
~β’Happy Readingβ’~
Keesokan harinya, Aaric bangun pagi seperti biasanya lalu turun ke ruangan olah raga yang merupakan salah satu fasilitas apartemen yang disediakan untuk penghuni. Dia juga ingin berenang, karena merasa tubuhnya tidak bugar setelah perbangan panjang dan lama. Ditambah lagi dengan ketegangan karena cuaca buruk dan hampir batal landing, serta kejadian yang menguras energi bersama Mama Carren.
Setelah selesai berenang, dia kembali ke unit apartemennya dan membersihkan tubuhnya lalu mengenakan pakaian santai, kaos berkerah dan celana pendek. Dia berencana akan berbicara dengan Jekob di apartemennya. Saat mau sarapan sereal dan susu yang ada, dia teringat Carren. 'Pasti jam segini sudah di kantornya.' Aaric membantin. Selesai sarapan dia mengambil ponsel lalu menghubungi Carren.
π±"Arra, kau ada dimana?" Tanya Aaric, saat Carren merespon panggilannya.
π±"Ada di kantor, Kak. Bagaimana?" Tanya Carren terkejut, karena Aaric tidak pernah langsung menghubunginya. Biasanya akan chat tanya posisinya, baru telpon.
π±"Kau sibuk hari ini, ngga?" Tanya Aaric lagi. π±"Lumayan sibuk, Kak." Jawab Carren, tidak mengerti maksud pertanyaan Aaric.
π±"Kau bisa bolos, ngga?" Tanya Aaric lagi membuat Carren bingung.
π±"Kak Aaric, memangnya Arra anak sekolshan? Kakak bicara yang jelas, jangan buat aku bingung." Ucap Carren yang sudah bisa berbicara santai dengan Aaric, karena sikap Aaric kepadanya lebih terbuka dan santai.
π±"Aku mau ajak kau bolos kerja hari ini. Mau ngga?" Aaric jadi tersenyum sendiri mendengar pembicaraannya dengan Carren. Dia seperti anak remaja yang lagi janjian mau kabur dari ruang kelas.
π±"Kak Aaric, bilang saja mau bertemu. Kenapa pakai acara bilang bolos segala. Baiklah, aku akan bolos. Kakak share loc tempat untuk bertemu, ya." Ucap Carren, karena dia juga ingin bertemu dengan Aaric.
__ADS_1
π±"Ngga usah. Nanti ada yang menjemputmu. Kau siap-siap saja dan atur dengan karyawanmu, supaya mereka tidak mencarimu. Mungkin kau akan bolos sampai makan siang." Ucap Aaric senang, Carren bisa mengerti dan mengutamakannya.
π±"Baik, Kak. Aku bicara dengan karyawan dulu baru kasih tau kakak, kalau sudah siap." Ucap Carren, lalu Aaric mengakhiri pembicaraan mereka dengan hati senang. Kemudian dia menghubungi Sapta untuk memberitahukan anggotanya yang mengamankan Carren agar mengantar Carren ke apartemennya.
Carren meminta tolong Rosna dan Ichad mengerjakan bagiannya, lalu mengirim pesan kepada Aaric, bahwa dia sudah siap. Aaric memintanya keluar, karena sebentar lagi sudah ada yang menjemputnya. Sapta telah meminta anggotanya untuk sedikit memutar, agar Carren tahu mereka baru datang menjemputnya. Bukan sudah ada di sekitar kantornya dari pagi.
Ketika anggota Sapta memberitahukan bahwa mereka sudah mendekati apartemen, Aaric mengenakan celana panjang lalu turun ke lobby untuk menjemput Carren. "Astaga, Arra. Kenapa wajahmu seperti ini?" Tanya Aaric, saat melihat Carren turun dari mobil dengan wajah yang agak pucat.
"Kak Aaric, lain kali kakak share loc saja, deh. Nanti aku naik ojol saja, dari pada dijemput. Aku kira tadi lagi diculik." Ucap Carren mulai tenang, melihat Aaric menjemputnya di lobby. Tadi dalam mobil dia khawatir dan takut bersama anggota Sapta. Walaupun anggota keamanan sudah menenangkannya dengan mengatakan Pak Aaric yang meminta mereka berdua menjemput.
"Itu salah satu tahap berikutnya yang perlu kau belajar terbiasa. Mereka akan sering menjemputmu, jika aku tidak bisa menjemput." Ucap Aaric sambil mengusap pelan lengan Carren untuk menenangkannya. Carren mengangguk mencoba mengerti permintaan Aaric.
