Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Kontak Batin 2.


__ADS_3

~β€’Happy Readingβ€’~


Keesokan harinya Carren bangun dengan hati bersyukur, karena bisa bangun pagi dalam kondisi tubuh yang lebih baik. Setelah kedatangan Mama Aaric, Carren makin kepikiran kondisi kesehatan Aaric. 'Apa yang membuat Mamanya datang memperingatinya? Apakah sakit kepala Aaric berhubungan dengan pertemuannya malam itu?' Itu kadang mengganggu pikirannya dan kadang juga mengganggu konsentrasinya saat bekerja.


Sekarang dia bangun lebih pagi, karena akan berangkat ke Bandung bersama-sama dengan karyawannya untuk mempersiapkan acara pernikahan clientnya. Oleh sebab itu, dia langsung mandi dan bersiap-siap sebelum sopirnya datang menjemput. Dia akan memakai mobil Recky, agar tidak perlu menyewah mobil untuk mereka semua yang akan berangkat ke Bandung.


Acara resepsi akan dilaksanakan pada hari Sabtu. Sehingga mereka sudah harus tiba hari Jumat di Bandung untuk menyiapkan semuanya menjelang hari H. Mobil yang dibawa Ichad dan mobil Recky cukup untuknya dan semua karyawan yang ikut, sedangkan yang lain bersama dua mobil pik up yang membawa perlengkapan pekerjaan mereka. Carren telah membeli sebuah mobil pik up lagi untuk menunjang usahanya yang mulai meningkat.


"Arra, mari sarapan yang lebih kenyang. Mama sudah siapkan cemilan untuk kalian di jalan. Jangan terlalu dipaksakan kerjanya, bagi dengan karyawan yang lain." Ucap Bu Nancy sayang, karena yang melihat wajah putrinya lebih tirus.


"Iya, Ma. Kami bekerja bersama-sama ko'. Nanti dari Bandung, Arra akan istirahat sebentar." Ucap Carren untuk menenangkan Mamanya yang sedang memperhatikannya dengan wajah khawatir.


"Kalau pekerjaan, kau bisa bagi dengan karyawanmu. Tetapi kalau ada persoalan pribadi, bagi dengan Mamamu. Mama lihat belakangan ini, makanmu hanya sedikit dan tidurmu tidak nyenyak. Kau tidak bisa sembunyikan persoalanmu dengan matamu yang redup seperti itu." Ucap Bu Nanci pelan, karena mengenal putrinya dengan baik.


"Nanti kalau sudah kembali dari Bandung, aku akan coba menata dan mengatur semuanya lebih baik, Ma. Sekarang belum bisa mengatakan apapun, karena semuanya masih samar, Ma." Ucap Carren, lalu berdiri menyiapkan apa yang akan di bawa sebelum sopir datang menjemputnya.


.***.


Di tempat yang lain ; Aaric bangun agak siang, karena tidurnya gelisah dan tidak tenang. Dia berusaha tidak memikirkan apa yang baru terjadi untuk menjaga kepalanya yang yang sudah memberikan sinyal mulai pening. Hal ini membuatnya berusaha untuk tidur lebih awal.


Selesai mandi dan berpakaian santai, dia keluar dari kamar untuk sarapan. Aaric merasa sedikit lega karena melihat Bibi sudah datang dan membersihkan apartemennya. Jekob sudah mandi dan duduk di ruang tamu sambil bekerja. Dia meresa lega melihat bossnya sudah bangun dan mandi.

__ADS_1


Tadi malam dia sempat masuk secara diam-diam ke kamar bossnya untuk melihat kondisinya. Walaupun tidurnya gelisah, Jekob tetap merasa legah. Karena baginya lebih baik bossnya gelisah, dariada sakit kepala.


"Kau sudah sarapan?" Tanya Aaric, saat melihat Jekob sudah mulai bekerja.


"Sudah, Pak. Tadi saya minta Bibi buat nasi goreng, karena sangat lapar." Ucap Jekob lalu berdiri mengikuti bossnya ke meja makan untuk menemani bossnya sarapan.


"Bi, saya sarapan sedikit saja, karena sebentar lagi sudah makan siang." Ucap Aaric melihat Bibi mau menyajikan sepiring nasi goreng. Dia merasa tidak lapar dan tidak berselerah makan.


"Jekob, hari ini saya tidak ke kantor, kalau kau mau berangkat ke kantor hari ini, silahkan. Saya bekerja dari sini saja." Ucap Aaric, karena merasa tidak bersemangat untuk beraktivitas di luar.


