
~•Happy Reading•~
Jekob bersyukur, dokter Hendra datang setelah dia selesai berbicara dengan Recky. Jika Recky mengetahui ada orang yang datang pada waktu seperti ini, dia akan curiga dan terus bertanya. Jika demikian, akan makin rumit karena Jekob tidak bisa menyembunyikan kondisi Aaric dari Recky.
Dokter Hendra kembali memeriksa kondisi Aaric. Kemudian dengan cepat dan cekatan mulai pasang infus dan memberikan obat yang diberitahukan oleh dokter Liam kepadanya, lewat infus. Dokter Hendra terus memandang wajah Aaric yang diam dan sangat dikaguminya.
"Pak Jekob, sementara ini kita hanya bisa menunggu perkembangan dan reaksi obat kepada tuan Aaric, enam jam kedepan. Jika tuan Aaric belum sadar, kita akan pindahkan ke rumah sakit. Menurut dokter Liam, mungkin beliau baru mengalami goncangan batin yang kuat." Ucap dokter Hendra sebagaimana yang disampaikan oleh dokter Liam kepadanya.
"Iya, dokter. Kita tunggu seperti yang dikatakan tadi. Kalau terjadi sesuatu saya akan membawa beliau ke Swiss, karena beliau tinggal dan pernah dirawat di sana. Jekob berpikir cepat, jika harus ke rumah sakit, dia akan membawa bossnya ke Swiss. Di sana lebih banyak orang mengenalnya dan ada banyak koleganya. Di sini hanya beberapa orang yang mengenalnya.
"Baik. Semoga obat ini bisa menolong tuan Aaric. Kita tunggu sambil berdoa." Ucap dokter Hendra, sambil terus memperhatikan Aaric yang belum sadar. Dia berharap, segera sadar agar bisa melakukan tindakan selanjutnya.
"Iya, dokter Hendra. Kita tunggu saja, sampai pagi. Kalau dokter mau istirahat, silahkan istirahat di kamar tamu. Saya yang akan tunggu beliau di sini." Ucap Jekob, lalu mengangkat sofa dalam kamar untuk mendekati tempat tidur Aaric.
"Baik. Saya istirahat sebentar, karena tadi ada banyak pasien dan belum istirahat. Kalau ada sesuatu, bangunkan saya saja." Ucap dokter, lalu berjalan keluar kamar dan diantar oleh Jekob ke kamar tamu.
Setelah kembali dari kamar tamu, Jekob memeriksa infus dan merapikan selimut bossnya. Melihat kondisi bossnya, banyak rasa di dalam hatinya. Karena dia tahu apa yang sedang terjadi. Dia tidak menceritakan peristiwa yang baru terjadi kepada dokter Hendra. Urusannya akan menjadi ribet dan panjang, karena menyangkut banyak keluarga, termasuk keluarga bossnya.
__ADS_1
Dia berpikir sambil duduk di sofa, samping tempat tidur Aaric. Dia menyangka bossnya sudah lepas dari trauma masa lalu saat melihatnya tersenyum. Tetapi peristiwa malam ini kembali merobek luka lama yang pernah membuatnya kehilangan dan meredupkan semua keceriaan hidupnya. Peristiwa yang telah merubah pribadinya yang hangat menjadi orang yang hidup seperti di kutub.
Di dalam pemikirannya hanya bekerja dan bekerja. Karena dengan bekerja, dia sedikit bisa melupakan peristiwa yang sangat melukainya. Ketika Jekob berada di Swiss dan bossnya pernah mengalami hal seperti ini, dokter Liam menyarankan untuk tidak menyenggol peristiwa-peristiwa yang pernah mengguncangnya.
Sehingga ketika melihat bossnya bisa tersenyum beberapa waktu lalu, dia sangat berharap bossnya bisa melupakan yang pernah terjadi dan kembali membuka lembatan baru dalam hidupnya.
Sambil menatap wajah bossnya yang sangat rupawan tetapi diam membeku, hatinya terenyu. Hidup sendiri di menara gadingnya, tanpa kehangatan. Memiliki segala-galanya, tetapi sendiri dalam saat-saat seperti ini membuat Jekob tertunduk dengan hati yang sangat sedih. Dia memanjatkan doa untuk kesembuhan bossnya yang sangat disayangi dan dihormatinya.
