Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Kejutan 2.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Carren pun jadi ikut berhenti dan melihat Recky yang sudah berdiri di dekatnya. "Maaf, Recky. Aku buru-buru mau ikut dengan bapak ini." Ucap Carren, pelan dan hendak pamit. Karena selain tidak enak hati dengan sopir Parry, tetapi juga karena Ayunna dan Liana makin mendekati mereka.


Bukan karena Carren membenci mereka, tetapi dia tidak mau bertukar sapa dengan mereka. Apalagi bersama Recky, yang ada hanya sikap kepura-puraan seperti biasanya.


"Ini nomorku. Tolong disimpan dan respon panggilanku, karena aku pingin ngomong denganmu." Ucap Recky, sambil memandang serius wajah Carren. Kemudian dia mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi nomor Carren.


Recky merasa lega, ketika melihat ponsel di tangan Carren bergetar. Itu tanda baginya, berarti nomor Carren masih sama seperti yang ada di grup WA.


Sebelum Carren menjawab, Recky berbalik meninggalkan Carren. Karena dia menyadari, Ayunna dan Liana sedang mengikutinya. Dia tahu apa yang sering dilakukan Ayunna dan teman-temanya dulu di sekolah. Sehingga dia menghindari Ayunna dan Liana mendekati Carren.


Carren hanya bisa melihat punggung Recky yang telah berbalik. Dia tidak bisa berkata apa dan berlama-lama. Karena dia melihat Ayunna dan Liana sedang melihatnya dengan wajah manis empedu.


Dia pun berbalik berjalan mengikuti sopir Parry yang sedang menunggunya. Dia tahu, mereka berwajah manis, karena Recky telah berbalik menghadap mereka. Mengingat sikap Recky, Carren jadi bertanya-tanya dalam hati. Apa maksud dari semua yang dikatakannya.


"Wanita kampung itu masih mengganggumu?" Tanya Ayunna, saat sudah bertemu dengan Recky yang telah berjalan balik untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Siapa yang lu maksudkan dengan wanita kampung? Lu wanita kampungnya? Karena yang gangguin gue itu, luu." Ucap Recky cuek, dengan tatapan tajam dan dingin. Dia sangat marah, karena mereka berdua menempel padanya seperti Laron. Sehingga membuat dia harus berbicara dengan Carren seperti capung. Dengan rasa kesal dia berjalan meninggalkan mereka, ke tempat parkir dimana orang tuanya sudah menunggunya.


Liana terkejut mendengar ucapan Recky, karena dia belum pernah berbicara dengan Recky sebelumnya. Dia juga tertegun melihat wajah tampan Recky dari dekat. Hal itu membuat jantungnya berdetak cepat tanpa berirama.


.***.


Di sisi yang lain ; Carren duduk dalam mobil dengan diam sambil memegang dadanya. Karena jantungnya sejak tadi berdetak tidak beraturan melihat Ayunna dan Liana mendekati Recky. Dia khawatir terjadi hal-hal seperti dulu di sekolah, ketika Recky mendekatinya.


Sopir Parry segera menjalankan mobilnya keluar mengikuti iring-iringan mobil jenasah. Parry telah mengirim pesan, dia ikut bersama mobil jenasah. Oleh sebab itu, hanya Carren bersama sopir ke tempat kremasi.


Saat tiba di tempat kremasi dan menunggu antrian untuk proses, Parry mendekati Carren yang sedang duduk diantara keluarga yang antar sambil membawa minuman untuknya.

__ADS_1


"Ini minum dulu. Ngga usah pikirkan kejadian yang tadi." Ucap Parry, karena dia sudah mendengar dari sopir. Kenapa tadi agak lama karena bertemu dengan seorang pria yang berbicara dengan Carren.


Dia telah menduganya, pasti Recky akan mendekati Carren saat dia melihat Recky berdiri di jalan keluar tempat duka. Dia juga melihat Ayunna dan Liana ada datang bersama orang tuanya.


"Iya, ngga papa. Kau konsen menemani Tante dan Om saja. Tadi karena ngga sengaja bertemu dengan mereka, jadi agak terkejut saja." Ucap Carren pelan, agar Parry tidak mengkhawatirkannya.


Saat karangan bunga banyak diturunkan oleh para sopir, Carren mendekati Parry dan berbicara dengannya. "Parry, apakah semua karangan bunga itu akan  dibuang?" Tanya Carren.


"Iyaa, ada apa?" Parry balik bertanya.


"Apakah dengan semua tempat penyangganya?" Tanya Carren lagi, karena melihat kaki penyangga karangan bunga sangat bagus. Naluri seorang pendekor, tidak bisa diam dan dipendam.


"Ngga, hanya bunganya saja. Penyangganya suka diambil oleh siapa saja yang mau. Ada apa?" Tanya Parry heran, dengan pertanyaan Carren.


