Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Kisah di Hari H (7).


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Aaric yang sedang bersama dengan salah seorang dari team keamanan terkejut melihat Recky turun dari tempat pelaminan dan berjalan ke arah mereka. Begitupun dengan para undangan yang sedang memandang Aaric.


Mereka bertanya-tanya dalam hati, siapa dia. Kalau dia seorang tamu VIV, tetapi tidak duduk di tempat yang dikhususkan baginya. Atau jika dia keluarga terdekat, tapi tidak duduk di tempat keluarganya.


Sebenarnya tempat duduk Aaric ada diantara para tamu undangan VIV, tetapi dia tidak mau duduk di tempat itu. Karena dengan demikian, dia proklamirkan dirinya sebagai tamu undangan VIV dari Elimus Mineralindo, yaitu Perusahan tambang yang ada di Indonesia. Direkturnya telah hadir mewakilinya, atas perintah Jekob.


Selama ini, yang mewakili perusahaan saat mengahadiri acara seperti ini adalah Asistennya atau salah seorang Direktur dari perusahaannya yang ada di Jakarta. Aaric jarang tampil di publik dan memperkenalkan dirinya, terutama di Indonesia. Dia lebih banyak di Australia dan Eropa.


Ketika melihat Recky mendekati Aaric dan ada kemiripan wajah diantara mereka, para undangan mulai mengerti. Tamu yang baru datang adalah saudara dari Recky. Apalagi melihat Recky langsung memeluknya.


"Recky, kenapa turun ke sini? Nanti aku akan kepelaminan." Ucap Aaric, saat membalas pelukan Recky, agar tidak terlihat kaku oleh para tamu. Apalagi mereka sedang menjadi pusat perhatian para tamu yang hadir.


"Kakak hati-hati dengan wanita bersama iblis betina. Dia sama iblisnya dengan yang di pelaminan." Recky berkata, sambil terus memeluk Aaric. Karena hal itulah, dia buru-buru turun untuk mengingatkan kakaknya tentang Ayunna.


"Aku tahu, tenang saja dan ingat yang aku katakan di kamar. Nanti saat makan, kau minta ijin untuk kembali ke kamar untuk mengambil obatmu. Kau katakan itu untuk Papa, bahwa kau harus kembali ke kamar untuk ngobatin tanganmu." Aaric berbisik, tapi berkata tegas sambil mengelus pelan punggung Recky untuk menyamarkan pembicaraan mereka.


"Iya, Kak. Setelah ini, jangan tinggalkan aku lagi." Ucap Recky pelan, sambil memeluk erat Aaric lalu melepaskan pelukannya. Dia kembali berjalan ke pelaminan tanpa menole ke kanan atau kiri. Semua yang dilakukan oleh Recky tidak luput dari perhatian orang tuanya.


Aaric kembali meneruskan yang dilakukan sebelumnya. Dia mengambil sedikit makanan satu persatu dengan santai dan cuek. Dia sengaja melakukannya untuk melihat situasi dalam ruangan resepsi. Sedangkan kedua Direkturnya yang berada di ruang VIV terkejut melihat kehadiran boss besarnya. Keamanan yang ada bersama Aaric segera memberikan isyarat agar mereka tidak mendekat.

__ADS_1


Pak Biantra sebenarnya mau berdiri memanggilnya untuk duduk bersamanya. Tetapi melihat wajah istrinya yang tidak bersahabat, beliau tetap duduk di tempat. Lalu mencoba menikmati makanan yang telah disediakan oleh pelayan dalam diam.


Beberapa saat kemudian, melihat makan malam untuk mereka sudah disediakan di meja ruang VIV, Recky merasa lega. Bersamaan dengan tamu undangan yang sudah mulai berangasur-angsur pulang, Racky turun dari pelaminan lalu mendekati meja makan orang tuanya. Ayunna yang melihat Recky sudah turun untuk makan, dia berdiri dan pindah ke meja orang tuanya.


Recky sudah meminta kepada Carren, agar tidak menyediakan meja khusus untuk pengantin. Mereka akan duduk bersama para orang tua. Karena Recky tidak mau makan berdua saja dengan Liana.


Liana yang melihat Recky telah turun dan berjalan ke arah orang tuanya, dia juga ikut turun dan berjalan cepat untuk mengimbangi Recky. Recky mengambil tempat duduk di samping Papanya dengan tenang dan santai. Ketika Liana hendak duduk di sampingnya untuk makan, Recky menggeser kursinya ke belakang, lalu berdiri.


"Papa, aku mau ke kamar dulu. Aku lupa dengan obat untuk tanganku. Ada obat yang harus diminum dan tanganku harus disemprot." Ucap Recky, sambil memeluk Papanya erat. Pak Biantra mengangguk, tapi beliau merasakan ada suatu isyarat lewat pelukan Recky.


Kalau hanya mau mengambil obat, kenapa dia memeluknya erat dan mengusap pundaknya dengan kuat. Pak Biantra mengangguk mengiyakan, tetapi matanya terus mengikuti punggung putranya. Beliau merasakan dadanya tiba-tiba sesak, seperti pertama kali Aaric meninggalkan rumah.


