Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Ada Senyum.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Melihat Carren yang terus mengipasi wajahnya, Aaric hanya menyanyikan satu lagu. Walaupun penyanyi dan pemusik memintanya untuk bernyanyi lagi, Aaric kembali turun dan duduk di mejanya.


"Jekob, tolong pesan minuman untukmu. Saya cukup air mineral." Ucap Aaric saat Jekob telah kembali menyusulnya. Aaric berbicara dengan Jekob, tetapi matanya tidak lepas dari Carren. Sambil menunggu Jekob, Aaric mengirim pesan kepada sopirnya, menanyakan apa yang diperintahkannya. Ketika membaca pesan balasan sopirnya, dia tersenyum.


Jekob kembali bersama pelayan yang membawa dua botol air mineral dan gelas di nampan. setelah dituang oleh pelayan, Aaric langsung meminumnya."Jekob, kau sudah membayar minuman ini? Kalau begitu segera habiskan minumanmu lalu kita keluar." Aaric melanjutkan ucapannya, ketika melihat Jekob mengangguk.


Aaric melihat wanita yang memanggilnya 'beb' terus memperhatikannya, sehingga dia mulai merasa terganggu. Jekob segera menghabiskan air mineralnya, lalu berdiri mengikuti bossnya yang telah berjalan keluar dengan langkah panjangnya.


Carren sengaja mengambil ponselnya di dalam tas agar bisa menunduk, karena merasa diperhatikan. Ketika mengangkat wajahnya, dia tidak melihat Aaric duduk di tempatnya lagi. Hal itu membuatnya sedikit tenang dan berkonsentrasi dengan teman-temannya, terutama Parry.


Dia merasa heran melihat Liana datang sendiri tanpa Recky. Dia melihat Ayunna yang tidak berani menatapnya terang-terangan sejak dia tiba. Carren datang agak terlambat, karena meeting dengan client terlambat selesai. Dia tidak enak kalau tidak datang, karena Parry terus menanyakan kehadirannya. Dia bersyukur, teman-temannya bersikap baik dan ramah kepadanya. Kecuali Ayunna dan Liana seperti biasanya.


Carren tidak mempedulikan mereka berdua, terutama Liana. Baginya, kenapa harus marah padanya. Dia sudah mendapatkan apa yang di inginkan, jadi kenapa masih marah padanya. Apa yang dia ucapkan di ruang ganti saat itu benar, jadi kalau mau marah, marahlah. Carren sudah tidak mau mengingatnya lagi. Dan tidak guna harus menanggapi Ayunna yang tidak pernah habis menyimpan dendam padanya.


"Kenapa pacarmu tidak ikut denganmu? Aku kira dia datang, jadi bisa kenalan sekalian di sini." Tanya Carren, mengabaikan padangan teman-teman yang melihatnya berbicara santai dengan Parry.


"Selain dia bukan dari sekolah kita, dia juga tidak mau bertemu dengan teman-teman kita. Akan ada banyak cerita dan pembicaraan yang tidak berguna. Nanti kita bertemu sendiri saja, saat senggang." Jawab Parry pelan, karena Riri tidak mau ikut dengannya.


"Baiklah. Aku tunggu kabar darimu." Carren berkata dan mengangguk mengerti yang disampaikan Parry. Dia sendiri kalau tidak ingat Parry, tidak ingin datang berkumpul dengan teman-temannya terutama Ayunna.

__ADS_1


Dia kembali memperhatikan Liana yang selalu menghindari bertatapan dengannya. Ada banyak perubahan di wajah dan tubuhnya. Dia terlihat lebih langsing, cendrung kurus. Hal itu membuat hati Carren bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan pernikahannya. Kalau Ayunna, jika bertatapan dengannya langsung melengos atau pura-pura melihat ke tempat lain.


"Carren, kau sibuk sekali akhir-akhir ini?" Tanya Parry yang melihat wajah Carren lebih tirus. Carren tersenyum, lalu mengangguk. "Lumayan sibuk dan cape', karena sedang menanjak. Mungkin nanti kalau sudah di tempat agak rata, mau istirahat sejenak." Jawab Carren mencoba bercanda, agar Parry tidak mengkhawatirkannya.


"Walaupun sesibuk apapun, jaga kesehatanmu. Kalau sudah sakit, apa masih bisa bekerja?" Kata Parry serius. "Siap. Setelah ini, aku akan istirahat sebentar. Mau jalan-jalan dengan Mama, karena jarang bertemu dan bersantai dengannya." Carren menerima saran Parry dengan senang hati. Parry mengangguk mengiyakan yang dikatakan Carren.


"Kau mau makan apa? Biar aku pesan bersamaku." Tanya Parry, saat melihat teman-temannya sudah mulai makan. Mereka asyik berbicara, hingga tidak mendengar teman-teman yang menanyakan mau makan apa.


