Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Mencari


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Di tempat yang lain ; Setelah berbicara dengan Recky, Aaric kembali tidur. Obat yang diberikan oleh dokter Liam membuat Aaric merasa ngantuk, supaya bisa istirahat. Jekob yang telah selesai melakukan semua yang diminta oleh Aaric, merasa lapar. Jekob merasa heran, bossnya tidak pernah keluar dari kamarnya lagi setelah meninggalkannya.


Jekob segera pesan makanan untuk makan siang mereka sesuai dengan selera bossnya. Setelah semua pesanan telah datang, Jekob berjalan ke kamar Aaric. Tanpa mengetuk, dia membuka pintunya sedikit untuk melihat Aaric. Ketika melihat bossnya sedang tidur, Jekob membuka pintu perlahan dan berjalan mendekati tempat tidur Aaric.


"Pak..." Jekob menepuk pelan lengan Aaric untuk membangunkannya. Ketika Aaric membuka matanya perlahan, Jekob mengisyaratkan dengan tangannya untuk makan. Aaric mengumpulkan seluruh kesadarannya dan bangun.


"Sudah jam berapa, Jekob?" Tanya Aaric, tetap duduk di tempat tidur. Walaupun sudah bangun, tetapi belum mau beranjak dari tempat tidur.


"Sudah hampir jam satu, Pak. Saya sudah pesan makan siang dari luar untuk kita." Jawab Jekob. Dia mengerti kondisi bossnya yang masih mengantuk, mungkin akibat pengaruh obat yang diberikan oleh dokter Liam. Tetapi dia tetap memaksa bossnya bangun untuk makan.


"Baik. Mari kita makan." Jawab Aaric, lalu turun dari tempat tidur. Jekob berjalan dari belakang untuk mengikuti bossnya keluar kamar.


Jekob telah menata semua makan siang yang dipesan di atas meja makan. Setelah selesai makan, mereka masih duduk di meja makan. "Nanti saya akan telpon Bibi untuk datang merapikan tempat ini. Kau kerjakan saja urusan kantor." Ucap Aaric saat melihat Jekob hendak mencuci semua perangkat makan mereka.


"Bagaimana dengan sakit kepalanya, Pak. Apakah masih sakit?" Tanya Jekob untuk memastikan kondisi bossnya. "Belum pulih sepenuhnya. Masih terasa sedikit, jika menggerakan kepala dengan tiba-tiba. Setelah ini, saya akan telpon Bibi dan mandi. Kau istirahat saja, dulu." Aaric tahu, Jekob juga perlu istirahat karena mengantuk saat menjaganya.


Aaric masuk ke kamar, mengambil ponselnya untuk menghubungi Bibi. Merasa badannya sudah lebih baik, Aaric menyiapkan kaos dan celana pendek untuk mengganti kemeja dan celana panjang yang dikenakannya dari malam.

__ADS_1


Kemudian dia masuk ke kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat. Dia ingin merendam di bathtub dengan air hangat untuk menyegarkan tubuhnya. Selesai mandi, Aaric keluar menemui Jekob. Ketika melihatnya tidak ada di ruang tamu dan dapur, Aaric membuka pintu kamar tamu perlahan. Dia berpikir, Jekob bisa saja sudah tidur sesuai yang dikatakannya. Melihat Jekob telah tidur, Aaric menutup pintu dengan perlahan.


Aaric kembali ke kamar untuk mengambil tas kerjanya. Sambil menunggu Bibi, dia mengeluarkan semua perangkat kerjanya. Pertama-tama membuka laptop untuk memeriksa emailnya. Ternyata emainya dari kemarin sore sudah menumpuk. Dia juga memeriksa semua ponsel yang berhubungan dengan pekerjaannya. Melihat banyaknya email, pesan dan misscall, Aaric membiarkannya.


Dia membuka pintu untuk Bibi, saat mendengar ketukan di pintu dan melihat Bibi yang datang. "Bibi, tolong bersihkan dan rapikan tempat ini. Kalau bisa menyiapkan makan malam, tolong siapkan untuk kami berdua. Pak Jekob sedang istirahat di kamar tamu, jadi tidak usah dibersihkan." Aaric berkata setelah Bibi telah masuk ke dapur. Dia mengambil dompet dan memberikan uang kepada Bibi untuk membeli kebutuhan masak.


"Baik, tuan. Saya akan menyiapkan semuanya." Jawab Bibi, sambil mengambil uang dari tangan Aaric dengan sopan dan hormat. Bibi menyadari, tuannya dalam kondisi yang kurang sehat, karena wajahnya tidak seperti biasanya.


