Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Surprise.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Aaric tidak jadi berdiskusi dengan Pak Hutama tentang kasus yang akan bergulir, setelah semua yang terjadi diantara mereka dengan Bu Sunny. Dia segera menghubungi Sapta agar membawa Gungun ke Kantor Polisi, sekaligus meminta Polisi untuk datang ke gedung Biantra untuk menjemput Bu Sunny. Kasusnya akan diproses di kantor polisi, karena tidak ada lagi yang harus ditutup-tutupi. Semuanya sudah terbuka terang benderang.


Aaric dan Jekob akan tetap berada di kantor, sedangkan pengacaranya ke kantor polisi untuk mendampingi Gungun. Pak Hutama segera menghubungi pengacaranya untuk langsung ke kantor polisi. Mereka berdua akan mengikuti mobil polisi yang membawa Bu Sunny. Sedangkan asisten Bu Sunny yang mengetahui hal itu, segera menghubungi pengacara keluarga Sunijaya dan menceritakan apa yang terjadi dengan Bu Sunny.


"Jika kau tidak malu, tetapi hari ini aku malu menjadi anakmu." Ucap Aaric lalu melepaskan jasnya untuk menutupi borgol ditangan Bu Sunny yang berjalan dalam diam, tanpa perlawanan. Bu Sunny berjalan didampingi dua orang Polisi dengan tangan diborgol yang borgolnya telah ditutupi dengan jas Aaric.


Ketika mereka semua telah pergi meninggalkan ruang kerja Jekob, Aaric duduk terhenyak sambil memijit pelipisnya. Melihat kondisi bossnya, Jekob meminta sekretarisnya agar membawa minuman hangat untuk mereka berdua.


Setelah merasa kondisi lebih baik, Aaric dan Jekob berjalan keluar ruang kerja Jekob menuju ex ruang kerja Pak Biantra untuk melihat karyawan yang sedang membersihkan ruangan tersebut. "Dimana barang-barang milik Pak Biantra yang sebelumnya ada di sini?" Tanya Aaric kepada asisten dan sekretaris Pak Biantra yang sedang bantu merapikan ruangan.


"Semuanya saya simpan di laci meja kerja saya, tuan. Karena saat itu, mau dibuang oleh Pak Lepart jadi saya memintanya." Ucap asisten Pak Biantra mengingat peristiwa dan perdebatannya dengan Pak Lepart yang membuat dia hampir dipecat karena tidak terima barang-barang pribadi Pak Biantra mau dibuang. Dia tetap ngotot meminta untuk membawanya.


"Baik, tolong diambil dan kembalikan ke ruangan ini. Besok baru kita bicarakan dan mengaturnya lagi. Kalian semua teruskan membersihkan ruang kerja ini." Ucap Aaric lalu mengajak Jekob untuk keluar ruangan dan kembali ke ruang kerja Jekob.

__ADS_1


"Jekob, kau tau apa yang harus kau lakukan untuk siapkan ruang kerja itu. Saya mau pulang untuk istirahat, karena kepalaku sudah mau meledak." Ucap Aaric sambil memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. Dia sudah tidak tahan berlama-lama di ruang kerja Jekob.


"Bapak mau pulang kemana? Biar saya yang antar." Ucap Jekob cepat, karena khawatir dengan kondisi bossnya. Dia tahu, bossnya sedang berusaha melupakan semua yang baru terjadi dan juga merasa malu dengan kelakuan Mamanya di depan Bapak dan Ibu Hutama.


Aaric mengangguk lalu berjalan keluar ruang kerja Jekob. "Saya mau pulang ke apartemen untuk mandi dan istirahat." Ucap Aaric saat mereka menuju tempat parkir gedung Biantra.


Setelah tiba di apartemen, Aaric langsung turun dan menyuruh Jekob kembali ke kantor karena Jekob ingin turun juga, tetapi Aaric tidak mengijinkannya. Dia ingin sendiri karena suasana hatinya tidak dalam keadaan baik. Saat masuk ke kamar mandi untuk mandi, Aaric berteriak sekeras-kerasnya untuk melegakan dadanya yang sesak. Dia sudah menahannya sejak kedatangan Mamanya di ruang kerja Jekob.


Selain hubungannya dengan Pak Haiman, penampilan Bu Sunny seperti orang kehilangan akal sehat dan hampir seperti orang tidak waras, membuatnya malu. Padahal Bu Sunny adalah seorang petinggi di Biantra Group yang suka berpenampilan trendi dan modis.