"Jadi kakak mengajakku bolos untuk sarapan di tempat ini?" Tanya Carren, sambil memukul pelan tangan Aaric yang sedang merangkul bahunya. Aaric mengangguk sambil tersenyum, lalu mengajak duduk. Kemudian dia memesan sandwich sebagai sarapannya dan lemon tea hangat.
"Arra mau sarapan yang sama juga? Sandwich di sini enak. Aku suka sarapan di sini, jika ada di Jakarta." Ucap Aaric. "Aku sudah sarapan, Kak. Aku minum saja sama dengan kakak." Carren merasa masih kenyang, karena sarapan nasi uduk dari rumah.
"Coba saja sedikit, kalau tidak cocok, serahkan padaku." Ucap Aaric, karena dia sudah pesan dua sandwich untuknya. Carren mengangguk mengerti lalu mencobanya. Ternyata memang enak seperti yang dikatakan Aaric, sehingga dia mau menghabiskannya.
"Kak Aaric tinggal di sini?" Tanya Carren, saat melihat Aaric berpakaian santai. Dia baru memperhatikannya, karena tadi masih tegang bersama anggota keamanan sehingga baru menyadarinya. Aaric hanya mengenakan kaos berkerah, sehingga otot lengannya terlihat jelas dipadu dengan celana jeans. Carren baru pernah melihat Aaric dalam balutan pakaian seperti itu dengan rambut yang masih agak basah, membuatnya sangat tampan dipagi hari.
__ADS_1
"Iyaa. Aku tinggal di sini. Ini tahap berikutnya, bolos untuk tahu tempat tinggalku. Supaya nanti, kau bisa tau aku tinggal dimana. Masa calon istri tidak tahu tempat tinggal calon suaminya." Ucap Aaric becanda, ledekin Carren ysng masih banyak tanya dikepalanya, terlihat dari wajahnya.
Ucapan Aaric membuat Carren tersedak saat hendak minum tehnya. Hal itu membuat Aaric meniup wajahnya lalu berdiri dan menepuk punggungnya pelan. Kemudian kembali duduk setelah melihat Carren sudah lebih baik.
"Kak Aaric kalau bicaraaa, suka benar." Ucap Carren yang sudah mengatasi sedaknya.
"Arra, untung aku belum minum. Begini kau yang gantian menepuk punggungku." Ucap Aaric, tersenyum mendengar yang dikatakan Carren.
Setelah selesai sarapan, Aaric mengajak Carren naik ke unit apartemennya. Saat masuk ke dalam apartemennya, Carren tertegun. Ruangannya sangat luas dan mewah. "Apa kak Aaric tinggal sendiri di sini?" Tanya Carren setelah diminta duduk di sofa hitam empuk dan mewah di ruang tamu. Dia melihat sekeling yang sepi, jadi dia berpikir mungkin Aaric tinggal sendiri.
"Iyaa. Jika ada di Jakarta, aku tinggal di sini. Sebelumnya hanya di hotel, tapi belakangan lebih baik ada tempat tinggal sendiri. Jadi pilih tinggal di sini, agar tidak jauh dari kantor. Kau suka tempat ini?" Tanya Aaric, karena jika mereka sudah bersama dia memikirkan keinginan Carren juga.
"Iyaa, Kak. Tempatnya nyaman, tetapi sangat sepi. Tidak memiliki tetangga." Ucap Carren yang terbiasa tinggal di lingkungan ramai. Dia juga belum mengerti maksud pertanyaan Aaric.
"Jadi kau mau tinggal di daerah perumahan?" Tanya Aaric serius. Melihat itu, Carren baru menyadari Aaric sedang menanyakan pendapatnya jika mereka bersama nanti, dia mau pilih tinggal di mana.
"Ooh, bagaimana baik menurut Kak Aaric saja, aku ikut." Ucap Carren dari hatinya yang senang, karena baginya yang penting ada bersama Aaric, pasti harinya akan berwarna.
"Kau coba saja dulu seharian di sini, atau sering datang ke sini. Kalau kau cocok, ya, nanti tidak usah cari tempat tinggal lagi di Jakarta." Ucap Aaric serius, karena dia sudah punya rumah di Swiss dan Australia. Dia tidak pernah berpikir untuk punya rumah di Jakarta.
__ADS_1
~βββ‘ββ~