Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Pemberian.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Di sisi yang lain ; Carren turun di stasiun Gondangdia seperti yang dimintanya kepada Parry. "Hati-hati. Kalau sudah selesai dan sampai rumah, kabari aku." Ucap Parry, sebelum Carren turun dari mobilnya.


"Iya, makasih. Kau juga hati-hati dan konsent dengan kerjaannya. Makasih juga, untuk ini." Ucap Carren, sambil mengangkat paperbag di tangannya kepada Parry lalu turun. Parry hanya mengangguk, dan terus melihatnya sampai masuk ke dalam stasiun. Kemudian dia kembali ke kantornya.


Carren masuk ke stasiun dan duduk menunggu kereta ke arah Bogor, karena akan bertemu dengan calon pengantin di Tebet. Mereka telah mengirimkan pesan kepada Carren dan memberitahukan tempat pertemuan.


Carren bersyukur, dia tidak mengganti tas saat hendak bertemu dengan Parry. Sehingga semua catatan dan hitungan yang telah dibuatnya masih ada di dalam tas. Sambil menunggu kereta, dia melihat lagi catatan dan hitungannya agar saat bertemu dengan client dia sudah menguasai semua yang disiapkan.


Sesuai waktu dan tempat yang sudah disepakati, Carren bertemu dengan calon pengantin. Mereka telah menunggunya, jadi ketika Carren datang mereka menyampaikan rencana dan konsep acara pernikahan yang mereka inginkan. Carren mencatat semuanya dengan teliti.


Carren juga menyampaikan konsep yang sudah dibuatnya dan juga jenis menu catering yang akan disediakan. Calon pengantin memilih menu prasmanan dan juga beberapa gubukan. Semuanya di catat oleh Caren dan mulai menghitung budget yang dibutuhkan oleh calon pengantin jika mempergunakan catering Hallas, gedung Hirakku, beserta set kursi pengantin dan dekorasinya.


Setelah melihat hitung-hitungan dan budget yang disampaikan oleh Carren, calon pengantin setuju akan memakai jasa Carren. "Bagaimana metode pembayarannya, Mba' Carren?" Tanya calon pengantin pria, karena merasa cocok dengan konsep dan desain dekor serta budget yang ditawarkan Carren.


"Kalau Mas dan Mba' sudah setuju dengan konsep yang ditawarkan dan juga budget yang diperlukan, nanti besok kita bertemu lagi untuk membicarakan kontrak kerjasamanya. Hari ini saya tidak membawa kontrak kerjasama, karena tadi saya sedang di luar jadi langsung ke sini." Carren berkata dengan tenang dan percaya diri.


"Ooh, baik Mba'. Kami minta maaf, mendadak minta bertemu. Karena waktu pernikahan yang mendadak dimajukan." Calon pengantin pria merasa tidak enak hati dengan situasi yang terjadi.


"Iya, ga papa. Kami akan usahakan, membantu semaksimal mungkin. Yang penting, gedungnya sudah ada. Sisanya akan kami kerjakan. Semoga tidak ada perubahan lagi, ya. Karena yang susah itu, mencari gedung sesuai tanggal yang diminta." Ucap Carren, tetap tenang.


Sambil menunggu di stasiun, Carren telah hubungi pihak gedung untuk menanyakan kondisi gedung. Dia bersyukur, gedung masih kosong sesuai dengan tanggal yang diinginkan calon pengantin. Sehingga dia tidak bersusah payah mencari gedung kosong pengganti sesusi tanggal yang diminta.


"Baik, Mba' Carren. Terima kasih telah mengusahakan gedung Hirakku untuk kami. Besok kita bertemu dan makan siang di sini lagi, ya." Calon pengantin wanita berucap dengan wajah berseri.


"Baik. Kalau begitu, sampai bertemu besok." Ucap Carren lalu menyalami calon pengantin dan meninggalkan mereka. Karena ada banyak hal yang harus dikerjakan sebelum pertemuan berikutnya.

__ADS_1


.***.


Carren segera ke stasiun untuk mengejar waktu sebelum padatnya penumpang pulang kantor. Dia ingin cepat sampai rumah, karena ada yang harus dikerjakan dan dibicarakan dengan Mamanya.


"Sore Ma. Arra pulang." Ucap Carren saat masuk ke rumah dan melihat Mamanya sedang jahit di ruang kerjanya.


"Sore, sayang. Apakah semuanya baik-baik saja?" Tanya Bu Nancy, saat melihat wajah ceria putrinya. Setelah Carren pergi menemui Parry, Bu Nancy hanya bisa berdoa dalam hati. Semoga Carren dapat berbicara dengan baik, agar tidak terjadi selisih paham.


"Iya, Ma. Semuanya baik, nanti setelah mandi Arra mau bicara dengan Mama. Karena ada yang mau Arra putuskan dan butuh pendapat Mama." Carren masuk ke kamar untuk meletakan tas dan paperbag pemberian Parry lalu bersyukur.


Kemudian dia keluar mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Setelah mandi, Carren melihat Mamanya mulai memasak untuk makan malam mereka. Dia ikut membantu Mamanya, agar bisa cepat selesai dan makan malam.


"Ma, tadi Arra sudah bertemu dengan calon pengantinnya dan sudah membicarakan semua yang terkait dengan acara pernikahan nanti. Konsep acara, dekor dan catering sudah mereka pilih dan setuju. Jadi besok Arra akan bertemu dengan mereka lagi." Carren menceritakan semua yang dialami, saat telah selesai makan dan masih duduk di meja makan bersama Mamanya.


