Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Saling Memahami.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Carren bertanya untuk meyakinkannya setelah mereka berdua duduk di ruang tamu. Pak Biantra tetap duduk di ruang makan untuk memberikan kesempatan berbicara kepada Aaric dan Carren. Sedangkan Jekob mulai membersihkan meja makan.


"Iyaa, Arra... Aku serius dan tolong jelaskan pada Mama. Besok kami akan datang melamarmu secara resmi. Soal waktu untuk menikah, kita berdua akan bicara setelah lamaran nanti. Aku mau melamarmu secepatnya, mumpung ada Papa di sini." Ucap Aaric serius dan berharap Carren bisa mendukung rencananya.


Carren melihat Aaric dengan serius, karena belum mengerti maksudnya. "Apa maksud kakak dengan mumpung Om ada di sini?" Carren jadi bertanya dengan serius, karena melihat keseriusan Aaric.


"Aku berencana akan membawa Papa setelah melamarmu. Aku ingin secepatnya memeriksa kesehatannya. Kau bisa lihat sendiri kondisi fisiknya dan mengapa aku memintamu buat soup ayam untuknya hari ini." Aaric tetap berbicara serius. Carren jadi melihat ke arah Pak Biantra kembali.


Tadi mereka bertemu secara tiba-tiba dan harus masak secepatnya agar tidak terlambat makan siang, jadi dia tidak memperhatikan kondisi Pak Biantra. Dia memang melihat Pak Biantra kurus, tetapi dia berpikir, Pak Biantra memang berbadan kurus dan mungkin sedang cape' jadi tidak segar. Setelah melihat kembali, dia mengerti yang dimaksudkan Aaric.


"Iya, Kak. Nanti aku coba bicara dengan Mama. Apakah ada yang kakak rencanakan lagi? Biar aku bisa bicara dan mengatur dengan karyawan juga, karena besok aku harus bolos lagi untuk bantu Mama di rumah." Ucap Carren, setelah memahani maksud Aaric dan memikirkan dampak dari keputusan Aaric.


"Tidak ada lagi. Hanya itu yang aku butuhkan agar Papa mendampingiku saat melamarmu. Yang lainnya, aku bisa sendiri dan akan bicarakan denganmu." Aaric berkata serius, karena dia memiliki waktu yang sangat terbatas. Mereka akan menyerahkan Gungun kepada Pak Hutama dan selanjutnya kepihak yang berwajib. Dia tidak mau Papanya ada di Jakarta, saat semuanya terjadi.


"Kalau begitu, setelah bersihin semuanya aku langsung pulang ya, Kak. Untuk makan malamnya, kakak dan Pak Jekob bicarakan. Sedangkan soup untuk Om aku pisahkan. Nanti Pak Jekob tinggal hangatkan saja." Carren jadi memikirkan kesehatan Pak Biantra, karena melihat sikap Aaric terhadap Papanya.

__ADS_1


"Baik. Tidak usah kau yang bersihkan. Biarkan Jekob saja, atau aku akan telpon Bibi untuk datang ke sini. Ini kau lihat dan pilih baju ganti untukmu, agar jangan pulang dengan baju yang sudah kotor seperti itu." Ucap Aaric sambil menyerahkan ipad nya kepada Carren untuk memilih baju yang akan dibelinya.


Melihat harga semua baju yang diperlihatkan Aaric, Carren menutup mulutnya dengan jari. Baju yang sedang dikenakannya adalah hasil jahitan Mamanya, mau diganti dengan baju dari butik yang berharga ratusan ribu sampai jutaan rupiah hanya untuk pulang ke rumahnya.


"Kak, tidak usah beli baju untuk ganti ini. Karena aku naik mobil, kakak pinjam kemeja atau jacket untuk tutupi ini saja." Carren menolak secara halus, agar Aaric tidak tersinggung. Bajunya tidak terlalu kotor, hanya sedikit kotor karena kena jatuhan sendok saat dia tersedak.


Aaric sendiri tidak tahu tentang baju wanita, jadi dia mencari secara asal di butik terdekat dengan apartemennya, agar bisa menemukan baju ganti untuk Carren.


"Baiklah. Kalau begitu, kau pilih saja baju untuk acara besok. Daripada kau buang waktu pergi mencarinya. Atau kau sudah siapkan juga bajunya?" Tanya Aaric, mengingat dia telah membicarakannya dengan Carren jauh hari sebelum ini, untuk mau melamarnya. Carren mengangguk, karena Mamanya sudah menyiapkannya.


"Baik. Kau siapkan soup untuk Papa makan malam, aku akan ambil kemeja dan mengantarmu pulang." Ucap Aaric sambil berdiri hendak ke kamar. Carren juga ikut berdiri dan menahan langka Aaric dengan memegang lengannya.