Bibi tadi terkejut, saat dihubungi untuk datang ke apartemen. Kemarin Bibi telah diberitahukan untuk tidak usah datang ke apartemen, karena tuannya akan pergi. Entah berapa lama baru kembali lagi, seperti biasanya.


"Bibi, saya akan beristirahat di kamar. Kalau sudah selesai dan mau pulang, silahkan. Tidak usah menunggu saya bangun. Besok saya akan hubungi Bibi lagi." Ucap Aaric, lalu merapikan perangkat kerjanya.


.***.


Jekob bangun menjelang sore. Dia bangun dan mandi, lalu keluar kamar untuk membuat minum. Saat melihat Bibi masih di dapur, Jekob tersenyum. "Bibi tolong buatkan kopi instan untuk saya, ya." Ucap Jekob sambil menarik kursi meja makan.


"Apakah buat juga untuk tuan, Pak?" Tanya Bibi, karena Aaric belum bangun. "Iya, Bi. Sekalian saja, nanti saya akan bangunkan tuan." Karena Jekob berencana mau membangunkan bossnya.


"Baik, Pak. Karena bapak sudah bangun, ini masakan yang sudah matang untuk makan malam." Ucap Bibi, yang akan pulang karena tidak ada lagi yang akan dikerjakan.

__ADS_1


"Baik, Bibi. Terima kasih." Ucap Jekob lalu berdiri, hendak masuk ke kamar Aaric untuk membangunkanya. Tetapi sebelum beranjak, bossnya sudah keluar kamar dengan wajah yang lebih baik.


Melihat itu, Jekob merasa lebih lega. Karena Sapta telah menghubunginya beberapa kali, ingin berbicara dengan bossnya, tetapi Jekob melarangnya. "Jekob, tadi Sapta ada menghubungi saya. Apakah terjadi sesuatu di Sero?" Tanya Aaric sambil duduk di meja makan, depan Jekob.


"Iya, Pak. Dia menghubungiku, tapi sedang tidur. Jadi mumgkin dia langsung menghubungi bapak. Nanti setelah minum baru kita bicarakan." Ucap Jekob sambil memberikan kode kepada bossnya untuk bersabar, karena masih ada Bibi.


Setelah semua yang dikerjakan telah rapi, Bibi pamit pulang meinggalkan mereka. "Saya akan bicarakan, asal bapak berjanji untuk menyerahkan semuanya kepada saya dan Sapta untuk menyelesaikannya." Ucap Jekob yang masih mengkhawatirkan kondisi bossnya.


"Ngga papa, Jekob. Saya sudah lebih baik, jadi bicarakan saja. Tadi malam, mungkin karena saya tidak siap. Sekarang tidak ada masalah, saya ingin menyelesaikan semuanya, jadi harus tahu." Ucap Aaric meyakinkan Jekob, bahwa semuanya baik-baik saja.


"Menurut Sapta, Nyonya di rumah dan keluarganya sedang panik dan menggerakan orang untuk mencari anggota keamanannya yang tiba-tiba menghilang. Kedua mobil sudah diderek dan diperiksa oleh mereka. Tetapi semua perangkat audia dan mobil itu sudah dibersihkan oleh anggota keamanan kita, jadi tidak ada bukti yang dapat mengaitkan kita dengan kejadian itu." Jekob menceritakan yang dikatakan Sapta.


"Sekarang yang mengaitkan kita dengan kejadian itu, hanya Nyonya di rumah. Beliau sedang mencari tuan, karena tahu anggota keamanannya mengikuti tuan. Jadi hilangnya mereka pasti ada hubungan dengan tuan. Beliau tidak bisa lapor Polisi tentang hilangnya anggota keamanan, sebelum tau kondisi yang sebenarnya. Urusannya akan menjadi panjang, karena beliau tidak punya bukti."


"Hubungi pengacaraku untuk bersiap-siap. Apakah Sapta sudah mengirimkan orang untuk menjaga Carren?" Tanya Aaric, mengingat tadi malam Mamanya melihat dia dengan Carren.


"Sudah, Pak. Tadi pagi Sapta sudah kirim satu orang untuk memantau kantor Nona Carren. Tapi sepertinya Nona Carren tidak datang ke kantor, mungkin langsung ke client. Itu menurut yang memantau." Jawab Jekob untuk menenangkan bossnya.


"Besok tambah satu orang lagi, dengan perlengkapan lengkap untuk merekam yang terjadi dalam kantor Carren. Mereka pasti akan membuat saya keluar, dengan cara mendekati Carren." Aaric jadi memikirkan keselamatan Carren.

__ADS_1


~●○♡○●~


__ADS_2