Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Menentukan Jalan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Menjelang makan malam, baru Aaric tiba di rumah. Recky telah menunggunya untuk akan malam pertama bersama, setelah belasan tahun mereka berpisah. Hal itulah yang membuat Aaric langsung pulang, setelah pertemuan dengan rekan bisnisnya. Dia tidak ikut makan malam, karena memikirkan Recky yang baru pertama kali tinggal di rumahnya.


Recky meresa sedikit lega, karena asistennya bisa mengeluarkan semua dokumen dan perlengkapan gambarnya setelah main kucing-kucingan dengan orang yang sedang memantau apartemennya. William membawa salah seorang karyawan kepercacaannya untuk menjaga dan mengelabui orang yang sedang memantau di sekitar apartemen. Tetapi mereka tidak bisa membawa keluar pakaian Recky.


Bagi Recky, itu tidak jadi masalah, yang penting dokumen dan perlengkapan kerjanya sudah bisa dibawa. Setelah asistennya pulang, dia menata semuanya di kamar yang ditempatinya.


"Kak Aaric, aku ngga usah bekerja di perusahaan di Belanda seperti yang kakak sarankan. Aku bekerja di sini saja, sambil menunggu waktu. Banyak yang bisa aku kerjakan, jika kakak ijinkan tetap tinggal di sini." Recky berkata saat merela duduk santai di belakang rumah setelah makan malam. Dia telah memikirkan semuanya dengan baik.


"Kakak pasti akan mengantarku ke Belanda, karena semua dokumen perjalananku memakai Biantra. Jadi biarkan sementata aku di sini saja dulu. Nanti lihat perkembangan, baru aku bicarakan dengan kakak lagi." Recky berkata lagi, berharap kakaknya bisa mengerti.


"Aku ngga masalah mengantarmu. Tetapi jika kau pikir itu yang lebih baik, ngga papa. Kau hanya perlu hati-hati saja selama tinggal di sini. Karena mereka tahu, pasti kau ada di Sydney." Ucap Aaric yang coba mengerti jalan pikiran adiknya.


"Iya, kak. Aku mengerti. Jadi kalau kakak mau kembali ke Indonesia, silahkan. Ngga usah khawatirkan aku. Yang penting tanganku sudah baikan. Semua pekerjaan di luar rumah akan aku bicarakan dengan William." Recky berkata pelan, karena dia tahu dari pembicaraan Aaric dan Jekob di telpon. Ada masalah di perusahaan tambangnya di Indonesia. Hal itu membuat kakaknya uring-uringan dan marah besar.


"Baik. Kalau kau sudah bisa ditinggal, aku akan kembali ke Indonesia. Karena ada masalah di perusahaan tambangku. Aku juga mau menyelesaikan persoalanmu, agar kau bisa leluasa bekerja di luar. Nanti aku dan Jekob akan bergantian datang ke sini." Ucap Aaric untuk menenangkan Recky.


"Ruangan kosong di sebelah bisa kau jadikan tempat kerjamu. Semua kebutuhan untuk jadikan itu ruang kerjamu, kau katakan kepadaku. Supaya bisa disiapkan sebelum aku ke Indonesia." Aaric memikirkan tempat kerja yang nyaman bagi Revky, karena akan bekerja di rumah.

__ADS_1


"Ngga usah kakak pikirkan dan sediakan itu. Nanti aku mengaturnya dengan William perlahan saja. Kakak pikirkan yang di Indonesia saja dulu. Kalau ada yg diperlukan dan ngga bisa aku sediakan sendiri, aku akan kasih tau kakak." Recky menyakinkan kakaknya. Dia tidak mau kakaknya terbebani dengan keadaannya di Sydney. Karena persoalan yang ditimbulkannya di Jakarta sudah menguras energi kakaknya.


"Baik. Besok aku akan bicara dengan orang di kantor, agar bisa segera kembali ke Indonesia. Masalah istrimu, kau benar tidak mau bersamanya?" Tanya Aaric untuk meyakinkan dirinya tentang perasaan Recky.


"Iya, kak. Biarkan mereka selesaikan sendiri, menurut kemauan mereka. Kalau mengingatnya ada di dekatku, rasanya badanku terasa gatal semua. Jadi jangan sampai bersentuhan dengannya." Ucap Recky sambil merinding, membayangkan harus bersama Liana.


"Baik. Mari kita istirahat, besok kita bicarakan lagi apa yang masih kurang dan perlu diselesaikan." Aaric berkata lalu berdiri dan memgajak Recky masuk ke dalam rumah.


.***.


Seminggu kemudian, Aaric telah tiba di Jakarta dan berada di ruang kerjanya bersama Jekob. Mereka sedang membicarakan perkembangan terbaru yang terjadi dengan perusahaan tambang batu bara.


"Bagaimana, Jekob. Apa yang terjadi dengan permasalahan di Hermin Mineralindo. Apakah sudah tertangani?" Tanya Aaric, mengingat akhir-akhir ini persoalan di tambang batu bara itu membuatnya geram dan sakit kepala.


"Berarti Bu Anova menjalankan tugas yang saya minta kepadanya." Aaric berkata dengan hati lega.


