Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Bekerja.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Setelah ditinggal Agra, Riri tetap berdiri dan menunduk sambil berusaha tenang dengan bernafas perlahan dan dalam. Dia berserah untuk menenangkan detak jantungnya yang berajojing. 'Jika harus ketahuan di hari pertama, biarlah terjadi.' Hatinya membatin berulang kali mengingatkannya agar bisa menenangkan debaran jantungnya.


Dia meminta bantuan kepada kakaknya untuk bekerja di Hutama, untuk bisa memgenal dan mendekatkan dirinya secara perlahan kepada Parry. Tetapi bukan seperti ini cara berkenalan atau pendekatkannya. Ini sudah langsung pada tempatnya, berdekatan. Hal itu membuat dia tidak siap secara emosi dan suasana hati.


Parry sedang memperhatikan CV dan semua nilai akademik Riri. Dia juga melihat tempat kuliahnya di salah satu universitas negeri terkenal di Indonesia. Parry terkejut saat melihat tahun kelulusannya dan tahun kelahirannya. 'Ternyata dia lebih muda satu tahun dariku, tapi sudah bisa lulus kuliah lebih dulu dariku.' Ucap Parry dalam hati dan melihat Riri yang masih berdiri diam sambil menunduk jauh dari meja kerjanya.


"Nama anda, Theresa Ririalle. Biasa dipanggil siapa?" Tanya Parry untuk mengajak bicara calon sekretarisnya. Dia melihat Riri hanya diam tanpa mengangkat wajahnya semenjak masuk ke ruangannya. Dia mencoba menerima sekretaris yang direkomendasikan asisten Papinya.


Mendengar pertanyaan Parry, Riri mengangkat wajahnya perlahan untuk melihat Parry. Akan sangat tidak sopan jika berbicara tanpa melihat wajah orang yang sedang mengajak berbicara.


"Saya biasa dipanggil Ririalle, Pak. Tetapi terserah bapak mau panggil saya siapa." Jawab Riri mencoba tenang, saat mengetahui Parry tidak mengenal atau mengingatnya.


Parry melihat Riri yang masih berdiri di depannya dengan alis bertaut. Dia sedang berpikir untuk memanggil namanya calon sekretarisnya. "Baiklah, saya akan memanggilmu Alle, lebih simpel dan mudah diingat." Ucap Parry, tersenyum dalam hati dengan nama panggilan untuk sekretaris barunya.


Riri terkejut mendengar nama panggilannya yang dikatakan Parry. "Baik, Pak. Terima kasih." Lalu sambil menatap Parry yang kembali membaca CV dan lainnya, dia berkata dalam hati. 'Semoga kau tidak menyamakan aku dengan suami Bu Nia Zulkarnain.'


"Baik, kau akan menjadi sekretarisku. Pasti Pak Agra sudah menjelaskan tentang pekerjaanmu di sini. Jadi meja kerjamu ada di depan bersama dengan asistenku." Parry berbicara kepada Riri dengan tenang dan serius. Dia bisa bersikap demikian, karena selain merasa sebagai pimpinan, tetapi juga karena Riri lebih muda darinya.


"Baik, Pak. Terima kasih." Riri merasa bersyukur mendengar apa yang dikatakan Parry. Berarti dia diterima menjadi sekretarisnya.


"Kalau begitu, hari ini kau sudah bisa mulai bekerja. Nanti tolong lihat semua agenda ini. Jika asisten saya sudah kembali, kau bisa diskusikan dan atur dengan beliau." Parry menyerahkan file yang ada di atas mejanya kepada Riri. Lalu Riri mendekat ke meja kerja Parry dan menerima file dari tangannya dengan tetap menunduk.


Dia masih berhati-hati jika harus bertatapan dengan Parry dari dekat. Dia bersyukur, kakaknya menyuruh pakai kacamata, jadi bisa menyamarkan matanya dari Parry. Biar bagaimanapun, mereka pernah bertatapan dari dekat. Dia tetap masih was-was, Parry bisa mengenalnya.


"Kau bisa pulang, setelah semuanya ini selesai di atur dengan asistenku. Nanti besok baru masuk sesuai dengan jam kerja kantor." Ucap Parry lagi, saat Riri mengambil file dari tangannya.

__ADS_1


"Baik, Pak. Terima kasih. Saya permisi ke depan." Hanya itu yang bisa Riri ucapkan. Karena dengan begitu, sangat menolongnya untuk menyelesaikan persoalan di rumah jika bisa pulang lebih awal.


Saat dia berjalan keluar ruangan, tiba-tiba Parry memanggilnya. "Alle...Alleee." Parry memanggilnya sampai dua kali, karena Riri tidak menanggapi panggilannya.


"Eeh, iyaa Pak. Maaf. Ada lagi, Pak?" Riri terkejut mendengar suara Parry, karena dia belum terbiasa dengan namanya itu.


"Apakah kita pernah bertemu?" Tanya Parry yang sangat memgejutkan Riri. Dia cepat berpikir, agar bisa menjawab dengan tepat dan tidak mencurigakan.


"Mungkin, Pak. Karena saya tinggal dan kuliah di sini. Mungkin pernah bertemu di acara kampus." Ucap Riri dengan cepat menanggapi pertanyaan Parry yang membuat jantungnya kembali ajojing.


"Iya, mungkin. Baik, silahkan bekerja." Parry mempersilahkan Riri keluar ruangannya. Parry masih terus berpikir, karena dia merasa familier dan sepertinya pernah bertemu dengan Riri.


