas meja beralaskan tangannya lalu menatap Aaric yang sedang memandangnya. Aaric tidak tahan melihat adiknya sedih, membuatnya sangat sedih.


Aaric mencoba berpikir baik untuk mengatasi dan menyelesaikan apa yang sedang terjadi. Mereka tidak bisa hanya berdiam diri dalam kesedihan tanpa penyelesaian. "Kenapa kau memandangku seperti itu? Ini bukan tentang perusahaan, tetapi tentang perasaan. Jangan memintaku untuk mengalah dalam hal ini." Ucap Aaric menguatkan hatinya sambil memandang Recky yang masih meletakan dagunya di meja beralaskan tangannya dalam diam.


"Jika aku meminta hal itu, berarti aku tidak mengenal kakakku." Ucap Recky pelan. Dia mengingat, bagaimana kakaknya meninggalkan rumah, karena tidak mau mengalah kepada Mamanya untuk meninggalkan Naina.


"Aku sedang merenungi apa yang terjadi diantara kita. Jodoh seseorang yang diberikan Tuhan, caranya sangat unik dan tidak terselami dengan akalku yang dangkal." Recky berkata pelan, masih dalam posisi yang sama.


"Apa maksudmu?" Aaric bertanya, karena tidak mengerti yang dikatakan Recky dan melihat cara Recky menyampaikannya dengan wajah sedih sambil merenung.


"Aku berkali-kali berusaha datang ke sini untuk bertemu dengan Carren, agar bisa menyatakan cintaku padanya, tetapi tidak bisa bertemu dengannya. Sedangkan kakak, yang tidak berusaha, tiba-tiba bertemu Carren dengan mudahnya. Seakan-akan kakak diangkat dan diletakan di sana, di depannya." Ucap Recky masih merenung.


Aaric melihat Recky seakan tidak percaya dengan apa yang dipikirkan dan diucapkan adiknya. "Apakah kau belum menyatakan perasaanmu padanya? Apakah kalian belum berpacaran?" Tanya Aaric terkejut.

__ADS_1


"Belum. Kami sering chat dan telpon, tetapi aku tidak mengatakan apapun padanya. Aku ingin mengatakannya secara langsung, agar bisa melihat wajahnya saat menerima atau menolakku. Tetapi setiap kali aku tiba di sini, dia tidak ada di tempat atau ada pekerjaan di luar kota."


"Terakhir kali, aku dari Jerman dan mampir ke sini untuk bertemu dengannya sebelum ke Aussie. Tetapi aku melihatnya dengan Parry sedang makan malam di Goropaku Restaurant. Melihat tatapan Parry padanya, aku berpikir mereka telah berpacaran. Sehingga sangat marah dan minum sampai mabuk bersama Sofyan. Akhirnya terjadilah persitiwa dengan wanita iblis itu menjebakku dan terusnya kakak sudah tau." Recky berkata pelan, sambil mengingat peristiwa yang mematahkan hatinya.


"Sedangkan kakak, dengan mudahnya tiba-tiba bertemu dengannya, bisa melamar, bahkan bisa bertunangan dengannya." Recky mengatakan semuanya, masih dalam posisi yang sama dengan wajah sedih dan terus merenung.


Aaric jadi mengingat apa yang dikatakan Papanya tentang Recky. 'Adikmu sedang berusaha mendapatkan gadis yang dicintainya, tetapi dipotong oleh Mamamu.' Aaric berkata dalam hati. 'Jadi mereka memang belum berpacaran.'


"Siapa Parry, yang bisa membuat kau berpikir seperti itu? Apa kau mengenalnya sehingga dengan mudah marah hanya dengan melihatnya sekilas?" Tanya Aaric, karena Carren tidak pernah mengatakan apapun tentang orang yang bernama Parry.


"Aku berpikir mereka telah berpacaran, karena selain melihat mereka malam itu, aku pernah melihat mereka bersama saat Kak Naina meninggal. Carren ada duduk di samping Parry bersama dengan keluarga Hutama. Pada saat itu juga aku pernah berpikir mereka sudah berpacaran."


"Tetapi saat itu aku berusaha mendekatinya untuk memastikan di tempat duka dan meminta nomor telponnya. Akhirnya kami bisa berhubungan dengan baik. Dia tidak marah padaku karena suka mengganggunya saat di sekolah. Aku tidak mengganggunya seperti iblis-iblis itu. Aku hanya datang tiba-tiba berdiri di dekatnya, karena suka melihat wajah dan matanya saat terkejut melihatku."


