
~•Happy Reading•~
Bu Bintra terdiam mendengar apa yang dikatakan Papahnya. Kamarahan Papahnya sering membuatnya khawatir dengan masa depannya. Beliau sudah berusaha maksimal mengatur suami dan anak-anaknya seperti yang diinginkan Papahnya, tetapi anak-anaknya selalu melakukan sesuatu di luar rencananya.
"Aku memberikan kesempatan untukmu untuk mengurus anak-anakmu. Jika tidak, semua yang kau pegang akan kuserahkan kepada ponakan-ponakanmu itu. Kau tidak lihat mereka sudah membesarkan anak perusahaan yang aku berikan kepada Pamanmu?" Tanya Pak Sunijaya dengan wajah serius.
Bu Biantra langsung tertunduk lesuh, mendengar ancaman Papahnya. Semua sedang diluar kendali dan sembraut. Sehingga membuatnya panik, pusing dan sering sakit kepala. Saat ini masih bisa bernafas lega, karena Papahnya hanya membicarakan anak-anaknya. Tidak membicarakan perusahaan Biantra yang sudah mulai oleng.
"Baik, Pah. Aku akan perhatikan dan mencari solusi yang baik. Sesegera mungkin aku akan menemukan Recky, agar bisa menenangkan keluar Tarikalla dan menenangkan pasar bahwa pernikahan mereka baik-baik saja." Ucap Bu Biantra pelan, tetapi seriuas untuk meredam amarah Papahnya. Kemudian hendak berdiri meninggalkan Papahnya untuk keluar ruangan.
"Kau mau kemana? Tetap duduk di situ. Aku meminta suamimu untuk tinggalkan tempat ini, karena tau apa yang dikatakan suamiku itu atas perintahmu. Kau kira aku tidak tau apa yang terjadi dengan perusahaanmu?" Pak Sunijaya berkata serius sambil melihat Bu Biantra tanpa berkedip.
Bu Biantra kembali duduk. "Papah tau, karena pernikahan Recky dan Liana tidak berjalan sesuai rencana membuat saham Biantra dan Tarikalla agak anjlok. Sekarang kami sedang berusaha membuatnya stabil." Ucap Bu Biantra untuk meyakinkan Papahnya.
"Bukan agak anjlok, tetapi anjlok. Kalian sedang mengstabilkan dengan banyak saham yang sudah berpindah tangan? Aku tidak perduli dengan Tarikalla. Tetapi yang aku heran, apakah kau tidak sadar, akan kehilangan kekuasaan atas Biantra?" Pak Sunijaya bertanya dengan serius.
__ADS_1
"Kau kira aku tidak tau berapa banyak saham Biantra yang telah dibeli oleh Hutama dan Elimus? Apa kau tidak tau situasi ini sangat berbahaya? Ini yang sudah aku peringatkan berulangkali jangan sampai terjadi." Pak Sunijaya berkata dengan emosi.
"Maaf, Papah. Pada saat saham agak anjlok kami tidak bisa mengendalikan siapa saja yang memborong saham kita. Ada banyak pihak yang membeli saham saat itu. Diantaranya yang paling banyak kedua perusahaan itu." Ucap Bu Biantra pelan, tanpa melihat Papahnya. Bu Biantra menyadari, tidak bisa menutupi yang terjadi dari Pak Sunijaya, karena Papahnya sudah terlanjur tahu.
"Sekarang kau sudah tau, akan berhadapan dengan Hutama. Apakah kau sudah tau, siapa dibalik Elimus Corp. yang membeli saham begitu banyak?" Pak Sunijaya, bertanya serius karena orang yang diminta menyelidiki belum mendapat informasi yang pasti.
"Itu perusahaan yang berada di Eropa, dan pabriknya di Belanda, Pah. Aku sedang menjual beberapa proferti, agar bisa membeli saham itu kembali. Mereka hanya mencari untung saat saham kita beberapa waktu lalu turun. Mereka pasti akan menjualnya, jika kita tawarkan harga yang tinggi." Ucap Bu Biantra berusaha meyakinkan Papahnya, tetapi sebenarnya hatinya sedang ragu dan cemas.
"Kau yakin dengan itu? Kau tidak curiga dengan perusahan luar negeri yang berminat dengan perusahanmu?" Tanya Pak Sunijaya yang belum merasa puas dengan penjelasan Bu Biantra. Karena baginya, ini adalah sesuatu yang sangat mencurigakan.
