
...~•Happy Reading•~...
Aaric tersenyum senang, mendengar yang dikatakan Carren yang tidak lagi menahan yang ada di hatinya. "Kalau ngga ada kau di sini, mungkin aku akan sangat lama tinggal di sana. Jadi tenang saja, aku akan berusaha untuk cepat kembali, supaya jangan kelamaan rindunya." Ucap Aaric sambil tersenyum, begitu juga dengan Carren.
Memang dia sebenarnya tinggal di sana, baik rumah dan semua miliknya yang berharga disimpan di sana. Dia ke Jakarta hanya untuk keperluan bisnis atau mengurus perusahaannya, jika ada masalah. Oleh sebab itu, untuk sekarang ini jika ke Swiss, Aaric bisa dibilang pulang bukan pergi.
Aaric kembali memeluk Carren sebelum dia naik ke mobil. "Cepatlah pulang ke rumah. Jangan lembur bersama karyawanmu lagi, jika tidak ingin aku membawa karyawan baru ke kantormu." Ucap Aaric pelan, sambil mengelus punggung Carren dengan sayang. Carren mengangguk mengerti dalam pelukan Aaric.
Setelah Carren naik ke mobil dan meninggalkan lobby, Aaric segera kembali ke unit apartemen untuk menemui Papanya. Dia akan berbicara dengan Pak Biantra sebelum Jekob tiba di apartemen. Saat sudah dalam apartemen, dia menuju kamarnya untuk mengganti celana panjang dengan celana pendek, lalu mencari Pak Biantra.
"Papa, sudah istirahat?" Tanya Aaric sambil mengetuk pintu kamar Pak Biantra, setelah tidak melihat Papanya di ruang makan, dapur dan ruang tamu.
"Belum. Sebentar lagi baru Papa istirahat. Papa hanya masuk kamar untuk simpan laptop. Ada apa?" Tanya Pak Biantra saat melihat Aaric menatapnya dengan serius.
"Semua dokumen perjalanan Papa ada dibawa?" Tanya Aaric, mengingat dia lupa mengatakan itu saat menjemput Pak Biantra di Malang, agar membawa semua dokumen pribadinya.
__ADS_1
"Iya, semuanya Papa bawa." Ucap Pak Biantra lalu menutup pintu kamar dan berdiri di depan pintu bersama Aaric. "Baik. Kalau begitu Papa tolong ambil dokumennya, aku tunggu di ruang tamu. Ada yang mau aku bicarakan dengan Papa." Pak Biantra mengangguk lalu masuk kembali ke kamar untuk mengambil domumen yang diminta. Beliau mengikuti permintaan Aaric tanpa banyak tanya.
Setelah keluar kamar, Pak Biantra menyerahkan semua dokumen pribadinya, termasuk passport kepada Aaric. Melihat itu, Aaric menarik nafas lega. Semua dokumen perjalanan Papanya lengkap, jadi mereka bisa segera berangkat.
"Papa, satu atau dua hari ke depan kita berdua akan berangkat ke Swiss. Aku akan membawa Papa untuk periksa kesehatan, sekalian istirahat sejenak di sana." Ucap Aaric serius sambil memegang dokumen Pak Biantra di tangannya.
"Aaric, Papa sehat-sehat saja. Papa mungkin belakangan ini agak cape dan banyak yang dipikirkan, jadi badan agak turun. Tetapi Papa tidak merasa ada yang sakit. Sekarang ini, Papa hanya ingin bertemu dengan adikmu. Apakah adikmu ada di sana?" Tanya Pak Biantra, berharap. Jika Recky ada di sana, beliau akan ikut dengan Aaric tanpa perlu diminta. Tetapi jika Recky ada di Jakarta, beliau tetap mau tinggal di Jakarta.
"Setelah hasil pemeriksaan dokter, bahwa Papa sehat, Papa akan bertemu dengan Recky. Papa bisa pegang janjiku. Tetapi sebelum aku membawa Papa ke rumah sakit untuk periksa kondisi kesehatan Papa, sampai kapanpun aku tidak akan mengijinkan Papa bertemu dengan Recky." Ucap Aaric serius dan tegas.
