
~•Happy Reading•~
Aaric telah mengeluarkan Recky dari Jakarta ke Sydney dengan menggunakan jet pribadinya, sehingga keberadaan Recky tidak terdektesi oleh keluarga Liana dan juga keluarga Mamanya yang menunggu dan memantau di tempat pesawat komersial.
Setelah tiba di Sydney, Aaric langsung membawa Recky ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi tangannya. Sepanjang penerbangan Recky hanya diam, karena tidak nyaman dengan tangannya yang nyeri jika digerakan tiba-tiba. Aaric pun ikut diam, menyembunyikan rasa cemas dan khawatirnya.
Dia berusaha tenang, agar tidak mempengaruhi Recky yang sedang dalam kondisi yang tidak baik. Walaupun Recky berusaha untuk menyembunyikannya, tetapi terlihat jelas dia sedang terluka. Bukan tangannya saja yang terluka, tetapi hatinya menyimpan banyak luka. Dan hal itu tidak seorangpun tahu, hanya Tuhan dan dirinya yang tahu.
Hari ini, sudah satu minggu berlalu Recky berada di rumah sakit. Aaric belum mengijinkannya pulang ke rumah sebelum dia merasa nyaman dan dokter mengijinkannya.
Selama itu juga, Aaric berada di Sydney untuk menemani Recky. Sedangkan Jekob telah kembali ke Jakarta, karena banyak hal yang terjadi akibat kepergian Recky. Terutama perusahaan keluarga Mamanya yang mulai bermasalah demikian juga dengan keluarga Tarikalla.
Perkembangan itu, sangat menguntungkan bagi perusahsan Aaric di Jakarta, sehingga dia ingin segera kembali ke Jakarta untuk menangani persoalan tambang batubara dan juga membuka peluang baru yang tidak diduganya akibat kepergian Recky.
"Kak, aku minta ponselku. Aku ada perlu dengan kontak yang ada di situ." Recky berkata, saat Aaric datang mengunjunginya di saat istirahat siang jam kantor. Aaric lebih banyak tinggal di rumah sakit menemani Recky. Dia hanya ke kantor dan pulang lagi, lalu tidur di rumah sakit.
"Tapi kau jangan menyalakan ponselmu. Pindahkan saja kontok penting ke nomor itu, lalu beritahukan nomormu yang baru kepada mereka. Aku sudah bicara dengan asistenmu. Apa kau percaya padanya?" Tanya Aaric untuk meyakinkannya, lalu mengambil tasnya. Dia mengeluarkan ponsel Recky, lalu memberikannya.
"Iyaa. Selama ini dia yang menangani semua pekerjaan kantor selama aku masih di Jerman. Dia bekerja dengan baik, dan perusahaan berjalan dengan baik. Aku mempercayainya, jadi kakak bisa mempercayainya." Kata Recky meyakinkan, sebagaimana Aaric meyakinkannya tentang Jekob.
__ADS_1
"Apakah orang rumah ada yang tau perusahaanmu dan juga pekerjaanmu?" Aaric sudah ingin bicara dengan Recky setelah tiba di Sydney, tetapi melihat kondisi Recky yang belum pulih dia menahannya. Sekarang Recky sudah minta ponselnya, berarti dia sudah dalam kondisi yang lebih baik.
"Papa tau aku sebagai Arsitek. Yang lain sepertinya tidak ada, mungkin iblis betina itu juga tau, aku Arsitek." Jawab Recky sambil berpikir. Karena selama ini, dia membangun perusahaannya dari nol dengan modal kerjanya sebagai Arsitek. Sehingga mungkin saja, orang tuanya tidak terlalu mengetahui.
"Baik. Ada yang tau tempat tinggalmu?" Tanya Aaric lagi. Karena bisa saja ada yang menunggunya di apartemen. Termasuk istrinya, mungkin saja telah menunggunya di apartemen.
"Papa dan iblis itu tau, karena mereka pernah datang mengunjumgiku saat ke Sydney." Recky menjawab pelan, dia tahu kondosinya tidak akan mudah. Dia akan terdektesi oleh Mamanya dan akan datang mengganggunya lagi.
"Kalau begitu, setelah keluar dari rumah sakit kau tinggal di rumahku. Tidak usah pulang ke apartemenmu. Berikan kunci apartemen kepada asistenmu, agar dia bisa mengeluarkan semua barang yang diperlukan."
"Ceritakan tentang apa yang sedang terjadi kepadanya, agar dia bisa menjawab dengan benar jika ada yang bertanya tentangmu. Sedangkan perusahaanmu, kau percayakan pengelolahannya kepada asisten dan karyawanmu." Aaric berbicara dengan tegas dan mendetail.