Setelah berada di luar ruangan, Riri berjalan ke meja kerjanya dan duduk terhenyak. Sejak masuk ke ruangan Parry, dia merasa tulang-tulang kakinya tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menopang tubuhnya. Kejutan yang sangat mengejutkan dirinya, walaupun dia telah mempersiapkan semua dengan baik.


Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk kakaknya tentang perkembangan interview dan harus langsung bekerja. Setelah selesai mengirim pesan, dia melihat semua file yang diberikan Parry untuk dipelajari.


Dia memegang dadanya yang mulai tenang. 'Bisa melihatnya setiap hari dan bekerja dengannya adalah suatu kebahagiaan.' Riri membantin dan membuatnya tersenyum.


Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar. Dia melihat ada pesan masuk dari kakaknya. "Selamat, De'. Kerja yang baik. Nanti kasih tau, saat mau pulang kantor." Isi pesan dari kakaknya.


"Iya, Mas. Jangan pulang dulu, sebelum Ri2, ya. Tunggu Ri2, Mas."🙏🏻🥰 Isi pesan balasan Riri kepada kakaknya.


"👌🏻👍" Leon mengirim balasan emoticon, sebagai tanda menyetujuinya.


Tanpa Riri sadari, dia sedang diperhatikan oleh Parry yang bisa melihatnya dari dalam ruang kerjanya lewat kaca jendela.


Riri segera berdiri saat melihat ada yang datang ke arah ruangan pimpinannya. "Selamat siang, Pak. Ada yang bisa dibantu?" Sapa Riri dan juga bertanya kepada tamu yang datang, karena dia belum mengenal orang dalam kantor tersebut.

__ADS_1


"Nona sekretaris baru, Pak Parry?" Tanya yang baru datang.


"Betul, Pak. Bapak siapa dan ada yang bisa saya bantu?" Jawab Riri dan balik bertanya.


"Saya, Nusa. Asisten Pak Parry." Nusa memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman. Riri menyambut uluran tangan Nusa dengan wajah terkejut dan malu.


"Ooh, maaf Pak. Saya belum mengenal bapak. Saya Ririalle, sekretaris Pak Parry. Tadi saya sudah dikasih tau Pak Parry, untuk bekerja bersama bapak." Ucap Riri sopan, karena asisten Parry berbicara baik dan sopan kepadanya.


Hati Riri sedikit lega, mengetahui asisten Parry tidak bersikap arogan. Kalau Parry, sedikit banyak Riri sudah pernah melihat sikapnya terhadap Ayunna dan Liana. Dia bisa menerima sikap Parry, karena mungkin Ayunna dan Liana bersikap tidak baik kepada Carren.


Apalagi tadi saat berbicara dengannya, Parry tidak menunjukan sikap ngeboss atau sinis seperti yang pernah dilihatnya waktu itu.


"Nanti kita berbicara setelah saya berbicara dengan Pak Parry, ya." Ucap Nusa, lalu berjalan ke arah ruangan Parry. Nusa mengetuk pintu, lalu masuk setelah dipersilahkan oleh Parry.


"Pak Nusa, nanti atur dan diskusikan jadwal dan pekerjaan saya dengan Alle, ya. Dia sekretaris yang dibawa oleh Pak Agra. Bicarakan saja semua, agar dia bisa tahu posisi saya. Jangan sampai dia salah bicara di luar dan Papi akan marah padanya." Parry memberi instruksi kepada asistennya untuk menyampaikan siapa dia, agar Riri bisa berhati-hati dalam berbicara tentang dirinya di luar atau di dalam kantor.


"Baik, Pak. Akan saya bicarakan dengan Alle. Tadi dia sudah mengatakannya kepada saya." Ucap Nusa, yang ikutan memanggil Riri dengan Alle. Kemudian pamit untuk keluar dari ruangan Parry. Atas perintah Pak Ariand, Parry tidak boleh lagi dipanggil tuan muda, saat di kantor.


"Nona Alle, ini tambahan agenda dari Pak Parry. Tolong dilihat dan sesuaikan dengan yang sebelumnya. Sekarang ini, Pak Parry sedang persiapan untuk ujian skripsi, jadi beberapa pekerjaan akan ditangani oleh kita berdua selama beliau tidak ada di tempat." Nusa mendekati meja Riri dan mulai membahas dan berdiskusi.


"Baik, Pak. Saya memgerti." Ucap Riri, yang baru mengetahui kalau Parry belum selesai ujian. Dia makin bersungguh-sungguh mau membantu Parry semampunya.


"Karena Nona Alle adalah sekretaris Pak Parry, ada hal pribadi yang harus Nona ketahui. Tidak boleh ada pembicaraan tentang Pak Parry di luar atau di dalam kantor. Beliau hanya boleh didekati oleh saya, Nona, Pak Agra dan Tuan Ariand pemilik Hutama ini. Dan juga temannya yang bernama Carren." Nusa mengingat pesan dari boss besarnya.


"Selain nama-nama itu, Nona harus menanyakan kepada saya atau Pak Agra kalau ada yang minta bertemu dengan Pak Parry. Jangan tanyakan hal itu kepada beliau." Nusa menjelaskan secara rinci kepada Riri.


Hal itu membuat Riri bertanya-tanya dalam hati. Ada apa sebenarnya dengan Parry, tetapi disimpannya. Dia mencatat semua nama yang telah disebutkan oleh Nusa dan juga meminta nomor telepon mereka, agar tidak melakukan kesalahan.

__ADS_1


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2