"Papa ingin bertemu dengan dia dalam kondisi Papa seperti ini? Papa ingin dia merasa bersalah karena telah mengambil keputusan yang salah? Dia sudah menikah dan meninggalkan istrinya, walaupun itu dipaksa oleh para begundal itu. Dia akan berpikir, perbuatannyalah yang membuat Papa seperti ini." Aaric berkata beruntun, agar Pak Biantra mau mengikuti permintaannya dengan suka rela.
"Papa lebih mengerti dia jika melihat kondisi Papa seperti ini. Mungkin dia tidak lakukan sepertiku, dia tidak akan perduli dengan iblis-iblis itu. Dia akan membawa Papa ke salah satu rumah sakit di Jakarta ini dan Papa sudah tau ujungnya." Aaric tetap mendesak Papanya dengan mengatakan tentang Recky. Karena menurutnya, tanpa melihat kondisi Pak Biantra seperti sekarang saja, Recky sudah sangat khawatir dan sampai kebawa mimpi.
"Aku mau membawa Papa untuk periksa kesehatan di sana, untuk memghindari bertemu dengan iblis-iblis itu. Nanti kalau Papa benar-benar sehat dan sudah bertemu Recky, baru kita berhadapan dengan mereka. Jadi sementara ini, Papa percaya padaku, dengar kata-kataku dan mengikutinya." Ucap Aaric lagi.
__ADS_1
"Papa mau aku berlaku tidak perduli dengan membawa Papa ke rumah sakit di sini dan Papa hadapi iblis-iblis itu sendiri? Jika demikian, aku tidak akan ikut campur. Aku akan membuat Recky tidak mengetahuinya, sehingga dia tidak akan datang menolong Papa." Aaric pergunakan segala cara, agar Pak Biantra mau ikut bersamanya dengan baik-baik.
"Atau Papa mau melihat, besok aku akan menikah dengan Carren lalu membawa dia dan Mamanya pergi dari sini? Aku akan membiarkan Papa bergulat sendiri lagi seperti dulu dengan iblis-iblis itu." Aaric berbicara serius, karena melihat Papanya masih ragu-ragu dalam mengambil keputusan.
"Aaric, Papa akan mengikuti permintaanmu. Tapi biarkan Papa melihat adikmu atau berbicara dengannya sekali saja. Papa sangat mengkhawatirkan kondisi adikmu. Bukan Papa tidak percaya semua yang kau katakan bahwa dia baik-baik saja, tapi Papa sangat rindu melihat atau mendengar suaranya."
"Selama ini, walaupun dia tinggal lama di luar sana, tetapi hampir setiap hari dia mengirim pesan atau menghubungi Papa untuk saling menanyakan kabar. Tapi sampai sekarang tidak ada kabar tentangnya. Jadi Papa harap kau bisa mengerti, jika Papa terus kepikiran tentang dia." Ucap Pak Biantra pelan dengan mata berembun, berharap Aaric tidak beranggapan Papanya lebih sayang adiknya.
Pak Biantra terus kepikiran, karena belum tahu kondisi anak bungsunya, sebagaimana dulu beliau kepikiran karena tidak mengetahui kondisi putra tertuanya, sampai harus dirawat di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama.
Mendengar yang dikatakan Papanya, Aaric mengingat apa yang dikatakan Recky. Papanya pernah dirawat di rumah sakit karena kepergiannya dan tidak ada kabar darinya. Aaric mulai melunak dan berpikir cepat untuk bisa membawa Papanya. Kondisi yang akan terjadi beberapa waktu ke depan tidak bisa diprediksi.
"Baik. Papa akan mendengar suaranya, tapi Papa berjanji tidak berbicara apapun saat dia berbicara. Jika aku mendengar Papa berkata satu kata saja, aku akan memutuskan pembicaraan." Ucap Aaric tegas sambil melihat Papanya dengan serius.
"Iya, Aaric. Papa berjanji tidak akan bersuara. Terima kasih." Pak Biantra berbicara sambil mengangguk kuat untuk meyakinkan Aaric bahwa akan melakukan permintaannya. Bagi Pak Biantra, yang penting mendengar suara putra bungsunya itu sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
Melihat keseriusan Papanya, Aaric memgambil ponselnya lalu menghubungi Recky. Dia mengaktifkan spiker agar Pak Biantra bisa mendengar suara Recky dan mengetahui dia baik-baik saja seperti yang dikatakan Aaric kepadanya.
...~●○♡○●~...