"Parry, aku minta maaf. Aku tidak ikut makan, ya. Aku mau balik ke kantor, karena yang lain masih bekerja di sana. Aku dari siang di luar, dan langsung ke sini." Carren berharap Parry mengerti dan mengijinkannya.


"Nanti kau pulang pakai apa?" Tanya Parry yang mau mengantarnya pulang. Baginya, yang penting Carren sudah datang.


"Tenang saja, aku bersama sopir, jadi aman. Silahkan teruskan pertemuannya. Kalau ada kesepakatan apa, aku ikut sebagaimana kau ikut." Carren berkata serius. Melihat Carren yang tidak nyaman dengan lain, Parry mengangguk.


Liana sebenarnya mau tanya keberadaan Recky padanya, tetapi takut dan merasa malu. Masa dia menanyakan suaminya kepada wanita lain. 'Melihat sikap Carren, mungkin dia sendiri tidak mengetahui keberadaan Recky.' Pikir Liana.


"Tidak usah mengantarku. Duduk dengan teman-teman dan makan saja. Sopir menungguku." Parry mengangguk lalu duduk kembali. Carren merasa tidak enak, jika Parry melihatmya datang dengan mobil mewah. Entah Parry kenal mobil Recky atau tidak. Oleh sebab itu, dia menghindari pulang bersama lainnya. Bisa saja Liana mengenal mobil Recky.


Setelah berada di luar restoran, Carren menelpon sopir untuk menjemputnya di depan restoran. Melihat mobilnya mendekat, dia sempat menengok ke belakang, karena khawatir ada teman yang keluar. Saat datang, dia tidak memikirkan situasi yang seperti ini. Dia menarik nafas lega saat melihat mobilnya mendekat dan tidak ada taman yang keluar.


Carren langsung membuka pintu, saat mobil berhenti di depannya. Tetapi dia terkejut melihat bukan sopirnya. Dia kembali menutup pintu sambil minta maaf, karena mengira salah buka pintu mobil orang. Tapi dia kembali membuka pintunya, karena dia mengenal gantungan di kaca spion mobil adalah miliknya.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Ini mobil saya?" Tanya Carren ragu-ragu dan wajahmya mulai merona saat melihat siapa di balik kemudi. Aaric mengangguk, sambil tersenyum melihat wajah kebingungan Carren.


"Naiklah, ada yang ngantri di belakang." Ucap Aaric, sambil menunjuk ke belakang dengan wajahnya. Carren yang merasa tidakk enak dengan mobil di belakang, langsung naik dan duduk dengan jantung berdebar tidak beraturan.


"Sopirmu aman. Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya. Jadi tenang saja, aku ada perlu denganmu." Aaric berkata, karena melihat Carren menengok ke belakang. Aaric tahu, pasti Carren mau bertanya tentang sopirnya.


Carren tidak bisa bersuara, hanya mengangguk. Jika bebicara, suaranya akan bergetar. Tanpa sadar, dia kembali mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya. Hal itu membuat Aaric makin tersenyum dalam hati.


"Aku mau minta nomor telponmu." Ucap Aaric sambil menjalankan mobilnya pelan keluar dari restoran. Carren segera membuka tasnya dan mengambil kartu nama dari dalam saku tasnya.


"Aku tidak perlu nomor itu. Aku minta nomor telpon pribadimu." Carren langsung melihat Aaric dengan wajah terkejut. Hal itu membuat Aaric langsung meniup wajahnya yang sudah memerah.


"Aku hanya meminta nomormu, tidak meminta yang lain. Kalau mau aku lekas turun, cepat berikan nomormu. Atau kau ingin aku mengantarmu pulang?" Tanya Aaric yang makin senang melihat wajah kebingungan Carren.


"Karena aku sedang menyetir, kau saja yang catat nomorku." Carren buru-buru mengeluarkan ponselnya dengan panik. Entah kemana keberaniannya, dia memegang ponselnya dan mengetik nomor yang disebutkan Aaric dengan tangan bergetar.


"Pelan-pelan saja mengetiknya, aku sabar menunggu. Kalau sudah, tolong telpon nomor itu." Pinta Aaric. Dia tersenyum senang, saat melihat nomor yang masuk bukan seperti yang ada di kontaknya. Dia sengaja meletakan ponselnya di tempat ponsel Carren di mobil, agar bisa melihat nomor ponsel yang masuk.


"Simpan nomorku itu dengan nama Aaric. Double A. Jadi kalau aku hubungi, jangan tanya dengan siapa." Ucap Aaric, lalu memarkirkan mobil di pinggiran jalan lalu mengambil ponselnya.


"Aku akan menyimpan nomormu dengan nama Arra." Ucap Aaric santai, sambil mengetik di ponselnya. Dia mau membedakan dengan nomor yang sudah disimpan memakai nama Carren. Dia tidak melihat Carren yang sedang menatapnya dengan mata membulat karena terkejut.

__ADS_1


~●●♡●●~


__ADS_2