Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Menjaga.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Carren mengangguk mengerti yang di katakan Aaric, dia percaya Aaric sedang merencanakan masa depan mereka. "Nanti kita bicarakan yang lain setelah beberapa hal yang perlu aku selesaikan. Aku sengaja membawamu ke sini, selain menunjukan tempat tinggalku, aku juga akan membicarakan tentang keluargaku. Agar nanti jika bertemu, kau tidak terlalu terkejut." Ucap Aaric yang telah duduk di sofa depan Carren.


"Aku dua bersaudara. Aku mempunyai seorang adik laki-laki. Suatu waktu kalian akan berkenalan, jika dia ada datang ke sini. Sementara ini, dia tidak ada di sini. Nanti dia ke sini, aku akan membawanya untuk bertemu denganmu." Ucap Aaric mengingat adiknya Recky. Carren mendengar dalam diam lalu mengangguk mengerti.


"Untuk orang tuaku, untuk sementara ini kau belum bisa bertemu dengan mereka. Mungkin yang akan datang melamarmu hanya aku dan asistenku. Jadi aku minta bantuanmu untuk menjelaskan pada Mamamu. Ada masalah dalam keluargaku, yang belum aku selesaikan. Aku butuh pengertianmu juga untuk menjelaskan dengan baik pada Mamamu." Ucap Aaric, mengingat keluarganya yang berantakan.


"Ada hal buruk yang akan terjadi di dalam keluargaku beberapa waktu ke depan. Jadi tetaplah kau di sampingku. Aku butuh banyak support darimu, agar aku mampu menyelesaikan semuanya dengan baik." Ucap Aaric lagi, lalu Carren melihat Aaric dengan tertegun. Dia teringat pada kedatangan orang yang datang ke kantornya dan mengaku sebagai Mama Aaric.


'Mungkinkah Ibu itu benar Mama Aaric dan sekarang sedang bermasalah sehingga datang menemuiku?' Tanya Carren dalam hati, tanpa berani membicarakannya. Aaric mengerti tatapan Carren yang tiba-tiba menatapnya dengan mata membulat. 'Pasti Arra sedang mengingat kedatangan Mamanya.' Aaric membatin.


"Bagaimana denganmu? Apakah kau memiliki saudara?" Tanya Aaric menyudahi pembicaraan tentang keluarganya yang belum beres diselesaikan. Sekaligus juga untuk lebih mengenal Carren dan keluarganya. Sehingga dia bisa bicarakan dengan Jekob untuk mengatur pertemuan dengan keluarga besar Carren.

__ADS_1


"Ooh, tidak Kak. Aku anak tunggal, keluarga Papa dan Mama banyakan tidak tinggal di sini. Ada keluarga adik Papa, tapi tinggal di Jawa Timur. Sedangkan Mama anak tunggal dan sepupuhnya banyakan ada di Sulawesi." Ucap Carren menjelaskan. Mendengar itu, Aaric sedikit lega, karena jika terjadi sesuatu dengan keluarganya dia tidak perlu menjelaskan kepada banyak saudara Carren.


"Baik. Mengenai pekerjaanmu, aku sudah tahu saat pertama kali kita bertemu. Jadi kedepan mungkin kau belajar mendelegasikan pekerjaanmu kepada orang yang dipercayai. Aku berharap, kau tetap berkarier tetapi tetap mendampingiku jika aku harus bepergian. Tidak seperti saat di Bali, harus berpisah dalam suasana yang tidak mengenakan." Ucap Aaric serius, dan Carren mengangguk mengerti.


Dia harus mengutamakan keluarganya dan hatinya sedikit lega. Karyawannya sudah bisa bekerja dengan baik tanpa kehadirannya. "Iya, Kak. Nanti aku akan mengaturnya, karena ada beberapa kewajiban yang harus aku bicarakan dan selesaikan dengan karyawan." Carren teringat tempat kerja dan mobil yang sudah hampir lunas dibayar kepada Maxi. Sedangkan uang tabungan Bu Florens yang dipinjamkan Maxi, sudah dikembalikan. Dia ingin tetap bekerja, agar bisa menjaga penghasilan para karyawannya.


