
...~•Happy Reading•~...
Pak Tony yang telah di samping mobil Sapta, menerima amplop coklat yang diberikan Jekob dengan rasa hormat dan terima kasih. Pak Tony tidak menyangka akan menerima gift dari para tuan mudanya. Biasanya yang memberikan bonus adalah Pak Biantra, disaat-saat tidak terduga.
Ketika Recky melihat amplop coklat yang diberikan Jekob kepada Pak Tony, dia teringat ada yang belum mereka temukan. "Kakak, kita belum menemukan surat ceraiku." Ucap Recky tiba-tiba, dan itu mengejutkan Aaric. Dia benar-benar lupa, karena melihat kondisi rumah jadi tidak ingat tentang surat cerai Recky.
"Sapta, jangan jalan dulu. Tadi benar-benar lupa untuk mencari surat itu. Tapi selama di kamar utama, kita tidak melihat surat itu, apalagi di kamarmu. Tunggu, sebentar.... Pak Toniii..." Aaric yang telah membuka kaca mobil, memanggil Pak Tony yang sudah berjalan menjauh dari mobil Sapta.
"Iyaa, tuan muda." Jawab Pak Tony, lalu berjalan balik ke mobil Sapta sambil memasukan amplop yang diberikan Jekob ke saku kemeja kerjanya.
"Apakah Pak Tony tau atau mungkin menerima surat dari Pengadilan Negeri?" Tanya Aaric setelah Pak Tony berdiri di samping mobil, dekatnya.
"Iya, tuan muda. Beberapa waktu lalu memamg ada kiriman amplop dari pengadilan negeri. Suratnya saya berikan kepada Bu Lisye, agar diserahkan kepada nyonya." Jawab Pak Tony, ragu-ragu.
"Ada berapa surat yang Pak Tony terima dari pengadilan negeri?" Tanya Aaric lagi, menyelidiki.
"Ada tiga, tuan muda. Selisih harinya tidak terlalu lama. Apakah ada sesuatu, tuan muda?" Tanya Pak Tony, melihat keseriusan wajah Aaric dan Recky di sampingnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, Pak Tony tolong masuk ke dalam dan minta suratnya dari Bu Lisye, jika belum diberikan kepada nyonya. Minta ketiga suratnya." Ucap Aaric serius dan Pak Tony mengangguk mengiyakan.
"Baik, tuan muda." Ucap Pak Tony, lalu berjalan cepat masuk ke rumah untuk menemui Bu Lisye.
Tidak lama kemudian, Pak Tony kembali sambil membawa tiga amplop lalu diserahkan kepada Aaric. Aaric memberikan amplop yang bertuliskan nama Recky kepada Recky sedangkan yang bertuliskan nama Pak Biantra disimpannya. "Pak Tony tolong simpan amplop ini. Nanti diberikan langsung kepada nyonya atau pengacaranya." Pak Tony mengangguk mengerti. Kemudian mereka meninggalkan rumah.
Setelah tiba di apartemen, Jekob pesan makan siang untuk mereka berempat sebelum mengantar Recky ke Bandara. Sambil menunggu makan siang, Sapta iseng bertanya kepada Recky karena terpesona melihat hubungan persaudaraan mereka yang begitu menyenangkan. Padahal ada banyak harta yang bisa membuat mereka berselisih paham seperti yang terjadi dengan keluarga yang lainnya. Apalagi mereka adalah pewaris tunggal keluarga Sunijaya.
"Tuan muda Recky, maaf sebelumnya. Ini hanya penasaran saja melihat cara hidup tuan muda dan boss. Apakah tidak pernah ada rasa iri terhadap boss?" Tanya Sapta ragu-ragu, tapi nekad bertanya kepada Recky karena tidak berani bertanya kepada boss nya.
"Iri kepada kakak saya? Kalau iri untuk miliki harta sih, tidak. Tapi kalau iri untuk keberadaan kakak, pernah. Tapi itu saat masih kecil." Ucap Recky sambil tersenyum mengingat masa kecilnya.
"Papa mengetahui, saya tidak happy melihat keberhasilan kakak. Lalu Papa bertanya pada saya, 'kenapa tidak happy saat kakak menang atau berprestasi?' Saya cerita, alasan ketidak happyanku." Ucap Recky tetap tersenyum.
"Papa katakan, 'kenapa iri terhadap kakakmu? Bila sudah besar, kau akan seperti kakakmu. Sama tampannya, karena kalian berdua putraku. Kalau soal prestasi, kenapa tidak bertanya pada kakakmu? Kakakku pasti akan membantumu. Jika kau berusaha seperti kakakmu, kau akan sama berprestasinya. Bahkan mungkin bisa lebih dari kakakmu.' Itu teguran Papa yang pertama untuk saya." Recky bercerita sambil mengenang yang dikatakan Papanya.
