
...~•Happy Reading•~...
Di bagian bumi yang lain ; Pak Biantra sedang berjalan-jalan di halaman rumah Aaric yang sejuk dan asri serta juga luas di Swiss. Di saat-saat seperti ini, beliau sangat merindukan anak-anaknya. Apalagi sekarang sudah ketambahan mantu. Beliau makin tidak sabar untuk bertemu dengan mereka. Aaric telah memberi kabar, akan datang menemuinya setelah menikah. Sehingga beliau berjalan di halaman sambil menunggu Aaric dan Carren yang akan datang menemuinya.
Aaric sudah berjanji pada pada Papanya, akan membawa Carren menemuinya setelah menikah. Oleh sebab itu, Pak Biantra menunggu dengan tidak sabar dan berharap mereka tidak pergi bulan madu di tempat lain, selain datang ke rumah mereka di sini.
Recky yang baru turun dari mobil bersama Jekob, Sapta dan Bu Nancy, terkejut melihat rumah yang ada di depan mereka. Jekob dan Sapta tidak terkejut, karena mereka sering datang bersama boss mereka. Baik untuk kerja atau untuk berlibur. "Ini rumah siapa, Pak Jekob?" Tanya Recky takjub, seakan tidak percaya melihat rumah tingkat besar dengan halaman luas berlatar belakang gunung Alpen.
"Rumah Pak Aaric, tuan muda." Jawab Jekob, sambil membabtu Bu Nancy turun dari mobil. Recky tertegun. Dia sudah melihat rumah orang tua Ace yang begitu waaaoooo... Tetapi sekarang melihat rumah kakaknya sendiri, dia tertegun. Benar yang dikatakan: 'Di atas langit, masih ada langit.' Recky tidak menyangka kakaknya sekarang bisa melebihi keluarga Sunijaya yang sering dibangga-banggakan Opanya.
Recky memandang rumah kakaknya dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan. Sepanjang mata memandang, rumah kakaknya membuat dia terkagum-kagum. Begitu juga dengan Bu Nancy, hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata-kata. Bu Nancy mengikuti apa yang dikatakan Aaric untuk mengikuti Jekob. Maka dengan tanpa bertanya, mengikuti apa yang dikatakan Jekob.
Akhirnya mereka berempat tiba di Swiss. Ketika masih melihat sekitarnya, Recky terkejut melihat seseorang seperti Papanya sedang berjalan-jalan di halaman. Dia yakin itu Papanya. Sehingga tanpa ragu, dia melepaskan tas dari bahunya dan berlari untuk meyakinkan penglihatannya. Tanpa melihat kiri kanan, dia melompati pagar tumbuhan di sepanjang jalan masuk ke rumah kakaknya.
Ketika yakin, itu benar adalah Papanya dia berteriak. "Papaaaaa..." Sambil berlari mendekati Pak Biantra yang sedang melihat sekeliling. Beliau pikir mendengar suara Recky, tetapi tidak yakin. Sehingga Pak Biantra melihat dan mencari sekelilingnya untuk menyakinkan yang didengarnya.
Ketika melihat dari jauh ada yang berlari mendakatinya, Pak Biantra tertegun. "Papaaaa... Benar, kau Papaku." Ucap Recky, lalu memeluk dan mengangkat Pak Biantra seperti mengangkat seorang anak. Pak Biantra tidak bisa berkata-kata. Hanya memeluk putra bungsunya dengan erat.
__ADS_1
"Akhirnya, kakakmu menepati janjinya. Berarti sekarang Papa sudah sembuh, sampai dia mengijinkanmu bertemu dengan Papa. Akhirnya, Papa bisa melihatmu." Ucap Pak Biantra lalu melepaskan pelukannya dari Recky untuk melihat wajahnya.
Recky langsung melepaskan pelukannya ketika mendengar Papanya mengatakan sudah sembuh. "Apakah Papa sakit? Papa sakit apa? Kenapa tidak memberitahuku?" Tanya Recky beruntun dengan rasa khawatir.
Pak Biantra hanya memegang wajah Recky dengan sayang dan rindu. "Mungkin Papa capek, kurang istirahat. Jadi kakakmu membawa Papa dan masukan Papa di rumah sakit sini. Sekarang Papa istirahat di rumah, tapi diawasi dokter pribadi kakakmu. Kau lihat sekarang, Papa sudah sehat. Buktinya, kau sudah bisa datang menemui Papa." Ucap Pak Biantra dengan hati senang dan bahagia bisa melihat putra bungsunya.
