
~•Happy Reading•~
Keesokan harinya, Carren masih tidur nyenyak dibangunkan oleh guncangan di lengannya. Dia membuka matanya perlahan dan melihat Mamanya sedang berdiri di samping tempat tidurnya.
"Ayooo, bangun Arra. Temani Mama jalan pagi. Mumpung ngga hujan dan belum terlalu siang." Ucap Bu Nancy membangunkan putrinya yang masih tidur nyenyak. Carren perlahan mengumpulkan kesadarannya, lalu bangun duduk di tepi tempat tidur.
Setelah seluruh nyawanya terkumpul, Carren melihat Mamanya yang keluar meninggalkan kamarnya. Dia tunduk bersyukur bisa bangun pagi dan turun keluar kamar mengikuti Mamanya.
"Mama tadi malam ngga bilang kalau mau jalan pagi hari ini, biar Arra pasang alaram." Ucap Carren, setelah melihat Mamanya sedang mengenakan sepatu kets.
"Mama ngga rencana mau jalan pagi hari ini. Tapi tadi kaget bangun dan ngga bisa tidur lagi, jadi Mama teringat pembicaraan kita tadi malam untuk jalan pagi." Ucap Bu Nancy menjelaskan, kenapa tiba-tiba membangunkannya.
"Ooh, kalau begitu Mama tunggu, ya. Arra mau cuci muka dan sikat gigi dulu. Jangan sampai iler bikin pulau di pipiku." Ucap Carren dan buru-buru masuk ke kamar mandi dengan tersenyum.
Bu Nancy menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum mendengar ucapan putrinya. Kemudian beliau mengambil gelas dan menuangkan air putih hangat untuknya dan Carren.
Setelah keluar dari kamar mandi, Carren mengambil sepatu kets dan mengenakannya. Dia tidak mengganti baju lagi, karena sedang mengenakan kaos dan celana pendek.
"Arra, minum air itu dulu. Jangan sampai kau lapar, saat jalan. Ini akhir pekan, bisa saja bertemu dengan orang di dalam komplek dan ajak ngobrol. Jadi bisa lama di jalan." Ucap Bu Nancy, mengingat orang komplek suka jalan pagi.
"Iya, Ma. Semoga lebih lama jalan kaki daripada ngobrolnya. Mama jangan layani obrolan ibu-ibu di komplek, ya. Bisa-bisa kita terlambat sarapan." Ucap Carren, sambil mengunci pagar rumah. Bu Nancy mengangguk sambil tersenyum melihat wajah putrinya yang serius.
Saat sudah berada di dalam komplek, mereka bersyukur. Banyak pasangan suami istri yang jalan pagi, jadi peluang untuk ngobrol sangat kecil. Sangat berbeda jika hanya ibu-ibu yang jalan pagi sendirian.
"Astaga. Mama buru-buru, sampai Arra lupa bawa uang untuk beli sarapan. Di ujung jalan itu ada yang jual nasi pecel enak." Ucap Carren, sambil menunjuk ke arah ujung jalan.
"Tenang saja. Mama sudah bawa uang, karena mau mampir ke tukang sayur sekalian." Ucap Bu Nancy, sambil menepuk saku celananya. Carren tersenyum senang mengetahui Mamanya telah membawa uang.
"Mama jalan saja, ya. Arra lari sebentar dan akan kembali ke tempat Mama." Ucap Carren, saat melihat ada orang yang lari melewati mereka. Bu Nancy mengangguk mengiyakan.
Setelah merasa sudah cukup lari, Carren berlari kembali menemui Mamanya yang sedang jalan menuju tempat orang jualan jajanan pasar dan juga nasi pecel.
__ADS_1
"Mama mau jalan pagi atau mau cari sarapan? Mama jalannya hanya segitu doang?" Tanya Carren, melihat Mamanya tidak jalan menyusulnya tetapi belok ke tempat orang jualan.
"Mama beli nasi pecel dulu, nanti kau kembali sudah kehabisan. Ini akhir pekan, orang komplek banyak di rumah dan juga banyak yang jalan pagi. Bisa-bisa tinggal daun pisang, saat kau kembali." Ucap Bu Nancy sambil terus berjalan.
"Kalau begitu Arra lari satu kali lagi, ya. Mama tunggu di situ, atau Mama ikut ke arah jalan itu." Ucap Carren, sambil menunjuk jalan yang akan dilaluinya. Bu Nancy memgangguk, lalu Carren kembali berlari lagi.
Setelah matahari mulai bersinar terang, mereka kembali jalan pulang ke rumah. "Ma, Arra duluan pulang ke rumah, ya. Biar bisa buat minum untuk sarapan dan mau mandi. Ini sudah basah, ngga enak dilihat ibu-ibu di tempat tukang sayur." Ucap Carren, saat melihat Mamanya mau langsung ke tempat tukang sayur. Bu Nancy mengangguk mengerti, lalu memberikan kantong plastik berisi nasi pecel untuk Carren bawa pulang.
Setelah mandi, Carren menyiapkan sarapan di meja makan sambil menunggu Mamanya pulang dari tempat tukang sayur. "Arra, kalau sudah lapar, makan saja duluan. Mama mau mandi dulu." Ucap Bu Nancy yang baru pulang dan melihat Carren sedang menunggunya di meja makan.
"Arra tunggu Mama selesai mandi, baru sarapan sama-sama saja. Sementara tunggu Mama, Arra bersihin belanjaan Mama." Ucap Carren, sambil mengambil kantong plastik dari tangan Mamanya. Bu Nancy mengangguk dan buru-buru mengambil handuknya, lalu menuju kamar mandi.
