
~•Happy Reading•~
Keesokan harinya, Carren sengaja bangun siang, karena tidak masuk kantor. Dia ingin beristirahat sejenak setelah sepanjang minggu bekerja keras untuk mempersiapkan acara resepsi pernikahan Recky dan Liana.
Sepanjang malam dia berusaha tidak memikirkan kesehatan tangan Recky yang membuatnya khawatir. Dia berusaha tidak memikirkan dan hanya berdoa, karena melihat keadaan terakhir acara resepsi pernikahan Recky dan Liana.
Dia kepikiran, karena tidak melihat Recky sebelum acara resepsi selesai. Apalagi dia melihat keluarga Liana dan orang tua Recky panik. Ketika melihat Liana menangis sedih di ruang VIV, dia tidak berani mendekat untuk bertanya. Walaupun hatinya cemas memikirkan ketidak beradaan Recky. Hal itu membuatnya terus berdoa sepanjang malam untuk Recky.
Setelah membersihkan diri, Carren duduk sarapan sendiri di meja makan karena Mamanya sudah sarapan terlebih dahulu. Melihat Carren sudah duduk sarapan, Bu Nancy mendekatinya dan duduk di meja makan bersamanya.
"Arra tadi Ichad datang menjemputmu, tapi Mama katakan kau belum bangun. Mama mau membangunkanmu, tapi Ichad katakan ngga usah dibangunkan, karena mungkin kau sangat lelah. Apakah Arra tidak ke kantor hari ini?" Tanya Bu Nancy, setelah melihat Carren masih mengenakan baju rumah.
"Iya, Ma. Hari ini Arra mau istirahat di rumah, karena cape'nya belum hilang. Nanti kalau harus keluar, Arra akan pergi sebentar. Gimana, Ma?" Tanya Carren, melihat Bu Nancy sepertinya mau bicara dengannya.
"Begini, Arra. Ada bebetapa hal yang mau Mama bicarakan denganmu. Mumpung kau ada di rumah dan punya waktu longgar. Bagaimana dengan mobil di depan itu. Apakah tetap di sini?" Tanya Bu Nancy, karena penasaran dari kemarin tentang mobil mewah yang diantar ke rumah. Carren hanya meminta untuk menerimanya.
"Oooh, itu punya teman dan titipkan di sini selama dia ada di luar negeri. Tapi kita bisa pakai jika diperlukan. Terutama kalau Arra mau bertemu dengan client yang berkelas seperti kemarin." Carren berkata demikian, karena dia berharap jika suatu saat Recky ada di Jakarta, bisa mengambilnya atau memakainya. Dia akan menggunakannya pada saat dibutuhkan saja.
"Kalau begitu, kau mulai pikirkan untuk belajar menyetir, agar tidak bergantung pada Ichad. Atau kau punya seorang sopir yang bisa mengantarmu pada saat-saat tertentu." Bu Nancy mulai mengerti dan memberikan saran kepada Carren.
"Iya, Ma. Nanti Arra pikirkan bagaimana baiknya setelah tenagaku sudah pulih kembali. Sekarang masih sangat lelah untuk berpikir." Carren berkata dengan wajah yang masih kelelahan.
"Baik. Mama percaya, kau bisa mengurusnya nanti. Hal lain yang mau Mama bicarakan denganmu, adalah memgenai permintaan Bu Hartoyo. Beliau masih penasaran ingin bermenantukanmu. Jadi beliau minta kau bertemu dengan Prasetyo dulu, baru kau putuskan. Semua keputusanmu beliau akan terima, setelah bertemu dengan Prasetyo. Mama berharap kau bisa mengerti, agar kita tetap menjaga hubungan baik dengan beliau." Bu Nancy berbicara sambil menatap Carren serius.
__ADS_1
Mendengar yang dikatakan Mamanya, Carren berpikir cepat. Ternyata hal itu belum bisa selesai jika tidak diselesaikan. "Baiklah, Ma. Mama katakan kepada Bu Har, aku bersedia bertemu dengan Prasetyo nanti malam di tempat kita makan bersama Kak Maxi. Jam tujuh kita akan bertemu di sana. Mama jangan berikan nomor telponku untuk Bu Har, apalagi m Prasetyo. Bilang saja, dia tunggu aku di sana sampai aku datang." Carren bicara serius dengan Bu Nancy, karena ada hal yang tidak pas dengan hatinya. Kenapa ibunya yang berinisiatif untuk mengatur pertemuan, sedangkan Prasetyo tidak.
"Baik, Mama akan katakan kepada Bu Har, agar bisa disampaikan kepada Prasetyo." Kata Bu Nancy buru-buru, jangan sampai Carren berubah pikiran.
"Iya, Ma. Katakan kepada beliau, hanya bisa malam ini, mumpung aku ada di rumah. Besok-besok kalau sudah sibuk, akan sangat sulit aku mengaturnya." Carren berkata serius dan Bu Nancy mengangguk mengerti.
"Sekarang Arra istirahat dulu, Mama akan siapkan masakan untuk makan siang kita." Bu Nancy berkata dengan hati lega.
"Iya, Ma. Karena mau bertemu dengan Prasetyo, nanti setelah makan siang Arra akan ke kantor. Pulang dari kantor baru mampir ke restoran untuk bertemu dengannya." Ucap Carren dan Bu Nancy mengangguk mengerti.
.***.
Carren jadi pergi ke kantor untuk melihat semua karyawan dan mengecek keadaan. "Kak Ichad, nanti pulang Kakak tolong antar aku ke restoran Royong, ya. Aku mau bertemu dengan seseorang di sana." Ucap Carren menjelang waktu tutup kantor.