Recky berjalan keluar meninggalkan ruangan dengan kepala tegak, tetapi hatinya bergemuru dengan rasa sedih. Dia memegang dadanya dengan tangan kanannya yang sakit, karena jantungnya berdetak tidak beraturan mengikuti rasa hatinya. Dia tidak tahu, kapan lagi akan bertemu dengan Papanya dan juga dengan orang-orang yang disayanginya.


Recky tidak berusaha mencari Carren saat berjalan keluar, karena akan sangat berat baginya. Dengan kekuatan yang tersisa, dia berusaha tegar dan melangkah kembali ke kamarnya.


Melihat Recky telah berjalan keluar, Ayunna jadi penasaram dengan apa yang akan dilakukan Recky. 'Apakah dia akan bertemu dengan Carren, sebelum pergi berbulan madu?' Tanya Ayunna dalam hati, karena tidak melihat Carren sepanjang acara berlangsung.


Melihat isyarat dari Bu Biantra untuknya, Ayunna berdiri dan berjalan mencari Recky dan juga mendekati Aaric. Ketika melihat Aaric dari dekat, Ayunna serasa mau meleleh. Dia lupa tujuan utamanya untuk mencari Recky, tetapi malah mendekati Aaric yang sedang berbicara dengan salah seorang team keamanannya.


"Hallooo, Beb. Kenalkan, saya Ayunna, kesayangan Bu Biantra." Ayunna berkata kepada Aaric sambil memegang lengannya.

__ADS_1


Hal itu membuat keamanan yang sedang berbicara dengan Aaric membeku. Dia terlambat mencegah yang dilakukan oleh Ayunna. Aaric langsung melihat tangan Ayunna yang sedang memegang lengannya dengan rahang mengeras. Aaric tidak bereaksi, hanya melihat tangan Ayunna di lengannya.


Melihat perubahan wajah Aaric yang tiba-tiba, dan tatapan Aaric hanya kepada tangannya, Ayunna segera melepaskan tangannya dari lengan Aaric. "Kau memanggil saya, siapa? 'Beb'? Kau ini wanita jadi-jadian yang baru muncul dari lantai?" Tanya Aaric sambil melihat ke dalam mata Ayunna.


"Jangan marah. Aku diminta Bu Biantra untuk menemanimu." Ayunna mencoba membela diri dan bersikap akrab. Dia berbicara dengan pelan dan manis.


"Sampaikan kepada Bu Biantra, segera melahirkan lagi seorang anak laki-laki, agar kau bisa memanggilnya, beb. Kenalpun tidak, dengan tidak tau malu datang memanggil pacar atau suami orang dengan beb." Aaric berkata keras kepada Ayunna.


"Apakah orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun saat berbicara dengan orang yang lebih tua? Bajumu ini tidak bisa membuatmu sopan dan menutupi kekurangajaranmu." Ucap Aaric emosi dan geram. Dia tahu Ayunna sedang berusaha tampil cantik dengan bajunya yang mahal.


"Sapta, jika sekali lagi wanita ini menyentuhku, patahkan tangannya. Saya ijinkan kau menggunakan semua cara, agar dia tidak berada disekitarku." Aaric berkata kepada Sapta, keamanannya dengan rahang tetap kaku dan dingin. Kemudian Aaric berlalu meninggalkan Ayunna yang diam terpaku.


Ayunna tersentak dan melihat sekitar, khawatir ada yang memperhatikan dirinya dan Aaric. Saat melihat Bu Biantra sedang memperhatikannya, dia teringat pada Recky. Dia berjalan keluar mencari Recky, tapi tidak menemukannya. Dia tidak melihat Recky, tetapi Carren yang lewat di depannya tanpa memperdulikannya, karena sedang sibuk mengatur karyawannya. Hal itu membuat Ayunna makin kesal, setelah diperlakukan buruk oleh Aaric.


"Hanya tukang kembang, tapi laganya seperti seorang pengusaha. Di mana Recky kau sembunyikan?" Tanya Ayunna yang melampiaskan kekesalannya kepada Carren yang melewatinya tanpa menyapa.


"Kau berbicara denganku Nona Ollehart? Apakah tidak takut turun derajatmu, saat berbicara dengan seorang tukang kembang? Dan kau bertanya Recky kepadaku? Apakah kau melihat aku sedang berjalan sambil menjinjing suami orang? Atau dia bersembunyi di dalam kantongku ini?" Tanya Carren, sambil menepuk kantong blazernya lalu berbalik meninggalkan Ayunna yang bengong mendengar jawaban Carren.


Melihat Carren yang hendak berlalu, Ayunna mengambil rambut Carren yang diikat dan menariknya agar tidak beranjak meninggalkannya. Merasa rambutnya tiba-tiba ditarik, tanpa menoleh Carren menggapai tangan Ayunna yang sedang menjambak rambutnya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡

__ADS_1


__ADS_2