
~•Happy Reading•~
Di sisi yang lain ; Recky yang telah selesai bekerja di Jerman, akan kembali ke Australia. Namun sebelumnya dia ke Indonesia terlebih dahulu, untuk bertemu dengan Carren. Itulah rencananya saat akan meninggalkan Jerman. Setelah bertemu Carren, baru dia menentukan langkah berikutnya.
Sofyan yang telah mengetahui kehadirannya di Jakarta, menghubungi dan menjemputnya untuk ajak makan malam di Goropaku Restautant. Recky yang telah mendengar tentang restoran tersebut, menyetujui ajakan Sofyan untuk makan malam bersamanya.
Recky berencana, jika kondisi Goropaku Restautant seperti yang dibicarakan dan diberitakan, besok dia akan mengajak Carren bertemu di sana untuk makan malam. Jadi setelah makan malam dengan Sofyan, dia akan reservasi untuknya dan Carren.
Namun saat tiba di retoran mereka berdua melihat Parry sedang duduk makan malam bersama Carren. "Bukankah itu Parry dan Carren?" Tanya Sofyan. Hal itu membuat Recky sangat terkejut dan terpukul. Apalagi saat melihat Parry memegang tangan Carren. Hati Recky bagaikan bara api yang mulai membara.
Dia keluar dari restoran tanpa mempedulikan Sofyan yang berlari keluar menyusulnya sambil bertetiak memanggil namanya. Kunci mobil Sofyan masih ada di kantongnya, membuat Recky dengan mudah membuka pintu mobil Sofyan dan masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Sofyan.
Tindakan Recky lebih membuat Sofyan terkejut dari pada saat melihat Parry dan Carren. Dia terus berlari menyusulnya, langsung naik ke mobil sebelum Recky pergi meninggalkannya. Sofyan menjadi sangat takut melihat kemarahan Recky. Dia duduk diam dalam mobil sambil menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
Sofyan terus istighfar dalam hati melihat Recky membawa mobilnya dalam kecepatan tinggi. "Kau sudah tau mereka bersama, makanya kau sengaja mengajakku makan malam di situ?" Recky berkata dalam kemarahannya.
"Ya, Allah Recky. Gue benar-benar ngga tau. Sumpah..! Gue juga baru pernah melihat mereka berdua. Kau juga tau, dari dulu Parry dekat dengan Carren." Sofyan mencoba menjernihkan pemikiran Recky. Dia khawatir dan juga takut melihat Recky menyetir dengan rahang mengeras.
"Aku tau mereka dekat, tapi kau selalu bilang mereka tidak berpacaran. Bukankah itu yang kau katakan padaku selama ini? Lalu tadi itu, apa yang kau lihat? Bukankah Parry sedang mengelus tangannya?" Recky berkata sambil mengingat yang dilihatnya. Hal itu makin membuat bara dalam hatinya menyala.
Semua harapan yang diangankan bersama Carren ikut terbakar. Ingatan akan kejadian tadi membuat dia hampir tidak bisa mengendalikan dirinya. Melihat kemarahan Recky, Sofyan menyadari perasaan Recky pada Carren bukan sesuatu yang biasa dan iseng.
__ADS_1
"Kau mau mengajakku ke mana, Recky? Ini kita mau ke mana?" Tanya Sofyan khawatir, saat melihat Recky tidak membawa mobil ke arah rumahnya. Dia tidak mengetahui tujuan Recky dan apa yang ada dalam kepala Recky.
"Apakah kau tidak bisa diam? Jangan bertanya seperti nenek-nenek yang membuat kepalaku juga mau meledak. Berdoa. Supaya sampai di tempat tujuan, bukan ke Rumah Sakit." Recky berkata tanpa mengurangi kecepatan mobilnya.
Sofyan bersyukur, jalanan tidak terlalu padat sehingga tidak menimbulkan masalah dengan lalu lintas. Walaupun sepanjang jalan dia mendengar bunyi klakson dari mobil yang disalip oleh Recky.
Tidak lama kemudian, mereka tiba dengan selamat di Tarikalla Hotel. Hal itu membuat Sofyan makin bingung. Dia hanya bisa turun dan mengikuti Recky yang telah menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas valet, dan Sofyan mengurus sisanya.
Dia melihat Recky menuju Bar Tarikalla Hotel. Recky masuk ke bar dan duduk di meja kosong yang masih tersedia. Dia meminta pelayan bar membawa whisky untuk mereka tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Sofyan.
"Recky, apakah tidak apa-apa kita minum saat perut masih kosong? Aku tadi belum makan apa-apa." Ucap Sofyan pelan, untuk meredam amarah Recky yang sudah tidak terkendali.