"Perkembangan perusahaanmu di sini bisa kau pantau dan mengaturnya bersama asistenmu. Aku akan kembali ke Indonesia, karena selain mengurus permasalahan yang ditimbulkan oleh iblis itu dan keluarganya, perusahaan tambangku sedang bermasalah." Aaric mengatakan semua yang direncakan untuk mengamankan Recky.
"Jadi selama ini, kakak sering ada di Indonesia?" Recky terkejut, mendengar kakaknya ada memiliki perusahaan tambang di Indonesia. Dia berpikir kakaknya pergi dari rumah lalu menghilang, hidup di luar negeri dan tidak kembali. Recky lupa, Aaric datang ke pesta pernikahannya, karena ada undangan yang dikirim ke perusahaan Aaric. Kondisi kedatangan Aaric yang tidak disangkanya, membuat dia tidak bisa mencerna semua yang dikatakan Aaric dengan baik dan mengingatnya. Apalagi dalam kondisi tangan yang sedang sakit.
"Aku sering ke Indonesia, tapi lebih banyak di Eropa. Aku kembali ke Indonesia, karena ada yang direncanakan untuk diselesaikan. Nanti setelah ini baru dibicarakan. Sekarang kita selesaikan satu-satu, agar tidak makin kusut." Ucap Aaric. Dia belum menceritakan kenapa dia bisa punya rumah dan cabang perusahaannya di Sydney. Semua itu karena dia tahu Recky telah sekolah dan tinggal di Sydney. Jadi setelah Recky di Sydney, diapun lebih banyak habiskan waktu di Sydney, melihat perkembangan usaha dan perjuangan adiknya. Tanpa Recky ketahui, dia selalu mendukungnya dari belakang.
"Setelah ini, aku akan bicara dengan dokter, agar bisa tau kapan kau bisa pulang. Aku tau, kau sudah ingin kerja, tapi kau harus bersabar sedikit lagi." Aaric berkata, lalu berdiri meninggalkan Recky yang hanya mengangguk dalam diam.
__ADS_1
Dari pembicaraan kakaknya, dia mulai berpikir. 'Apakah selama ini, kakaknya yang ada di belakang layar, sehingga dia bisa dapatkan banyak proyek di Canberra dan Sydney?' Recky mulai mengingat satu persatu.
Dia mengingat dan mengurai apa yang dikatakan kakaknya. 'Kak Aaric ada punya rumah di Sydney, berarti kakak ada ditinggal di sini?' Recky kembali berpikir dan bertanya sendiri.
'Apakah proyek yang dikerjakan di Jerman, juga ada campur tangan Kak Aaric di dalamnya?' Recky terus berdialog dengan pikiran dan hatinya. Karena proyek-proyek itulah, dia bisa membangun perusahaannya sendiri, tanpa dimodalin oleh orang tuanya.
"Kau sudah bisa pulang, tangannmu sudah dinyatakan pulih. Hanya kau harus berhati-hati, jangan digerakan dengan tiba-tiba." Aaric berkata dengan senang saat masuk ke kamar perawatan Recky, setelah berbicara dengan dokter dan mengetahui hasilnya.
"Kakak, aku senang sekali. Aku ingin memelukmu." Recky langsung membuka tangannya seperti anak kecil yang minta dipeluk. Aaric mendekatinya lalu memeluknya sambil mengusap punggungnya pelan.
"Makanya, jangan paksakan diri untuk cepat dewasa. Seharusnya kau nikmati masa remajamu, bukan pikirkan banyak hal orang dewasa." Ucap Aaric dengan sayang dan terus mengusap punggung adiknya.
Dia tahu seperti apa hidup yang dijalani Recky setelah kepergiannya. Memiliki orang tua yang tidak pernah menunjukan kasih sayang, sangat mengenaskan. Orang tua yang hanya mengejar harta sebanyak-banyaknya, pasti membuat anak-anaknya menderita dan kesepian. Anak-anak dianggap seperti property yang bisa menghasilkan uang.
Recky tidak berkata apapun, dia hanya memeluk Aaric dengan erat. Karena dia menyadari semua yang dia miliki saat ini, ada kasih sayang kakaknya di dalamnya. Hal itu membuatnya sangat terharu, sehingga tanpa sadar air mata mengenangi matanya.
Aaric tahu, adiknya sedang menangis. Dia sendiri sedang terharu merasakan pelukan adiknya. Tidak perlu banyak kata untuk mengungkapkan perasaan mereka. Pelukan telah menceritakan semua rasa yang mereka alami selama ini.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡
__ADS_1