"Iya, Pak. Bu Anova menemukan pekerjaan kotor mereka. Ada banyak angka fiktif yang mereka lakukan di setiap transaksi. Sehingga Sapta mengancam yang tidak tahu dan hanya ikut-ikutan. Jika masih mau cari makan di sini, lebih baik terus terang menghadap sebelum boss besar turun dan melakukan pembersihan. Akhirnya yang ikut-ikutan protes karena terhasut, menghadap dan minta maaf." Jekob menjelaskan yang terjadi.


"Baik. Tapi jangan berpuas diri dulu. Tolong katakan kepada Sapta untuk memberikan pengamanan kepada Bu Anova dan keluarganya sampai semua ini mereda. Sapta tau apa yang harus dia lakukan." Ucap Aaric, karena menyadari apa yang baru dikerjakan Anova beresiko untuk keselamatan dirinya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan yang saya perintahkan padamu. Berapa banyak saham yang sudah kau beli?" Tanya Aaric, ingin tahu apa yang sudah dilakukan oleh Jekob untuk membeli saham Tarikalla dan Biantra yang sedang anjlok.


"Sudah lebih dari cukup untuk kita memguasainya. Sepertinya, Hutama juga membeli saham Biantra. Apakah bapak mau bertemu dengan orang dari Hutama?" Tanya Jekob, setelah mengetahui berapa persen saham Biantra telah berpindah ke Hutama.


"Jangan sekarang, sebelum mengetahui perkembangan kasus Naina. Apakah tidak ada kabar terbaru dari kasus itu? Saya masih curiga, dia meninggal dengan tidak wajar." Ucap Aaric, mengingat meninggalnya Naina.


"Menurut Sapta, beberapa waktu lalu ada yang mengatakan Nona Naina meninggal tidak wajar. Bukan kecelakaan lalu lintas murni, tetapi ada yang sengaja mencelekainya. Sehingga sampai sekarang, Pak Hutama tidak memperkenalkan putranya. Mungkin beliau curiga, ada yang berniat jahat terhadap keluarganya." Jekob menjelaskan perkembangan kasus tewasnya Naina kepada bossnya.


"Katakan pada Sapta, cari orangnya dan bawa kepada saya. Sebelum dia ditemukan oleh keluarga Hutama atau pihak lain. Saya curiga, ada orang kuat dibelakangnya sehingga sampai sekarang belum terungkap. Tidak mungkin pihak Hutama tidak mencari tahu. Kalau sampai saya tau keluarga iblis di rumah terlibat, ini adalah akhir dari semua usahanya." Aaric berkata dengan geram. Aaric juga ikut mengatakan iblis kepada Mamanya seperti Recky.


"Katakan pada Sapta, ini waktunya dia bergerilya, karena perusahaan mereka sedang goyang. Mereka mungkin tidak konsentrasi mengamankan orang itu. Perasaan curiga saya dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Karena saat itu, saya belum lama pergi dari rumah karena ribut dengan iblis itu." Aaric berkata dengan rahang mengeras. Dia saat itu tidak bisa berbuat sesuatu, karena kondisinya belum seperti sekarang. Bisa dibilang sekarang dia memiliki segalanya dan bisa melakukan apa saja dengan kekayaan yang dimilikinya.


"Baik, pak. Nanti saya bicarakan dengan Sapta. Sekarang apa yang mau dilakukan dengan saham Biantra dan Tarikalla?" Tanya Jekob, kembali mengingatkan tentang saham yang baru saja mereka beli untuk mengalihkan kegeraman bossnya dari peristiwa meninggalnya Naina.


"Kau cek siapa saja yang telah beli saham Biantra dan Tarikalla. Saya ingin bertemu dengan mereka yang sahamnya di bawa kita, kecuali Hutama. Karena Hutama adalah kartu As saya. Biarkan Hutama diakhir, karena sebentar lagi pasti akan ada rapat pemegang saham." Ucap Aaric sambil menatap Jekob serius.


"Iya, Pak. Saya sudah punya info dari orang dalam, mereka akan adakan rapat pemegang saham dalam waktu dekat. Karena perusahaan mereka mulai oleng. Banyak kontrak kerja yang tidak tertangani dan dibatalkan karena kekurangan dana segar. Sepertinya mereka mengeluarkan biaya besar beberapa waktu belakangan ini. Mereka berpikir, dengan menikahnya tuan muda Recky dengan Liana, bisa saling menopang. Padahal mereka sama-sama sedang tidak sehat." Ucap Jekob


"Jadi mereka sama-sama berpikir, akan saling menguatkan perusahan jika Recky dan Liana menikah? Padahal di saat yang sama kedua perusahaan itu sedang sakit? Orang sakit mau minta tolong pada orang sakit? Hahahaha... Mari kita hajar para ular ini. Berani-beraninya memanfaatkan adikku untuk kepentingannya. Kau urus Tarikalla. Biar Biantra bagianku. Secepatnya, kau atur pertemuanku dengan pemegang saham." Aaric berkata tegas dan bersemangat, karena banyak rencana mulai bermunculan di pikirannya.

__ADS_1


"Baik, Pak. Setelah ini saya akan mengecek semuanya dan mengatur pertemuan dengan para pemegang saham satu persatu." Ucap Jekob yang juga ikut bersemangat.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2