
~•Happy Reading•~
Aaric langsung menyampaikan rencanya mau melamar Carren. Mendengar ucapan Aaric yang tiba-tiba dan serius, Carren yang sedang makan jadi tersedak. Wajahnya seketika memerah dan sedok di tangannya jatuh ke atas pangkuannya. Aaric menepuk pelan punggung Carren sambil tersenyum lalu memberikan gelas berisi air kepada Carren "Kakak kalau ngomong, sukaaa, benar." Ucap Carren setelah minum dan merasa tenggorokannya lebih baik.
Giliran Pak Biantra yang tersedak mendengar ucapan Carren yang tertahan dan diakhiri dengan kata benar. Beliau baru pernah mendengar candaan seperti itu. Jekob yang duduk di sampingnya segera menepuk dan mengusap pelan punggung Pak Biantra dan memberikan minum untuk melegakan tenggorokannya.
"Aku jadi ngerti, kenapa Mama suka larang berbicara jika sedang makan. Ternyata mencegah terjadi yang begini, ini, rupanya." Ucap Carren tersenyum mengingat Mamanya, yang selalu memgingatkan jika mau berbicara. 'Tunggu setelah makan atau menelan yang sedang dikunya.'
Mendengar yang dikatakan Carren, akhirnya mereka semua makan dalam diam. Tidak ada yang berbicara atau berkomentar tentang sesuatu. "Aaah... bicara saja. Kalau makan diam begini, justru terganggu dengan suara menelan ayam." Ucap Pak Biantra protes, karena terlalu sepi dan beliau tidak menyukainya. Beliau merasa seperti di rumah sedang makan dengan istrinya. Sehingga apa yang melewati tenggorokan bisa terdengar. Semua serius dengan makanan di depannya.
Aaric dan Jekob langsung tersedak mendengar apa yang dikatakan Pak Biantra. Aaric baru pernah mendengar Papanya bisa becanda dengan celetukannya. Carren secara refleks menepuk punggung Aaric di sampingnya dan memerinya minum. Hal yang sama juga dilakukan oleh Pak Biantra kepada Jekob di sampingnya. Pak Biantra jadi merasa bersalah melihat wajah Aaric yang memerah dan matanya berair.
"Mungkin bisa berbicara, tapi tidak ngucapin kata yang ajaib kali, Om." Ucap Carren spontan, karena terbiasa mendengar candaan karyawannya. Dia langsung menutup mulutnya saat melihat Pak Biantra, Aaric dan Jekob memandangnya dengan terkesima.
"Uuupsss... Dicoba tahunya, Kak. Makannya pakai sambal ini." Ucap Carren sambil meletakan tahu dan sambal di piring Aaric. Dia mencoba mengalihkan perhatian ketiga pria yang sedang memandangnya. Tiba-tiba mereka bertiga tertawa bersamaan melihat wajah Carren yang memerah dan salah tingkah.
__ADS_1
Aaric meletakan sendok dan garpu di tangannya lalu berdiri mengambil tissu. "Sebenarnya siapa yang mengucapkan kata ajaib?" Aaric berkata setelah membersihkan mulut, hidung dan matanya dengan tissu. Dia juga memberikan tissu untuk Papanya dan Jekob yang sedang menahan tawa, karena melihat Carren menjawab Aaric dengan menunjuk wajahnya sendiri.
"Iya, benar, Carren. Tahu dan sambal ini sangat enak. Kalau nanti malam makan dengan ini lagi, saya mau." Pak Biantra berkata setelah mencoba tahu dan sambal buatan Carren. Aaric dan Jekob jadi ikut mencoba dan mengangguk mengiyakan yang dikatakan Pak Biantra. Aaric memberikan isyarat ok dengan jarinya.
Tahu kuning yang tidak digoreng kering, sangat cocok dengan sambal buatan Carren. Sebetulnya bukan sambal seperti pada umumnya. Itu hanya kecap ditambah dengan daun seledri dan potongan cabe rawit. Jadi rasanya sangat berbeda, manis, sedikit pedas dan ada rasa seledri bercampur dengan tahu yang lembut. Dalam sekecap tahu sudah menghilang dari piring dan sambal tak bersisa. Carren tersenyum senang melihat tahunya laris manis.
