Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Ayah dan Anak 2.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Pak Biantra yang hendak duduk di kursi teras, kembali berdiri tegak lalu melihat Aaric dengan terkejut. "Aaric, apakah kau sudah bertemu dengan adikmu? Apakah adikmu baik-baik saja?" Pak Biantra bertanya beruntun saat mendengar Aaric menyebut nama Recky.


"Aku tidak akan menjawab pertanyaan Papa, jika tidak mendengarku dan tidak mau menurutiku apa yang aku katakan." Ucap Aaric tegas, saat menyadari Papanya bisa dipaksa ikut, jika melibatkan Recky.


"Aaric. Jika kau tau adikmu berada, biarkan Papa bertemu dengan adikmu sekali saja. Papa ingin melihatnya baik-baik saja seperti melihatmu saat ini." Pak Biantra berkata, sambil memegang lengan Aaric, kuat dan berharap.


"Papa bisa melihatnya, jika sekarang ikut denganku ke Jakarta. Tidak ada tawaran lain, selain mengikutiku." Aaric berkata tegas dan sedikit memaksa, karena dia ingin membawa Papanya ke Jakarta bersamanya.


Pak Biantra melihatnya dengan perasaan berkecamuk dan ragu-ragu, karena beliau sudah tidak mau kembali ke Jakarta. Melihat keraguan Papanya, Aaric mengerti apa yang sedang dipikirkan Papanya. "Tidak ada seorangpun yang akan tahu keberadaan Papa di Jakarta. Aku jamin itu. Jadi segera bersiap-siap, kita akan berangkat ke Surabaya sekarang juga." Ucap Aaric tegas dan serius. Pak Biantra melihatnya lalu masuk ke dalam rumah.


Pak Biantra memanggil penjaga rumah, lalu berbicara serius dengannya. Jekob dan Sapta kembali keluar ke teras untuk menemui boss mereka. "Pak, apakah Pak Biantra tidak mau ikut dengan kita?" Tanya Jekob, melihat wajah serius boss nya sambil berjalan di teras tidak menentu arah. Suatu tindakan yang dilakukan boss nya, jika belum ada kepastian yang dipegannya.


"Kita lihat nanti. Tadi saya sedikit mengancamnya, agar mau ikut dengan kita. Semoga berhasil, karena saya sudah tidak punya alasan lain agar Papa mau ikut dengan kita selain memakai Recky." Aaric berkata pelan sambil terus berjalan tidak tenang.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Pak Biantra keluar dari dalam rumah sudah berganti pakaian. Beliau sudah mengganti kemeja dan celana serta mengenakan jacket serta dengan koper kecil di tangannya. Koper yang dibawanya saat meninggalkan rumah beberapa waktu lalu. Melihat itu, Aaric menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kuat.


Dia merasa lega melihat Papanya mengikuti permintaannya, walau mungkin itu terpaksa. Dia lalu mendekati penjaga rumah yang berjalan diam di belakang Papanya. "Saya titip rumah ini, ya." Ucap Aaric sambil menepuk pelan pundak penjaga rumah. Penjaga rumah mengangguk pelan dengan wajah sedih.


Aaric memberikan isyarat kepada Jekob untuk memberikan uang kepada penjaga rumah tersebut. Jekob mengerti isyarat dari boss nya lalu datang mendekat. "Ini bapak pakai untuk mengurus rumah dan keperluan bapak sementara ini. Nanti Pak Biantra akan menghubungi bapak, setelah tiba di Jakarta." Jekob berkata sambil memberikan uang tunai yang ada padanya. Dia tidak menyangka akan memberikan uang, jadi tidak ada persiapan untuk membawa uang tunai yang banyak.


Penjaga rumah menerima pemberian tersebut dengan hati terharu. Dia mengucapkan terima kasih kepada Aaric dan Jekob sambil membungkuk lalu kembali memeluk Pak Biantra. Dia sangat menyayangi Pak Biantra yang telah menganggapnya seperti anak sendiri dengan mengajaknya tinggal di rumahnya. Pak Biantra mencukupi semua kebutuhan sehari-hari, dan dia hanya diminta untuk menjaga dan membersihkan rumah.


