Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Terjebak.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Recky telah kembali ke Australia dan mencoba untuk berpikir dengan tenang dan baik. Semua yang terjadi adalah bagian dari kesalahannya yang terus menunda-nunda menyatakan apa yang dirasakan hatinya. 'Seandainya aku sampaikan lewat telpon saja waktu itu, mungkin masih bisa mendapatka Carren.' Itu yang terus dia pikirkan dan sesali.


Satu minggu telah berlalu, tetapi kegundahan hatinya belum juga berkurang. Dia mencoba untuk berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Saat ini dia sedang dipercayakan untuk menggambar beberapa jembatan dan bangunan di beberapa tempat, diantaranya Canberra.


Tiba-tiba telponnya bergetar. Ketika melihat Papanya yang menelpon, dia merespon panggilannya. Karena beberapa hari belakangan ini, dia hanya merespon panggilan dari orang tertentu yang berhubungan dengan pekerjaannya.


📱"Allooo, Papa. Ada apa?" Tanya Recky, karena Papanya jarang menghubunginya jika sudah di rumah. Papanya menelpon, jika ada berhubungan dengan pekerjaan.


📱"Recky, ini Mama. Papamu sedang sakit, jadi Mama menghubungimu supaya kau bisa segera ke sini." Ucap Bu Biantra, saat Recky merespon panggilannya.


📱"Papa sakit apa, Ma? Beberapa hari lalu masih berbicara denganku." Ucap Recky terkejut dan heran.


📱"Namanya juga sakit, ya tiba-tiba. Mungkin Papa ada masalah di jantung. Sekarang sedang diperiksa. Kau urus saja untuk kembali ke sini." Ucap Mamanya dengan suara yakin dan pelan.


📱"Baiklah. Apa Mama sudah kasih tau Kk?" Tanya Recky, mengingat kakaknya.


📱"Nanti Mama kasih tau, yang penting kau segera kesini. Jam berapa kau bisa tiba di sini?" Tanya Mamanya lagi untuk mendapat kepastian Recky akan datang ke Jakarta.


📱"Besok sore baru aku tiba di situ." Ucap Recky yakin.


📱"Kalau begitu, kau kasih tau jam tiba di sini, agar sopir Mama bisa menjemputmu di Bandara." Ucap Bu Biantra pelan.


📱"Iya. Nanti aku kasih tau. Mama jangan tinggalin Papa sendiri." Ucap Recky panik, karena baru pertama kali mendengar Papanya sakit. Dia menggulung gambarnya, lalu mengurus keberangkatannya ke Jakarta.


Pak Biantra yang mendengar pembicaraan istri dan anaknya, tertunduk sedih di atas kursi. Beliau diam dengan mata berembun mendengar yang dikatakan putranya sebagai ujud rasa sayangnya kepada dirinya.


.***.

__ADS_1


Keesokan harinya seperti yang dikatakan Recky, dia tiba di Bandara Soeta, Cengkareng. Sopir Mamanya sudah tunggu untuk menjemputnya.


Kemudian sopir membawa Recky ke tempat yang di perintahkan Bu Biantra kepadanya.


"Pak, kenapa kita kearah ini? Memangnya Papa dirawat di Rumah Sakit mana?" Tanya Recky heran, melihat mobil ke arah yang tidak ada Rumah Sakitnya. 'Atau ada Rumah Sakit baru di darerah ini?' Tanyanya dalam hati.


"Nyonya meminta saya mengantar tuan muda ke sini dulu, tuan. Nanti baru disampaikan yang lain oleh Nyonya." Ucap sopir pelan dan was-was.


Mendengar itu, Recky mulai curiga. Tapi dia mencoba berpikir positif. Tidak mungkin Mamanya berbohong dengan mengatakan Papanya sakit.


Saat tiba di suatu bangunan rumah yang mewah, dahi Recky berlipat. "Papa di rawat di sini?" Tanyanya kepada sopir, seakan tidak percaya.


"Iya, tuan muda. Tuan ditunggu di dalam, jadi biarkan tas tuan di dalam mobil saja." Ucap sopir pelan dan mulai takut.


Recky segera turun dan berjalan ke arah rumah yang dimaksudkan oleh sopir. Setelah di depan pintu, dia mengetuk dan pintu dibukakan oleh pelayan. Dia dipersalahkan masuk, lalu dibawa ke ruang tamu.


Dia samgat terkejut, saat melihat Mamanya sedang duduk dengan dandanan cantik, juga Papanya dengan berpakaian resmi. Dia lebih terkejut lagi saat melihat Liana sedang duduk diapit orang tuanya. Mereka semua mengenakan pakaian resmi.


Recky menatap Liana dengan mata membara. Tetapi Liana pura-pura tidak melihatnya. Recky tidak mengatakan apa pun, dia sudah seperti patung yang duduk kaku tidak bergerak ataupun berbicara.


