Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Makin Sayang 2.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Carren segera menepis apa yang ada dipikirannya dengan berpikir, mungkin itu sebutan banyak orang di luar sana. Sebutan kua hitam dikebanyakan orang yang tidak diketahuinya.


"Baik, Pak. Siap. Mungkin ada yang mau ditambahkan lagi, Nona Carren?" Tanya Jekob pelan, sambil melihat Carren. Dia berusaha mengakrabkan diri dengan Carren, karena dia menyadari kedepan akan sering berhubungan dengannya.


"Saya tidak tambah untuk dibeli, tetapi hanya usul, Pak Jekob. Bagaimana kalau yang dibeli hanya lauknya, sedangkan nasi nanti saya yang masak. Tadi saat lihat-lihat di belakang ada beras yang lumayan banyak. Sayang kalau dibiarkan." Carren berkata pelan, Aaric dan Jekob secara refleks menatapnya. Kemudian Jekob melihat ke arah Aaric untuk meminta persetujuannya. Bisa bahaya jika dia mengiyakan tanpa persetujuan bossnya.


"Apakah tidak repot jika harus masak nasi sendiri? Biarkan saja Jekob pesan lauk dengan nasinya." Ucap Aaric sambil memandang Carren serius, karena dia tidak menginginkan Carren melakukannya.


"Hanya masak nasi, tidak repot, Kak. Semua perangkat masaknya ada tersedia. Sambil menunggu lauknya datang, nasinya sudah matang." Ucap Carren menyakinkan. Dia berpikir, biasanya kalau makan masakan padang pasti akan tambah nasi. Jadi alangka baiknya masak nasi sendiri, karena waktunya masih keburu.


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Jekob pesan lauknya saja." Aaric berkata kepada Jekob. Carren tersenyum dalam hati karena Aaric bisa mengerti maksudnya.


"Kalau begitu, Pak Jekob tolong pesan rendang agak lebih, ya. Biar sekalian bisa untuk makan malam." Ucap Carren, karena dia berpikir untuk makan malam Aaric dan Jekob jika dia pulang nanti. Aaric melihat Carren lalu mengangguk mengiyakan kepada Jekob. Carren, segera berdiri meninggalkan Aaric dan Jekob untuk memanak nasi, agar ketika lauknya datang, nasinya sudah tanak.


Aaric melihat Carren asyik memasak di dapur tanpa menyadari sedang diperhatikan olehnya. "Pantes ada yang katakan, seorang wanita akan terlihat sangat seksi saat sedang memasak di dapur." Ucap Aaric dengan wajah tersenyum. Jekob yang sedang pesan masakan padang, jadi memperhatikan Carren. Lalu tersenyum senang melihat binar di mata bossnya. Dia kembali meneruskan pesan semua menu yang diinginkan bossnya.


Setelah menanak nasi, Carren kembali ke meja makan. "Maaf, Kak. Apakah kakak bisa pindah duduk di ruang tamu? Biar aku siapkan perangkat makan untuk kita di sini." Ucap Carren pelan, karena merasa tidak enak meminta Aaric dan Jekob pindah tempat duduk. Aaric mengangguk mengerti maksud Carren, lalu mengajak Jekob pindah duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Carren menyiapkan perangkat makan di meja, setelah Aaric dan Jekob telah pindah. Jadi saat pesanan mereka diantar, Carren tinggal menatanya di tempat yang sudah dia siapkan.


Aaric dan Jekob tertegun melihat semua menu dan nasi telah tersedia di meja makan saat Carren memanggil mereka untuk makan siang. Aaric makin kagum dan sayang, melihat cara Carren menyiapkan makanan di meja makan.


Selesai makan, Carren membersihkan semua perangkat makan yang mereka gunakan. Aaric mendekatinya di dapur. "Tidak usah dicuci, nanti aku minta Bibi datang sekarang untuk membersihkan semuanya." Aaric melarang Carren, karena dia tidak ingin Carren melakukannya.


"Tidak usah, Kak. Biar besok saja baru Bibinya datang, yang ini aku bersihkan dulu. Ooh iya, Kak. Lauk untuk makan malam kakak, aku sudah simpan di lemari ini. Nasi masih cukup untuk makan malam kakak dan Pak Jekob." Ucap Carren, sambil menunjuk kitchen set. Aaric mengangguk mengerti.


"Baik. Kalau sudah mau pulang, kasih tau aku. Nanti aku antar pulang." Ucap Aaric mengerti, Carren tidak tinggal sampai malam bersamanya.