"Thank you. Aku ngga memikirkan itu." Aaric berkata sambil memeluk Carren dengan sayang, karena bisa memahami dirinya dan bisa memikirkan hal yang tidak terpikirkan olehnya. Dia merasa lega dan lebih mudah untuk mengatur yang lain. Tanpa mereka sadari, Pak Biantra sedang memperhatikan mereka.


Ketika Carren mengangkat matanya dan melihat kearah ruang makan melewati bahu Aaric, dia terkejut melihat Pak Biantra sedang memandang mereka. "Kak, lepaskan pelukannya. Kita sedang dilihat oleh Om." Ucap Carren pelan, lalu mencoba melepaskan pelukannya, tetapi Aaric tidak melepaskannya.


"Biarkan saja Papa melihat kita. Setiap generasi punya cara sendiri menyelesaikan masalahnya. Setiap orang juga punya cara sendiri membicarakan masalahnya. Melihat kita begini, Papa pasti tahu tidak ada masalah untuk rencana besok." Ucap Aaric tersenyum, membayangkan Papanya sedang melihat mereka.

__ADS_1


Menyadari Carren merasa tidak nyaman diperhatikan Papanya, Aaric memutar tubuhnya sehingga dia yang menghadap ruang makan. "Sekarang kau tidak bisa melihat Papa lagi, jadi tenanglah. Apa yang mau kau bicarakan lagi denganku, karena sekarang aku tidak punya ide untuk acara lamaran besok." Ucap Aaric yang masih memeluk Carren sambil tersenyum melihat Papanya berdiri dan berjalan ke arah dapur mengikuti Jekob.


"Apakah tidak apa-apa Om datang ke rumah kami yang sederhana? Aku dan Mama belum bisa mencat rumah dan besok tidak keburu untuk melakukannya." Carren memikirkan yang direncanakan Mamanya untuk cat rumah sebelum Aaric datang melamarnya.


Aaric refleks melepaskan pelukannya lalu mengajak Carren duduk kembali di sofa. "Kalau aku tidak masalah dan Papa juga mungkin tidak masalah. Tetapi jika itu masalah bagi Mamamu, tolong pikirkan lagi baik-baik. Apa kau mau aku menutup restoran untuk acara lamaran besok?" Tanya Aaric serius, karena baru terpikirkan olehnya.


"Kenapa harus tutup restoran untuk acara yang tidak terlalu lama, Kak. Apa seperti pertemuan kemaren saja?" Carren berpikir cepat untuk menemukan solusinya. Karena kalau di rumah, besok akan sangat sibuk.


"Aku harus tutup restoran sebelum dan sesudah acara berlangsung, karena Papa tidak bisa makan dan berada di tempat ramai. Jangan sampai terjadi accident yang mengganggu acara kita." Aaric berpikir, mungkin saja ada yang melihatnya bersama Papanya sebelum rencana dilaksanankan. Biar bagaimanapun, Papanya cukup terkenal dikalangan pebisnis atau bisa bertemu dengan keluarga Mamanya.


"Ooh... Kalau begitu di rumah saja. Nanti aku bicarakan dengan Mama dan kami akan merapikan sebisanya saja." Ucap Carren, pelan. Dia berpikir akan mengajak beberapa karyawan untuk membantunya, daripada harus menutup restoran.


"Atau kau mau kita bertunangan di sini? Jadi kau dan Mama tidak perlu repot, juga Papa tidak perlu keluar rumah." Carren melihat Aaric dengan tertegun, saat mendengar ucapannya.


"Itu solusi yang baru terlintas dipikiranku. Kau bicarakan dulu dengan Mama, dan itu adalah pilihan terakhir jika diperlukan. Aku belum bisa bicara banyak hal denganmu. Kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Nanti setelah kita bertunangan, aku akan menyediakan waktu untuk berbicara denganmu." Aaric berkata sambil memegang tangan Carren, dia berharap Carren bisa memahami yang dilakukannya.


Carren memandang Aaric yang sedang mandangnya dengan serius. "Iya, Kak. Aku akan berbicara dengan Mama." Carren berkata dengan yakin untuk menyakinkan Aaric.

__ADS_1


"Baik. Untuk kau ketahui, ada dua hal penting yang aku pikirkan dan harus diselesaikan. Yaitu, melamarmu secara resmi sesegera mungkin dan membawa Papa keluar sesegera mungkin. Yang lainnya, kita akan bicara setelah itu terlaksana." Ucap Aaric serius dan tegas. Carren mengangguk kuat untuk meyakinkan Aaric, bahwa dia memahaminya.


~●○♡○●~


__ADS_2