"Baik. Mulai sekarang, jika perlu sesuatu dan butuh bantuanku, kau katakan saja. Bukan aku tidak mau tau, tetapi aku belum bisa ikut campur dengan pekerjaanmu. Aku mengijinkan kau bekerja, karena pekerjaammu berhubungan dengan kreaktifitas. Semua ide kreaktifmu bisa kau bagikan dengan karyawan yang kau percaya utk mengembangkan usahamu." Ucap Aaric masih serius. Carren mengangguk mengiyakan dengan hati lega, karena yang dia khawatirkan telah disampaikan oleh Aaric. Dia tetap bisa bekerja, walau sudah menikah nanti.


Carren khawatir, Aaric melarangnya bekerja karena melihat status sosial dan juga secara finasial, Aaric cukup mapan untuk menghidupinya. "Kak, bolehkah Mama ikut tinggal denganku? Karena Mama hanya punya aku dan selama ini kami belum pernah berjauhan." Ucap Carren pelan, karena memikirkan Mamanya dan juga Mama Aaric yang pernah mendatanginya.


"Iya, Arra. Mamamu bisa tinggal bersama kita, jika beliau mau tinggal bersama dengan kita. Makanya aku ajak kau ke sini, agar bisa pikirkan itu. Jika kau anggap beliau bisa tinggal di sini, ada kamar kosong. Jika tidak bisa, kita akan cari tempat lain." Ucap Aaric lalu berdiri mendekati Carren dan mengacak rambutnya.


"Yang itu tidak usah menjadi beban pikiranmu. Nanti kau yang atur saja, bagaimana baiknya." Ucap Aaric tenang, karena melihat Mama Carren tidak seperti Mamanya. Dari tatapannya kepada Carren malam itu, dia tahu Mama Carren sangat menyayangi Carren dan mendukungnya. Saat berbicara dengannya, Mama Carren bijak dan baik hati, dengan menyebutnya 'nak Aaric'.

__ADS_1


Carren langsung memeluk paha Aaric yang sedang berdiri di sampingnya sambil mengacak rambutnya. Beban di pundaknya serasa terangkat mendengar yang dikatakan Aaric. Dia tidak mau menanyakan tentang Mama Aaric, karena dia merasa ada persoalan diantara mereka. Dia menunggu waktu Aaric mau membicarakannya.


Aaric terkejut dengan reaksi tiba-tiba dari Carren yang memeluk pahanya. "Arra, sebentar. Kau coba periksa tempat ini dan juga kamar di sana yang akan digunakan Mamamu. Pintunya tidak dikunci, jadi lihat saja. Mungkin saja kita akan menikah lebih cepat setelah aku bicara dengan Mamamu." Ucap Aaric, sengaja menjaga kedekatan mereka.


Biar bagaimanapun, dia laki-laki dan saat ini mereka hanya berdua. Ketika meminta Carren datang ke apartemen, dia tidak memikirkan situasi seperti ini. Dia hanya memikirkan tempat tenang dan nyaman untuk mereka berbicara.


Ketika Carren memeluk pahanya, dia langsung tersadar. Jika tidak berhati-hati dan waspada, bisa terjadi hal-hal yang hil-hil. Suasananya sangat berbeda saat mereka sekamar di Bali. Saat itu mereka baru bertemu, belum mengetahui perasaan dan hati masing-masing dengan baik. Jadi masih mudah untuk menjaga jarak.


Ini mereka sudah membicarakan banyak hal dan sudah mengetahui perasan serta hati masing-masing. Mereka sedang saling merindukan, karena sempat berpisah beberapa waktu. Justru kondisi ini bisa menjerumuskan mereka untuk melakukan sesuatu diluar batas.


Aaric menyadari, semua gerakan tiba-tiba Carren untuk memeluknya, bukan untuk menggodanya. Tetapi hanya sebatas ungkapan sayang dan terima kasih sehingga dia sebagai laki-laki harus menjaga dirinya. Dia teringat ucapan Sapta kepada anggotanya yang sering berada dalam situasi seperti ini.


'Kalian harus hati-hati menjaga diri. Jangan sampai syaiiton mendorong, iblis tendang, kalian kecebur comberan. Sesal kemudian tidak berguna. Kalian sudah bau comberan.' Aaric tersenyum sendiri mengingat ucapan Sapta. Dia memegang lengan Carren lalu mengangkatnya untuk berdiri.

__ADS_1


~●○♡○●~


__ADS_2