"Aku hanya tunggu bajuku kering lalu pulang ya, Kak. Tapi kakak tidak usah antar aku pulang. Biar aku pulang diantar sama yang jemput tadi saja, Kak. Aku tidak enak, tadi bersikap kurang sopan pada mereka. Aku mau bicara dengan mereka, sekalian belajar seperti yang kakak katakan tadi." Aaric melihat Carren dengan terkesima. Carren berniat meminta maaf kepada anggota keamanan yang menjemputnya, karena sudah berlaku kurang sopan dan tidak ramah.


"Baik. Jika sudah ganti baju, aku akan antar ke lobby. Jangan lupa bawa ole-olenya." Ucap Aaric, mengerti maksud Carren. Aaric segera menghubungi anggota keamanan yang sedang menunggu perintah dari bossnya di tempat parkir apartemen.


.***.


Setelah kembali mengantar Carren di lobby apartemen, Aaric berbicara serius dengan Jekob tentang perkembangan persoalan yang sedang dihadapi. Dia kembali ke Indonesia lebih awal bukan saja untuk bertemu dengan Carren, tetapi mssalah keluarganya mulai masuk babak baru.


Jekob memintanya kembali ke Jakarta, karena semua yang direncanakan Aaric sudah mulai berada pada tempatnya masing-masing. Baik itu masalah perusahan atau keluarganya. Sehingga Jekob butuh kehadiran bossnya untuk mengontrolnya secara langsung.

__ADS_1


Aaric menyetujui permintaan Jekob untuk segera kembali, karena dia berpikir akan sekalian bertemu dengan Carren dan Mamanya. Sehingga sebelum sibuk, dengan masalah pekerjaan dan persoalan keluarga, dia menyelesaikan dulu masalah pribadinya.


Supaya sebelum terjadi sesuatu, dia sudah bertemu dengan Mama Carren. Agar dia bisa berkenalan dengan Mama Carren dalam kondisi yang masih kondusif. Jika sudah bertemu dengan Carren dan Mamanya, baru dia akan menyelesaikan persoalan keluarganya. Apabila terjadi sesuatu yang buruk dengan keluarganya, dia yang dilihat bukan keluarganya.


Dia bersyukur dengan kejadian tadi malam, Mama Carren bisa berbicara secara pribadi dengannya. Jadi ke depan, dia berharap Mama Carren akan bersikap sama terhadapnya. Dalam situasi sekarang, nama baik lebih berarti dari setumpuk kekayaan. Dia tidak bisa datang meminta putri orang dengan membawa kekayaannya. Tetapi nama baik dirinya dan keluarganya bisa menjadi sandungan untuk mendapatkan yang dia inginkan.


Hal itu membuat dia ingin menyelesaikan apa yang bisa mengganggu hubungan mereka, agar dia bisa lebih jelas menentukan arah mana yang harus dipilih. Setelah berbicara dengan Mama Carren, dia sudah bisa berpikir dengan baik. Sehingga dia mengingat apa yang akan dikatakan Jekob dalam perjalanan dari bandara ke restoran.


Oleh sebb itu, dia meminta Jekob datang bukan saja untuk menemani mereka, tetapi juga untuk membicarakan apa yang disampaikan Jekob dalam perjalanan dari bandara ke restoran tentang Gungun


"Jekob, ada apa dengan Gungun? Tadi malam karena terlambat bertemu Nona Carren dan Mamanya, aku tidak bisa fokus dengan apa yang kau katakan." Ucap Aaric, saat telah duduk di ruang tamu bersama Jekob.


"Ooh iya, Pak. Pak Hutama sudah bertemu dengan saya untuk membicarakan saham dan Gungun. Beliau minta terima kasih dan akan menyerahkan saham sesuai dengan harga yang dibelinya. Sedangkan Gungun, mereka akan memprosesnya secara hukum." Ucap Jekob melapor perkembangan yang terjadi sesuai yang diminta bossnya.


"Kau sudah bicara dengan pengacara untuk mendampingi Gungun?" Tanya Aaric agak cemas. Dia tidak memikirkan sahamnya, tetapi proses hukum yang akan dijalani Gungun. Bagaimanapun dia berusaha untuk tidak terlibat, tetapi sedikit banyak dia akan dimintai keterangan karena berpacaran dengan Naina.


"Saya sudah bicara dengan pengacara, tetapi pengacara ingin berbicara juga dengan bapak secara pribadi. Mungkin saja bapak akan dimintai keterangan oleh pihak kepolisian." Ucap Jekob menjelaskan permintaan pengacara.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2