Dia terus berdoa dan berharap tidak terjadi sesuatu. Dia ingin mereka ke Swiss dalam kondisi yang baik. Tidak membawanya dalam kondisi seperti ini. Ketika bossnya memintanya untuk reservasi tempat untuk makan malam berdua, dia berharap itu pertanda baik bagi bossnya yang selama ini tidak pernah menanggapi wanita manapun yang mau mendekatinya baik secara diam-diam atau terang-terangan.
Jekob terkejut, saat ada tangan yang menyentuh lututnya. Dia membuka mata dan melihat bossnya sedang melihatnya sambil memberikan kode, minta minum.
"Tuaaan...." Rasa kantuknya seketika hilang. Dia bangun dan berdiri untuk menuang air yang telah disediakan di kamar bossnya. Kemudian membantu bossnya yang hendak duduk bersandar. Dia memberikan air kepada bossnya yang telah duduk dan bersandar. "Apa yang terjadi denganku, Jekob?" Tanya Aaric setelah selesai minum.
"Tadi malam, bapak katakan sakit kepala, berjalan terhuyung dan hampir jatuh. Syukur saya cepat menangkap bapak, jadi tidak sampai jatuh." Jekob menceritakam apa yang terjadi dengan bossnya tadi malam.
"Lain kali, bapak jangan menyimpan semuanya sendiri. Berbagi dengan saya, agar jangan sakit kepala seperti itu lagi. Bapak membuat saya sangat khawatir dan ketakutan. Saya ini tidak bisa lakukan sesuatu, tanpa petunjuk dari bapak." Jekob mengutarakan yang dirasakannya dengan hati lega dan juga terharu.
__ADS_1
"Apakah dokter Hendra sudah pulang?" Tanya Aaric mengalihkan Jekob dari omelannya. Dia tahu, Jekob pasti khawatir dan takut. Semua yang dikatakan karena menyayanginya. Sehingga dia mengalihkan perhatian Jekob, saat melihat infus di tangannya.
"Dokter Hendra sedang tidur di kamar tamu, Pak. Apa bapak merasa sesuatu yang tidak enak, atau kepala masih sakit?" Tanya Jekob mulai khawatir lagi. Tanpa sadar, dia memijit pelan kaki dan betis bossnya yang ada di balik selimut.
"Tidak Jekob. Kepalaku sudah tidak sesakit tadi malam. Saya ingin infus ini dilepasin, agar bisa tidur." Jawab Aaric, sambil menunjuk infus di tangannya.
"Kalau begitu, saya akan bangunkan dokter Hendra." Ucap Jekob lalu berdiri dan berjalan cepat keluar kamar. Tidak lama kemudian, Jekob kembali bersama dokter dengan wajah bangun tidur. Dokter Hendra merasa lega melihat Aaric telah duduk bersandar.
Dia segera memeriksa kondisi tubuh Aaric dan makin merasa lega, semuanya baik-baik saja. "Apakah bisa tunggu sampai infus ini selesai baru dicabut?" Tanya dokter Hendra yang melihat Aaric mulai merasa tidak nyaman dan terganggu dengan infus ditangannya.
"Dilepasin saja, dokter. Saya tidak bisa tidur, karena terganggu." Ucap Aaric karena dia merasa mengantuk dan ingin tidur. Jika infus tetap di tangannya, dia harus berhati-hati saat tidur.
"Baik, akan saya lepaskan. Tapi kalau ada apa-apa, hubungi saya. Karena saya mau Sholat dan langsung kembali ke rumah sakit." Jawab dokter Hendra, karena sebentar lagi mau Subuh. Aaric mengangguk untuk meyakinkan dokter Hendra. Sambil pamit, dokter Hendra menepuk kaki Aaric pelan untuk menenangkannya.
Jekob mengantar dokter ke pintu keluar apartemen sekaligus ke lift. "Terima kasih, dokter. Hati-hati di jalan." Jekob berkata dengan hormat, karena dokter Hendra lebih tua darinya. Aaric menjadikannya dokter pribadi, karena dokter Hendra baik hati, sabar dan pintar. Sehingga Aaric merasa nyaman berkonsultasi dan membiarkan dirinya dirawat olehnya, jika terjadi sesuatu dengan kesehatannya.
~●○♡○●~
__ADS_1