Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Unhappy 1.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Melihat Parry berkata serius, Carren tidak jadi tertawa dan bercanda. Padahal dia mau mengatakan: 'dimana-mana itu, orang yang melamar kerja, bukan kerjaan yang melamar orang.' Tetapi dia tidak mengucapkannya, karena Parry sedang menanti jawabannya dengan serius.


"Parry... Karena kau yang mengatakan itu, aku mendengarkan dan mau menanggapinya dengan baik. Kalau orang lain yang mengatakannya, aku akan berdiri meninggalkannya tanpa perlu menjawab." Carren berkata, sambil menatap Parry dengan serius.


Dalam pikiran Carren saat mendengar yang dikatakan Parry ; Jika orang lain yang menawarkan hal tersebut kepadanya, dia akan berpikir negatif. Karena itu merupakan sesuatu yang tidak masuk akal dan pasti orang tersebut memiliki motivasi tertentu terhadapnya yang hanya seorang lulusan SMU.


"Kalau kau serius dengan yang dikatakan tadi, aku berterima kasih. Berarti kau menganggap aku bisa bekerja di bidang itu. Aku tidak akan berpikir kau sedang mengasihaniku, sehingga menawarkan pekerjaan itu untukku." Ucap Carren pelan dan serius.


"Astaga, Carren. Kalau aku kasihan padamu, aku ngga akan menawarkan pekerjaan. Tetapi cukup membantumu dengan cara yang lain. Aku menawarkan posisi itu, karena aku percaya padamu dan mengetahui kemampuanmu." Parry berkata serius, untuk meyakinkan Carren.


"Iya, Parry. Makanya tadi aku berterima kasih, karena percaya kau ngga berpikir begitu. Tetapi aku minta maaf ngga bisa membantumu kali ini, karena aku lebih senang bekerja di tempat yang aku suka." Ucap Carren perlahan, agar Parry bisa mengerti yang dia maksudkan.


"Karena jika kita suka dengan apa yang kita kerjakan, hasilnya akan berbeda dengan sesuatu yang kita kerjakan dengan terpaksa. Bukan berarti aku ngga suka bekerja sebagai sekretaris, karena aku belum pernah mencobanya. Tetapi aku sudah memiliki pekerjaan yang aku suka." Carren berkata pelan dan serius


Dengan kemampuannya, Carren bisa bekerja sebagai sekretaris Parry. Selain menguasai bahasa Inggris dan Mandarin, dia juga sudah mulai menguasai bahasa Jepang. Hal itu dia pelejari saat bertemu dengan seorang teman di kelas kursus merangkai bunga.


Sedangkan secara akademik, dia telah belajar banyak saat membantu Parry belajar dan diskusi. Sehingga sebagai seorang sekretaris, dia akan mampu membantu Parry.


Tetapi jika berbicara pekerjaan yang disukai, berbicara juga tentang kepuasan hati, bukan semata-mata mampu atau tidak mampu. Selain itu, dia memikirkan rekan-rekannya yang sangat berharap padanya untuk bisa bekerja. Dia tidak bisa memikirkan dirinya sendiri lagi, setelah berbicara dengan Ichad, Akri dan Rosna.

__ADS_1


"Benarkah...? Kau ngga bisa menerima tawaran untuk bekerja bersamaku? Aku akan memberikan gaji lebih dari sekretaris Kak Naina, asalkan kau bersedia bekerja denganku." Dengan pelan Parry bertanya dan berusaha membujuk Carren. Karena dia sangat membutuhkan kehadiran Carren di sisinya saat mulai menerima jabatan baru di perusahaannya.


Sebagaimana yang dikatakan Papinya, sekretaris dan asistennya harus bisa dipercaya. Bagi Parry, Carrenlah orang yang dia percaya dan orang terdekat dengannya, selain keluarganya sendiri.


"Iyaa, Parry. Aku minta maaf, ngga bisa membantumu kali ini. Aku sudah berjanji untuk membantu beberapa orang dengan pekerjaan yang aku tekuni saat ini. Kau bisa punya banyak peluang untuk mendapatkan seseorang yang tepat untuk posisi itu. Tetapi teman-temanku hanya memiliki aku untuk bisa survive dalam bekerja. Jadi untuk yang ini, aku mohon pengertianmu." Karena Carren sudah yakin dengan pilihan dan keputusannya.


Parry melihat Carren lama dan mencoba mengerti yang dikatakannya. Dia menyadari, seberapapun besar gaji yang ditawarkannya, Carren tidak akan bergeming dari keputusannya. Dia teringat yang dikatakan Papinya, harus mencintai pekerjaan yang dikerjakan.


"Baiklah, kalau kau sudah yakin seperti itu. Aku tidak akan memaksamu lagi, walaupun aku sangat berharap kau bisa bekerja bersamaku. Aku percaya, kau pasti memiliki pertimbangan sendiri, sehingga ngga menerima tawaranku. Mari nikmati dessert ini, dan lupakan apa yang sudah kita bicarakan tadi." Parry berusaha mengalihkan pembicaraan agar Carren tidak melihat kekecewaan di wajahnya.