"Saya mengikuti yang dikatakan Papa lalu belajar bersama kakak. Akhirnya saya bisa berprestasi bahkan bisa lebih dari kakak. Kakak juara lomba nyanyi diusia 10 tahun, aku juara di usia 7 tahun. Jadi tidak usah iri, Pak Sapta. Tempelin kakak saja seperti perangko. Hahaha..." Ucap Recky lalu tertawa.
__ADS_1
"Kalau soal siapa yang lebih berhak untuk memiliki warisan keluarga, Papa suka ingatkan. Tidak usah memikirkan apalagi menuntut hak, siapa yang lebih berhak atas semua ini. Jika memang itu milikmu, kau akan memilikinya." Ucap Recky mengingat yang dikatakan Papanya, soal warisan. Aaric menepuk pundak Recky pelan dengan sayang, karena masih ingat pesan Papa mereka.
"Aku baru tau, kau iri soal tampang dan prestasiku. Aku malah iri melihatmu, bisa disukai banyak gadis. Kecil-kecil sudah digandulin gadis-gadis. Coba Pak Jekob dan Pak Sapta lihat dia sekarang. Apa tidak tampan?" Jekob dan Sapta jadi tertawa melihat cara Aaric menunjuk wajah Recky dengan tangannya dan Recky meletakan jari telunjuk dan jempol di dagunya.
"Dalam kondisi keluarga kami seperti ini, sangat berbahaya jika ada rasa iri. Dengan banyaknya harta yang dimiliki keluarga Sunijaya, karena ibu kami anak tunggal, kami bisa bermusuhan. Kalian lihat sekarang, jangankan harta dari keluarga Sunijaya, dari orang tua sendiri bisa membuat kami berebutan. Jika berpikir, ini haknya anak tertua, atau hak anak bungsu yang disayang, didorong iri hati, lengkap. Apalagi ada yang meniup telinga, siapa yang lebih berhak." Ucap Aaric serius.
"Saya akan cerita satu hal yang membuat kami bisa seperti sekarang. Papa membawa kami ke tempat penjualan ikan dan menunjuk orang yang sedang jual kepiting hidup. Papa katakan, 'lihat kepiting-kepiting itu. Kenapa tidak bisa keluar dari ember, padahal sudah sampai di mulut ember.' Kami melihat, tapi tidak mengerti."
"Kami yang tadinya tidak mengerti, jadi mengerti saat di mobil Papa katakan. 'Tidak ada kepiting yang bisa keluar dari ember, karena kepiting saling menarik satu dengan yang lain untuk menjatuhkan kebawah. Begitupun dengan kalian berdua, jika tidak saling mendukung, kalian tidak bisa naik ke tempat tinggi. Tidak bisa menjadi seseorang yang berprestasi. Kalian akan tetap berada dalam ember iri hati, sambil menanti warisan untuk diperebutkan." Ucap Aaric sambil mengingat Papanya.
"Jadilah kami seperti sekarang, Pak Sapta. Tidak perlu iri dengan keberhasilan seseorang, apalagi saudara sendiri. Walapun saya tidak memiliki Jet pribadi, tapi saya bisa menikmatinya karena kak Aaric. Jadi apa gunanya iri kepada kakak saya? Saya tidak memilikinya, tapi bisa menikmatinya. Ada orang bisa memiliki banyak harta, tetapi tidak bisa menikmatinya. Itu percuma..." Ucap Recky sambil tersenyum, tipis.
"Iyaa... Masing-masing orang memiliki garis tangan yang berbeda. Kami tidak pernah meminta untuk lahir di keluarga seperti ini. Mungkin harta melimpah, tetapi permasalahan juga tidak kalah melimpahnya." Ucap Aaric sambil memikirkan persoalan keluarganya.
"Kalian juga, jangan iri satu dengan yang lain. Masing-masing memiliki posisi yang berbeda, karena kemampuan kalian memang berbeda. Apa yang dilakukan Pak Jekob belum tentu bisa dilakukan Pak Sapta, begitupun sebaliknya. Sekarang kalian bisa memiliki bawahan yang banyak, karena kalian memiliki kemampuan yang luar biasa."
"Jangan iri atau terganggu dengan ucapan seseorang, siapa yang lebih dekat dengan saya. Kalian berdua orang terdekat selain adik dan Papa saya. Jadi jangan iri seorang terhadap yang lain. Itu akan merusak hati dan karier kalian." Aaric berkata serius, untuk menguatkan orang kepercayaannya agar tetap percaya diri dan setia padanya.
__ADS_1
...~●○♡○●~...