Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Goropaku Restaurant.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Ayunna telah selesai ujian dan lulus, sehinga dia sudah bisa beraktivitas di luar rumah sebagaimana biasanya. Hal itu membuatnya merasa sangat senang, dan bersemangat ketika bangun pagi. Sambil menggerakan tubuhnya yang terasa kaku, dia mengambil ponselnya di samping tempat tidur.


Ketika melihat petunjuk waktu di ponsel, dia terkejut. Waktu telah menunjukan hampir jam sembilan pagi. Dia segera turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Dia ingin shoping dan makan enak di luar, setelah beberapa waktu tidak bisa melakukannya.


Saat berpikir makan enak, dia teringat akan janjinya pada Sainy. Dia berjanji mau traktir makan di Goropaku Restaurant, jika telah selesai ujian dan lulus. Selesai mandi dan berpakaian untuk ke luar rumah, dia mengambil ponsel dan menghubungi Sainy. 'Semoga Sainy tidak sibuk hari ini.' Ayunna membatin.


📱"Alloo, Sainy. Lagi sibuk hari ini?" Tanya Ayunna, saat Sainy merespon panggilannya.


📱"Alloo, Ayunna. Yaa, sibuk seperti biasa di butik. Apa kabarmu, apakah sudah selesai ujian?" Jawab Sainy dan balik bertanya.


📱"Iya, Sainy. Makanya ini aku telpon, mau ngajak makan siang di Goropaku. Kau bisa ngga?" Jawab Ayunna dan balik bertanya. Jika Sainy bisa, dia akan ke restoran dulu baru ke Mall. Kalau tidak bisa, dia akan langsung ke Mall untuk shoping dan makan siang di sana.


📱"Bisa, bisa. Kalau begitu, sampai ketemu di sana, ya." Sainy menjawab Ayunna, dan segera mengakhiri pembicaraan, karena asistennya memberi isyarat, ada konsumen yang mau bertemu dengannya.


Selesai melayani konsumennya, Sainy menghubungi Riri untuk mengajaknya makan siang bersama Ayunna. Setelah menghubungi beberapa kali dan tidak di respon, Sainy mengirim pesan. "Riri, hari ini sibuk ngga? Aku mau mengajakmu makan siang bersama Ayunna." Isi pesan Sainy.


Beberapa saat kemuadian Riri membalas pesannya. "Aku tidak bisa, lagi kerja." Isi pesan Riri. Ketika membacanya, dahi Sainy berkerut. Riri menjawabnya dangan singkat, tidak seperti biasanya. Sainy mengabaikan pikirannya, ketika berpikir mungkin Riri marah padanya.


Sainy menghubungi Liana, untuk mengundangnya, makan siang. Dia merasa sedikit senang, mengetehui Liana bisa ikut makan siang dengan mereka, karena telah ujian dan lulus.


.***.

__ADS_1


Menjelang waktu makan siang, Ayunna tiba di Goropaku Restaurant. Dia memarkirkan mobilnya dan masuk ke restoran. Setelah berbicara dengan waiters, dia diantar ke meja yang telah direservasinya.


Beberapa saat kemudian, Sainy tiba dan berjalan ke meja tempat Ayunna telah duduk. Karena Ayunna mengangkat tangan ke arahnya, saat melihatnya telah masuk restoran. Mereka berpelukan, karena lama tidak bertemu. "Selamat untuk kelulusanmu, ya." Sainy memberikan selamat sambil bercipika cipiki dengan Ayunna.


Saat hendak duduk, Ayunna tertegun melihat Liana yang baru masuk restoran dan melihat Sainy mengangkat tangan ke arahnya. Begitupum dengan Liana yang terkejut, melihat Ayunna telah duduk bersama Sainy.


Dia menyangka hanya berdua makan siang bersama Sainy. Begitupum yang dipikirkan oleh Ayunna. Hal itu membuat suasana makan siang mereka jadi berubah rasa. Sangat terasa aura tidak menyenangkan di antara mereka, karena Ayunna dan Liana belum berkomunikasi sejak peristiwa di Nine Five Restaurant.


Sainy yang tidak mengetahui apa yang terjadi diantara Ayunna dan Liana, menyalami dan cipika cipiki dengan Liana sambil memgucapkan selamat. Ayunna dan Liana tidak saling memberikan selamat atau bertegur sapa.


Ayunna menyamarkan suasana dengan memberikan kode kepada waiters untuk mendekati meja mereka. Ayunna berbicara dengan waiters untuk memesan menu makan siang, sehingga Sainy tidak menyadari kalau Liana dan dirinya tidak bertegur sapa.


"Kenapa kau ngga kasih tau Riri juga untuk makan siang bersama?" Tanya Ayunna sedikit kesal. 'Kenapa Sainy menghubungi Liana tanpa bertanya padanya dan kenapa tidak sekalian dengan Riri.' Ayunna membatin.


"Ooh iya. Aku sudah hubungi Riri, tapi dia ngga terima telponku. Lalu aku kirim pesan dan dia membalasnya. Katanya tidak bisa ikut, lagi kerja." Sainy menjelaskan apa yang dikatakan Riri padanya.