"Semua yang terjadi dengan keluargamu dan cara mengelolah perusahanmu, makin mengkhawatirkanku. Aku kira anak-anakmu bisa menggantikanmu dan juga aku, tetapi kedua anakmu tidak seorangpun yang perduli dengan perusahaan yang aku besarkan ini."
"Papah, Recky walaupun tidak bekerja dan memiliki jabatan di perusahaan atau mengembangkan perusahaan secara resmi, tetapi dia sering datang membantu saat perusahaan bermasalah. Apa yang pernah Biantra katakan sebelumnya, kalau Recky suka membantu, itu benar adanya, Pah." Bu Biantra mencoba membela dirinya, dengan mengatakan Recky pernah membantu di perusahaannya.
"Kau kira aku tidak tahu itu? Makanya aku setuju dia menikah dengan Liana, agar bisa menetap di sini untuk menggantikanmu. Tetapi justru saat ini mala dia menghilang tidak tahu keberadaannya. Semua yang kau miliki tidak bisa mengetahui keberadaan anak-anakmu? Sebenarnya, kau ini cari mereka atau tidak?" Tanya Pak Sunijaya, sambil menatap Bu Biantra tajam.
__ADS_1
"Kau tidak sadar, sekarang kedua anakmu di luar sana hidup tanpa bergantung pada kekayaan yang kuberikan padamu? Mereka tidak terkoneksi dengan semua yang kau miliki. Itu yang membuat kau tidak bisa kendalikan mereka. Kau mengikuti keinginan mereka untuk kuliah di luar negeri, tapi apa yang terjadi saat ini? Tidak ada seorangpun yang kembali untuk membantumu, apalagi membantuku."
"Sekarang kau hanya urus para pemegang saham sebelum rapat pemegang saham. Itu kesempatan terakhirmu, jika kau tidak becus mengurusnya kau akan kehilangan kekuasaan di perusahaan yang telah kuberikan padamu. Dan kau tau apa yang akan terjadi dengan perusahaan yang telah kubangun dengan susah payah."
"Kau tidak bisa membuat hidupku tenang dengan mengurus apa yang kuberikan. Aku sudah katakan, apa yang terjadi dengan Biantra akan berpengaruh dengan Sunijaya. Sekarang asistenku sedang menyelidiki orang yang dengan perlahan membeli saham Sunijaya. Mereka secara rutin membeli saham dari lima tahun lalu, tanpa menjualnya sahamnya. Sehingga mereka mendapat untung besar selama lima tahun ini dengan perkembangan Sunijaya. Tadinya aku mengabaikannya, tetapi apa yang terjadi dengan Biantra membuat aku memikirkan orang-orang yang tetap membeli saham secara rutin ini."
"Besok kau suruh Gungun menghadapku. Ada hal yang akan dia lakukan untukku. Aku ingin dia menyelidiki orang bernama Jekob dan Anova dari dua perusahan tambang yang membeli saham Sunijaya secara rutin. Karena dari semua yang membeli secara rutin, hanya mereka yang tidak perna menjual saham dan tidak pernah datang pada rapat pemegang saham.
Mendengar Pak Sunijaya menyebut nama Gungun, Bu Biantra langsung memucat. Beliau langsung tertunduk dengan lemas karena sampai malam ini belum ada kabar tentang Gungun dan anak buahnya. Jika beliau menceritakan yang sedang terjadi, sudah bisa bayangkan apa yang akan terjadi.
"Baik, Pah. Kalau begitu, sekarang Suni pamit pulang." Ucap Bu Biantra dengan suara pelan tanpa melihat Papahnya. Situasi akan makin panas, jika Papahnya mengetahui kepanikannya.
Pak Sunijaya berdiri dari kursi kebesarannya untuk meninggalkan ruang keluarga dimana Bu Biantra sedang tertunduk dan panik. "Sebelum pulang, lihat Mamahmu di kamarnya. Kau ini tidak perna datang melihatnya, jika tidak aku suruh. Sebagai anak, tapi tidak peduli dengan Mamahmu yang sedang sakit." Ucap Pak Sunijaya, lalu berjalan keluar ruangan sambil menggelengkan kepalanya.
~●○♡○●~
__ADS_1