
~•Happy Reading•~
Ayunna :><:
Di sisi yang lain ; Setelah pulang dari GI, dia langsung memacu mobilnya ke arah rumah. Hatinya seperti baru dipanggang di atas bara api. Semua yang dikatakan Liana sangat menyinggung dan merendahkannya di depan Sainy dan Riri.
Dia seorang Ollehart tidak bisa membuat sesuatu menjadi jelas. Hatinya yang membara membuat dia tidak bisa konsentrasi membawa kenderaannya. Berkali-kali para pengendera mobil yang disailp memakinya. Karena cara menyetirnya yang ugal-ugalan, membuat mereka terkejut.
Dia memarkir mobilnya asal, setelah tiba di rumah. Kemudian dia berlari masuk ke rumah dan menuju ke kamarnya. 'Aku harus menyelesaikan persoalan yang membuatku terlihat menyedihkan.' Ayunna membatin, saat berada dalam kamar. Tidak tahan dengan hatinya yang panas, dia masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi untuk mendinginkan kepalanya, dia mengambil ponsel lalu menghubungi Recky. Karena berkali-kali menghubungi, Recky tidak merespon, dia mengirimi pesan. "Recky, lebih baik kau terima telponku, atau aku akan ke rumahmu untuk meminta alamatmu dan besok aku tiba di situ." Isi pesannya kepada Recky.
Dia sudah tidak memikirkan bahwa dia seorang wanita. Kalau memang dengan mengancam untuk mendapatkan perhatian Recky, dia sudah tidak perduli lagi. Karena memang dia berencana akan menemui Mamanya Recky untuk meminta alamat Recky di Australia.
Sekian lama menunggu belum ada respon dari Recky, dia bangun lalu mengganti pakaiannya dan berdandan tipis. Dia benar-benar berniat ke rumah Recky, sebelum orang tuanya pulang.
Dia mengambil tas kecil dan mengisi dompet dan ponselnya, lalu memperhatikan penampilannya sekali lagi di cermin. Karena walaupun dalam kemarahan, dia masih menyadari akan bertemu dengan orang tua Recky.
Saat hendak melangkah keluar kamar, ponselnya berdering. Dia mengambil dari dalam tas untuk melihat siapa yang menelponnya. Saat nama Recky muncul di layar, dia kembali ke kamar dan duduk di atas tempat tidur lalu merespon panggilan Recky.
Dia berusaha menenangkan suaranya dengan berdehem, agar bisa bicara lebih baik dan menenangkan hatinya.
📱"Alloo, Recky." Sapanya, saat merespon panggilan Recky.
📱"Tidak usah pake Intro. Kau tidak punya kerjaan? Apa kau pikir semua orang sepertimu yang tidak bekerja? Lekas bicara, aku sedang sibuk." Recky menahan rasa marahnya, karena dia sedang ada pertemuan penting dengan beberapa pejabat penting.
Melihat telpon Ayunna yang berkali-kali dan isi pesan yang mengganggunya, dia minta ijin istirahat sejenak untuk menghubungi Ayunna yang sangat mengganggu konsentrasinya.
__ADS_1
📱"Kenapa selama ini kau tidak merespon panggilanku dan membalas pesanku? Aku sudah berusaha menghubungimu berulang kali, tetapi kau mengganggapku seperti angin." Ayunna mulai kesal, mendengar yang dikatakan Recky.
📱"Memang aku ini siapamu? Apa kewajibanku untuk merespon panggilan atau membalas pesanmu? Tadinya aku mengganggap kalian laron, karena sering mengganggu. Tapi kau justru merendahkan dirimu dengan menganggap seperti angin." Recky makin naik level kesal, karena membuang waktu untuk mengurusi hal yang tidak jelas.
📱"Kau seperti angin? Kau sudah mendeskripsikan dirimu sangat tepat. Seperti melihat daun bergerak, kita tahu ada angin bertiup. Begitu juga denganku, aku tau kau ada saat melihat pesan atau misscall mu." Ucap Recky, karena emosi.
📱"Recky, apa kekuranganku sampai kau tidak pernah menanggapiku? Apa kelebihan Carren dariku, sampai kau lebih memperhatikannya?" Ayunna sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
📱"Ayunna, jangan memancing amarahku. Kau bersyukur, karena aku ada pertemuan hari ini. Jadi aku sedang menahan amarahku. Kau tidak memiliki kekurangan, yang punya kekurangan itu aku." Recky berusaha menahan ucapannya dengan tidak meneruskan kata-kata selanjutnya.
📱"Coba kau jawab aku, kenapa kau tidak merespon semua perhatian Franky?" Tanya Recky, karena dia tahu Franky menaruh hati pada Ayunna, semenjak masih di sekolah.
📱"Yaa, karena aku tidak menyukainya. Ngapain direspon." Ucap Ayunna tanpa sadar dengan arah pertanyaan Recky.
