Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Kisah di Hari H (4).


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Di sisi yang lain ; Recky telah kembali ke kamar untuk meredakan emosi dan juga tangannya yang tidak nyaman. Sambil meletakan tangan kanannya di atas bantal, dia terus berpikir dengan apa yang sedang terjadi. Dia tidak habis pikir, ada manusia berperilaku seperti Ayunna dan Liana. Dalam kondisi seperti sekarang masih sempat-sempatnya berpikir dan melakukan hal yang tidak terpuji.


Sayup-sayup dia mendengar suara bentakan dan marah Carren. Dia sudah tidak punya semangat dan tenaga untuk kembali ke kamar itu. Dia tahu, Carren pasti akan membantu Liana. Jadi percuma dia datang hanya untuk memarahi orang yang otaknya seperdua. Semua yang dikatakan pasti hanya nyangkut di ubun-ubunnya.


Dia sudah tidak punya energi lagi untuk berhadapan dengan orang yang hanya bisa membuat emosinya seperti di roller coaster. Mendengar suara Carren yang membentak, Recky berpikir sambil mencari cara membuat nyaman tangannya yang tidak enak.


'Apakah orang itu waktu pembagian otak, salah menghadap sampai tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk?' Tanya Recky dalam hati mengingat Liana tidak bisa berpikir sebagaimana layaknya orang yang berotak normal.


Bukan saja tidak bisa membedakan baik dan buruk, tetapi juga tidak tahu malu. 'Mau dibilang mungkin karena lahir prematur, tapi ada banyak orang yang lahir prematur, jenius.' Recky hanya bisa menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran dari orang yang berotak prematur.


Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di pintu. Recky berjalan ke pintu dengan dahi berkerut, sambil bertanya dalam hati, siapa yang datang. Karena dia masih mendengar suara Carren di sebelah. 'Mungkin karyawannya.' Pikir Recky, lalu membuka pintu kamarnya.


Ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu dan mendorong pintunya untuk terbuka lebar, Recky terkejut. Dia menutup pintu, berbalik dan berlari memeluk sosok yang dirindukannya..


"Kakak ..." Hanya itu yang terucap dari bibirnya dan terus memeluk kakaknya dari belakang sambil menempelkan pipi pada punggung kakaknya. Hatinya seketika menghangat dengan rasa senang dan bahagia.


"Aku kira Kak Aaric sudah melupakanku." Ucap Recky, terharu campur bahagia. Aaric berbalik dan memeluk adiknya dengan hangat dan sayang.


"Mana mungkin kakak melupakanmu. Kau satu-satunya adik kakak yang terbaik dan tersayang. Apa sebenarnya yang terjadi, sehingga kau tiba-tiba menikah? Yang kakak tau, kau ada di Jerman." Aaric melepaskan pelukannya, lalu mengajak Recky duduk di sofa dalam kamar tersebut.


Recky terus duduk menempel dengan Aaric karena rasa rindunya yang tidak bisa ditutupi. Sudah sepuluh tahun lebih tidak bertemu dan mengetahui keberadaan kakak yang disayanginya. "Iya, Kak. Aku bekerja di Jerman lumayan lama dan kembali ke sini beberapa waktu lalu. Lalu terjadi ...."  Recky menceritakan peristiwa yang terjadi, sehingga membuat dia harus menikah dengan Liana. Tanpa menceritakan perihal Carren.


"Pantas, hotel ini dilipat gandakan pengamanannya. Apakah kau berencana pergi setelah acara ini?" Tanya Aaric setelah mendengar cerita Recky. Dia dengan cepat membaca situasi dan mulai mengerti.

__ADS_1


"Iya, Kak. Besok pagi aku akan kembali ke Aussie. Aku sudah tidak ingin tinggal di sini lebih lama lagi." Recky berkata dengan kesal dan yakin.


"Kau sudah beli tiket ke Aussie?" Tanya Aaric lagi, menyelidiki situasi.


"Sudah, Kak. Selesai acara ini, aku akan langsung ke bandara dan istirahat di sana menunggu waktu penerbangan. Ada apa, Kak?" Recky menjelaskan dan terkejut melihat perubahan wajah kakaknya.


"Astaga, pantas mereka memperketat penjagaan di sekitar hotel ini. Mereka sudah tau kau akan pergi setelah acara ini." Aaric berdiri dengan gusar dan juga geram.


"Astaga, benarkah, Kak? Karena cape dan tanganku tidak nyaman, aku hanya tidur di kamar. Jadi tidak perhatikan sekitarku." Recky menjelaskan, ketidak tahuannya.


"Kenapa dengan tanganmu? Siapa yang mencelakaimu?" Tanya Aaric yang mulai emosi, karena sudah mengerti situasi dan baru menyadari tangan Recky yang digips. Dia mengira ada yang melukai adiknya.


"Ooh, ini karena marah sama iblis betina di rumah dan antek-anteknya. Tidak ada lawan yang bisa dipukul, jadi lawan tembok rumah." Recky berkata sambil mengangkat tangan kanannya.


"Bisa menurut dokter di Aussie. Ini hanya ada yang sedikit retak dan sudah dioperasi. Tinggal menunggu pulihnya, makanya besok mau kembali ke Aussie untuk cek." Recky menjelaskan kondisi tangannya, karena melihat wajah khawatir kakaknya.


