
~•Happy Reading•~
Ayunna dan Liana merasa heran dan kembali melihat Sainy. Alis mereka sama-sama bertaut mendengar yang dikatakan Sainy. Sambil makan mereka terus berpikir tentang apa yang dikatakan oleh Sainy. Karena apa yang dikatakan Sainy, jauh dari persepsi mereka tentang kakak Riri.
Selesai makan, saat menunggu dessert disajikan, Ayunna bertanya kepada Sainy. "Sainy, dari tadi kau bicara tentang kakaknya Riri. Kau katakan: 'Sikapnya dan sikapnya.' Emang dia pernah lakukan apa padamu, sehingga sikapnya sangat minus di matamu?" Ayunna bertanya, karena masih penasaran. Liana yang sama penasaran ikut menatap Sainy, menunggu jawabannya.
"Dia ngga bikin apa-apa padaku, cuma aku ngga suka sama lelaki lemah. Lelaki yang ngga bisa memperjuangkan cintanya, hanya karena Ibunya ngga setuju. Bagaimana nasib wanita yang menikah dengannya, jika dia takut pada Ibunya? Ataukah dia takut ngga dapat warisan, jika melawan Ibunya?" Sainy menjawab dan balik bertanya kepada Ayunna dan Liana yang sedang melihatnya dengan dahi berlipat.
"Sainy, kau dapat berita atau gosip itu dari mana? Siapa yang katakan padamu, kakak Riri putus dengan pacarnya karena takut sama Ibunya atau takut ngga dapat warisan?" Ayunna bertanya dengan serius. Karena yang dia tahu, ceritanya lain.
"Ada yang mengatakan padaku. Hal itu membuat aku ilfeel dan ngga respek padanya." Sainy tidak mau mengatakan dapat info dari Mommynya. 'Nanti mereka mengatakan Mommynya salah gosip. Gosip saja salah, ini salah gosip lagi. Bisa-bisa dibilang gosipin hoax.' Sainy berkata dalam hati.
"Ini saranku untukmu, ya. Hati-hati dengan yang kau katakan tadi. Untung Riri ngga datang hari ini. Jika dia mendengar ucapanmu itu, aku kira dia ngga akan berteman denganmu lagi. Kau langsung diblacklist, karena dia sangat sayang dan menghormati kakaknya." Ucap Liana, sambil menatap Sainy serius.
"Apakah kau tidak lihat sosial medianya Riri? Hampir semua fotonya dia bersama kakaknya. Disetiap fotonya itu, kau bisa lihat dan baca kalimat-kalimat yang ditulis oleh Riri. Dia sangat bangga dengan kakaknya. Aku sampai iri, pingin punya seorang kakak karena melihat mereka." Ucap Ayunna memperkuat yang dikatakan Liana.
"Ini aku kasih tau info yang bisa dipercaya, ya. Info A1. Mereka putus bukan karena Ibunya Riri, tetapi karena pacarnya itu seperti linta dan bre***ek." Liana berkata tegas, karena itu yang disampaikan Mamanya. Saat berbicara dengan Papanya untuk menjodohkan dia dengan putra keluarga Piltharen.
"Iyaaa. Kau dapat berita itu darimana? Itu semua hanya gosip orang yang salah gaul. Orang tuaku saja tau, karena wanita itu masih terus mengincarnya." Ayunna menambahkan yang dikatakan Liana.
"Mendengar yang kau katakan dan kenyataan yang sebenarnya, feeling Ibu Riri benar. Ngga setuju kakak Riri berpacaran dengan wanita itu." Ayunna menarik kesimpulan dari ucapan Sainy.
__ADS_1
"Mungkin kau terlambat info atau ngga lihat sosial media. Karena aku hanya tinggal di rumah untuk belajar, jadi sering melihat dan buka sosial media. Hal itu sempat diberitakan, tetapi tidak lama menghilang. Mungkin kakaknya Riri menutupinya dari publik. Dia pasti malu punya mantan pacar seperti itu." Ayunna menyampaikan apa yang diketahuinya.
"Kau ngga dengar cerita, baru-baru ini? Kau mungkin tidak tahu, tetapi aku tau dari sumbernya langsung. Aku diceritakan oleh yang magang di Piltharen. Ini masih hangat dan cendrung panas." Liana berkata sambil menunduk kearah Sainy. Ayunna juga ikut memperhatikan Liana, karena dia tahu info yang disampaikannya bisa dipercaya.
"Beberapa hari lalu, wanita itu menunggu kakak Riri di dekat gedung Piltharen. Ketika melihat kakak Riri selesai mengantar rekan bisnis di lobby, dia berjalan masuk ke lobby dan memanggil kakaknya Riri dengan suara keras."
"Kalian tahu apa yang dibawanya? Banyak paperbag di tangannya. Dia mendekati kakak Riri dan bilang: "Ini aku kembalikan semua yang kau berikan untukku." Semua orang di lobby terkejut, lalu melihat ke arah kakak Riri yang berbalik melihat wanita itu."
"Saat itu hampir tiba waktu istirahat siang, jadi beberapa karyawan sudah ada di lobby. Kakak Riri langsung minta security tutup lobby dan tidak boleh ada yang masuk atau merekam. Dia minta asistennya untuk cek semua ponsel karyawan dan tamu yang ada di lobby."