"Mungkin. Itu yang dikatakannya tadi." Baru terpikirkan Sainy, saat mendengar pertanyaan Ayunna. Tadi saat Riri membalas pesannya, Sainy tidak berpikir Riri bekerja di kantor.


"Maksudmu, Riri tidak jadi kuliah di Amerika?" Liana ikut bertanya, mengingat apa yang telah dikatakkan Riri saat pertemuan mereka sebelumnya.


"Mungkin. Aku ngga pernah bertemu dengan Riri lagi, setelah acara peluncuran produk baru dan fashion show di butikku." Sainy mengingat pertemuan terakhirnya dengan Riri.


"Saat dia datang juga tidak bicara apa-apa mengenai kuliahnya di Amerika atau sudah bekerja." Sainy mengingat lagi saat dia berbicara dengan teman-temannya.

__ADS_1


"Lagian untuk apa juga dia kuliah di Amerika. Kakaknya ada untuk mengatur perusahaan orang tuanya. Dia tidak perlu banyak ilmu, tinggal kerja saja. Beda denganku harusnya kuliah lagi untuk dapat banyak ilmu. Tapi otakku sudah tidak mampu lagi untuk belajar, jadi bekerja saja." Ayunna berkata sambil membayangkan dirinya yang akan bekerja.


"Yaa, seperti kita ini yang ngga punya saudara laki-laki, harus segera terjun bebas bekerja. Atau menikah, supaya suami yang bantu bekerja." Liana memimpali yang dikatakan Ayunna.


"Usul yang bagus itu. Kalau sudah dapat yang cocok, tunggu apa lagi lama-lama. Biar suami bisa tutupin otak kita yang tingkatnya di bawah rata-rata." Ayunna sengaja berkata demikian untuk menyentil Liana.


"Iya, benar. Kalau aku, tinggal urus butik. Perusahaan orang tua biar diurus orang tua dan suami. Makanya sekarang orang tua lagi gencar-gencar cari calon suami." Sainy mulai curhat.


"Sama. Orang tuaku malah sudah bicarakan tentang kakaknya Riri. Kalau bisa perempuan melamar laki-laki, mereka akan datang melamar kakaknya Riri untukku." Ucap Ayunna sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Orang tuamu juga melakukannya? Sama dong, mereka selalu membahasnya di depanku. Kenapa tidak pergunakan pertemananku dengan Riri untuk mendekati kakaknya." Liana menimpali sambil tersenyum ke arah Ayunna. Dia lupa kalau lagi bersitegang dengannya.


Pembicaraan mereka terhenti, saat waiters mengantar menu pesanan mereka. Setelah semua menu telah disajikan dan waiters telah meninggalkan meja, mereka kembali berbicara.


"Astaga, apa hebatnya kakaknya Riri, sampai menjadi incaran orang tua kalian?" Sainy bertanya, tetapi tersenyum mengingat Mommynya pernah juga berbicara demikian dengannya.


"Kau bertanya apa hebatnya? Bukankah kau teman dekat dengan Riri? Masa kau ngga tau, sepak terjang kakaknya Riri. Orang tuaku saja tau, sampai mengincarnya untuk jadi mantu mereka. Kakak Riri seorang pebisnis yang jempolan. Perusahaan orangtuanya sekarang sangat maju saat dipegang olehnya. Jadi di mata orang tua, dia akan mengurus perusahaan mereka sama baiknya." Ayunna melihat Sainy dan menjelaskan dengan hati bertanya-tanya.


"Yaaa, mungkin untuk mengelolah perusahaan dia hebat. Tapi untuk jadi suami, bukan hanya perlukan itu. Pria labil, yang tidak berprinsip seperti itu apa gunanya. Bisa-bisa kita dicuekin, karena mengikuti apa kata Ibunya." Sainy menyampaikan pendapatnya tentang Kakak Riri.


"Kau sedang berbicara tentang siapa ini, Sainy? Kami sedang membicarakan kakaknya Riri. Kau belum pernah bertemu dengannya? Aku belum pernah bertemu secara langsung, tapi pernah melihatnya di sosmed. Riri memajang foto berdua dengan kakaknya." Ayunna tahu, kakak Riri tidak kalah tampan dari Recky.


"Wajahnya masih indonesia, tapi ada campuran bule dari Papanya. Makanya kau bisa lihat wajah Riri, ada bule-bule dikit dari Papanya yang campuran Jawa Belanda. Itu menurut keterangan orang tuaku, saat mereka membicarakan kakak Riri kepadaku." Liana menimpali ucapan Ayunna, mengingat yang dikatakan Mamanya.

__ADS_1


"Aku sudah bertemu dengannya di butik. Kalau wajah emang ngalahin model yang aku sewa untuk fashion show saat itu. Tetapi sikapnya, sorry deh... Ngga masuk daftarku sebagai calon suami." Sainy berkata sambil mengibaskan tangannya dan mengajak mereka makan makanan yang telah disajikan. Ayunna dan Liana melihatnya dengan alis bertaut.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2