Saat minumnya diantar, dia menuangnya dengan asal dan meneguknya. "Kalau kau tidak bisa minum, sana pesan makananmu. Jangan terus nyinyir di dekat telingaku." Bentak Recky, membuat Sofyan terdiam. Dia menggelengkan kepalanya dan mencoba bertahan.
Ketika Recky bernyanyi, Sofyan makin terkejut. Suara Recky sama keren dengan orangnya. Sehingga para pengunjung berulang kali teriak more ...more... Penyanyi bar yang digantikan Recky, melihat Recky dengan takjub, karena dia sangat tampan dengan wajah mulai memerah karena minum whiky. Bahasa Inggrisnya sangat menunjang suara bagusnya saat bernyanyi lagu barat.
Recky terus bernyanyi, karena sudah mulai mabuk. Kemudian dia kembali ke kursinya dengan cuek, setelah merasa apa yang dilakukannya tidak bisa mengurangi rasa yang ada di hatinya. Dia kembali menuang whisky ke dalam gelasnya dan meneguknya dalam sekali tegukan. Berulang kali dia lakukan itu.
Sofyan hanya bisa terdiam melihat apa yang dilakukan Recky. Dia sendiri merasa frustasi melihat Recky yang benar-benar terluka. Dia tidak menyangka seorang Recky Biantra bisa mencintai seorang wanita seperti itu.
Mengingat dulunya dia hanya menikmati kegilaan para wanita yang mengejar dan menyangjungnya. Dia tidak menaru perasaan apa-apa kepada mereka. Dia tidak pernah berpacaran dengan seorang wanita dalam waktu yang lama. Karena wanita-wanita itu terlalu memujanya, membuat dia jengah, lalu pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Recky tidak pernah menanggapi perasaan mereka padanya. Dia akan tertawa girang saat wanita-wanita itu datang dan marah padanya saat mengatahui dia ketahuan mengajak wanita lain pergi makan malam.
Tetapi yang sekarang terjadi, Recky benar-benar berantakan saat melihat Parry memeggang tangan Carren. Kalau hanya makan malam, itu biasa bagi Recky. Tetapi melihat kedekatan Parry dan Carren, dia merasa seperti lelaki yang bodoh.
Sebenarnya, dia tidak marah kepada Carren, tetapi kepada dirinya yang terlalu lambat merespon suasana hatinya. Carren tidak bersalah, karena dia belum resmi menjadi pacarnya. Entah apa yang akan terjadi jika Carren telah menjadi pacarnya. Saat melihat Parry bersama Carren, mungkin Recky bisa menghajarnya sampai babak belur. Melihat amarah Recky yang sedang meluap saat ini.
"Kau tau kenapa aku seperti ini? Karena aku belum sempat bilang pada Carren, kalau aku sangat mencintainya. Aku ingin mendengar dan melihat dia menerima atau menolak cintaku." Ucap Recky, pelan dan memiluhkan.
Walaupun dia sudah mabuk, tetapi dia tidak bisa meredam rasa di hatinya untuk diungkapkan. "Aku telah menunggu momen itu bertahun-tahun. Aku seperti terhempas ke dasar jurang, karena belum mengungkapkan itu padanya." Recky mengatakan itu dengan mata berembun.
"Berkali-kali aku ke sini untuk bisa lakukan itu, tetapi aku tidak pernah diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya. Apakah dia bukan jodohku, Sofyan? Apakah aku sedang memaksakan sesuatu yang bukan seharusnya?" Recky berbicara sendiri, dalam mabuknya.
Dia tidak menyadari, Sofyan telah meletakan kepalanya di atas meja karena telah sangat mabuk. Sofyan langsung tidak sadarkan diri ketika hanya minum tiga gelas whisky, karena dia belum pernah minum minuman beralkohol. Apalagi saat kondisi perut sedang kosong.
Recky masih minum, sampai benar-benar tidak sanggup lagi minum. Mereka berdua sama-sama meletakan kepala di atas meja dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Disaat yang bersamaan, sepasang mata sedang mengawasi semua hal yang terjadi. Apa yang dilakukan oleh Recky dan Sofyan, saat masuk ke Bar. Dia telah memperhatikan dalam diam.
Ketika melihat mereka telah mabuk dan tidak sadarkan diri, dia memanggil dua orang pelayan Bar untuk membantunya mengangkat Recky dan Sofyan.
Mereka berdua benar-benar tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Pelayan bar dibantu oleh security membawa mereka berdua keluar dari Bar ke tempat yang diperintahkan.
__ADS_1
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