"Kau mau bertemu dengan client baru di sana?" Tanya Ichad, saat mereka berdua telah duduk dalam mobil untuk pulang.
"Ngga, Kak. Mau lakukan kencan buta seperti di drama-drama Korea. Hanya yang ini bukan kencan buta, tapi kencan rabun karena aku pernah bertemu dengan orangnya belasan tahun yang lalu." Carren menjelaskan, lalu tersenyum mendengar perkataannya sendiri.
"Oooh, begitu. Apa aku perlu menunggumu sampai selesai kencan rabun?" Tanya Ichad demgan wajah tersenyum juga.
"Ngga usah, Kak. Selagi ponsel dan kuota cukup, ojol selalu setia menjemput dan mengantar." Carren berkata sambil tersenyum.
"Kau ini seperti bukan mau pergi kencan, tapi mau pergi bertemu teman. Rapikan rambut dan bajumu. Siapa tau dia jodohmu, jangan membuat kesan pertama yang buruk." Ichad mengingatkan, karena Carren tidak berdandan seperti wanita pada umumnya yang mau pergi kencan.
__ADS_1
"Tenang saja, Kak. Ini aku lakukan karena terjadi pembicaraan tingkat tinggi para Ibu-ibu yang sedang mencari menantu. Supaya hubungan tingkat tinggi tetap aman, kita lakukan kencan rabun yang mulai buta ini." Ichad tertawa melihat Carren berkata dengan serius.
Setelah tiba di tempat, waktu belum menunjukan pukul tujuh. Carren turun dan masuk ke restoran. Dia mencari tempat duduk yang nyaman untuk makan. Karena dia berencana makan dulu, sebelum bertemu dengan Prasetyo.
Saat Carren sudah selesai pesan makan malamnya, banyak orang mulai berdatangan untuk makan malam. Melihat hampir tiba waktunya, Carren memperhatikan orang-orang yang mulai berdatangan.
Sambil menunggu menunya disajikan, Carren terus memperhatikan setiap orang yang datang. Ketika melihat banyaknya pengunjung, dia mulai panik, karena lupa dengan wajah Prasetyo. Apalagi diantara pengunjung yang hadir, tidak ada yang sendiri seperti dirinya. Kebanyakan berpasangan atau dengan keluarga, sehingga dia tidak bisa tahu mana Prasetyo. Dia mengambil ponsel hendak menghubungi Mamanya.
Tiba-tiba dia mendengar pembicaraan pasangan di seberang mejanya. "Apakah Mas Pras tidak bisa katakan kepada Ibumu, kalau sudah punya pacar? Apa kelebihan wanita itu dariku, sampai Ibumu begitu memaksa untuk menjodohkanmu dengannya?" Sang wanita berkata sinis dan tidak senang.
"Yaa... Untuk kelebihan, aku tidak tahu. Dia hanya wanita sederhana dari keluarga yang kurang mampu. Mungkin Ibu kasihan padanya dan Mamanya, karena Papanya sudah meninggal. Aku sengaja nengajakmu, agar dia tahu aku sudah punya pacar. Jadi dia tidak berharap terlalu tinggi untuk bisa bersamaku. Dengan begitu, Carren sendiri yang akan menolak rencana perjodohan ini." Ucap pria, dan yang wanita mengangguk dengan wajah tersenyum senang dan bermanja ria.
Mendengar namanya disebut, Carren menarik kesimpulan pria tersebut adalah Prasetyo. Karena dia sudah sangat berubah, sehingga Carren tidak mengenalnya lagi. Carren juga sudah sangat berubah, sehingga Prasetyo tidak mengenalnya. Di bayangannya, Carren wanita sederhana dengan penampilan sederhana, layaknya orang kurang mampu. Berbeda dengan pacarnya yang modis layaknya orang berpunya.
Carren merapikan penampilannya, lalu berdiri mendekati meja di seberang mejanya. "Apakah anda Prasetyo?" Tanya Carren tegas dan serius. Pria itu terkejut, tapi mengangguk sambil menatap Carren.
"Oooh, baik. Perkenalkan, saya Carren yang buat janji bertemu denganmu di sini. Karena kau sudah punya pacar, jadilah pria yang gentle dengan katakan kepada keluargamu. Agar Ibumu tidak perlu membantumu mencari pacar dengan terus berbicara dengan Mamaku. Aku membuat janji bertemu denganmu di sini, karena kasihan kepadamu Ibumu yang mengira anaknya tidak mampu mencari pacar sendiri. Jadi silahkan selesaikan persoalan keluargamu. Jangan melibatkan orang sederhana yang berpikiran sederhana hanya untuk menjaga hubungan baik." Carren berkata tanpa memberikan spasi untuk Prasetyo berbicara.
Selesai berkata, Carren segera kembali ke tempat duduknya karena pelayan telah datang menyajikan menu spesial yang dipesannya untuk makan malam. Dia menikmatinya dengan santai tanpa melihat Prasetyo dan pacarnya yang sedang salah tinggkah.
Setelah selessi makan dan menikmati dessertnya, dia memberikan isyarat kepada pelayan untuk mendekatinya. "Tolong bawa bill saya dan meja di sebelah, ya." Ucap Carren sambil menunjuk meja Prasetyo.
Setelah selesai membayar, Carren mendekati meja Prasetyo tanpa memperdulikan pacarnya. "Aku sudah membayar makan malammu, karena memang aku berencana mentraktirmu setelah lama tidak bertemu. Jadi silahkan nikmati makan malammu." Carren berkata, lalu meninggalkan Prasetyo dan pacarnya terdiam dan tertunduk malu.
__ADS_1
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