Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Bersiap-siap.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Setelah berhenti di pompa bensin, Aaric mengirim lokasinya kepada Jekob. "Pak, berapa kira-kira penghasilan bapak sehari?" Tanya Aaric, mengingat janjinya kepada sopir untuk membayarnya dua kalipat upah sehari, sebelum dijemput oleh Sapta.


"Biasanya, sekitar 700 sampai 1, 2 kalau sampai malam, Pak. Tapi karena ini masih siang dan bapak hanya beberapa jam, seiklasnya bapak saja." Ucap Sopir sopan, karena tidak menyangka sudah selesai mengantar Aaric.


"Kalau begitu, bapak tunggu saya di sini. Saya turun sebentar, mau ke ATM." Ucap Aaric sambil memakai topi dan kaca matannya lalu turun dari mobil. Semua uang tunainya telah dipakai untuk menyewa kapal dan mebayar jasa kaptennya.


Tidak lama kemudian, Aaric kembali masuk ke mobil lalu menyerahkan segepok uang tunai seratus ribuan kepada sopir. "Tolong dihitung, Pak. Apakah itu cukup?" Tanya Aaric saat menyerahkan uang tersebut.


"Alhamdulillah. Ini lebih dari cukup, Pak. Terima kasih." Ucap sopir, tidak menghitung lagi. Karena menurut perkiraanannya, uang yang diterimanya bisa lebih dari dua jutaan. Aaric memberikan 2,5 juta untuknya sebagai ucapan terima kasih telah menemani dan mengantarnya.


"Sama-sama, Pak. Silahkan lanjutkan perjalanannya, saya mau ke Indopart." Ucap Aaric lalu turun dari mobil, karena dia hendak membeli minuman untuknya sambil menunggu dijemput oleh Sapta. Sopir mengangguk hormat dengan hati bersyukur.


Beberapa saat kemudian, mobil Sapta sudah parkir di depan Indopart menunggu Aaric. Dia telah memberitahukan kedatangannya dan diminta menunggu, karena Aaric sedang menghabiskan minumannya.


"Sapta, apakah terjadi sesuatu di Sero?" Tanya Aaric, setelah duduk dalam mobil dan melihat dia tidak dijemput sendiri oleh Sapta. Tetapi ada sopir yang bersama dengan mereka.


"Ada, Pak. Tapi nanti dijelaskan oleh Pak Jekob, Pak." Jawab Sapta seperti yang dikatakan oleh Jekob kepadanya. "Bapak mau makan apa? Biar saya hubungi Pak Jekob, Pak. Tadi mau berangkat, Pak Jekob ingatkan itu, agar beliau tidak salah beli." Sapta menyampaikan apa yang diminta oleh Jekob, sekaligus mengalihkan perhatian bossnya dari masalah di Sero.

__ADS_1


"Katakan saja, saya minta dibeliin ayam goreng dan french fries." Ucap Aaric, makanan yang terlintas dipikirannya dan masih bisa dimakannya dalam situasi seperti sekarang.


Baik, Pak. Saya akan hubungi Pak Jekob." Sapta segera menghubungi Jekob untuk menyampaikan apa yang dikatakan Aaric kepadanya. Kesempatan Sapta untuk menunda berbagai pertanyaan yang akan ditanyakan oleh bossnya.


Saat tiba di Sero, Jekob telah menunggunya dan langsung di antar ke ruangan pribadinya. Ayam goreng dan french fries telah disiapkan di atas meja sofa dalam ruangan pribadinya. Aaric segera makan, karena sudah sangat lapar. Sarapannya hanya sereal dan susu, juga yang dilakukan menguras energinya.


Setelah makan siang, Jekob mengajak Aaric berbicara tentang hasil pertemuannya dengan para Direktur dan juga perkembangan terbaru yang terjadi di kantor. Aaric mengangguk mengiyakan, semua yang dikerjakan oleh Jekob.


"Jekob, apakah kau sedang memutar untuk menyampaikan apa yang sedang terjadi? Untuk soal pekerjaan di kantor, saya sudah tahu dan percaya kau bisa menyelesaikannya. Jika untuk membicarakan itu, lebih baik saya pulang ke apartemen dan kau datang ke sana untuk kita bicarakan. Sekarang saya tidak membawa apapun yang berhubungan dengan pekerjaan." Ucap Aaric serius, sambil melihat Jekob.


"Bukankah itu sudah saya katakan padamu, kalau hari ini mau keluar dan hanya bawa ponsel pribadiku?" Tanya Aaric, yang menyadari Jekob sedang mengulur waktu, atau sedang bicara memutar.