"Walaupun nanti aku kesal, karena Parry menariknya menjauh dariku, aku tidak pernah berhenti melakukannya. Aku tadinya berpikir, itu hanya rasa iseng untuk mengalihkan rasa sepiku ditinggal kakak. Tetapi setelah di Aussie dan berhubungan dengan beberapa wanita, aku sadar Carren adalah cinta pertamaku. Aku tidak bisa melupakannya saat sedang tidak sibuk."

__ADS_1


"Ketika dia minta tolong padaku, aku tau dia tidak berpacaran dengan Parry. Karena jika dia berpacaran dengan Parry, dia akan meminta tolong kepadanya. Hal itu membuatku berjuang untuk mendapatkannya. Setiap tidak sibuk, aku selalu menghubunginya."


Banyak tanya dikepala Aaric untuk ditanyakan kepada Recky, tetapi dia menahannya. Dia berpikir adiknya sedang melapangkan dada dan perasaannya dengan menumpahkan semua yang ditahannya selama ini.


"Saat aku bermimpi tentangnya, aku ingin pulang ke sini untuk bertemu dengannya karena mimpi itu sangat menggangguku. Sehingga aku tidak bisa tidur lagi setelah terbangun. Tetapi aku tidak bisa pulang ke sini, karena mau ujian akhir. Kemudian aku tidak ujian, malah ke Canberra untuk bekerja. Kakak lihat penghalangnya?" Tanya Recky sambil menatap kakaknya dengan mata tergenang.


"Aku kira mimpi itu bukan untuk Carren. Tetapi mimpi itu untukku, karena aku yang menikah meninggalkan Carren. Tetapi sekarang aku tau, mimpi itu memang tentang Carren. Benar, dia yang pergi menjauh dariku seperti mimpi itu." Recky menceritakan semua rasa dihatinya, karena hanya kakaknya yang bisa mendenggar dan memahaminya.


Aaric yang hanya diam mendengar dan melihat Recky. Dia tahu adiknya sedang menumpahkan semua rasa yang ada di hati, tetapi dia penasaran dengan mimpi Recky. Sebagaimana Recky pernah bercerita tentang mimpinya saat melihatnya hampir masuk jurang, dan dia menariknya dari tepi jurang. Sedangkan saat itu dia sedang tidak sadarkan diri di apartemen. Begitu juga mimpi tentang Papa mereka. "Mimpi apa yang membuatmu seperti itu?" Tanya Aaric, karena melihat Recky begitu terguncang menceritakan mimpinya.


"Aku melihat Carren menjauh dariku, berjalan ke arah taman bunga. Saat dia berbalik, ada seperti sayap kecil dipunggungnya. Saat itu aku langsung menelponnya, karena khawatir terjadi sesuatu dengannya. Dia katakan itu hanya bunga tidur, tidak usah dipikirkan. Tetapi aku tau dia pikirkan itu, karena walaupun bercanda, dia menanyakannya kembali."


"Aku tau, sebenarnya Carren tau, aku mencintainya. Walaupun aku tidak mengatakan perasaanku padanya, tapi kadang-kadang aku keceplosan mengucapkan kata-kata yang tidak lasim untuk orang berteman. Seperti saat menceritakan mimpi itu, aku katakan:  'Jika kau menjauh dariku, aku akan mematahkan sayapmu.' Dia katakan, 'bagaimana kau bisa patahkan sayapku, jika aku sudah terbang.' Aku cuma katakan, 'aku melihat sayapmu masih kecil, jadi aku bisa mematahkannya sebelum kau terbang.' Kami jadi tertawa saat itu dengan ucapan masing-masing." Recky mengingat candaan mereka malam itu, tentang mimpinya.


"Tetapi sekarang apa yang terjadi, Kak? Mimpi itu jadi kenyataan, Carren benar menjauh dariku. Lalu apakah aku bisa mematahkan sayapnya di depan kakakku sendiri? Sedangkan aku tau, kakaklah kebahagiaannya?" Tanya Recky dengan air mata mengalir di pipi. Aaric menarik nafas panjang berulang kali.

__ADS_1


...~●○♡○●~...


__ADS_2