
~•Happy Reading•~
Melihat siapa yang datang dan menegur mereka, Ichad berdiri dan menarik tangan pacarnya menjauh dari Akri, Carren dan Rosna dengan rahang yang mengeras. Dia terkejut dan benar-benar malu terhadap ketiga rekannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Ichad, setelah berada di tempat yang agak sepi dan jauh dari restoran. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan pacarnya, karena kantor tempat bekerjanya agak jauh dari daerah ini. Tadi dia sudah kirim pesan, akan pergi bekerja.
"Kau yang belum jawab pertanyaanku, malah balik bertanya. Apa yang kau lakukan di sini? Katanya sedang pergi kerja, malah bersenang-senang di sini dengan perempuan lain." Pacar Ichad tidak menurunkan emosi dan suaranya. Dia telah melihat Ichad dan rekan-rekannya saat masuk ke restoran dari restoran tempatnya makan.
Mendengar ucapan pacarnya, Ichad yang sudah emosi, naik level emosinya. "Bukankah kau juga bekerja? Apa kau tidak pernah istirahat makan siang? Kau bilang makan siang dengan perempuan? Apakah aku hanya makan siang berdua dengan perempuan?" Ichad bertanya beruntun melihat pacarnya yang telah menuduhnya secara sepihak.
"Mereka adalah rekan kerjaku. Kau telah mempermalukanku di depan rekan kerja yang selama ini, memanggilku kakak. Kau arti sebutan itu bagiku? Selain saudara, mereka menghormatiku." Ichad mengatakan semua itu dengan geram dan marah yang sudah meluap.
"Jangan banyak alasan. Sudah ketangkap basah, tapi masih mau mengelak. Berpacaran, tapi bilang rekan kerja. Kalian sedang makan berpasang-pasangan, bukan?" Pacar Ichad tetap ngotot dan menuduh. Hal itu membuat Ichad habis kesabarannya.
"Selama ini, aku kira kau bisa mendukung pekerjaanku sehingga berpikir untuk berpacaran secara serius denganmu. Ternyata kau hanya perempuan yang berpikiran cetek. Lebih baik kami yang bekerja sebagai kuli daripada kau yang katanya kerja dikantor, tapi pikiranmu lebih rendah dari orang yang sehari-hari bergumul dengan lumpur di sawah." Ucap Ichad, sambil mendekati wajahnya kepada pacarnya dengan amarah yang meluap.
"Kau yang kerjanya tidak menentu, tapi laganya seperti orang berduit dengan ajak makan di restoran. Mau nunjukin apa untuk perempuan itu? Kau dari keluarga mampu atau punya pekerjaan bagus? Hanya bisa mendekor, tapi bergaya seperti orang kantoran." Pacarnya Ichad tidak mundur, malah makin berkata kasar dan cendrung menghina.
"Terima kasih, Tuhan. Kau telah menunjukan watak aslinya, sebelum aku mengambil keputusan. Silahkan cari lelaki kantoran, yang kerjanya menentu. Mungkin dia bisa menerima perilakumu yang tidak tau etika ini."
"Aku yang kuli ini, merasa jijik melihat perempuan yang tidak tau tata krama. Melampiaskan amarah tidak pada tempatnya. Ini bukan cemburu buta, tetapi buta mata dan buta hati." Ichad melampiaskan rasa marah dan kecewa terhadap orang yang akan dilamar sebagai calon istrinya.
Dengan wajah merah menahan marah dan rahang memgeras, Ichad berbalik dan berjalan meninggalkan pacarnya yang hendak membalas ucapannya.
"Ichad...Richard..." Teriak pacarnya emosi, karena Ichad telah pergi meninggalkannya. Dia lari menyusul Ichad yang sedang berjalan cepat ke restoran, menemui rekan-rekannya.