Selesai sarapan, Carren membersihkan semua perangkat sarapan mereka dan memasukan semua belanjaan Mamanya ke kulkas. Karena Mamanya belum bisa masak, masih mau jahit baju yang belum selesai.
"Ma, Arra di kamar, ya. Mau siap-siap untuk pergi ke rumah calon pengantin." Ucap Carren, sambil jalan menuju kamarnya. Bu Nancy mengangguk, mengerti.
Di kamar, Carren memasukan semua keperluan yang akan di bawa ke dalam tas. Saat mengambil ponselnya, Carren teringat untuk mengecek pesannya kepada Parry.
"Sorry, Carren. Tadi malam aku pulang sudah malam, jadi pagi ini baru balas pesanmu." Bunyi balasan pesan Parry.
"Iya, Parry. Ngga papa. Makasih, ya." Balasan pesan Carren, dan meletakan ponselnya di tempat tidur dengan hati lega.
Carren merasa tidak enak hati kalau pesannya belum dibaca oleh Parry. Karena dia merasa sudah dipinjamkan mobil, tetapi tidak berterima kasih. Tidak berapa lama dari pesan yang dikirim oleh Carren, Parry tidak membalas pesannya tetapi menelponnya.
📱"Pagi, Carren. Baru bangun?" Tanya Parry, saat Carren merespon panggilannya.
📱"Ngga, Parry. Sudah bangun dari pagi, tapi jalan dulu sama Mama." Ucap Carren menjelaskan, karena mengingat tadi ada misscall dari Parry.
📱"Oooh, pantesan tadi aku telpon, kau ngga terima. Apakah kau sibuk hari ini?" Tanya Parry, karena dia berencana mau berbicara dengan Carren mengenai saran Papinya.
📱"Iyaa, lumayan. Ini sedang siap-siap, karena ada janji mau bertemu dengan orang." Ucap Carren, menjelaskan. Karena dia khawatir Parry ada rencana tiba-tiba dan mau mengajaknya.
__ADS_1
📱"Oooh, aku kira kau ngga ada acara hari ini. Aku mau mengajakmu bertemu, karena ada yang mau aku bicarakan denganmu." Ucap Parry, menjelaskan.
📱"Yaaa... Maaf ya, Parry. Aku sudah ada janji, dan orangnya bisanya hari ini." Ucap Carren pelan, merasa tidak enak hati terhadap Parry.
📱"Ngga papa, Carren. Kalau begitu nanti setelah aku selesai ujian saja baru bertemu untuk membicarakannya. Karena hari ini kau ngga bisa bertemu, nanti siang aku akan ikut orang tuaku ke Singa." Ucap Parry. Tadinya dia tidak mau ikut orang tuanya ke Singapura, karena berencana mau bertemu Carren.
📱"Ooh, iya Parry. Selamat berlibur dan konsentrasi untuk ujian saja dulu. Kalau untuk bicara denganku, nanti-nanti saja, ya. Aku ada sibuk sedikit dengan Mama." Ucap Carren, mencoba menjelaskan agar Parry bisa mengerti.
📱"Ok. Kau mau aku bawakan ole-ole apa?" Tanya Parry, karena dia tidak tahu apa yang disukai oleh Carren. Selama ini, Carren tidak pernah mau dia membeli sesuatu untuknya.
📱"Mmmm, apa ya. Kepala singa boleh, deh. Hehehe... Ngga usah, nikmati liburannya saja. Pulangnya kau mau ujian, kan? Pergunakan waktu liburnya untuk ringankan isi kepala." Ucap Carren, sambil tersenyum sendiri mendengar ucapannya. Yang dikatakan Recky tentang isi kepala, jadi menularinya.
📱"Kau ingin kepalaku terbang dibawa angin?" Tanya Parry, tetapi tersenyum.
📱"Astaga, Parry. Badanmu yang seperti itu, ngga bisa menahan kepalamu ketika ditiup angin? Sudah sana, katanya mau pergi. Urus dulu perjalanannya." Ucap Carren, mengingatkan.
📱"Sudah, Carren. Kau ngga dengar aku tadi ada ketik? Aku sudah kirim pesan ke Mami, bahwa aku ikut. Jadi nanti diurus sama Mami." Ucap Parry, karena masih ingin berlama-lama berbicara dengan Carren.
📱"Oooh iya. Aku lupa, kalau kau anak sultan." Ucap Carren pelan. Dia tersadar, mengingat pembicaraannya dengan Recky. Parry juga dari kalangan berbeda dengannya, sama seperti Recky.
📱"Carren, berhenti bicara yang begituan dan buang itu dari pikiranmu. Aku menyesal waktu itu membawa mobil Papi untuk menjemputmu." Ucap Parry, serius. Karena gara-gara mobil itu, Carren kira ada sultan yang nyasar.
📱"Yaa, kenapa kau menyesal? Padahal waktu itu, aku ikut merasakan jadi anak sultan. Hehehe..." Ucap Carren bercanda, karena merasa Parry menanggapi serius ucapannya
Padahal itulah yang dimaksudkan Parry saat membawa mobil Papinya untuk menjemputnya. Karena dia tidak tahu apa yang bisa menyenangkan hati Carren.
📱"Baiklah, aku terima ucapanmu. Kau siap-siap dan hati-hati, ya. C u ..." Ucap Parry, menyadari Carren hendak pergi.
📱"Kau juga hati-hati. C u ..." Ucap Carren, dan Parry mengakhiri pembicaraannya mereka.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡
__ADS_1