.***.


Di sisi yang lain dari Nine five Restaurant, Ayunna dan Liana sedang bertemu untuk makan siang. Mereka sudah membuat janji dengan teman-temannya untuk makan siang bersama di tempat tersebut.


Mereka adalah anak-anak dari keluarga konglomerat di negeri ini, sehingga bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. Karena uang bukan penghalang bagi rencana study atau karier mereka. Semuanya sudah tersedia bagi mereka yang lahir dari orang tua kaya dan kaya raya.


Seperti Ayunna dan Liana, orang tua mereka memiliki jaringan bisnis yang menyebar di Indonesia dan Mancanegara. Sehingga hidup mereka bisa dibilang tidak kekurangan materi. Apa yang mereka inginkan dan rencanakan bisa dengan mudah terujud.


Seperti sekarang, mereka mau bertemu dengan teman-teman dari kalangannya di tempat yang sesuai dengan status sosial mereka. Pakaian, tas atau sepatu bermerek telah menjadi teman hari-hari. Begitu juga dengan tempat kumpul atau restoran kesukaan.


Semua itu menunjukan siapa mereka dan siapa orang tua mereka. Mereka tidak bisa berkumpul di sembarang tempat atau dengan sembarang orang. Karena status sosial mereka dan orang tua mereka bisa menjadi ancaman untuk diri mereka sendiri.

__ADS_1


Jadi ada enak dan tidak enaknya juga bagi mereka yang berada dalam kondisi tersebut. Mereka akan merasa nyaman jika berada diantara orang-orang dari sesama kalangannya.


Ayunna dan Liana telah selesai makan. Tetapi teman yang ditunggunya belum juga datang. Hal itu membuat mereka mulai uring-uringan dengan ponsel dalam genggaman. Mereka terus menanyakan posisi temannya yang belum juga datang. Padahal mereka sudah pesan dessert.


"Hi, Ayunna dan Liana. Sorry, agak terlambat, karena aku harus nungguin Sainy." Kata Riri yang baru datang, mencoba menyapa dengan wajah tersenyum sambil mendekati meja Liana dan Ayunna.


"Hi, Sainy. Hi, Riri... Ayo, duduk. Kami sudah pesan menu duluan. Silahkan pesan yang kalian inginkan." Liana berkata santai, saat melihat teman mereka yang baru datang. Dia mencoba bersikap hangat, karena dia tahu siapa Sainy.


"Sorry, kami terlambat karena tadi tertahan Nyokap di butik." Sainy meminta maaf, lalu duduk di depan Ayunna sedangkan Riri di depan Liana. Sainy juga seorang putri konglomerat, sehingga walaupun masih kuliah sudah memiliki butik sendiri. D'Sainy Boutique yang terkenal.


Berbeda dengan Ayunna, Liana dan Riri yang hanya fokus untuk kuliah. Dia telah merintis butiknya sejak mulai kuliah, sehingga sekarang butiknya sudah memiliki brand sendiri. D'Sainy Boutigue terkenal di kalangan ibu-ibu sosialita dan juga para artis.


"Apa kabar kalian berdua, apakah sudah selesai ujian?" Tanya Riri kepada Ayunna dan Liana untuk mencairkan suasana. Sedangkan Sainy sedang berbicara dengan waiters yang sedang melayaninya.


"Aku belum ujian, karena skripsiku belum di acc. Sedangkan Ayunna tinggal tunggu ujian." Liana menjelaskan dengan wajah mendung, karena kuliahnya tidak selancar teman lainnya.


"Ooh, ok. Setelah lulus, Ayunna mau ke mana atau mau lakukan apa?" Tanya Sainy, setelah selesai pesan menu kesukaannya dan Riri. Pikiran Sainy sudah dipenuhi dengan bekerja dan berbisnis seperti orang tuanya. Oleh sebab itu, dia bertanya kepada Ayunna.


"Aku akan bekerja di perusahan orang tuaku, karena aku anak tunggal. Jadi harus terima nasib, ngga bisa kemana-mana lagi. Bagaimana denganmu Riri, apakah mau kerja atau kuliah lagi?" Tanya Ayunna kepada Riri yang tidak berkonsentrasi dengan pembicaraan teman-temannya. Sehingga agak terkejut mendengar pertanyaan Ayunna.


"Ooh, kalau aku akan lanjutkan kuliah di Amerika, gantian dengan Kakakku. Sekarang dia sudah pulang dan akan bekerja bersama orang tuaku. Jadi aku belum pikirkan untuk bekerja, masih mau lanjutkan kuliah seperti Kakakku." Riri mencoba konsentrasi dengan pembicaraan teman-temannya.

__ADS_1


Tetapi kemudian, matanya kembali tertuju ke satu arah dan itu menarik perhatian Ayunna dan Liana. Mereka ikut melihat kearah yang dilihat Riri. Alis mereka bertaut saat melihat orang yang sedang diperhatikan oleh Riri.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2