Saat melihat wajah Ichad yang tidak baik, Akri, Carren dan Rosna tidak bertanya atau berkomentar. Akri hanya mengusap punggung Ichad yang telah duduk kembali untuk menenangkannya. Carren dan Rosna minum juice mereka dengan pelan, tanpa melihat Ichad. Mereka sangat cemas melihat wajah Ichad yang kaku dan memerah.
__ADS_1
"Kau seenaknya meninggalkanku? Lelaki pengangguran yang tidak tau diuntung. Apakah perempuan ini bekerja di kantoran sepertiku? Sehingga kau pergi meninggalkanku?" Ucap pacar Ichad yang kembali masuk restoran menyusul Ichad. Mendengar yang dikatakan pacar Ichad, Carren menatapnya dengan tidak berkedip. Ichad hanya diam, tidak menggubrisnya karena dia sedang mengendalikan emosinya dengan mengepalkan tangan di atas pahanya.
"Kakak. Aku tidak ikut campur urusan Kakak berdua, ya. Tetapi Kakak harus lihat tempat kalau mau ribut. Ini tempat umum dan Kak Ichad sudah seperti Kakak kami, jadi kalau bicara yang sopan padanya. Kakak tidak malu dilihat oleh semua orang itu?" Akri menunjuk ke arah orang-orang dalam restoran yang sedang melihat mereka.
Tangannya terus mengelus punggung Ichad, untuk menenangkannya. Dia melihat kepalan tangan Ichad yang sudah memutih, karena menahan marah dan geram. Apalagi saat mendengar ucapan pacarnya terhadap Carren.
"Iya, Kak Akri benar. Jangan karena Kak Ichad baik hati lalu boleh suka-suka terhadapnya. Yang keterlaluan itu anda, bukan Kak Ichad. Anda sudah mempermalukan Kak Ichad di depan boss kami." Ucap Rosna, sontak berdiri berhadapan dengan pacar Ichad, karena tidak terima Carren dibawa-bawa.
"Kenapa saya ikut marah dan tidak terima? Karena anda bermulut terasi, telah merusak kebahagian kami dihari pertama bekerja." Rosna yang sudah emosi, tidak bisa menahan ucapannya tetap berdiri berhadapan dengan pacar Ichad dengan tangan mengepal.
"Jadi kalian benar teman kerja Ichad?" Tanyanya dengan suara mulai pelan, menyadari mungkin dia telah keliru menilai saat mendengar apa yang dikatakan Akri dan Rosna.
"Kalau bukan teman kerja, apa? Kami selingkuhan Kak Ichad? Memang situ siapanya Kak Ichad? Baru jadi pacar, lagunya sudah melebihi istri." Rosna berucap sambil melihat pacar Ichad dengan marah. Pacarnya Ichad jadi tertegun.
"Ros dan Akri, tidak usah melayani orang yang sumbuhnya pendek. Mari selesaikan minum kalian, lalu teruskan kerjaan kita." Akhirnya Ichad bersuara, setelah menguasai emosinya. Ucapan Rosna mampu menurunkan tensi amarahnya.
"Apakah anda bisa lihat semua catatan kami di atas meja ini? Apakah kami berpacaran sambil melukis cara pacaran?" Carren berucap sambil menunjuk kertas di atas meja, tetapi terus menatap pacar Ichad.
"Anda sebagai pekerja kantoran tetapi tidak tau, banyak pengusaha berbicara dan melobi bisnisnya di atas meja makan? Anda belajar dulu yang banyak, baru bisa menilai orang lain." Carren tidak terima pacar Ichad menghina pekerjaan mereka yang dianggap lebih rendah dari bekerja di kantor.
"Ini saya bagikan sedikit untuk anda, mungkin bisa menolong anda untuk belajar menghargai orang lain. Jadi jangan hanya buka mata lebar-lebar, tetapi telinga anda juga dibuka yang lebar."
"Kami sedang bekerja diselah makan siang, karena kami sedang dikejar waktu untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Anda bisa makan siang dengan santai dan tenang, tetapi kami harus berpikir dan berdiskusi sambil makan siang."