"Ooh, jadi Arra tidak jadi bertemu dengan Parry?" Tanya Bu Nancy mengingat telpon putrinya tadi malam dengan Parry dan tidak membicarakannya.


"Astaga, kenapa mereka memajukan tanggal pernikahan? Bukankah sebelumnya juga sudah mepet waktunya untuk ditangani kalian?" Tanya Bu Nancy terkejut. Melihat Carren tidak membicarakan Parry, Bu Nancy merasa lega karena berpikir tidak terjadi sesuatu.


"Iya, Ma. Sekarang makin mepet dan besok kami sudah harus mulai melakukan persiapan. Mereka percepat tanggalnya, karena calon pengantin pria akan pindah tugas ke luar kota. Jadi biar saat pindah, mereka sudah menikah." Carren menjawab dan menjelaskan yang terjadi.


"Apakah gedung masih bisa mereka dapatkan sesuai dengan tanggal yang mereka inginkan?" Tanya Bu Nancy, saat mengingat Carren juga yang akan mendekor gedungnya.


"Bisa, Ma. Tadi Arra sudah konfimasi dan bisa dapat gedung Hirakku di tanggal yang mereka inginkan. Jadi besok sekalian Arra akan membayar uang muka untuk semuanya, setelah calon pengantin membayar uang muka." Jawab Carren tenang, untuk meyakinkan Mamanya.


Mendengar yang dijelaskan putrinya, Bu Nancy mengerti dan berpikir cepat. "Kalau begitu, tunggu Mama di sini." Ucap Bu Nancy dan segera berdiri menuju ke kamarnya, lalu kembali duduk di depan putrinya di meja makan.


"Ini kau pegang kartunya untuk tambahan usahamu. Walaupun tidak seberapa, itu mungkin bisa tambah-tambah untuk kerjaan besok." Ucap Bu Nancy, sambil meletakan sebuah kartu ATM di depan Carren.

__ADS_1


"Ngga usah, Ma. Ini untuk keperluan Mama saja. Arra masih ada tabungan, nanti yang lain, Arra usahakan." Carren menolak, sambil mengembalikan kartu ATM Mamanya.


"Ngga usah dikembalikan. Arra pegang saja dulu, mungkin akan dibutuhkan nanti." Bu Nancy kembali mendorong kartu ATM nya ke arah Carren.


"Baik, Ma. Arah akan pegang ini untuk berjaga-jaga saja. Nanti Arra minta ijin, jika akan digunakan." Ucap Carren pelan, lalu memegang kartunya dengan mata berembun, terharu.


"Iya, besok Arra bisa cek saldonya. Passwordnya tanggal lahir Papa." Ucap Bu Nancy, lalu berdiri ke ruang kerjanya. Beliau merasa lega, bisa sedikit membantu putrinya.


"Makasih, Ma. Arra mau buat kontrak kerja di kamar, ya. Mama jangan tidur terlalu larut." Ucap Carren, lalu masuk ke kamarnya saat melihat Mamanya menggangguk mengiyakan.


Carren mengambil laptop dan mulai bekerja mempersiapkan surat kontrak kerja. Karena dia akan membuatnya sebagai surat kontrak kerja yang dapat dipakai untuk pekerjaan selanjutnya.


Setelah berbicara dengan calon pengantin, dia berpikir untuk membuat kontrak kerja sebagai standart kerja sama dengan client berikutnya. Carren akan bekerja secara profesional, sehingga semua point perjanjian kerja dia pikirkan dengan baik dan teliti.


Setelah selesai mempersiapkan kontrak kerja, Carren menutup kembali laptopnya. Karena besok semua yang dikerjakan, akan diprint sebelum bertemu dengan calon pengantin.


Saat hendak menyimpan laptopnya, Carren melihat paperbag pemberian Parry. Dia mengambil paperbag tersebut dan melihat isinya. Dia sangat terkejut, ketika mengeluarkan isinya. Ada sebuah kaos seperti yang dipakai oleh Parry, saat bertemu dengannya. Hanya warnanya biru dongker, sedangkan yang dipakai Parry tadi berwarna hitam.


Ada juga sebuah tas bermerek, yang sangat cantik dan mahal. Carren hanya bisa tertegun melihat tas tersebut, karena dia tahu harganya pasti mahal. Dia mengambil laptop dan coba memasukan laptopnya ke dalam tas tersebut. Carren tersenyum, melihat laptopnya bisa masuk dengan leluasa. Dia makin tersenyum membayangkan, tas tersebut akan menjadi tas kerjanya yang sangat wuaaahh.


Dia mengambil ponsel dan mengirim pesan untuk Parry. "Malam, Parry. Maaf, baru kabari. Makasih untuk pemberiannya. Selamat tidur. Tuhan lindungi.🙏🏻😇 "


Carren langsung mematikan ponselnya, dia khawatir Parry akan menghubunginya. Karena dia sudah sangat lelah dan mengantuk.


《○》


***.♡.Mohon maaf para pembaca ; Banyak kegiatan tokoh hari ini yang perlu diceritakan. Jadi belum bisa beranjak ke hari berikutnya. Mohon bersabar, ya. Mkasih.🙏🏻.♡.***

__ADS_1


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2