"Saya tidak sedang mengulur waktu, Pak. Hanya memberikan kesempatan, agar bapak istirahat sebentar setelah makan siang." Ucap Jekob pelan, khawatir bossnya emosi dan marah.


"Baik, Pak. Saya akan memanggil Sapta untuk menjelaskan semuanya, karena dia yang lebih tau dan mengerti." Ucap Jekob, lalu menghubungi Sapta untuk masuk ke ruangan pribadi bossnya.


"Sapta, katakan semua yang kau sampaikan itu kepada boss. Jangan ada yang tertinggal." Ucap Jekob, saat Sapta telah berada dalam ruangan.


"Baik. Siap, Pak Jekob." Ucap Sapta sopan. Lalu menghadap bossnya untuk menyampaikan apa yang pernah disampaikan kepada Jekob.

__ADS_1


"Begini, Pak. Tadi saya mendapat laporan dari anggota yang mengamankan kantor Nona Carren, kalau Nyonya di rumah mendatangi kantor Nona Carren." Ucapan Sapta terhenti, karena bossnya tiba-tiba berdiri dengan wajah marah.


"Apa Nona Carren ada masuk kantor? Apa kau tau yang dibicarakan mereka? Bukankah saya sudah memintamu untuk menambah orang dan membawa alat perekam?" Ucap Aaric sambil berjalan meninggalkan kursinya.


"Iya, Pak. Bapak duduk lagi, agar Sapta bisa menyampaikan dengan baik." Jekob berkata mencoba menenangkan bossnya. Dia masih mengkhawatirkan kondisi bossnya. Aaric mengangguk dan kembali duduk, sambil menarik nafas panjang untuk meredahkan emosinya.


"Kami sudah lakukan seperti yang bapak perintahkan. Sebentar lagi, dua orang yang berjaga di kantor Nona Carren akan tiba. Mereka bergantian dengan dua orang yang saya kirim menggantikan mereka. Menurut mereka, hari ini Nona Carren masuk kantor." Ucap Sapta menjelaskan, sambil menunggu kedatangan kedua anggotanya.


Tidak lama kemudian, mereka berdua tiba dan diminta langsung masuk ke ruangan pribadi bossnya. Sapta menyiapkan semua perlengkapan untuk memutar rekaman yang terjadi dalam kantor Carren.


"Sebelum bapak mendengar ini, kami mau melapor juga. Tadi Nyonya datang tidak sendiri, ada satu mobil keamanan bersamanya. Saya langsung turun, tetapi tidak ada yang masuk ke kantor Nona Carren. Hanya Nyonya yang masuk, tetapi saya tetap di luar untuk berjaga-jaga.


"Baik. Berikutnya, pimpinanmu akan mengaturnya lagi. Coba perdengarkan rekamannya." Ucap Aaric yang tidak sabar mendengar apa yang disampaikan Mamanya kepada Carren.


Jekob memberikan isyarat kepada Sapta untuk memutar rekamannya, lalu berjalan mendekati bossnya untuk berjaga-jaga. Ketika mendengar peringatan Mamanya kepada Carren, Aaric spontan berdiri karena sangat marah. Tetapi Jekob, mengelus punggung bossnya pelan untuk menenangkannya. Mengetahui itu, Aaric kembali duduk. Dia mendengar rekaman dengan wajah dan emosi yang berubah-rubah.


"Ok, terima kasih. Silahkan tinggalkan rekaman itu di situ dan kalian boleh keluar untuk istirahat." Ucap Aaric kepada kedua anggota keamanan. Mereka mengangguk hormat, lalu keluar meninggalkan ruangan.


"Sapta, rekamannya disimpan dan kirim untuk saya. Sekarang kau siapkan 'karang' saya. Kalau sudah, infokan kepada Pak Jekob." Ucap Aaric kepada Sapta. Jekob terkejut mendengar yang dikatakan bossnya tentang 'karang'. Karena itu adalah mobil modif bossnya yang hanya dipergunakan dalam keadaan darurat. Sapta juga terkejut, saat mendengar bossnya mau memakai mobil itu. Tetapi dia tetap sigap, lalu keluar untuk menyiapkannya.

__ADS_1


"Setelah 'karang' siap, kau dan Sapta antar saya ke apartemen untuk mandi dan ganti pakaian. Nanti malam kita akan datangi iblis itu." Ucap Aaric lalu berdiri dengan wajah dingin dan rahang yang kaku.


~●○♡○●~


__ADS_2