"Saat ini, kecakapan dan kecekatan kami bekerja sedang diuji oleh client. Jadi tolong tinggalkan kami, supaya kami bisa bekerja." Ucap Carren sambil mengibas tangannya, seakan mengusir pacarnya Ichad.
"Silahkan nikmati makan siang anda, dan biarkan Ichad makan dan bekerja dengan tenang, karena kami sangat membutuhkan ketenangannya untuk menyelesaikan pekerjaan ini." Lanjut Carren dengan wajah yang serius, menunjukan dia pimpinan mareka.
__ADS_1
"Aku minta maaf untuk gangguan ini, Bu." Ucap Ichad, menanggapi ucapan Carren dan Rosna yang telah mengatakan Carren adalah boss mereka.
"Tidak mengapa. Tolong segera selesaikan, agar tidak mengganggu pekerjaan yang sudah menanti konsentrasi kita. Ini tolong periksa desain yang sudah dibuat, mungkin ada yang perlu dikoreksi atau ditambahkan." Carren sengaja menunjukan, bahwa Ichad bukan pengangguran. Dia mengabaikan pacar Ichad yang masih berdiri tertegun.
"Sayang, ngapain kau kesini. Aku dari toilet dan teman-teman bilang kau berjalan ke arah sini." Ucap seorang pria yang tiba-tiba masuk ke restotan, sambil memdekati pacar Ichad.
Kembali keempat orang yang duduk di meja makan melihat ke arah suara pria yang baru masuk ke restoran dengan terheran-heran. Wajah pacar Ichad langsung memerah dan salah tingkah mendengar pria tersebut memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Selamat siang, Pak. Bapak mencari siapa?" Tanya Rosna kepada pria yang usianya lebih tua dari mereka. Dia tidak bisa diam dan mau menegaskan siapa sebenarnya pacar Ichad.
"Ooh, tidak mencari lagi. Ini sudah ketemu, pacar saya." Ucap pria tersebut, sambil melingkar tangannya ke pinggang pacar Ichad. Hal itu membuat mereka berempat dan juga beberapa orang yang duduk dengan mereka melongo seakan tidak percaya.
"Oooh... Silahkan dibawa pacarnya, Pak. Jangan sampai dia menjadi garam dan meleleh di sini, tidak ada yang bisa membersihkannya." Carren berdiri dan mempersilahkan pria tersebut membawa pacarnya Ichad.
Carren duduk terhenyak sambil membuang nafasnya dengan berat setelah mereka keluar meninggalkan restoran. Suatu kejadian yang menguras tenaga dan emosi. Dia melihat ke arah Ichad yang hanya terdiam.
"Pantesan Kak Ichad meminta kita makan siang di Mall ini. Ternyata Kak Ichad mau ditunjukan sesuatu yang sangat luar biasa. Bersyukurlah, Kak Ichad." Ucap Carren, sambil menepuk pelan tangan Ichad.
"Iyaa, yaa... Itu tadi seperti, durian yang sudah disembunyikan serapih mungkin, tetapi kecium juga." Akri berucap, sambil terus mengelus punggung Ichad untuk menghiburnya.
"Tapi aku sedang berpikir, niiih. Kenapa orang yang berbuat salah, galaknya level akut, yaa." Ucap Rosna, sambil meletakan jari di dagunya.🤔
"Ngga usah pikirin itu. Niiih... yang dipikirin dan catat nanti lupa." Akri mencoel tangan Rosna, lalu menunjuk kertas di atas meja.
"Iya, Kak Akri. Aku masih kesal sama orangnya. Mau putus sama Kak Ichad saja, pake drama." Rosna berbicara sambil mengambil kertas di atas meja.
"Percuma kau kesal. Orangnya uda pergi, nooo...nooo." Akri berbicara sambil menunjuk dengan wajahnya ke arah pintu keluar. Ichad jadi tersenyum melihat tingkah Akri dan Rosna. Carren ikut tersenyum dan bersyukur, melihat Ichad sudah bisa tersenyum.
__ADS_1
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