Dia mengisi bathtub dengan air hangat lalu membenamkan dirinya berulang kali. Setelah tubuhnya terasa lemas dan mulai mengantuk, dia segera keluar dari bathtub dan membersihkan tubuhnya lalu mengenakan bathrobe. Kemudian dia keluar dari kamar mandi dan langsung naik ke tempat tidur. Tubuhnya terasa tidak bertulang setelah melewati peristiwa yang menguras emosi dan energi sepanjang hari.


Keesokan harinya, Aaric mengendarai mobilnya menuju gedung Biantra. Hal itu sudah dikatakan kepada Jekob, bahwa mereka akan berkantor di gedung Biantra untuk menyelesaikan ruang kerjanya dan juga persoalan yang masih tersisa. Dia belum mau mengumumkan jabatannya di Biantra Group, hanya mau bersih-bersih sebelum resmi berkantor di sana.


Ketika masuk ke ruang kerja Papanya, Aaric merasa lega. Semuanya sudah bersih dan teratur rapi. Termasuk papan nama Papanya sudah ada di atas meja. Direktur utama, Danang Biantra. Dia mengusapnya dengan tangan sambil duduk di kursi kerja Papanya. Dia jadi merindukan adiknya, karena mengingat saat mereka kecil dan di bawa Papanya ke kantor tersebut. Mereka berdua berebutan duduk di kursi kebesaran Papanya. Akhirnya, Papanya harus memangku mereka di atas paha kiri dan kanannya agar tidak berebutan.

__ADS_1


Papanya tidak mengatakan agar dia mengalah kepada adiknya, atau adiknya diminta mengalah untuk kakaknya tapi memangku mereka berdua, padahal dia lebih besar. Sambil mengusap kursi kerja Papanya, dia mengingat Papanya dan adiknya. Dia makin merindukan mereka berdua.


Menjelang makan siang, Aaric mengirim pesan kepada Jekob untuk makan siang sendiri, karena dia hendak keluar sendiri untuk menenangkan hatinya. Tidak lama kemudian Aaric telah parkir mobilnya di depan kantor Carren. Dia telah mengetahui dari anggota keamanan yang menjaga Carren, bahwa Carren ada di kantor. Dia melepaskan jasnya, menggulung lengan kemeja lalu turun dari mobil dan masuk ke kantor Carren.


"Selamat siang. Ada yang bisa dibantu?" Tanya Rosna menyambut kedatangan Aaric, tanpa bisa menyembunyikan rasa terkejut dan terpesona melihat penampilan Aaric yang sangat tampan dan berwibawa.


"Selamat siang. Saya mau bertemu dengan Bu Carren." Jawab Aaric sambil tersenyum melihat Rosna yang menatapnya dengan takjub.


"Maaf, Pak. Bu Carren sedang sibuk. Kami bisa bantu, jika bapak katakan keperluannya." Ucap Rosna lagi, karena mengira Aaric datang untuk urusan acara pertunangan atau pernikahannya dan mau menggunakan jasa mereka.


"Saya mau berbicara secara pribadi dengan Bu Carren. Sangat pribadi. Jadi tolong sampaikan, ada yang menunggunya di sini." Ucap Aaric, karena mau membuat surprise untuk Carren. Melihat ketegasan Aaric, Rosna mengangguk lalu hendak beranjak untuk naik tangga.


"Sssstttt... Tidak usah memanggilnya. Hubungi saja, dan katakan ada yang perlu dengannya di sini." Ucap Aaric sambil memberikan kode dengan jari di telingan dan mulutnya kepada Rosna sebagai isyarat untuk menelpon Carren. Dia tidak mau Rosna naik memanggilnya, karena akan ditanya oleh Carren dan Rosna akan menjelaskan dengan detail kepadanya siapa yang datang. Sehingga tidak surprise lagi, padahal dia mau membuat surprise untuk Carren


Setelah dihubungi Rosna, Carren meninggalkan ruang kerjanya sambil bertanya-tanya dan merasa terganggu dengan tamu yang dianggapnya tidak bisa mengerti kalau dia lagi dlsibuk. Padahal dia sudah katakan kepada Rosana tidak mau diganggu.

__ADS_1


Dia melangkah turun tangga dengan hati berat dan bertanya-tanya. Tetapi ketika melihat siapa yang sedang menunggunya di lantai bawah, betapa terkejutnya Carren. "Kakaaaaaaa...!" Teriak Carren sambil berlari turun tangga. Aaric yang melihatnya berlari turun, jadi terkejut dan melangkah cepat menuju bawah tangga karena sangat khawatir dengan gerakan Carren yang tiba-tiba.


...~●○♡○●~...


__ADS_2