"Waaah... Tempe ini juga sangat enak dimakan dengan nasi panas." Pak Biantra berkata setelah mencoba tempe yang dipotong dadu dan dikecapin oleh Carren. Pak Biantra seperti seorang kuliner yang sedang mencoba masakan dan memberikan penilaiannya.
Mendengar yang dikatakan Pak Biantra, Aaric dan Jekob ikut juga mencoba. Setelah mencicipinya, mereka mengangguk setuju. Aaric kembali memberikan isyarat ok dengan jarinya.
"Biarkan begini saja, ngga usah buru-buru dipindahkan." Aaric berkata saat melihat Carren akan membersihkan meja setelah mereka selesai makan. Aaric menginginkan mereka duduk santai sejenak setelah menghabiskan hampir semua menu yang disiapkan Carren. Yang tertinggal hanya soup ayam, tetapi ayam rebus bumbunya tinggal tulang di piring. Carren kembali duduk, mengikuti permintaan Aaric.
"Kau serius, besok mau pergi melamar Carren?" Tanya Pak Biantra, mengingat keseriusan Aaric menanggapi ucapannya. Beliau jadi ingin memastikan, agar Carren bisa menjadi menantunya. Seorang pria akan jatuh hati kepada wanita yang bisa mengenyakan perutnya dengan makanan enak buatan tangannya. Begitu juga dengan mertua pria terhadap mantu wanitanya. Beiau ingin Aaric tidak terlalu lama berpikir jika sudah merasa cocok atau banyak pertimbangan mengingat usianya sudah lebih dari cukup untuk menikah dan menjadi seorang Ayah.
"Serius, Pa. Nanti setelah ini, Carren bicara dengan Mamanya agar beliau siap-siap menyambut kita. Karena hanya kita bertiga yang datang, jadi mungkin tidak perlu banyak persiapan." Ucap Aaric sambil mengelus pelan punggung Carren yang sedang melihatnya. Sebuah tindakan isyarat yang diberikan Aaric, agar Carren tenang dan ikuti saja yang direncanakannya.
__ADS_1
"Kalau itu rencanamu, Papa setuju. Lalu bagaimana dengan Papanya? Apakah beliau bisa dengan mudah menerima keputusanmu?" Tanya Pak Biantra, karena Aaric hanya mengatakan Mamanya. Sedangkan yang agak sulit melepaskan putrinya itu, adalah Ayahnya. Pak Biantra menilai berdasarkan posisinya, jika sebagai Ayah dari putri seperti Carren.
"Papanya sudah meninggal, jadi hanya berdua dengan Mamanya. Carren anak tunggal." Aaric menjelaskan kepada Pak Biantra, Carren dan Jekob hanya diam mendengar.
"Oooh... Om minta maaf, ya. Aaric belum cerita banyak tentang Carren, jadi tidak tahu. Nanti setelah ini dan ada waktu, kita bisa ngobrol." Pak Biantra makin mengerti dan sayang pada Carren setelah mendengar penjelasan Aaric. 'Pantes tadi dia memperlakukanku seperti Papanya.' Pak Biantra berkata dalam hati
"Papa mengerti maksudmu, Aaric. Tetapi alangka baiknya, setelah ini kau bicara dengan Carren agar dia juga bisa mengerti maksud baikmu." Pak Biantra berkata demikian, karena melihat Carren terdiam mendengar rencana Aaric. Beliau ingin agar keputusan yang diambil berdasarkan hasil rembuk berdua, bukan hanya dari pihak putranya.
"Iya, Pa. Jekob, bantu angkat semua ini, saya mau bicara dengan Carren." Aaric berkata kepada Jekob yang sedang menyimak semua pembicaraan yang sedang berlangsung.
"Siap, Pak." Ucap Jekob dengan sigap. Lalu mereka semua bersyukur untuk makanan yang telah dinikmati, kemudian berdiri meninggalkan meja makan. Carren yang merasa tidak enak, ingin membantu Jekob, tetapi Aaric melarang dan mengajaknya ke ruang tamu.
"Kakak serius mau ke rumah besok untuk melamar?" Tanya Carren serius, karena dia tidak menyangka waktunya begitu cepat. Memang Aaric telah katakan kepada Mamanya akan datang melamar secara resmi di rumah dalam waktu dekat, tetapi Carren tidak berpikir sedekat ini. Dia yakin, Mamanya juga akan berpikiran sama dengannya.
~●○♡○●~
__ADS_1