"Jika Papa belum sembuh, kakakmu tidak akan ijinkan kau bertemu Papa. Sekarang kau sudah ada di depan Papa, berarti Papa sudah sembuh." Ucap Pak Biantra untuk menenangkan Recky.
"Bagaimana kabarmu? Kau kemana saja, tidak menghubungi Papa?" Tanya Pak Biantra yang sudah lama ingin tahu kondisi putra bungsunya.
"Aku baik-baik saja, seperti yang Papa lihat. Kakak mengurusku dengan baik. Sekarang aku sudah bercerai dari wanita itu, jadi baru diijinkan kemana-mana sama kakak." Ucap Recky sambil mengajak Papanya masuk ke dalam rumah, karena udara mulai dingin.
"Sudah sembuh, Pa. Kakak minta dioprasi ulang setelah aku selesai menikah itu. Aku juga jalani terapi untuk bisa kembali normal seperti sekarang." Ucap Recky sambil memainkan tangannya untuk meyakinkan Papanya bahwa tangannya sudah sembuh.
Pak Biantra mengangguk senang sambil menepuk pelan tangan Recky. "Apa yang Papa lakukan di sini sendirian?" Tanya Recky sambil berjalan di sisi Papanya.
"Papa sedang menunggu kakakmu dan istrinya. Dia janji akan ke sini setelah menikah. Apa kau tau, kakakmu sudah menikah?" Tanya Pak Biantra pelan.
__ADS_1
"Iya, Pa. Sudah tau. Sekarang mereka belum bisa ke sini karena sedang pergi honeymoon. Aku berikan mereka hadiah honeymoon." Ucap Recky sambil mengelus pundak Papanya, agar jangan sampai Papanya mengira kakaknya berbohong dan tidak tepati janjinya.
"Ooh, pantas. Dia belum ke sini. Kau datang sendiri ke sini?" Tanya Pak Biantra lagi. "Tidak, Pa. Ada dengan rombongan di dalam. Ayoook.. kita masuk ke dalam, Pa. Di sini sudah dingin, nanti Papa masuk angin." Ucap Recky sambil merangkul pundak Papanya dengan sayang.
"Itu bunyi apa, Pa." Tanya Recky, ketika mendengar suara tidak jauh, dari atas rumah kakaknya.
"Ooh, itu heli kakakmu. Ada helipad di atas rumah. Dia suka pakai saat pergi kerja di sekitar Swiss, terutama ke Belanda. Sekarang dipakai asistennya, karena harus pulang ke rumah ini untuk temani Papa." Pak Biantra menjelaskan. Recky mengangguk mengerti dan makin mengaggumi kakaknya yang dalam kondisi seperti ini, tidak pernah berubah pribadinya. Kasih sayang pada dirinya dan Papa mereka, tetap seperti dulu. Walau sempat melewati banyak persoalan dan kesulitan.
"Ooh iya, kau bilang sudah cerai. Apakah kau sudah bertemu dengan gadis yang kau cintai itu? Sekarang jangan buang waktu lagi. Kejar dia sebelum terlambat." Ucap Pak Biantra menyemangati putra bungsunya. Recky hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nanti kakak datang, baru kita bicara, Pa. Ada banyak hal yang mau kami bicarakan dengan Papa. Jadi Papa sabarrrr, ya... Soal gadis, nanti aku kenalin untuk Papa." Ucap Recky sambil menepuk pundak Papanya pelan dan sayang.
Ketika telah berada dalam ruang keluarga, Pak Biantra terkejut melihat Bu Nancy. "Recky. Kenapa tidak bilang ada datang bersama Mama Carren? Kita malah berbicara lama di luar." Ucap Pak Biantra lalu minta maaf pada Bu Nancy.
"Tidak mengapa, Pak Danang. Apa kabar, Pak. Waaah.. bapak sudah sehat rupanya." Ucap Bu Nancy saat melihat wajah Pak Biantra yang segar dan cerah. Mereka bersalaman dengan hangat dan saling hormat, karena telah menjadi besan.
Begitu juga dengan Jekob dan Sapta mendekati Pak Biantra lalu menyalami dengan hormat. Pak Biantra tidak hanya menyalami mereka, tetapi langsung memeluk mereka satu persatu.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mendampingi dan menolong kedua putraku." Ucap Pak Biantra sambil terus memeluk dan menepuk punggung mereka dengan hangat. Pak Biantra bersyukur, anak-anaknya berada dan dikelilingi orang baik.
...~●○♡○●~...