"Nanti setelah tiba di Jakarta, saya akan menelponmu. Jaga rumah ini baik-baik dan tolong sampaikan pesanku tadi kepada para petani. Saya tidak bisa pamit dengan mereka, karena ada masalah keluarga yang mendesak." Ucap Pak Biantra pelan, sambil menepuk punggung pelan penjaga rumah yang sedang memeluknya. Beliau bersyukur, Aaric memberikan uang kepada penjaga rumah, karena beliau tidak memegang uang tunai banyak di rumah untuk ditinggalkan.


Pak Biantra terus melihat rumah orang tuanya yang telah diperbaikinya makin jauh dibelakang. Beliau berharap dalam hati, suatu hari bisa kembali lagi ke sana. Namun hatinya meragukan itu, saat melihat keseriusan Aaric mengajaknya pergi. Beliau menyadari, Aaric bukan lagi seperti putranya yang meninggalkan rumah belasan tahun yang lalu. Beliau juga ingin bertemu dengan putra bungsunya, jadi beliau segera mengikuti apa yang diminta oleh Aaric.


Jika Aaric bisa tidak terdeteksi belasan tahun, dia juga bisa menyembunyikan Recky sehingga tidak bisa bertemu dengannya. Apalagi Recky sangat sayang dan mengagumi kakaknya, dia akan menuruti semua yang dikatakan kakaknya. Itulah yang dikhawatirkan Pak Biantra, sehingga mau dengan cepat menuruti kemauan Aaric.


"Papa sudah makan siang?" Tanya Aaric saat mobil mereka telah melaju di tengah kota Malang. Dia sangat terkejut melihat tangan kasar Papanya yang diletakan di atas paha. Jantungnya serasa mau lepas, melihat kondisi Papanya dari dekat. Dia mengeluarkan perangkat kerjanya, untuk mengalihkan perasaannya yang sedang berkecamuk.

__ADS_1


"Sudah. Tadi Papa sudah makan di pertemuan bersama petani." Ucap Pak Biantra pelan, karena duduk di samping Aaric.


"Jekob, kita bisa terbang sesuai jadwal jika kita istirahat sebentar di Batu?" Tanya Aaric melihat kondisi Papanya dan juga Sapta yang belum beristirahat semenjak mereka dari Surabaya.


"Bisa, Pak. Kita akan beristirahat dan sekalian cari tempat untuk makan di sana." Jekob berkata sambil memberikan isyarat kepada Sapta untuk berhenti di Batu. Sapta mengangguk mengerti, lalu Jekob menghubungi karyawan Elimus agar menunggu mereka di bandara Juanda untuk mengambil mobil.


Saat tiba di Batu untuk beristirahat, Aaric mengambil masker dan berikan kepada Pak Biantra agar jangan ada yang mengenal Papanya. "Papa istirahat dan makan di mobil saja, Aaric." Pak Biantra tidak mau mengambil resiko untuk turun, karena beliau sering datang ke Batu, Malang dan Jawa Timur saat menjadi pemimpin Biantra Group.


Aaric mengangguk mengerti maksud Papanya lalu meminta Jekob dan Sapta turun untuk membeli keperluan mereka. Dia menyibukan dirinya dengan terus bekerja di mobil, sambil menunggu Jekob dan Sapta kembali untuk makan siang bersama di mobil. Pak Biantra hanya duduk diam di samping Aaric.


Seperti yang direncanakan Jekob, mereka tiba di bandara Juanda sebelum jadwal penerbangan mereka. Pak Biantra hanya mengikuti Aaric dalam diam, karena semuanya sudah diurus oleh Sapta dan Jekob. Mereka masih sempat duduk untuk minum minuman hangat di bandara, sambil menunggu jadwal penerbangan.


Pak Biantra tercengang melihat sikap dan cara kerja Aaric. Beliau yang terpaksa mengikuti permintaan Aaric agar bisa bertemu Recky, dibuat makin tercengang. 'Aku akan menyesal, jika tidak menuruti permintaan putraku.' Pak Biantra membatin. 'Tuhan akan melindungiku dan memberkatiku dengan kedua putraku.' Pak Biantra kembali membatin dengan yakin untuk menepis keraguan hatinya.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2