"Jangan digantung, biarkan menempel pada perutmu saat jalan nanti." Ucap Aaric lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan menghubungi seseorang.


"Kakak tahu aku akan menikah dari siapa? Apakah Papa memberitahukan Kakak?" Tanya Recky penasaran, karena dia sendiri tidak tahu keberadaan kakaknya.


"Keluarga Tarikalla mengirim undangan ke kantor kakak, sebab mereka tidak tahu itu perusahaan kakak. Asisten kakak saat melihat namamu tercantum dalam undangan, langsung menghubungi kakak. Karena kakak sedang di Inggris, jadi baru bisa tiba sekarang. Kakak dari bandara, langsung ke sini." Aaric menjelaskan, kenapa dia bisa tahu tentang pernikahan Recky.


"Lalu bagaimana kakak tahu aku ada di kamar ini?" Tanya Recky makin penasaran, karena kamar ini direservasi oleh Carren dengan nama salah satu karyawannya.


"Sejak tahu, kau mau menikah dan kakak belum tiba di sini, kakak menyuruh asisten kakak mengikutimu. Dia telah mengikutimu dari saat acara akad. Jadi kakak tahu kau ada di kamar ini." Ucap Aaric, menjawab rasa penasaran Recky.

__ADS_1


Setelah berbicara dengan orang yang ditelpon, Aaric kembali mendekati Recky. "Sekarang kau harus dengarkan kakak. Sebelum acara selesai, kau kembali ke kamar ini dan tunggu di sini. Jangan kemana-mana. Jangan ke bandara, karena mereka pasti akan mencegatmu untuk tidak meninggalkan Jakarta." Aaric berkata tegas dan serius.


"Sekarang yang harus kau lakukan, tetap tebar senyum tampanmu. Seakan-akan tidak terjadi sesuatu dan sudah mengetahui rencana mereka. Masuk ke ballroom dengan tenang dan tebarkan pesonamu. Sisanya, kakak yang urus. OK?" Aaric berkata penuh penekanan.


Tidak lama kemudian, bunyi ketukan di pintu lagi dan Aaric yang membuka pintunya. "Ini Jekob, asisten kakak. Nanti ikuti semua yang dikatakannya saat kembali ke ruangan ini. Kau harus ikut tanpa banyak tanya. Sebagaimana kakak percaya padanya, kau juga harus percaya padanya." Aaric berkata lalu memperkenalkan Jekob kepada Recky.


"Saat kau kembali ke ruangan ini sudah ada yang menunggumu. Jadi kau bisa tenang ikuti acara itu. Bersikaplah sesantai mungkin, walaupun ada kekacauan sekalipun." Recky hanya bisa mengangguk dalam diam. Dia merasa hatinya membesar dan hangat.


"Terima kasih telah kembali, Kak. Aku minta maaf, karena marah saat kakak mau meninggalkanku. Aku kira, kakak tidak menyayangiku dan membiarkanku sendiri bersama mereka." Recky berkata dan kembali memeluk Aaric dengan erat.


"Sudaaa... Nanti setelah lewati ini, kita akan duduk bercerita seperti dulu. Walaupun kau tidak melihatku, aku selalu melihat dan mengawasimu. Kau tetap adik kesayanganku, jadi jangan berkecil hati. Lakukan saja yang kakak katakan tadi. Kau sudah merapikan semua perlengkapanmu?" Tanya Aaric, sambil perhatikan isi kamar.


"Sudah, Kak. Semua sudah aku masukan dalam koper di dalam lemari. Jadi selesai acara ini, tinggal berangkat." Recky menjelaskan, sambil menunjuk lemari di kamar hotel tersebut.


"Kalau begitu, kau buka kopermu. Keluarkan semua isinya dan letakan di atas tempat tidur. Jangan sampai ada yang tertinggal." Recky melakukan seperti yang dikatakan kakaknya.


"Syukur, kau tidak membawa banyak baju. Mana ponselmu, berikan padaku." Aaric mengulurkan tangannya kepada Recky untuk meminta ponselnya. Recky mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan memberikannya.


"Kau pakai ponsel ini. Hanya ada dua kontak di ponsel itu. Punya kakak dan Jekob. Jika ada nomor lain yang menghubungimu selain nomor itu, jangan kau terima." Recky menggangguk mengerti.


"Sekarang kau bisa keluar untuk ikuti acara itu. Jika kau kembali cukup ketuk pintu, karena kau akan tinggalkan kunci pintu kamar untuk Jekob. Ingat yang aku bilang tadi, bersikap santai seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Lakukan sesuai rencanamu sebelum ini. Tidak usah melihat kiri kanan atau terkejut melihat ada pengamanan." Aaric memperingatkan Recky sekali lagi.


Ketika kembali terdengar bunyi ketukan, Recky tahu itu Carren. Karena sudah tidak terdengar suara sayup-sayup dari kamar sebelah. Recky membuka pintu dengan suasana hati yang berbeda. Dia sudah tidak merasa tertekan dengan acara yang akan berlangsung. Dia berjalan keluar dengan tenang dan percaya diri.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡

__ADS_1


__ADS_2