
...~•Happy Reading•~...
Selesai makan, Aaric membantu Carren mengangkat bekas perangkat makan mereka ke dapur, karena dia melihat Papanya akan melakukannya. "Papa duduk di ruang tamu saja. Nanti aku yang bantu Carren merapikan meja. Sekalian kami mau bicara di sini, karena Carren harus kembali ke kantor." Ucap Aaric kepada Papanya dan Pak Biantra mengangguk mengerti.
"Arra, mari duduk sebentar di sini, karena ada yang mau aku bicarakan denganmu." Ucap Aaric sambil menunjuk kursi meja makan di depannya. Di depan orang lain, Aaric selalu memanggil Carren dengan namanya. Tetapi jika berdua, dia akan memanggilnya Arra. Karena itu adalah nama kesayangannya untuk Carren, jadi dia tidak mau orang lain memanggil Carren demikian.
"Aku akan bicara cepat, jika kau harus segera kembali ke kantor." Ucap Aaric, mengingat kesibukan pekerjaan Carren dan juga perjalanan Carren dari apartemen kembali ke kantornya. Carren mengangguk dan memperhatikan Aaric dengan serius.
"Beberapa hari ke depan, aku akan berangkat bersama Papa ke Swiss. Aku akan periksa kesehatan Papa di salah satu rumah sakit di sana. Aku berharap kau tidak bertanya kenapa harus dibawa ke sana." Carren terkejut, seakan Aaric bisa membaca apa yang ada di pikirannya. Dia sedang bertanya dalam hati, kenapa harus membawa Papanya sejauh itu. Aaric hanya melihat perubahan wajah Carren saat mendengar apa yang dikatakannya, dia tahu Carren akan bertanya dan dia belum bisa menjelaskan semuanya
"Aku juga berharap, kau jangan bertanya kenapa aku tidak pernah membicarakan ibl ... Mamaku. Itu nanti dibicarakan, setelah aku kembali." Aaric hampir mengatakan Mamanya iblis kepada Carren. Dia cepat mengerem, karena mau bicarakan hal yang lebih penting untuk saat ini. Carren hanya diam mendengar yang dikatakan Aaric.
"Waktu itu, kau katakan mau rapikan rumahmu, bukan?" Tanya Aaric, mengingat pembicaraan Carren dengannya sebelum acara pertunangan mereka.
__ADS_1
"Iya, Kak. Kami memang sudah merencanakannya, sebelum ada rencana kakak mau datang melamarku di rumah. Dua hari lalu tukang sudah datang untuk lihat dan kami sudah membicarakan rencana perbaikannya." Ucap Carren menjelaskan apa yang akan mereka lakukan dengan rencana perbaikan rumahnya.
"Baik. Jadi sementara rumahnya dirapikan, kalian tinggal saja di sini selama aku tidak ada. Mama bisa tidur di kamar Papa yang sekarang. Kalau kau mau tidur di kamarku, boleh. Tapi kalau mau tidur dengan Mama, silahkan." Ucap Aaric serius, karena dia sudah memikirkannya. Dia tahu, Carren agak sungkan untuk tidur di kamarnya, tetapi dia tetap menawarkannya.
Carren menatap Aaric dengan mata membulat, karena tidak menyangka Aaric akan membicarakan itu. "Mama punya kesibukan apa sehari-hari?" Tanya Aaric, karena berpikir jangan sampai Mama Carren bosan sendiri di rumah saat Carren berangkat kerja.
"Mama menjahit, Kak." Jawab Carren, cepat melihat keseriusan Aaric bertanya.
"Mama menjahit? Jahit apa?" Aaric terkejut, mendengar Bu Nancy, menjahit. Carren menjelaskan apa yang dijahit Bu Nancy sesuai permintaan dekor mereka, kalau pakaian wanita, hanya menjahit dress untuk mereka berdua.
"Jika sudah pasti waktu berangkat kami, aku akan kasih tau. Jadi setelah pulang kerja, tolong bicarakan dengan Mama, agar sudah ada keputusan sebelum aku berangkat." Aaric berkata serius sambil terus berpikir bagaimana baiknya.