📱"Naah... Itu kau tahu. Kau sudah menjawab pertanyaanmu sendiri. Kenapa aku tidak merespon semua yang kau lakukan." Ucap Recky, dingin.
📱"Ayunna, ternyata kau itu memang benar-benar angin yang tidak berakal. Aku sudah berusaha tidak membahasnya. Tetapi kau mengulangnya lagi dengan menyebut namanya. Sekali lagi kau menyebut Carren, aku akan menyebut kelebihannya sampai telingamu membara dan membakar hatimu." Recky tidak bisa mengendalikan emosinya, mendengar Ayunna kembali menyebut nama Carren.
📱"Aku akan membuatmu menyesal telah mengabaikanku. Kau kira aku akan diam saja menerima semua perlakuanmu?" Ayunna makin tidak bisa mengendalikan dirinya, mendengar apa yang dikatakan Recky.
📱"Baik, Ayunna. Kau sudah menunjukan dirimu yang sebenarnya. Ternyata kau bukan laron atau angin, tetapi hantu." Recky langsung mematikan telponnya, karena telah dipanggil untuk melanjutkan rapat.
Ayunna hanya bisa menangis menyesal mendengar ucapan Recky. Dia makin menangis saat menyadari Recky telah memutuskan telponnya.
.***.
Liana :><:
__ADS_1
Di sisi yang lain ; Setelah ditinggal Ayunna dan selesai membayar makan siang mereka, Liana segera meninggalkan GI menuju tempat parkir. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi ke hotel untuk bertemu dengan Mamanya. Dia tidak bisa menghindar, saat Mamanya meminta untuk bertemu di hotel.
Saat tiba di hotel, Mamanya telah selesai makan siang dan sedang menunggunya dengan wajah tidak senang. "Liana, duduk di sini. Mama mau bicara denganmu. Bagaimana dengan kuliahmu?" Mamanya dengan serius menanyakan kondisi kuliahnya karena baru bertemu dengan beberapa temannya dan memgetahui anak-anak mereka ada yang sudah ujian tinggal menunggu wisuda. Sedangkan Liana belum memberitahukan apapun kepadanya.
"Sekarang Liana sedang menyiapkan skripsi, Ma. Tinggal tunggu di acc sama dosen, lalu ujian." Liana terkejut mendengar pertanyaan Mamanya. Dia tidak menyangka Mamanya akan menanyakan hal tersebut.
"Cepat selesaikan skripsimu, Mama tunggu secepatnya. Mama baru bertemu dengan teman-teman Mama, anak-anak mereka ada yang tunggu ujian dan ada yang sudah lulus ujian. Mama tidak bisa cerita tentangmu, karena kau belum jelas." Mama Liana berkata serius, sambil melihat putrinya dengan tidak sabar.
"Iya, Ma. Liana akan segera siapkan secepatnya." Liana menjawab cepat, agar Mamanya tidak terus mendesaknya.
"Baik, kau masih ingat yang Mama katakan bukan? Kalau kau menunda terus penyelesain skripsimu, Mama akan menikahkanmu tanpa minta persetujuanmu." Mama Liana kembali mengingatkan tentang apa yang pernah dikatakannya.
"Kami tidak mau tahu bagaimana caranya, segera selesaikan agar bisa wisuda bersama dengan teman-temanmu tahun ini. Jika tidak demikian, kami akan menghentikan semua fasilitas yang kau terima dan siap menikahkanmu." Ucap Mamanya lagi, lalu berdiri.
"Segera pulang ke rumah, tidak ada lagi keluar clubbing. Kalau nanti Mama tidak melihatmu saat tiba di rumah, Mama akan mengambil kunci mobilmu." Mama Liana meninggalkan Liana yang diam melongo.
'Apa yang terjadi hari ini, semua meninggalkanku. Apa memang benar, aku ini bodoh seperti yang dikatakan Ayunna?' Tanya Liana dalam hati.
'Aku harus segera menyelesaikan skripsiku agar tidak kehilangan semua fasilitas yang ada atau dinikahkan.' Liana membantin lagi, mengingat ancaman Mamanya. Karena dia percaya, Mamanya akan melakukan apa yang dikatakannya.
Dia mengingat ucapan Mamanya. Bagaimanapun caranya, harus wisuda bersama teman-temannya. Dia mengambil ponselnya dan mencari orang yang bisa membantunya. Ketika menemukan iklan: 'Joki Skripsi Tercepat, Paket Sampai Wisuda.' Liana tersenyum dan mengirim pesan, lewat email yang terterah.
《○》
***.♡.Mohon maaf para pembaca ; Banyak kegiatan tokoh hari ini yang perlu diceritakan. Jadi belum bisa beranjak ke hari berikutnya. Mohon bersabar, ya. Mkasih.🙏🏻.♡.***
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡
__ADS_1