"Ooh, apa boleh buat aku? Karena sekarang aku lagi suka mendekor." Ucap Carren pelan, tetapi dia berharap bisa membawanya. Karena semua kaki penyangga bunganya bagus dan mahal. Ada yang bisa meletakan satu pot, sampai dengan tiga pot.


"Kalau begitu, pulang nanti kau diantarin sopir, ya. Karena aku mau pergi dengan kedua orang tuaku. Ada yang mau kami urus sehubungan dengan meninggalnya Kak Naina." Ucap Parry, menjelaskan dan Carren mengangguk.


Beberapa waktu kemudian di tempat parkir. "Makasih untuk semuanya, ya. Nanti aku akan menghubungi mu." Ucap Carren pelan, saat mereka akan berpisah setelah selesai kremasi dan Carren akan pulang sendiri dengan sopir. Parry mengangguk, sambil berpesan kepada sopirnya untuk mengantar Carren ke rumahnya.


"Nona Carren, silahkan dimakan. Itu sudah disiapkan oleh keluarga." Ucap sopir, saat Carren telah duduk dalam mobil. Dia duduk di samping sopir, karena tempat duduk di belakang sudah penuh dengan penyangga pot bunga.


Melihat itu, Carren bersyukur mobil yang dia naiki bukan sedan tapi CR-V, sehingga bisa muat semua penyangga pot bunganya.


"Baik, Pak. Terima kasih. Apakah bapak sudah makan?" Carren balik bertanya, karena melihat sopir tidak ikut makan dengannya.


"Sudah, Nona. Tadi saya makan terlebih dahulu." Jawab sopir Parry ramah, lalu Carren mengangguk mengerti.


Karena jalanan agak macet, hampir sore baru Carren tiba di rumah. Dia dibantu oleh sopir Parry untuk menurunkan semua besi penyangga pot dan meletakannya di depan rumahnya.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Pak. Hati-hati di jalan." Ucap Carren, sambil menyelipkan amplop sebagai tanda terima kasih telah membantunya. Walau pun sopir Parry tidak mau menerima, Carren tetap meletakan amplopnya di kursi depan dan menutup pintu mobil.


"Arra, kau masih sempat pergi beli semua ini?" Tanya Bu Nancy heran, saat melihat Carren pulang membawa banyak penyangga pot dalam berbagai bentuk.


"Ngga, Ma. Ini dari tempat duka dan...." Carren menceritakan semuanya, kenapa dia membawa pulang banyak penyangga itu. Mamanya mengangguk mengerti, sambil mengacak rambut putrinya. Karena tidak menyangka dia bisa kepikiran seperti itu.


"Arra mandi dulu ya, Ma. Karena mau istirahat sebentar, cape'." Ucap Carren, lalu mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Dia ingin segera tidur, karena cape kerja kemarenan belum terbayar.


Sebelum tidur, dia mengirim pesan untuk Parry bahwa dia telah sampai rumah dan meminta terima kasih untuk semua yang dilakukan Parry.


.***.


Di sisi yang lain ; Recky baru selesai berenang di kolam renang milik keluarganya. Dia sedang duduk di gazebo sambil minum minuman dingin yang disediakan pelayannya. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Carren.


Namun melihat banyak chat dan misscall dari Ayunna, dia menjadi kesal. Dia meletakan lagi ponselnya dan melepaskan bathrobe lalu kembali berenang untuk menurunkan level emosinya yang mulai naik. Setelah emosinya mulai meredah, dia berhenti berenang dan kembali naik dan duduk di pinggir kolam kemudian mengenakan bathrobe nya.


Dia mengambil ponselnya dan mengabaikan semua chat, lalu menghubungi Carren. Setelah beberapa kali tidak direspon, Recky mengirim pesan. "Carren, kau ada di mana?" Ketika melihat pesannya hanya ceklis satu, dia berpikir mungkin Carren sedang sibuk di tempat Parry.


Setelah makan malam bersama kedua orang tuanya dan berbicara dengan Papanya, Recky masuk ke kamar untuk memeriksa ponselnya. Dia masih penasaran dengan Carren yang belum membalas chat nya.


Recky hanya berbaring sambil menunggu, karena dia sedang malas keluar rumah. Teman-temannya yang tahu dia ada di Jakarta, mengajaknya bertemu. Tetapi dia tidak menerimanya, dengan alasan ingin istrahat dulu, karena baru tiba.


Saat mengetik pesan balasan untuk teman-temannya, dia melihat ada pesan masuk dari Carren. Dia mengabaikan pesan temannya dan berhenti mengetik untuk membalas pesan. Dia segera membaca pesan dari Carren.


Wajahnya tersenyum saat membaca pesan Carren. Karena walaupun hanya mengirim pesan, Recky sangat senang Carren telah meresponnya.


"Maaf, Recky. Aku baru bangun." Bunyi pesan Carren. Recky tidak membalasnya, tetapi langsung menelponnya.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡

__ADS_1


__ADS_2