"Iya, Kak. Aku belum bisa memutuskan itu, sebelum bicara dengan Mama. Terima kasih, kakak sudah pikir tentang itu, karena kami belum kepikiran untuk cari tempat tinggal yang lain saat rumah dirapikan." Carren jadi berpikir tentang apa yang ditawarkan Aaric dan akan membicarakan itu dengan Mamanya.
__ADS_1
"Ini, kau pegang kartu askes apartemen ini. Passwordnya tanggal pertemuan pertama kali kita di pesta itu." Ucap Aaric serius, karena dia tidak bisa melupakan tanggal itu. Ada dua kejadian penting dalam hidupnya, bertemu dengan Carern dan adiknya mengalami kecelakaan karena perbuatan Mamanya. Baginya, pernikahan itu adalah kecelakaan hidup adiknya. Bukan hanya tangannya yang retak, tetapi hidup dan masa depannya juga berantakan karena melakukan pernikahan itu.
"Untuk tinggal di sini nanti, aku bicara dengan Mama dulu ya, Kak. Tetapi aku memegang kartu ini. Menjaga jika kakak sudah berangkat dan mungkin saja kami akan menginap di sini karena rumah mau diperbaiki." Carren mengerti maksud baik Aaric, jadi menerima kartu yang diberikan Aaric kepadanya. Mungkin saja akan benar-benar digunakan, jadi dia hanya tinggal minta ijin kepada Aaric, karena kartu akses sudah ada di tangannya.
"Sorry, aku tidak bisa membantu, tapi kau bisa hubungi Jekob jika ada perlu sesuatu selama aku tidak ada di sini. Kau tolong bicara dengan Mama, rumah itu diperbaiki, bukan untuk tempat tinggal. Tetapi untuk tempat bekerja saja, nanti kalian tinggal di sini. Jadi Mama bisa mencari karyawan untuk membantunya bekerja di rumah." Aaric berpikir cepat untuk situasi yang tidak diduganya.
"Kau bisa belajar menyetir mobil, atau nanti salah satu dari mereka yang menjemputmu akan menjadi sopir untuk mengantar atau menjemputmu dan Mama dengan mobil yang ada di rumah. Kau mau pilih siapa dari antara mereka berdua, katakan itu kepada mereka." Aaric berkata serius, berharap Carren akan memikirkan solusi yang disampaikan.
"Jika kau tidak mau memakai mobilmu, minta mereka berdua mengantar dan menjemputmu atau Mama dengan mobil yang biasa mereka gunakan. Nanti aku juga akan katakan itu kepada mereka." Aaric masih serius memikirkan apa yang akan dilakukan Carren selama dia tidak ada di Jakarta.
"Setelah aku kembali, baru kita bicarakan tanggal pernikahannya. Ada beberapa masalah selain kesehatan Papa, yang harus aku selesaikan sebelum kita menikah. Jadi tolong sabar dan tetap percaya padaku." Ucap Aaric pelan, sambil memegang tangan Carren yang sedang memegang kartu akses di atas meja makan. Dia mengelus tangan Carren perlahan dengan sayang, karena harus meninggalkannya untuk beberapa waktu lamanya.
Kemudian dia memasukan tangannya ke saku celana untuk mengambil dompetnya. "Ini, kartu yang bisa kau gunakan untuk merapikan rumah. Passwordnya sama dengan kartu akses itu." Ucap Aaric tegas, sambil menyerahkan black card ke tangan Carren karena melihat Carren hendak menolaknya.
__ADS_1
"Maaf, Kak. Sudah lama kami rencanakan mau perbaiki rumah itu, jadi aku dan Mama sudah menabung. Kemaren tukangnya sudah datang melihat dan menghitung berapa biayanya yang diperlukan untuk perbaiki rumah itu. Biayanya masih bisa masuk dengan tabungan kami." Ucap Carren pelan dan mencoba menjelaskan, agar Aaric tidak tersinggung. Dia merasa tidak enak hati, jika Aaric harus membantunya, karena mereka belum terikat secara resmi sebagai suami istri. Dia menjaga, jangan sampai keluarga Aaric mengira dia dan Mamanya, orang yang aji mumpung.
...~●○♡○●~...