"Dia perintahkan agar semua yang ada di lobby berkumpul di satu tempat. Security melakukan semua yang dimintanya dengan was-was. Setelah berkumpul semua, dia minta asistennya mengambil semua paperbag yang ada ditangan mantannya. Semua yang dibawanya itu, dibagikan kepada karyawan dan tamu yang telah dikumpulkan itu."
"Ada yang dapat tas, sepatu, baju, semuanya bermerek. Tapi yang lebih hebo, yang dapat perhiasannya, dong. Dia sampai lompat-lompat, lupa ada di depan bossnya.
"Yaaa, nganga. Mulutnya terbuka seperti seperti komodo mau makan, kata yang kasih info padaku. Setelah itu, dia seperti orang yang kesambet, melihat semua barang itu dibagi-bagi. Dia tidak bisa berkata-kata, hanya melihat dengan melongo. Dia pasti ngga nyangka, barang bermerek dan berharga itu berpindah tangan dalam sekecap kepada orang-orang yang ngga dikenalnya."
"Lalu kakak Riri mendekati wanita itu dan berkata: "Aku sudah bilang, jangan ada di sekitarku dengan alasan apapun. Aku tidak akan bersikap lunak padamu." Dia katakan itu dengan rahang mengeras dan wajah yang sangat marah." Liana menceritakan apa yang dikatakan adik sepupuhnya yang sedang magang di Piltharen.
"Informanku itu bilang, setelah itu kakak Riri memanggil dua orang security untuk membawa wanita itu keluar dari lobby Piltharen. Mereka menjinjing mantannya itu di kiri dan kanan, lalu membawanya keluar dari lobby."
"Lalu kakak Riri katakan kepada kepala security: 'Jangan sampai ada dari antara kalian membiarkan kaki wanita ini menyentu lobby gedung ini. Kalian akan tau akibatnya.' Kemudian dia dan asistennya segera meninggalkan lobby, masuk lift dan naik ke ruangannya." Liana bercerita dengan suara pelan, cendrung berbisik.
__ADS_1
"Setelah itu, semua orang di lobby mengintip wanita yang dibawa keluar itu. Dia tersadar saat sudah di luar lobby dan meronta-ronta minta dilepaskan. Mungkin udara luar mengembalikan kesadarannya. hehehe..." Liana tertawa pelan, mengingat yang dikatakan sepupuhnya.
"Dia memohon kepada security untuk kembali ke dalam. Dia mau mengambil barang-barang yang tadi, tetapi security tidak mengijinkannya. Malah mereka membawanya makin jauh dari Piltharen dan membiarkan dia di pinggir jalan."
"Aku rasa, setelah tersadar wanita itu mungkin gila. Sudah dapat barang berharga, malah dibuang percuma. Mau dapat gratis dari mana lagi, coba. Apalagi kalau dia bukan dari keluarga berduit, ambyaarrr..." Ayunna berkata sambil tersenyum, membayangkan yang terjadi.
"Tapi benar, barang-barang itu diberikan untuk karyawan? Jangan-hangan setelah itu diambil lagi." Sainy masih meragukan cerita Liana.
"Yaaa, nggalah. Semua perhiasan yang didapat oleh security dijual sama mereka. Hasil penjualan dibagi-bagi diantara mereka. Kalau informanku dapat tas bermerek, dia tunjukan padaku." Liana berkata serius, sambil mengingat tas bermerek yang diperlihatkan oleh sepupuhnya.
"Ternyata kakak Riri itu baik hati juga, manjakan pacarnya dengan semua itu." Ayunna berkata sambil melihat Sainy yang terdiam. Mereka makan dessert dengan perasaan dan pikiran masing-masing.
Sainy terkejut bukan karena barang-barang itu, tetapi karena apa yang disampaikan Ayunna dan Liana. Dia terlalu cepat menilai kakak Riri dari apa yang dikatakan Mommynya. Sainy merasa bersalah atas sikapnya pada kakak Riri. Dia jadi teringat sikap dan wajah Riri yang berbeda saat meninggalkan butiknya.
Sambil makan, Sainy melihat Ayunna dan Liana bergantian dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan. Dia percaya dengan apa yang disampaikan oleh Liana dan Ayunna.
Setelah Ayunna membayar makan siang, mereka keluar dari restoran bersama-sama ke tempat parkir. Liana mendekati mobil Ayunna. "Terima kasih untuk makan siangnya, Ayunna. Aku minta maaf untuk kejadian waktu itu, ya." Liana berkata jujur, karena dia merasa kesepian saat tidak lagi berkomunikasi dengan Ayunna. Dia hanya kumpul dengan sepupuh atau ponakan dari keluarga orang tuanya.
"Ok. Aku duluan, ya." Ucap Ayunna singkat, lalu naik ke mobilnya dan meninggalkan tempat parkir. Kemudian Liana ke mobilnya dan keluar dari tempat parkir disusul oleh Sainy.
Setelah tiba di butik, Sainy menepuk dahinya dengan keras. 'Astaga, keasyikan berbicara tentang kakak Riri, aku lupa menanyakan informasi tentang Parry.' Sainy membatin. Hal itu membuat dia duduk terhenyak di kursi kerjanya dengan perasaan sangat tidak happy.
__ADS_1
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