"Saya ikut bekerja dari sini juga, Pak. Ada yang mau saya bicarakan dengan bapak. Tadi Sapta memberikan informasi, Nona Carren sedang dalam perjalanan ke Bandung." Jekob menyampaikan apa yang disampaikan Sapta kepadanya.


"Tidak, Pak. Nona Carren berangkat ke Bandung bersama karyawannya. Menurut anggota Sapta yang mengamankan Nona Carren, mereka ada pekerjaan di Bandung. Mereka menangani acara pernikahan di sana dan sudah berangkat dari pagi." Jekob menjelaskan lagi yang disampaikan oleh Sapta.


"Kalau begitu, katakan pada Sapta agar anggotanya disuruh tinggal di hotel yang sama dengan Nona Carren, jika mereka tinggal di hotel. Dimana mereka tinggal, usahakan mereka juga tinggal di situ." Ucap Aaric lalu berdiri masuk ke kamar untuk mengambil semua perlengkapan kerjanya.


Dia juga memeriksa GPRS yang dipasang di mobil Carren. Ketika melihatnya telah berpindah tempat, Aaric merasa lega Carren mempergunakan mobilnya ke Bandung. Dia membiarkannya di kamar lalu mengambil dan menyiapkan semua perlengkapan untuk bekerja.


Saat melihat ponsel pribadinya, Aaric terkejut melihat misscall Recky beberapa kali pagi ini. Dia segera menghubungi Recky.


πŸ“±"Alloo, Kak. Kakak dari mana?" Tanya Recky saat merespon panggilan kakaknya yang telah ditunggu telponya dari pagi.

__ADS_1


πŸ“±"Aku baru bangun, mandi dan makan. Jadi baru lihat ponsel." Aaric menjelaskan, agar Recky tidak banyak berpikir tentangnya.


πŸ“±"Kakak lagi sakit?" Tanya Recky, jadi cemas mengetahui Aaric baru bangun.


πŸ“±"Tidak. Tadi malam lumayan lelah, jadi ketiduran. Ada apa telpon pagi-pagi. Sudah mulai bosan?" Tanya Aaric untuk memgalihkan pembicaraan Recky tentang dirinya.


πŸ“±"Tidak, Kak. Ini masih sibuk gambar. Wiliam suka main dan kerja dari sini, jadi tidak masalah. Tadi pagi aku telpon, karena mau tanya kakak. Apa pernah bertemu dengan Papa?" Tanya Recky pelan, karena dia tahu kakaknya marah sama Papa mereka.


πŸ“±"Kenapa tiba-tiba tanya tentang Papa? Kau mau bertemu dengannya?" Tanya Aaric terkejut dengan pembicaraan Recky tentang Pak Biantra, Papa mereka.


πŸ“±"Tidak, Kak. Hanya tadi malam mimpi Papa. Aku lihat Papa sendiri di ladang, sedang mencari sesuatu dengan panik. Aku jadi kepikiran, jangan sampai Papa sedang mencariku. Jadi telpon mau minta tolong kakak. Mungkin Kakak bisa minta seseorang katakan kepada Papa, aku baik-baik saja. Jangan sampai Papa sakit lagi." Recky menjelaskan tujuannya menelpon Aaric berkali-kali.


πŸ“±"Sakit lagi? Apa Papa sedang sakit?" Tanya Aaric terkejut mendengar apa yang dikatakan Recky.


πŸ“±"Setauku, tidak, Kak. Hanya dulu Papa pernah sakit karena kepikiran saat kakak pergi dari rumah. Papa sempat dirawat di rumah sakit, makanya aku sangat marah sama kakak. Karena melihatku marah, Papa minta keluar dari rumah sakit dan bekerja lagi. Seakan-akan tidak terjadi sesuatu, tetapi sebenarnya Papa tetap memikirkan Kakak. Badannya sempat sangat kurus, karena terlalu sibuk bekerja." Recky menceritakan apa yang dialaminya saat ditinggal kakaknya.


πŸ“±"Karena mimpiku tadi malam, aku jadi keingat Papa. Jangan sampai Papa sakit karena kepikiran tidak mengetahui keberadaanku. Jadi kalau bisa, kakak minta tolong seseorang kasih tau Papa aku baik-baik saja. Sementara ini hanya ingin sendiri, jadi belum bisa hubungi Papa." Recky berkata pelan, karena mengingat dan mengkhawatirkan kondisi Papanya.


Aaric terduduk di sofa kamar, setelah mendengar apa yang dikatakan Recky. Dia tidak menyangka Papanya mengalami hal itu saat dia pergi. Kemarahan kepada Mamanya dan ketidak berdayaan Papanya membuat dia tidak memikirkan perasaan Papanya.


~●○♑○●~

__ADS_1


__ADS_2