Melihat sikap dan kondisi Recky yang kaku dan tidak mau meminta maaf, Mamanya berkata. "Bapak dan Ibu Tarikalla. Karena ini anak kami sudah datang, kami mewakilinya untuk minta maaf dan sekaligus melamar putri bapak dan Ibu sebagai rasa tanggung jawabnya. Semoga bapak dan ibu mau memaafkan anak kami dan bersedia memberikan putri kalian untuk menikah dengan anak kami." Bu Biantra bicara dengan sopan dan semanis mungkin.


"Karena memandang reputasi bapak dan ibu Biantra, kami menerima permintaan maafnya dan merestui anak kami menikah dengan putra bapak dan Ibu Biantra." Ucap Pak Tarikalla, Papa Liana.


Mendengar itu, tanpa pamit Recky berdiri dan berjalan keluar dengan langkah panjangnya. Dia mengambil kunci mobil dari sopir Mamanya, lalu masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesinnya. Dia memberikan isyarat kepada security untuk membuka pintu gerbang, sambil memundurkan mobilnya.


Dia sudah bersiap akan menerjang pagar gerbang rumah Liana, jika mereka tidak membukanya. Ketika mendengar dia menggas mobilnya berulang-ulang, security langsung membuka gerbang.


Recky keluar gerbamg rumah Liana dengan suara mobil yang meraung-meraung sebagaimana hatinya yang sedang berontak dan sangat marah.

__ADS_1


Dia membawa mobilnya masuk ke halaman rumahnya tanpa memperdulikan pelayan yang terkejut dan panik mendengar suara ban mobil berdeciiit, karena rem mendadak yang dilakukan oleh Recky.


Dia masuk ke kamar dan melepaskan seluruh pakaiannya. Lalu masuk ke kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air dingin. Dia merendam tubuhnya di dalam bathtub, karena merasa sebentar lagi bisa meledak.


Rasa panik memikirkan Papanya yang sakit dan penat dalam melakukan penerbangan seketika sirna, diganti dengan rasa marah yang tidak bisa dikendalikannya. Kejutan yang dihadapi dan apa yang dilakukan Mamanya hampir membunuhnya.


Hal itu membuat Recky menenggelamkan kepalanya dalam bathtub. Pada titik terendah kesadarannya, dia mengingat tanggungjawabnya di Australia. Dia mengeluarkan kepalanya dengan nafas tersengal-sengal dan berteriak sekeras-kerasnya.


Dia memukul air dalam bathtub berkali-kali, lalu menjambak rambutnya dengan kuat. Dia tidak bisa menerima semua yang dilakukan orang tuanya. Belum puas berteriak, dia keluar dari bathtub lalu membersikan dirinya. Dia ingin keluar dari rumah saat itu juga.


Recky mrngganti pakaiannya lalu memasukan dompet, ponsel dan kunci mobil dalam kantong celananya. Tiba-tiba ada bunyi ketukan di pintu kamarnya. "Recky, buka pintunya. Atau Mama akan perintah orang untuk mendobraknya?" Ucap Mamanya di depan pintu, karena pelayan telah menceritakan kondisi Recky saat tiba di rumah.


Recky membuka pintunya lebar dan membantingnya dengan sekuat tenaga. Hal itu membuat pintu bergetar dan Mamanya yang ada di depan pintu terkejut lalu memegang dadanya.


"Reckiii... Apa yang kau lakukan? Kau sudah membuat kami malu di depan keluarga Tarikalla." Mamanya membentak, setelah hilang rasa terkejutnya.


"Mama lebih memikirkan rasa malu di depan keluarga itu, dari pada perasaan anak sendiri? Dan mengapa harus malu di depan keluarga itu? Aku sudah lakukan apa, sampai Mama harus merasa malu?" Recky berkata dengan mata berapi-api.


"Kau sudah meniduri putri mereka, jadi kau harus bertanggung jawab. Kau laki-laki atau bukan?" Bu Biantra berkata tegas, karena Itulah yang dikatakan Liana kepadanya dan juga orang tuanya.


"Hahaha... Menidurinya? Aku menidurinya atau dia yang meniduriku?" Tanya Recky sambil menunjuk tangannya ke luar dan juga ke wajahnya.


"Jangan kau menghindari tanggung jawab dengan membuat banyak alasan. Apa yang sudah diputuskan tadi, itulah yang akan dilaksanakan." Bu Biantra berkata tegas, tanpa mau mendengar yang dikatakan Recky.


Mendengar itu, amarah Recky makin meluap. "Mama lebih percaya hantu itu daripada anak sendiri? Apakah benar, kau wanita yang melahirkanku?" Tanya Recky sambil menunjuk dada Mamanya.


"Reckiii...." Bu Biantra berteriak.


"Mamaaaa... Jika kau Mamaku, tidak akan menjebak dan mendorongku ke dalam jurang seperti ini." Recky berteriak lebih keras, lalu memukul tembok di dekatnya untuk melampiaskan marah dan sesal di dadanya.

__ADS_1


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2